MasukKembali dari kebingungan, Yaka memilih kembali ke rumah, ingin istirahat sambil memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh, dan melempar lamaran kemana setelah ini.
“Mengapa rumah kosong seperti ini?” Yaka kaget ketika masuk ke rumahnya semua furniture sudah tidak ada.
Tidak ada sofa tidak ada nakas, drewer, bahkan semua ranjang di empat kamar rumah itu sama sekali tak ada.
Selain ranjang semua lemari juga tak ada. Tak ada lemari sepatu, lemari pakaian, lemari buku, meja riasnya Nadia. Meja makan, semua sudah tidak ada.
Pakaian miliknya teronggok di lantai begitupun semua buku.
“Siapa ya yang masuk rumah dan ke mana semua barang-barang tersebut?”
“Tidak mungkin tetangga tidak ribut bila yang masuk rumah adalah pencuri,” Yaka langsung lari ke depan perumahan mendatangi satpam.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Oh iya tadi ada telepon dari pak Ikhsan, dia bilang dia yang menjual semua perabot di rumah tersebut. Besok ada lagi yang akan datang untuk membawa semua elektronik dan barang dapur,” jelas satpam tenang.
“Rumah itu katanya mau dikosongkan dan dijual oleh ibu Nadia dan yang menangani adalah pak Ikhsan mertuanya.”
“Eeeeeh maaf Pak Ikhsan itu orang tuanya Bapak kan?” kata satpam baru ingat kalau Ikhsan ayahnya Nayaka.
“Jadi rumah itu mau dijual?” tanya Yaka dengan bodohnya.
“Benar Pak. Rumah itu mau dijual karena kan bapak sama Bu Nadia sudah cerai dan rumah itu milik Bu Nadia. Jadi ya wajar kalau Bu Nadia jual.”
‘Papa sudah mengumumkan perceraianku dengan Nadia,’ batin Yaka pilu. Sungguh dia tak percaya, dia bahkan tak punya wewenang apapun bagi rumah tangganya sendiri.
“Apa Bapak tahu di mana Bu Nadia sekarang?”
“Wah nggak ada yang tahu, tadi Pak Ikhsan nggak bilang apa-apa,” jelas satpam, sebab memang itu yang dia tahu.
Yaka langsung kembali ke rumah, dia keluar menggunakan mobilnya, dia akan membeli banyak kardus super besar bekas rokok.
Biasanya di toko besar, agen besar yang punya kardus-kardus besar. Karena kalau di warung kecil atau toko kecil tak ada kardus besar. biasanya kardus besar hanya ada di agen besar.
Yaka juga mau beli banyak lakban dan spidol.
“Aku harus bersiap. Semua barang aku, harus aku packing sebelum rumah dikosongkan,” tekad Yaka begitu tahu rumah itu akan dijual oleh papanya.
Rumah itu memang atas nama Nadia, sebab rumah tersebut adalah mahar ketika pernikahan Yaka dan Nadia 17 bulan lalu.
“Aku harus segera cari kamar kost. Kalau aku kontrak rumah, aku tuh repot, karena rumah itu pasti kosong. Kalau kamar kost kan sudah ada ranjang dan lemari pakaiannya,” pikir Yaka praktis.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Yaka bingung, malam ini dia akan tidur dimana, sebab tak ada ranjang lagi di rumah ini.
Akhirnya, dia menghentikan packing, lebih urgent mencari kamar kost, yang penting sarana untuk packing sudah dia miliki.
“Gilaaaaa!” teriak Yaka geram.
“Gara-gara peduli pada Rahma aku jadi terlunta-lunta seperti pengemis tak punya pekerjaan, tak punya istri, tak punya rumah, dan juga tak punya orang tua!”
Malam itu Yaka tidur di tumpukan kardus, dia lapis dengan banyak jacket miliknya agar tak keras, dan paginya dia rampungkan packing semua barangnya, agar tak bertemu dengan orang suruhan papanya yang hari ini akan menjual semua elektronik termasuk AC semua kamar serta alat dapur.
Yaka tentu tak mau malu terlihat tereleminasi tak hormat dari rumahnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Bukan salah Bagas, tapi salah elo yang enggak pakai logika,” seorang teman sesama pendaki gunung menyalahkan Yaka yang bercerita nasib buruknya.
