Masuk“Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.
Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!
Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi pelacvr seperti Rahma.
“Ternyata benar yang papa bilang, Rahma itu pelacvr, jelas-jelas suaminya mandvl, dia bisa hamil.”
“Untung Lucky tak memberi tahu sejak awal kalau mandvl, sehingga kebohongan Rahma bisa ketahuan.”
“Kalau Rahma sudah tahu sejak awal Lucky tak bisa punya anak, tentu dia akan main aman diluaran.”
Yaka makin jijik mengingat kebodohannya. Dia dengan setia tidur satu ranjang dengan Rahma, hanya karena perempuan itu bilang ingin merasakan tidur dipeluk, sebab selama ini tak bisa merasakan dari suaminya yang suka KDRT.
Entah mengapa dia bisa seperti kerbau dicocok hidung, berani menginap dan tidur dengan perempuan selain istrinya, saat istrinya malah sedang kesakitan akibat keguguran di rumah sakit, tanpa dia ketahui.
“Gobloooooooook! Elo super goblokkk Yaka!” Teriak Yaka lagi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Siaaaal!” teriak Yaka mengingat semua itu.
Dia tahu, sekarang Achmad sudah menjual rumahnya di bawah harga normal, sebab tak tahan tinggal di lingkungan lama, karena tetangga sekitar selalu membully keluarganya, terutama Soraya dan Rahma.
“Aku akan balas dendam pada Rahma dan tante Soraya!” Tekad Yaka, hari ini dia baru saja daftar aplikasi taksi online sambil menunggu panggilan dari semua CV yang dia kirimkan.
Tentu tak bisa tanpa income, dia harus makan, dan juga bayar kost, serta harus beli bensin sebagai sarana transportasi.
Uang di rekening bisa ludes kalau dia terus menguras tanpa dana pengganti.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Satu bulan berlalu, dan Yaka belum bisa melacak keberadaan Nadia.
Di kampus, tempat Nadia bekerja sebagai dosen, Yaka mendapat keterangan kalau Nadia cuti di luar tanggungan.
Di apotek tempat ayah mertuanya buka usaha, Yaka tahu pemilik apotek sudah lama tak hadir. Pak Galih tiap hari memantau melalui video call saja. Pengecekan stock obat semua juga online.
Dan di rumah sakit tempat bunda mertuanya bekerja, Yaka mendapat keterangan Bu Hanum pernah cuti mendadak 2 minggu, lalu selanjutnya masuk bekerja kembali, hanya tak berani Nayaka temui.
Yaka lebih berani bertemu dengan Galih ayah mertuanya daripada menghadapi bunda mertua.
Hanum tak cerewet, apalagi galak, namun punya kharisma yang sangat kuat. Yaka takut menghadapinya. Bila berhadapan dengan Hanum, seakan dia anak kecil yang bersalah, tak bisa mengelak.
Sebaliknya, Galih, ayah mertuanya, humoris dan supel, karena itu Yaka lebih dekat pada ayah mertua.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Enggak ada yang tahu Mas,” jawab ibu warung dekat rumah lama Rahma. Malam ini Yaka keliling, dia ingin cari info, dimana Rahma sekarang tinggal. Tekadnya untuk balas dendam menggebu, walau dia belum tahu apa yang akan dia lakukan pada Rahma dan Soraya. Sebab tak mungkin dia pukuli dua orang perempuan bajiingan itu.
“Coba tanya ke sopir truk itu, dia yang bawa mereka pindahan,” balas ibu warung sambil mengaduk kopi pesanan pembeli yang baru tiba.
Kalau Yaka mau, dia bisa saja mudah mencari alamat rumah Rahma, dengan cara membuka blokiran semua nomor keluarga Rahma, yaitu mama dan papanya juga Rahma sendiri. Dan tinggal menjawab komunikasi mereka, lalu tanya alamat rumah baru. Selesai, namun dia tak mau.
Yaka memang memblokir nomor mereka setelah tahu dia dibodoh-bodohi dengan semua kebohongan yang terstruktur.
