Boneka Tawanan Sang Mafia

Boneka Tawanan Sang Mafia

last updateLast Updated : 2026-06-27
By:  KaorichOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
21views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Sekali pintu jet ini tertutup, kau menjadi tawanan dalam kuasaku selamanya." Kata-kata bariton sarat otoritas itu menjadi awal dari takdir baruku. Di usiaku yang baru menginjak delapan belas tahun, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa paman kandungku sendiri telah menjualku kepada gangster lokal demi melunasi utang judi sialannya. Demi meloloskan diri dari neraka jalanan Edinburgh yang membeku, aku nekat menyusup ke dalam jet pribadi mewah milik Dominic Moretti—seorang mafi berusia tiga puluh lima tahun yang terkenal kejam dan ditakuti di seluruh daratan Eropa. Dominic menawarkan perlindungan mutlak yang tak tertembus, namun harga yang harus kubayar tidaklah murah. Aku harus menyerahkan seluruh kebebasanku dan mengunci diri di dalam sangkar emas penthouse Milan milik sang tuan. Di dalam jerat obsesi yang mengungkung, perang dingin emosional di antara kami perlahan mengikis rasa benciku, hingga aku menyerahkan seluruh hati dan ragaku secara sukarela ke dalam pelukan hangat pria yang awalnya kuanggap monster itu. Namun, ketika gairah posesif kami baru saja menyatu, masa lalu kelamku mendadak meruntuhkan benteng keamanan Milan, membawa teror bom waktu yang siap meledakkan tempat persembunyian kami. Dominic rela berdarah-darah dan menjadikan tubuh tegapnya sendiri sebagai tameng hidup demi melindungiku, sebelum pasukan musuh berhasil menyeret tubuhku pergi dalam kegelapan. Akankah Dominic sang penguasa Milan itu mampu bangkit dari kematian demi merebut kembali hak mutlak atas diriku, ataukah aku akan selamanya hancur di dalam labirin air Venesia yang mematikan?

View More

Chapter 1

Terjebak Di Kandang Singa yang Mewah

"Cari pelacur kecil itu! Jangan sampai dia lolos!" Sebuah teriakan kasar memecah suara gemuruh guntur dari arah belakangku.

Paman Thomas, satu-satunya kerabat yang kupunya, telah menjualku kepada gangster lokal demi melunasi utang judi sialannya. Pria-pria beringas itu mengejarku layaknya seonggok daging taruhan. Air mataku luruh bercampur air hujan, mengaburkan pandanganku yang mulai memutih karena kelelahan ekstrem.

Di depanku, sebuah pagar besi pembatas area hanggar privat bandara tampak sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting bertahan hidup yang murni, aku menyelinap masuk menembus celah sempit itu. Kakiku yang telanjang terasa perih, berdarah karena tergores kerikil tajam di atas beton landasan yang membeku.

Tepat di tengah landasan, sebuah jet pribadi mewah berwarna hitam legam dengan logo naga perak sedang bersiap untuk lepas landas.

Pintu kargo belakang jet itu masih terbuka sedikit, menyisakan celah yang sangat pas untuk ukuran tubuh mungilku. Dengan sisa tenaga yang tersisa, aku memanjat masuk ke dalam lambung pesawat yang hangat dan sunyi.

Aku merangkak melintasi koridor interior yang dilapisi karpet beludru tebal, mencoba meredam suara isak tangisku. Aku membuka sebuah pintu geser dan menemukan kamar tidur utama yang sangat luas dan mewah di bagian belakang jet.

Sebuah ranjang raksasa dengan selimut tebal berbahan bulu angsa langsung menarik perhatianku yang sudah di ambang kesadaran. Aku menyelinap ke bawah selimut itu, meringkuk sekecil mungkin seperti janin demi menyembunyikan eksistensiku.

Tubuhku masih gemetar hebat, dan aku terus berdoa dalam hati agar neraka di luar sana tidak bisa mencapaiku di sini. Aku memeluk lututku erat-erat, menanti dengan jantung yang berdegup kencang bagai tabuhan genderang perang.

Suara pintu jet yang tertutup rapat dari luar seketika membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Tak lama kemudian, gema langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat ke arah kamar persembunyianku. Suara ketukan sepatu kulit mahal itu terdengar sangat konstan, menciptakan ketegangan yang mencekik udara di sekitarku.

Pintu geser kamar terbuka dengan satu sentakan pelan, membawa masuk sebuah aura yang luar biasa pekat dan dingin. 

"Keluar," sebuah suara bariton yang berat, rendah, dan beraksen Italia terdengar memecah keheningan ruangan. Suara itu tidak keras, namun sarat akan otoritas mutlak yang membuat seluruh pertahananku runtuh seketika.

Aku tetap bergeming di bawah selimut, menahan napas dengan harapan pria asing itu akan mengabaikan gundukan di ranjangnya.

