MasukBURLB Karena merasa hutang nyawa terhadap Bagas yang meninggal karena membantunya di sebuah pendakian, Nayaka menjalankan perintah sahabatnya itu yaitu menjaga adik perempuan Bagas. Nadia tak kuat di duakan Nayaka yang lebih mementingkan Rahma adik Bagas daripada dirinha sebagai istri sah Nayaka. Puncaknya saat Nadia perdarahan ketika kehamilannya menginjak usia dua bulan, dan saat akan berangkat ke rumah sakit, Nayaka membatalkan, ketika kala itu mendengar Rahma kram perut. Nadia menyerah, dia mundur untuk menang sesuai dengan kata VENDETTA ( baca VENDEDA) yang berasal dari kata Italia yang diserap dari bahasa latin vindicta artinya BALAS DENDAM Nadia akan membalas dendam duka yang dia alami pada Rahma dan keluarganya juga pada Nayaka. Ikuti kisah seru balas dendam versi Nadia yang sangat mencekam, sebab bukan dengan pukul atau tempeleng, melainkan dengan merusak jiwa lawannya!
Lihat lebih banyak“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.
“Aku tak bisa bicara by phone. Aku tunggu kamu aja di sini, di RSIA AYAH BUNDA tempat kerjaku, langsung ke ruang rawat paviliun anggrek kamar 207,” jawab Hanum
Fitriyani dan Ikhsan Caturangga suaminya segera ke rumah sakit ibu dan anak AYAH BUNDA dan seperti yang Hanum pesankan, tak boleh bilang pada Yaka lebih dulu sebelum mereka tiba di rumah sakit.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ada apa ini, kamu kenapa Nad?” Teriak Fitriyani histeris melihat Nadia menantu mereka terbaring lemas diinfus dan ….
DITRANFUSI!!!!
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Lama Nadia hanya memandang mama mertuanya, sebelum akhirnya dia buka mulut.
“Aku nyerah Ma, ini batas kesabaranku, bang Yaka lebih peduli pada Rahma daripada kepadaku istri sah dan calon bayi kami,” balas Nadia lirih.
“Mama tahu sendiri, ini bukan yang pertama, namun selama ini aku masih toleransi.”
“Namun kali ini tidak Ma, aku tak sanggup.”
Ikhsan Caturangga memukul pintu kamar mandi dalam ruang rawat, sementara Fitriyani tak bisa berkata-kata lagi mendengar Nadia Swastika Cayapata sang menantu menyerah sebab tak tahan akan perlakuan Nayaka Dirgantara Caturangga, anak kandungnya.
“Pertama, saat anniversary pernikahan pertama kami, Mama tahu sendiri, begitu Rahma telepon dan bilang jatuh terpeleset di kamar mandi, bang Yaka meninggalkan pesta, membuat aku seperti ditampar.”
“Untung saat itu ada Mama dan papa, sehingga orang tak menuduhku dibuang keluarga suami, padahal kami baru menikah satu tahun.” Nadia ingat awal kejadian kelam yang dia alami.
“Kedua, saat aku memastikan kalau aku hamil, moment besar, puncak kebahagian kami dua bulan lalu,” Nadia menjeda kalimatnya, dia sungguh tak sanggup mengingat moment kedua, saat puncak kebahagiaannya sebagai perempuan terbukti.
“Bang Yaka lebih mementingkan lari karena Rahma yang sedang hamil dua bulan kram perut, padahal saat itu, kami baru tahu aku hamil. Bisa bayangkan betapa pentingnya moment itu bagi kami, setelah satu tahun lebih kami menanti kehadiran baby, saat aku teramat bosan dan sakit bila ditanya orang, koq belum hamil?”
“Seakan, kalau aku belum hamil, itu adalah aibku, itu adalah kesalahanku, itu adalah kelemahanku.”
“Dan saat aku terlepas dari kutukan itu, bang Yaka lebih memilih meninggalkanku demi Rahma!”
Dua pasang orang tua di ruang itu diam. Menanti keterangan Nadia selanjutnya.
“Yang ketiga sampai kelima , selalu saja Rahma mengganggu ditengah malam, telepon, dan bang Yaka langsung meluncur tak peduli pandangan orang, tak peduli perasaanku sebagai istrinya yang juga sedang hamil, sama seperti Rahma!”
“Terakhir tadi pagi, aku bilang aku mulas, bang Yaka bilang ayok ke rumah sakit, aku dan dia sudah siap Ma, Pa.” Nadia menatap kedua mertuanya, mencari makan tatapan mereka.