“Saya tulis disni ya,” ucap sopir truk yang ditunjuk oleh ibu pemilik warung kopi.
“Tak perlu Pak, biar saya tulis di ponsel saja,” balas Yaka, dia tulis alamat rumah Rahma, berikut ancer-ancer yang sopir truk berikan.
“Terima kasih Pak, ucap Yaka sopan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Siapa sih yang sebar info tak benar?” Achmad Waskita, papa Rahma geram, di lingkungan barunya tersiar khabar kalau mereka pindah sebab di lingkungan rumah lama, mereka dibully akibat ketahuan kalau Rahma itu perempuan tak baik, sebab bisa hamil padahal suaminya mandvl.
Dan Rahma itu pelakor, dengan menjerat suami orang serta membully istri sah lelaki tersebut.
Semua didengar Achmad saat dia pulang dari shalat subuh.
“Tak perlu marah Pak, kalau tak benar pasti akan hilang dengan sendirinya,” ucap tetangga sebelah rumah yang jalan bersama Ahmad.
“Namun, kalau memang Khabar itu info sebenarnya, ya pasti akan makin besar beritanya,” lanjut sang tetangga, membuat Achmad makin cemas, karena info tersebut akurat.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Paginya, saat sedang belanja sayur di tukang sayur keliling, para ibu heboh, mereka saling mengingatkan, hati-hati terhadap anak lelaki atau suami atau menantu mereka, takut digoda Soraya dan Rahma!
Soraya mendengar sendiri secara langsung bisik-bisik itu, padahal dia sudah menyusun skenario, suami Rahma meninggal karena kecelakaan, dan mereka pindah rumah agar Rahma tak ingat suaminya di lingkungan rumah lama.
“Kalau di rumah lama, semua jelas mendengar dari pak Ikhsan, saat dia datang ke rumah, kalau disini dapat info dari mana? Semua tetangga rumah lama tak ada yang ikut kesini,” jelas Achmad, saat mendengar Soraya mengadu apa yang dia dengar saat belanja sayuran di tukang sayur keliling.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kamu dimana Yank?” Gumam Yaka. Masuk bulan kedua, Yaka terus mencari informasi terkait keberadaan Nadia di kampus.
Saat ini dia kembali ke kampus tempat Nadia mengajar, ternyata keterangan yang didapat masih sama. Nadia cuti tanpa tunjangan dengan batas waktu yang tak disebutkan.
Sementara ayah dan bunda mertuanya tetap beraktivitas normal.
Dan tak ada Nadia di rumah mertuanya.
Yaka belum dapat kerja kantoran, untungnya dia masih dapat income dari taksi online. Tak ada malu, toh dia tak mencuri. Hanya ada penyesalan. S2 di London tak bekerja di kantoran. Income tak kurang, hanya prestise yang tak dia miliki karena pekerjaannya sekarang.
“Rinduku padamu itu seperti kafein Yank.”
“Bikin deg-deg an dan susah tidur.”
“Aku tahu, sebenarnya itu tak sehat.”
“Tapi anehnya, tetap saja aku konsumsi tiap hari,” ucap Yaka sambil mengaduk kopi instan yang baru dia seduh.
Yaka sangat merindukan Nadia, perempuan yang sangat dia cintai, namun sekaligus perempuan yang juga sangat dia sakiti karena kesalahan fatal yang dia ambil.
Yaka mengunyah roti isi keju sebagai sarapannya, sedang pilihan kopinya pagi ini adalah kopi dengan tambahan choco granules.