Yaka meminta pada beberapa teman untuk mencarikan lowongan kerja.
“Elo boleh ngejaga Rahma, tapi bukan lebih mementingkan dia diatas segalanya. Diatas kepentingan rumah tangga elo, diatas kepentingan istri elo, sampe elo kehilangan anak, istri, orang tua dan pekerjaan,” balas yang lain.
Dan semua sependapat, kalau semua foto yang Rahma kirim memang sengaja dibuat, bukan candid. Tujuannya jelas menghancurkan rumah tangga Yaka, atau membuat Yaka berpaling dari Nadia.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Satu minggu sudah Yaka pindah dari rumahnya, dia sekarang tinggal di kamar kost.
“Kemana lagi ya cari kerjaan?” gumam Yaka, dia menutup laptop miliknya, dan berniat keluar kamar untuk cari makan siang, sekaligus beli makanan untuk makan malam.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Bang Yaka?” Sapa seorang lelaki ramah, namun Yaka melihatya sinis.
“Enggak usah sinis gitu Bang, saya kasih tahu fakta dulu, baru Abang boleh sinis sama saya,” ungkap lelaki muda itu, tanpa minta izin, dia duduk di depan Yaka. Mereka duduk di rumah makan Padang.
“Saya pernah dengar, 3 tahun lalu, saat Abang belum menikah, Abang punya utang budi sama kak Bagas,” tanpa diminta lelaki muda itu membuka pembicaraan.
“Kisah pahit saya, semua berawal ketika Rahma mantan istri saya mengatakan hamil empat bulan lalu.”
“Awalnya di situ Bang.” Jelas lelaki bernama Lucky, yang ternyata mantan suami Rahma.
“Saya ini tidak bisa membuahi perempuan, orang tua saya tahu. Sehingga saya tak terbebani harus punya keturunan. Namun semua itu tak saya ceritakan pada siapa pun. Termasuk juga pada Rahma.”
“Nah ketika Rahma dengan menggebu-gebu mengatakan dia hamil, saya berikan surat dari laboratorium pada istri saya dan mertua saya.”
“Saya talak dia karena saya tidak mungkin bisa membuat dia hamil.”
Yaka tentu saja tak percaya mendengar perkataan Lucky barusan.
“Saya tahu Abang nggak percaya, karena versinya Rahma saya itu meninggalkan dia karena saya tidak bertanggung jawab terhadap ekonomi keluarga kami berdua.”
“Versi Rahma lagi saya ini hobinya KDRT, sehingga dia pulang ke rumah orang tuanya, padahal kenyataannya adalah dia saya ceraikan karena saya tidak tahu anak siapa di dalam perutnya.”
“Ini Bang, saya sudah membuat foto hasil lab tersebut, karena nggak mungkin saya selalu bawa kertas bukti dari laboratorium kemana-mana,” Lucky memberikan foto tentang hasil lab bahwa dia tidak mungkin punya anak.
“Jadi jelas di situ tujuan Rahma dan mamanya adalah dia ingin mencari penanggung jawab secara ekonomi terhadap anak dalam perut Rahma. Dan itu ada pada Abang yang dengan lugunya, dengan patuhnya, dan saya bilang dengan gobloknya selalu tunduk pada permintaan Rahma, yang tentunya itu sudah di arange oleh mantan ibu mertua saya yang sangat licik.”
“Itu versi saya Bang. Keluarga besar Rahma semua sudah tahu karena saya beberkan faktanya.”
“Saya juga tidak mau dibilang saya tidak bertanggung jawab, dibilang saya tukang KDRT sehingga saya beberkan kepada semua keluarga Rahma, juga keluarga saya tentunya,” kelas Lucky tanpa ragu membuat yaKa makin ingin terjun dari gedung tingkat lantai 20, mengingat bagaimana bodohnya dia terjebak dalam kubangan yang Rahma dan Soraya buat untuknya.
“Tetapi titik berat semuanya saja beberkan di keluarga Rahma, agar membungkam mulut Rahma dan bu Soraya.”
“Selamat ya Bang. Abang masuk jebakan Batman nya Ibu Soraya.”