“Baru mau ke rumah sakit, telepon bang Yaka berdering dan kembali panggilan dari Rahma, perempuan itu bilang kram perut!”
“Bayangkan Pa, Ma, istri sendiri mulas, bang Yaka lebih perhatian pada adik sahabatnya.”
“Walau berkali-kali bang Yaka bilang dia tak cinta Rahma, tapi Rahma selalu profokasi aku, dia bilang, cinta MAS NAYA lebih besar padanya daripada padaku dan anak kami.”
Nadia mengirim semua bukti provokasi Rahma padanya, berisi bagaimana Mas Naya menggendong Rahma.
“Rahma punya panggilan mesra MAS NAYA untuk Nayaka, Mama dan Papa lihat semua provokasinya untukku, mas Naya menyuapi Rahma, mas Naya menyelimuti Rahma, mas Naya mengecup kening Rahma, bahkan memakaikan sandal Rahma.”
“Dua bulan, diawal kehamilanku, aku menerima semua dalam diam Ma, Pa. Sebab setiap aku marah, bang Naya selalu beralasan hutang nyawa!”
Ikhsan Caturangga dan Fitriyani geram melihat semua data yang Nadia kirim.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Buat akta cerai atas nama Nayaka dan Nadia, data lengkap saya kirim sebentar lagi, seperti biasa, tak perlu prosedur normal,” tanpa di duga, Ikhsan langsung menghubungi stafnya dan memberi perintah tegas, tanpa minta pendapat siapa pun, termasuk Nadia, pemilik ikatan resmi dengan putra kandungnya.
Ikhsan Caturangga adalah ahli hukum terkenal Indonesia, dia punya law firm besar.
Nadia
bersyukur papa mertuanya malah punya inisiatif mengurus surat cerai baginya, dia memang tak berniat lagi meneruskan rumah tangga tak sehat dengan Nayaka.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Sini kunci kamarmu, biar mama dan bundamu mengambil semua barang pribadi di kamarmu, barang lain gampang belakangan,” titah Ikhsan Caturangga pada Nadia. Dia sudah sangat geram, andai hanya cerita Nadia, dia mungkin masih akan berpikir panjang. Tapi saat pesta anniversary pernikahan putranya dia memang melihat sendiri bagaimana gugupnya Yaka saat mendapat telepon dari Rahma.
Sekarang ditambah bukti provokasi Rahma, juga penelantaran menantunya saat kondisi kritis, hanya karena anaknya lebih perhatian pada adik temannya, walau dia bilang tak dia cintai.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Bagaimana kalian enggak tahu nyonya kemana?” teriak Yaka saat pulang ke rumah esok paginya. Semalam dia terpaksa menemani Rahma, tidur di kamarnya. Dia sangat kasihan pada ibu hamil tanpa suami itu. Jiwanya rentan. Kasihan bayi dalam rahimnya bila ibu hamil mengalami tekanan jiwa, itu selalu jadi prinsip Yaka dalam bertindak.
“Kemarin, nyonya Hanum dan tuan Galih datang, membawa nyonya ke rumah sakit, sejak itu semua belum pulang lagi Tuan,” balas bibik terbata.
“Memang nyonya kenapa koq dibawa ke rumah sakit?” Yaka malah lupa, kemarin pagi dia berniat mengantar Nadia kedokter, sebelum telepon Rahma masuk, mengabarkan dirinya kram perut.
“Kemarin cuma ngeluh mulas aja kan?” Tanpa rasa bersalah, Nayaka akhirnya ingat, kemarin Nadia mengeluh mulas.
“Bukankah itu biasa untuk perempuan yang hamil muda?” Tanya Yaka bingung.
Nayaka mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi sejak dia meninggalkan rumah kemarin siang, nomor Nadia tak bisa dihubungi. Padahal semalam dia berniat memberi tahu istrinya kalau dia terpaksa akan menginap di rumah Rahma.
“Siaaaal, mengapa nomor telepon Nadia tak bisa aku hubungi?” Yaka memandang ponselnya, takut salah pencet nomor sehingga tak bisa terhubung dengan nomor istrinya.
“Nomornya benar koq,” Yaka memastikan dirinya sendiri.
“Saya tidak tahu Tuan, kalau nomor nyonya tak bisa dihubungi, mengapa tak tanya pada nyonya Hanum?” Balas bibik.
‘Tanya Bunda?’ Batin Yaka galau. Dia sangat ‘takut’ pada ibu mertuanya.
‘Cari mati namanya, terlebih, yang bawa Nadia ke rumah sakit adalah bunda.’
‘Tapi kenapa koq enggak pulang ke rumah ya?’
