Mag-log in“Setelah satu tahun kita menikah dan saya menjadi pemimpin partai, kita akan bercerai.” . Begitulah bagaimana Bening akhirnya menjalani pernikahan kontrak dengan Kalingga Adiyaksa, pria yang menguasai setengah negara, dalam aliansi politik antara keluarga mereka. . Bening tahu mereka menikah dengan tujuan masing-masing. Kalingga sudah memiliki wanita pujaannya, sedangkan ia sendiri hanya ingin lepas dari jeratan keluarga yang menyakitinya. Nanti, setelah mendapat uang kompensasi dari Kalingga dan bercerai, ia akan memulai hidup mandiri dengan bebas. . Tapi mengapa pria yang dingin itu, justru membenci setiap kali Bening menjaga jarak darinya? . "Meski kamu berpikir pernikahan ini tidak nyata, selama kamu berstatus istri saya, kamu milik saya, Bening."
view more"Ini putri sulung saya, namanya Bening. Yang kemarin saya bicarakan. Bukankah dia cantik?"
Diam-diam, Bening meremas gaun yang dikenakannya, kala ayahnya mengenalkannya kepada keluarga pimpinan partai koalisi yang akan mendukung ayahnya maju sebagai calon gubernur. Sebelum datang ke pertemuan ini, ayahnya sudah mewanti-wantinya agar bersikap baik, karena sikapnya sangat menentukan masa depan karier ayahnya. Saat ini, mereka berada di ruangan VIP sebuah restoran mewah, untuk membahas rencana perjodohan yang memperkuat kedudukan kedua partai di mata politik. "Sesuai perkataan Anda kemarin, Pak Bramasta. Putri Anda sangat cantik. Cocok bersanding dengan anak kami Kalingga,” jawab Pramudya, pemimpin partai koalisi. Bramasta--ayah Bening, terkekeh ringan. Diusapnya bahu Bening dengan bangga. Tanpa disadari siapa pun, Bening menegang menerima sentuhan dari sang ayah. "Bening akan menjadi istri yang baik. Dia adalah gadis yang penurut dan mengerti tata krama. Begitulah ajaran di keluarga kami,” ucap Bramasta lagi membanggakan putrinya. “Apa dia pintar memasak dan bersih-bersih?” suara wanita menyahut. Dia Laras, istri Pramudya, yang meski tersenyum, tatapannya penuh penilaian kepada Bening. “Meski nanti dia akan menjadi istri pejabat tinggi, seorang istri tidak boleh melupakan kewajibannya yang utama mengurus rumah dan berbakti pada suaminya, kan? Kami ingin anak laki-laki kami diringankan bebannya, bukan menikahi istri pajangan saja,” lanjutnya lagi dengan tenang. “Tentu saja, Bu Laras. Anda tidak perlu khawatir. Bening ini paket komplit. Putri kami ini pintar sekali melakukan semua urusan rumah,” jawab pria itu sambil terkekeh. Meski diperlakukan seperti barang yang sedang dipromosikan seluruh fungsi dan kelebihannya, Bening hanya bisa menahan diri dan tersenyum sopan. “Saya setuju, putri baik-baik datang dari keluarga yang baik. Dan saya sudah lama mengenal Pak Bramasta,” ujar Pramudya, membuat Laras diam-diam memutar bola matanya. “Perjodohan ini adalah jalan yang terbaik untuk menyatukan keluarga kita.” Sementara Bening merasa miris dalam hati. Keluarga baik-baik? Ayahnya saja menjual putrinya dengan pernikahan demi jabatan politik. “Lalu,” Bramasta berdeham. “Di mana Nak Kalingga?” Kalingga Adiyaksa. Anak sulung dari keluarga Adiyaksa. Pria yang dijodohkan dengannya. Bening sendiri belum pernah bertemu dengannya. Mungkin, sama sepertinya, Kalingga sebenarnya keberatan dengan perjodohan ini. Dan ketidakhadirannya adalah bentuk penolakan itu. “Kalingga sebentar lagi—” ucapan Pramudya terputus oleh suara pintu ruangan mereka yang terbuka. Seorang pria