"Aku tidak suka mengulang kalimatku, tikus kecil. Keluar sekarang atau pengawal pribadiku akan melemparmu dari ketinggian," ancamnya lagi dengan nada yang semakin menipis kesabarannya.

Sebelum aku sempat memohon, selimut tebal itu disentak kasar hingga tubuhku yang basah kuyup terekspos sepenuhnya di bawah lampu kamar yang temaram.

Aku menjerit kecil, reflex mencoba merangkak mundur demi menjauh dari sosok yang berdiri di tepi ranjang. Namun, sebuah tangan besar dengan cengkeraman sekuat besi langsung menyambar dan mengunci pergelangan tanganku dengan erat.

"Lepas! Tolong, lepaskan aku!" tangis pembelaanku pecah saat aku mencoba meronta sekuat tenaga.

Aku mendongak dengan air mata yang mengalir deras, dan detik itu juga duniaku serasa berhenti berputar. Pria di hadanpanku adalah Dominic Moretti, sosok miliarder perkapalan berusia tiga puluh sei tahun yang terkenal kejam dan ditakuti di seluruh daratan Eropa.

Ia memiliki ketampanan yang sangat berbahaya, dengan rahang tegas yang dicukur rapi dan setelan jas Milan yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.

"Siapa yang mengirimmu untuk menyelinap ke dalam propertiku?" tanyanya dingin, menatapku dengan sepasang mata elangnya yang berwarna abu-abu gelap.

"Tolong, aku. Aku bukan siapa-siapa," cicitku terbata-bata, tubuhku semakin gemetar di bawah bayang-bayang tubuh besarnya yang begitu mengintimidasi.

"Aku hanya bersembunyi. Jangan serahkan aku pada pria-pria di luar sana, aku mohon."

Dominic tidak segera melepaskan pandangannya dari wajahku, namun perlahan, cengkeraman kasarnya di pergelangan tanganku mengendur. Sepasang mata abu-abunya menelusuri penampilanku yang kacau, gaun malamku yang basah tercetak jelas, dan luka berdarah di kaki telanjangku.

Detik itu juga, kilat kejam di matanya mendadak meredup, digantikan oleh seulas tatapan posesif yang sangat asing namun terasa begitu protektif.

Ia duduk di tepi ranjang, merogoh saku jasnya untuk mengeluarkan selembar sapu tangan sutra putih yang wangi.

"Diamlah. Menangis tidak akan mengubah fakta bahwa kau telah masuk ke dalam kandangku, Tikus Kecil," bisiknya dengan suara yang melembut.

Dengan gerakan yang sangat lembut—sangat kontras dengan auranya yang menakutkan beberapa detik lalu—Dominic mengusap air mata di pipiku menggunakan sapu tangan itu.

Sentuhan jemarinya yang hangat membuat debaran aneh menjalar di dadaku, menghapus rasa dingin yang sejak tadi menyiksaku. Aku hanya bisa terpaku menatap wajah tampannya dari jarak yang sangat dekat.

"Siapa namamu?" tanya Dominic lagi, kali ini suaranya terdengar seperti sebuah tuntutan yang tak bisa kuhindari.

"Clara. Clara Vance," jawabku dengan suara bergetar pelan.

"Dan siapa yang mengejarmu di luar sana, Clara?" Dominic mengusap untaian rambut pirang maduku yang basah dengan ujung jarinya yang hangat.

"Anak buah pamanku," bisikku pilu, teringat kembali pada keputusasaanku. "Paman menjadikanku taruhan judi malam ini. Mereka ingin mengambilku secara paksa."

Di luar jet pribadi, sayup-sayup terdengar suara teriakan anak buah Paman Thomas yang mulai menggedor pintu masuk hanggar bandara privat. Tubuhku reflex tersentak panik, mencoba mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman. 

"Mereka di sana! Mereka akan menemukanku!" jeritku panik sembari mencoba turun dari ranjang.

Namun, Dominic justru menahan bahuku dengan kokoh, menundukkan wajah tampannya hingga jarak di antara kami mengikis habis. Aroma maskulin bercampur tembakau mahal dari tubuhnya seketika memabukkan seluruh indra penciumanku. Dominic mengunci pandanganku dengan intensitas yang mematikan, menyunggingkan seulas senyuman tipis yang misterius di bibir tegasnya.

Ibu jarinya yang hangat bergerak perlahan, mengusap bibir bawahku yang bergetar hebat dengan penuh kelembutan yang mengungkung.

"Aku bisa menyelamatkanmu dari mereka, Tikus Kecil," bisik Dominic intim, tepat di depan bibirku seiring suara mesin jet yang mulai menderu keras menembus badai. 

"Tapi sekali pintu jet ini tertutup, kau menjadi tawanan dalam kuasaku selamanya."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status