LOGIN“Silakan masuk,” Soraya Caraka, mama Rahma mempersilakan Fitriyani sahabatnya semenjak SMA, sekaligus mama Yaka untuk masuk ke rumahnya.
“Tak perlu, suruh saja Yaka keluar sebentar,”
Ikhsan Caturangga, papa Yaka bersuara sangat keras, sehingga Yaka yang ada di ruang makan mendengar itu.
Dan pastinya, tetangga juga mendengar dan pada keluar rumah, ingin tahu ada apa di rumah keluarga Soraya Caraka dan Achmad Waskita itu.
Yaka sedang makan malam bersama Rahma dan Achmad Waskita, papa Rahma, tadi tentu juga bersama Soraya sebelum Soraya keluar saat pembantu bilang ada tamu mencari dirinya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ada apa Pa?” Tanya Yaka kaget, bercampur bingung, papanya menyusul ke rumah Rahma.
“Kalian dengar semua, sejak hari ini, Yaka sudah bercerai dengan Nadia, sebab Yaka selingkuh dengan Rahma!” Teriak Ikhsan lantang. Para tetangga yang sejak mendengar teriakan awal Ikhsan Caturangga terus mendengarkan.
“Aku enggak selingkuh Pa, aku enggak punya hubungan cinta sama Rahma,” bantah Yaka cepat dan tegas, walau dia gugup sebab kalau papanya yang bicara, itu tak main-main.
“Kamu tak selingkuh, istrimu mulas, kamu tak peduli, lebih peduli pada pelacvr yang hamil entah anakmu atau bukan sampai istrimu KEGUGURAN!” teriak Ikhsan Caturangga geram
Achmad Waskita tentu tak rela anaknya disebut pelacvr.
“Kalau kamu tak rela anakmu disebut pelacvr, mengapa dia selalu menelpon suami orang tengah malam dan minta anakku datang kesini?” Teriak Ikhsan Caturangga sebelum Achmad Waskita buka mulut, seakan dia tahu apa yang ada dipikiran Achmad.
“Aku juga punya banyak bukti, pelacvr ini selalu mengirim pesan kalau dia lebih hebat dari menantuku, aku punya bukti dia mengirim foto sedang disuapi anakku pada menantuku, sedang diselimuti dan banyak lagi!” Lanjut Ikhsan, membuat Yaka kaget Rahma memprovokasi Nadia sedemikian rupa.
“Sejak hari ini, tak perlu kamu cari Nadia, surat cerai sudah Papa proses!” Ucap Ikhsan Caturangga sambil balik badan.
“Hanum, tunggu,” pinta Soraya Caraka memelas.
“Kamu sejak dulu sama saja, selalu suka sama barang orang,” ucap Hanum pedas setelah dia berbalik badan kembali, menghadap arah rumah Soraya, padahal sebelumnya dia sudah berbalik badan mengikuti suaminya.
“Dulu setiap kekasihku selalu kamu rebut, sehingga aku sengaja tak memberitahu saat aku pacaran dengan uda Ikhsan Caturangga!”
“Dan ternyata, sifat pelakormu menurun pada anakmu perempuanmu!”
“Persahabatan kita memang sejak dulu aku putus, tapi kamu selalu saja mendekat.”
“Sekarang kalian puas, ibunya pelakor, anaknya pelacvr!” Teriak Hanum agar para tetangga tahu siapa Soraya Caraka.
“Dan kamu Yaka, kamu bukan anakku lagi,” tutup Hanum, membuat Yaka langsung mengejar mama dan papanya.
“Tak perlu meminta maaf pada kami. Urus saja anak pelacvrmu, kamu bahkan tak tahu, anakmu meninggal karena terlambat dibawa ke rumah sakit!”
“Kalau saat Nadia mengeluh, kamu langsung merespon, mungkin cucu Mama masih ada!” Teriak Hanum sambil menepis tangan Yaka.
“Lelaki gila, bapak edan, istri sendiri hamil, ngurusin perempuan lain yang juga hamil. Jangan-jangan pelacvr lebih dia cintai daripada istri sahnya.”
“Wah rupanya dia pelacvr, pantas saja kelakuannya seperti itu, sering pergi malam.”
“Ya ampuun, suami model apa yang membiarkan istrinya kesakitan sampai anaknya meninggal?”
“Lelaki biadaaab!”
Semua tetangga langsung menghujat Yaka, juga Rahma, tak peduli lagi.
Sebelum masuk mobil, Ikhsan mendekati seorang tetangga, meminta nomor ponselnya, dan dia bagikan screenshot dari Rahma pada Nadia, membuat screenshot itu beredar dari tangan ke tangan sehingga Rahma dan Soraya makin terkucilkan sebab kelakuannya sangat minus.
“Waaaah parah, pelacvr itu memang memprovokasi istri sah!” Teriak seorang tetangga melihat bukti screenshot dari Rahma pada Nadia.
“Waaah, ini suami gila, mengecup perempuan lain dia bilang enggak selingkuh,” balas yang lain.
“Dia bilang tak ada apa-apa, tapi sampai memakaikan sandal dan selimut, lelaki mana yang sampai memakaikan sandal dan selimut pada perempuan lain selain istrinya bila bukan selingkuhannya?” Teriak yang lain, membuat malam semakin ramai, sementara Achmad tak percaya apa yang diucap semua tetangganya sebab dia tak pernah tahu hal itu.
Sementara Soraya pelan-pelan masuk ke rumah sebelum jadi amukan warga, dan sejak tadi Rahma tak berani keluar rumah.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Yaka mendengar sebagian komentar tetangga Rahma, dia langsung lari, masuk ke dalam rumah, mengambil ponselnya yang sedang di charge dan bergegas masuk mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Mengapa semua bisa seperti ini?” Teriak Yaka, dia pukul setir sebab bingung, mau marah pada siapa?