jangkung dengan perawakan atletis yang dibalut jas hitam masuk. “Maaf, saya terlambat,” suara baritonnya terdengar dalam dan tegas. Mata tajam pria itu menyapu seluruh ruangan dan berhenti pada Bening. “Kalingga, dari mana saja kamu?” tegur Pramudya, segera menarik kursi dan menyuruhnya duduk. “Ayo, duduk, keluarga Pak Bramasta sudah—” “Kamu Bening?” tanya pria itu, memotong begitu saja ucapan ayahnya, dan membuat Bening seketika mengangguk kaku. “Berdiri, ikut saya. Kita bicara berdua,” ucapnya, tegas, tajam dan singkat. Siapapun yang mendengarnya tidak akan berani menentang. Bening dengan kikuk berdiri, setelah melihat Bramasta mengangguk kecil padanya dan memberi izin. Ia lalu mengikuti pria jangkung itu—Kalingga, keluar ruangan meninggalkan orang tua mereka. Punggung pria itu terlihat menjulang dan kokoh dari belakang. Aura pria ini begitu dominan. Tidak hanya itu, wajahnya terpahat dengan sempurna. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, Bening rasanya tidak menemukan celah sedikit pun atas penampilannya. Tapi, dari tatapannya yang dingin, Bening merasa … pria itu tidak menyukainya. "Saya tidak setuju dengan perjodohan ini." Kalimat Kalingga sudah langsung menghantamnya begitu pria itu berbalik, menghadap Bening di lorong yang sepi. "Tapi, saya tidak punya pilihan lain. Saya harus mau menikah dengan kamu untuk memenuhi wasiat Kakek saya, sebelum jabatan sebagai pimpinan partai resmi diberikan kepada saya." Bening masih bungkam. Lebih tepatnya, dia bingung ingin menyahut yang seperti apa. Sama seperti Kalingga, Bening juga tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau dia harus menerima perjodohan ini, karena ia tidak bisa menentang begitu saja perintah keluarganya. Bening membasahi bibirnya yang terasa kering. Dengan jemari yang saling bertaut, gadis itu menjawab dengan suaranya yang pelan. “Jangan khawatir, Mas.” Bening beranikan diri menatap manik Kalingga. “Aku setuju dengan perjodohan ini demi memenuhi kewajibanku juga. Aku nggak berekspektasi apa-apa, asalkan kerja sama antara keluarga kita berjalan baik.” Mendengar itu, Kalingga menaikkan satu sudut bibirnya. “Baguslah. Kamu juga tidak perlu khawatir. Pernikahan ini tidak untuk selamanya.” Bening menatap Kalingga tak mengerti. “Tidak untuk selamanya?” “Setelah satu tahun kita menikah dan menjadi pemimpin partai, kita akan bercerai.” Kalimat itu menghantam Bening hingga sekujur tubuhnya membeku. “Selama pernikahan ini, saya akan memberikanmu uang kompensasi setiap bulannya. Dengan uang itu, kamu bisa memulai kehidupan yang baru setelah kita berpisah nanti.” Bening tergagap. "Mak--maksudnya?" Kalingga tatap Bening dengan tatapan tajamnya. "Singkatnya, kita akan menikah kontrak.""Maaf...."Setelah lama diam, akhirnya Bening memilih mengakui kesalahannya. Gadis itu menunduk, takut Kalingga akan marah padanya. Namun, setelah hening untuk beberapa saat, bukan bentakan yang Bening dapatkan. Bukan pula perkataan meyakiti hati yang dirinya dengar, melainkan kekehan kecil yang mengudara. Dan itu sama sekali tidak membuat Bening lega. Alih-alih merasa aman, Bening sibuk mencerna apa arti kekehan Kalingga. Apakah pria itu marah. Atau Kalingga merasa sedang mendengar sesuatu yang lucu?"Tegakkan kepala kamu, Bening." titah Kalingga sarat akan suara rendah nan beratnya.Lantas, Bening menuruti perintah suaminya itu. Saat kepalanya menegak, pandangannya langsung bertemu dengan mata Kalingga yang mengerling tajam. Menatapnya seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Bening teguk salivanya susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat, seperti ada gumpalan yang menyumbatnya. "Mas Lingga....marah?" cicit Bening, nyaris seperti hembusan udara yang tak terdengar. "Kenapa