‘Apa Nadia menginap di rumah bunda Hanum?’ Pikir Nayaka cepat. Dia memikirkan pasti ibu mertuanya memaksa Nadia beristirahat di rumahnya saja, bisa dia kontrol, sebab ibu mertuanya adalah perawat.
“Baiklah, aku coba ke rumah bunda saja,” ucap Yaka, dia hendak mandi lebih dulu, lalu akan ke rumah mertuanya, melihat kondisi Nadia, dilanjut ke kantor.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Aaaah siaaaal, aku tak bisa mampir ke rumah bunda Hanum,” Yaka yang sudah rapi dengan pakaian kantor mendapat telepon kalau ada meeting mendadak.
Sekretarisnya mengatakan meeting kali ini tak bisa diwakilkan.
Tanpa bisa menghindar, Yaka melakukan mobilnya ke kantor, biar nanti sepulang kerja dia ke rumah mertuanya. Begitu niatnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Iya Tante, aku segera kesana,” balas Yaka, saat sore sepulang kerja, teleponnya kembali berdering, panggilan dari Tante Soraya Caraka, mamanya Rahma, yang memberitahu Rahma tak mau makan bila tak disuapi Naya.
Nayaka tentu memikirkan bayi dalam kandungan Rahma yang sekarang berusia 4 bulan bila Rahma tak mau makan.
Maka sore itu tanpa menunda, tanpa ingat niatnya akan menengok Nadia, Nayaka langsung meluncur ke rumah Rahma agar ibu muda itu mau makan.
Yaka lupa, dia belum tahu keberadaan Nadia. Yang dia pikir Nadia pasti aman, sebab ada dalam tangan mertuanya.
Bunda Nadia seorang perawat senior, ayah Nadia seorang apoteker. Keselamatan akan kesehatan Nadia dan calon bayi mereka tentu aman, ditangan dua mertuanya itu.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa begitu mencekik.Nadia masuk dan menutup pintu mobil itu dengan hentakan pendek. Aroma pengharum mobil langsung menyengat indra penciumannya, dengan wangi kopi nan lembut. Aroma kesukaan Nayaka.Nadia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk bersandar, seolah enggan membiarkan tubuhnya menyentuh apa pun di dalam kendaraan pria yang telah membuangnya."Aku beri waktu lima menit," jelas Nadia, suaranya jernih namun sedingin es, langsung memotong udara sebelum Nayaka sempat menoleh.Nayaka mencengkeram kemudi dengan erat, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang kini berjarak begitu dekat namun terasa ribuan mil jauhnya."Tak bisa, Nad, sejak salah
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesangon, hanya diberi upah dua minggu kerja saja.Rahma makin terpuruk, sudah punya anak cacat, ditambah semua langkahnya selalu saja bisa bocor.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈“Maaf, Bu Nadia sibuk, sampai dua minggu ke depan. Kampus sedang ujian semester,” jelas resepsionis yang Rahma temui siang ini.“Yaka, urus pelacvrmu, tak perlu datan
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah untuk Narendra dan Nareswari.Nayaka diam terpaku mendengar kalimat yang mamanya gunakan. Bukan kalimat dari seorang ibu untuk anaknya.“Apa aku tak boleh melakukan kewajiban ku Ma?” rengek Nayaka.“Bukannya Nadia sudah katakan, sejak Anda lebih mementingkan Rahma, anak-anak Anda sudah măti. Jadi mereka yang ternyata bisa diselamatkan itu bukan anak-anak Anda lagi,” jelas Fitri santai, dia berupaya tak tergoyahkan, sebab semua kesalahan Nayaka yang tak bisa memilah mana yang lebih penting antara istri dan adik temann
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, aku pasti akan tahu,’ kembali ada pesan masuk saat Rahma membeli dua nasi bungkus untuknya dan mamanya.Rahma merasa tak sanggup akan teror ini, dia laporkan semua pada Achmad . “Lalu Papa harus bagaimana?” “Itu kan resiko dari segala perbuatanmu dan mamamu,” ucap Achmad penuh penyesalan. “Mau sewa detektif guna menemukan pelakunya?” “Lalu bayar pengacara buat menuntutnya?” “Uang dari mana?” Achmad memberitahu Rahma, kalau mereka tak akan sanggup melakukan hal yang demikian. Achmad membuka ponsel Soraya, dan memperlihatkan teror yang Soraya dapatkan sebelum dibawa ke rumah sakit guna di rawat. Satu minggu penuh Soraya mendapat teror active sebelum dia terpaksa di rawat. ‘Jadi ….’
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.