Dia mulai nyalakan aplikasi taksi online, siapa tahu ada yang nyangkut.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa begitu mencekik.Nadia masuk dan menutup pintu mobil itu dengan hentakan pendek. Aroma pengharum mobil langsung menyengat indra penciumannya, dengan wangi kopi nan lembut. Aroma kesukaan Nayaka.Nadia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk bersandar, seolah enggan membiarkan tubuhnya menyentuh apa pun di dalam kendaraan pria yang telah membuangnya."Aku beri waktu lima menit," jelas Nadia, suaranya jernih namun sedingin es, langsung memotong udara sebelum Nayaka sempat menoleh.Nayaka mencengkeram kemudi dengan erat, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang kini berjarak begitu dekat namun terasa ribuan mil jauhnya."Tak bisa, Nad, sejak salah
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesangon, hanya diberi upah dua minggu kerja saja.Rahma makin terpuruk, sudah punya anak cacat, ditambah semua langkahnya selalu saja bisa bocor.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈“Maaf, Bu Nadia sibuk, sampai dua minggu ke depan. Kampus sedang ujian semester,” jelas resepsionis yang Rahma temui siang ini.“Yaka, urus pelacvrmu, tak perlu datan
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah untuk Narendra dan Nareswari.Nayaka diam terpaku mendengar kalimat yang mamanya gunakan. Bukan kalimat dari seorang ibu untuk anaknya.“Apa aku tak boleh melakukan kewajiban ku Ma?” rengek Nayaka.“Bukannya Nadia sudah katakan, sejak Anda lebih mementingkan Rahma, anak-anak Anda sudah măti. Jadi mereka yang ternyata bisa diselamatkan itu bukan anak-anak Anda lagi,” jelas Fitri santai, dia berupaya tak tergoyahkan, sebab semua kesalahan Nayaka yang tak bisa memilah mana yang lebih penting antara istri dan adik temann
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, aku pasti akan tahu,’ kembali ada pesan masuk saat Rahma membeli dua nasi bungkus untuknya dan mamanya.Rahma merasa tak sanggup akan teror ini, dia laporkan semua pada Achmad . “Lalu Papa harus bagaimana?” “Itu kan resiko dari segala perbuatanmu dan mamamu,” ucap Achmad penuh penyesalan. “Mau sewa detektif guna menemukan pelakunya?” “Lalu bayar pengacara buat menuntutnya?” “Uang dari mana?” Achmad memberitahu Rahma, kalau mereka tak akan sanggup melakukan hal yang demikian. Achmad membuka ponsel Soraya, dan memperlihatkan teror yang Soraya dapatkan sebelum dibawa ke rumah sakit guna di rawat. Satu minggu penuh Soraya mendapat teror active sebelum dia terpaksa di rawat. ‘Jadi ….’
“Siapa sebenarnya Nadia, mengapa bisa setegar itu?”“Saat pertama datang tiga bulan lalu, aku memang melihat duka teramat dalam di matanya yang selalu dia tutup dengan senyum.”“Apa karena itu dia tak pernah datang bersama suaminya?”“Apa suaminya meninggal, sebab hubungan dia dengan mertuanya sangat akrab, ibu dan bapak yang dia perkenalkan sebagai mertua juga terlihat sangat mengasihinya, tak mungkin dia bercerai, bila kedua mertuanya tetap baik.”“Dan hubungan mertuanya dengan besan, atau orang tua kandung Nadia juga terlihat akrab,” Aditya terus bergumam sendiri dalam mobil yang dia lakukan di tol menuju Bandung, tempat pertemuan dengan para sohibnya di kampus dulu.
“Anak sialaaaan, bisanya nangis aja!” teriak Rahma kala dia dengar Rani putrinya menangis tak henti.Rahma sekarang kembali bekerja, sebagai staff administrasi di sebuah mall. Dan hari ini di mall tersebar selebaran kalau dia pelakor, juga pelacvr, karena hamil entah dengan siapa, sebab suaminya mandvl.Pulang kerja, Rahma tambah kesal mendengar tangisan Rani.“Diaaaaam!” Teriak Rahma membanting tasnya hampir mengenai Rani.Pembantu rumah tangga yang double job sekalian bertugas menjaga Rani segera menggendong bayi tak berdosa tersebut.“Apa Nadia ya yang melakukan semua ini?”“Nadia membalas dendam?&rdq