Setelah perjalanan panjang, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern. Tidak semegah kediaman keluarga Adiyaksa, tapi tetap menampilkan aura wibawa. Bening menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Ada lega, karena ia tidak harus tinggal bersama mertua yang seperti tidak menyikapinya, tapi juga ada cemas, sebab rumah ini tetap terasa asing.Kalingga turun lebih dulu, lalu berjalan masuk tanpa banyak bicara. Bening mengikuti langkahnya. Di dalam, beberapa pelayan sudah menunggu. Salah satunya mendekat, menunduk hormat.“Antarkan Nyonya ke kamarnya,” perintah Kalingga singkat.Pelayan itu segera mengangguk. "Mari Nyonya."Bening menurut, berjalan mengikuti pelayan tanpa membantah. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Pelayan membuka sebuah pintu, memperlihatkan kamar luas dengan nuansa lembut. “Ini kamar Nyonya. Jika ada yang dibutuhkan, panggil saja kami,” ucap pelayan itu ramahBening balas tersenyum. Hatinya menghangat menyad
Bening bangun dengan kepalanya yang terasa berat. Niat awalnya yang ingin menguping justru membawa Bening kembali ke alam mimpi. Dan kini Bening terkena getahnya. Tenggorokannya terasa kering. Kepalanya juga terasa berat. Mungkin ini efek dari menangis sampai tertidur. "Sudah bangun?" Bening terperanjat. Menoleh ke sumber suara, Kalingga tampak sedang fokus pada laptopnya. Kacamata baca membingkai mata pria itu, membuat Kalingga tampak lebih menawan. 'Astaga, Bening. Berhentilah memujinya.' batin Bening menggelengkan kepalanya. "Saya sudah pesankan makanan di atas nakas." ujar Kalingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. "Sebaiknya kamu makan. Setelah itu, minum obat."Bening tidak menjawab. Melirik jam dinding, mata Bening sedikit membesar. Sudah pukul delapan malam. Selama itukah dirinya tertidur? Berdehem untuk mengurangi serak di tenggorokannya, Bening akhirnya membuka suara. "Kayaknya aku mau mandi dulu, deh, Mas. Badanku lengket karena keringat."Kalingga menoleh p
Bening membuka matanya yang terasa berat. Rasa pusing yang menyergap kepalanya masih terasa. Gadis itu berusaha bangkit dari pembaringan. Mengedarkan pandangannya, Bening tertegun saat mendapati Kalingga duduk di sofa dengan tatapan tajamnya yang mengarah padanya. "Mas Lingga?" suara Bening terdengar serak. "Apa yang sudah terjadi?"Kalingga tak menjawab. Sebaliknya, pria itu berdiri, lalu berjalan mendekat pada Bening. Tanpa sadar, Bening menelan salivanya merasa gugup. Kalingga mengambil sejumlah obat, sebelum kemudian diserahkan pada Bening."Minum." titahnya. Tak ingin suaminya kesal karena menunggu terlalu lama, Bening gegas menerima obat itu. Menelannya, sampai kemudian Kalingga mengarahkan gelas berisi air putih ke mulutnya.Saat menenggak air putih itu, Bening amati wajah tanpa ekspresi milik Kalingga. Pria itu begitu perhatian untuk ukuran suami di atas kertas. Membuat sudut terkecil hati Bening menjadi serakah, berandai-andai jika pernikahan ini berlaku untuk seumur hidup






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.