“Aku tak selingkuh!”
“Mengapa semua salah paham?”
“Aku tak selingkuh!” Yaka mengucap itu berulang kali, seakan ingin menanamkan hal itu pada dirinya sendiri, kalau yang dia lakukan adalah benar.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Yaka tiba di rumah makin bingung. Rumahnya gelap, Yaka menyalakan lampu. Ternyata dua pembantu rumah itu sudah tak ada!
“Nadiaaaaa,” teriak Yaka sambil lari ke kamarnya, dan semua barang Nadia sudah tak ada!
“Nadiaaaaaaa!” teriak Yaka, tak peduli bila teriakannya mengganggu tetangga.
Yaka tak percaya, omongan papanya terbukti, dia tak perlu mencari Nadia lagi.
Bagaimana mungkin tadi sebelum berangkat ke kantor semua barang Nadia masih utuh di tempatnya, dan malam ini semua sudah raib? Sudah tak ada semua.
“Mengapa tak ada yang percaya aku yak selingkuh?” Kembali Yaka berteriak kalau apa yang dia lakukan tak pernah melanggar norma. Dia tetap setia pada Nadia istrinya tercinta.
Sungguh Yaka belum sadar, semua prinsipnya salah besar.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa begitu mencekik.Nadia masuk dan menutup pintu mobil itu dengan hentakan pendek. Aroma pengharum mobil langsung menyengat indra penciumannya, dengan wangi kopi nan lembut. Aroma kesukaan Nayaka.Nadia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk bersandar, seolah enggan membiarkan tubuhnya menyentuh apa pun di dalam kendaraan pria yang telah membuangnya."Aku beri waktu lima menit," jelas Nadia, suaranya jernih namun sedingin es, langsung memotong udara sebelum Nayaka sempat menoleh.Nayaka mencengkeram kemudi dengan erat, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang kini berjarak begitu dekat namun terasa ribuan mil jauhnya."Tak bisa, Nad, sejak salah
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesangon, hanya diberi upah dua minggu kerja saja.Rahma makin terpuruk, sudah punya anak cacat, ditambah semua langkahnya selalu saja bisa bocor.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈“Maaf, Bu Nadia sibuk, sampai dua minggu ke depan. Kampus sedang ujian semester,” jelas resepsionis yang Rahma temui siang ini.“Yaka, urus pelacvrmu, tak perlu datan
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah untuk Narendra dan Nareswari.Nayaka diam terpaku mendengar kalimat yang mamanya gunakan. Bukan kalimat dari seorang ibu untuk anaknya.“Apa aku tak boleh melakukan kewajiban ku Ma?” rengek Nayaka.“Bukannya Nadia sudah katakan, sejak Anda lebih mementingkan Rahma, anak-anak Anda sudah măti. Jadi mereka yang ternyata bisa diselamatkan itu bukan anak-anak Anda lagi,” jelas Fitri santai, dia berupaya tak tergoyahkan, sebab semua kesalahan Nayaka yang tak bisa memilah mana yang lebih penting antara istri dan adik temann
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, aku pasti akan tahu,’ kembali ada pesan masuk saat Rahma membeli dua nasi bungkus untuknya dan mamanya.Rahma merasa tak sanggup akan teror ini, dia laporkan semua pada Achmad . “Lalu Papa harus bagaimana?” “Itu kan resiko dari segala perbuatanmu dan mamamu,” ucap Achmad penuh penyesalan. “Mau sewa detektif guna menemukan pelakunya?” “Lalu bayar pengacara buat menuntutnya?” “Uang dari mana?” Achmad memberitahu Rahma, kalau mereka tak akan sanggup melakukan hal yang demikian. Achmad membuka ponsel Soraya, dan memperlihatkan teror yang Soraya dapatkan sebelum dibawa ke rumah sakit guna di rawat. Satu minggu penuh Soraya mendapat teror active sebelum dia terpaksa di rawat. ‘Jadi ….’
“Siapa sebenarnya Nadia, mengapa bisa setegar itu?”“Saat pertama datang tiga bulan lalu, aku memang melihat duka teramat dalam di matanya yang selalu dia tutup dengan senyum.”“Apa karena itu dia tak pernah datang bersama suaminya?”“Apa suaminya meninggal, sebab hubungan dia dengan mertuanya sangat akrab, ibu dan bapak yang dia perkenalkan sebagai mertua juga terlihat sangat mengasihinya, tak mungkin dia bercerai, bila kedua mertuanya tetap baik.”“Dan hubungan mertuanya dengan besan, atau orang tua kandung Nadia juga terlihat akrab,” Aditya terus bergumam sendiri dalam mobil yang dia lakukan di tol menuju Bandung, tempat pertemuan dengan para sohibnya di kampus dulu.
“Anak sialaaaan, bisanya nangis aja!” teriak Rahma kala dia dengar Rani putrinya menangis tak henti.Rahma sekarang kembali bekerja, sebagai staff administrasi di sebuah mall. Dan hari ini di mall tersebar selebaran kalau dia pelakor, juga pelacvr, karena hamil entah dengan siapa, sebab suaminya mandvl.Pulang kerja, Rahma tambah kesal mendengar tangisan Rani.“Diaaaaam!” Teriak Rahma membanting tasnya hampir mengenai Rani.Pembantu rumah tangga yang double job sekalian bertugas menjaga Rani segera menggendong bayi tak berdosa tersebut.“Apa Nadia ya yang melakukan semua ini?”“Nadia membalas dendam?&rdq