“Dia perempuan super licik dan itu menurun pada Rahma,” ucap Lucky lalu dia pergi meninggalkan Yaka yang masih bengong.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa begitu mencekik.Nadia masuk dan menutup pintu mobil itu dengan hentakan pendek. Aroma pengharum mobil langsung menyengat indra penciumannya, dengan wangi kopi nan lembut. Aroma kesukaan Nayaka.Nadia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk bersandar, seolah enggan membiarkan tubuhnya menyentuh apa pun di dalam kendaraan pria yang telah membuangnya."Aku beri waktu lima menit," jelas Nadia, suaranya jernih namun sedingin es, langsung memotong udara sebelum Nayaka sempat menoleh.Nayaka mencengkeram kemudi dengan erat, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang kini berjarak begitu dekat namun terasa ribuan mil jauhnya."Tak bisa, Nad, sejak salah
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesangon, hanya diberi upah dua minggu kerja saja.Rahma makin terpuruk, sudah punya anak cacat, ditambah semua langkahnya selalu saja bisa bocor.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈“Maaf, Bu Nadia sibuk, sampai dua minggu ke depan. Kampus sedang ujian semester,” jelas resepsionis yang Rahma temui siang ini.“Yaka, urus pelacvrmu, tak perlu datan
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah untuk Narendra dan Nareswari.Nayaka diam terpaku mendengar kalimat yang mamanya gunakan. Bukan kalimat dari seorang ibu untuk anaknya.“Apa aku tak boleh melakukan kewajiban ku Ma?” rengek Nayaka.“Bukannya Nadia sudah katakan, sejak Anda lebih mementingkan Rahma, anak-anak Anda sudah măti. Jadi mereka yang ternyata bisa diselamatkan itu bukan anak-anak Anda lagi,” jelas Fitri santai, dia berupaya tak tergoyahkan, sebab semua kesalahan Nayaka yang tak bisa memilah mana yang lebih penting antara istri dan adik temann
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, aku pasti akan tahu,’ kembali ada pesan masuk saat Rahma membeli dua nasi bungkus untuknya dan mamanya.Rahma merasa tak sanggup akan teror ini, dia laporkan semua pada Achmad . “Lalu Papa harus bagaimana?” “Itu kan resiko dari segala perbuatanmu dan mamamu,” ucap Achmad penuh penyesalan. “Mau sewa detektif guna menemukan pelakunya?” “Lalu bayar pengacara buat menuntutnya?” “Uang dari mana?” Achmad memberitahu Rahma, kalau mereka tak akan sanggup melakukan hal yang demikian. Achmad membuka ponsel Soraya, dan memperlihatkan teror yang Soraya dapatkan sebelum dibawa ke rumah sakit guna di rawat. Satu minggu penuh Soraya mendapat teror active sebelum dia terpaksa di rawat. ‘Jadi ….’
“Siapa sebenarnya Nadia, mengapa bisa setegar itu?”“Saat pertama datang tiga bulan lalu, aku memang melihat duka teramat dalam di matanya yang selalu dia tutup dengan senyum.”“Apa karena itu dia tak pernah datang bersama suaminya?”“Apa suaminya meninggal, sebab hubungan dia dengan mertuanya sangat akrab, ibu dan bapak yang dia perkenalkan sebagai mertua juga terlihat sangat mengasihinya, tak mungkin dia bercerai, bila kedua mertuanya tetap baik.”“Dan hubungan mertuanya dengan besan, atau orang tua kandung Nadia juga terlihat akrab,” Aditya terus bergumam sendiri dalam mobil yang dia lakukan di tol menuju Bandung, tempat pertemuan dengan para sohibnya di kampus dulu.
“Anak sialaaaan, bisanya nangis aja!” teriak Rahma kala dia dengar Rani putrinya menangis tak henti.Rahma sekarang kembali bekerja, sebagai staff administrasi di sebuah mall. Dan hari ini di mall tersebar selebaran kalau dia pelakor, juga pelacvr, karena hamil entah dengan siapa, sebab suaminya mandvl.Pulang kerja, Rahma tambah kesal mendengar tangisan Rani.“Diaaaaam!” Teriak Rahma membanting tasnya hampir mengenai Rani.Pembantu rumah tangga yang double job sekalian bertugas menjaga Rani segera menggendong bayi tak berdosa tersebut.“Apa Nadia ya yang melakukan semua ini?”“Nadia membalas dendam?&rdq







