ログインNathan menarik napas panjang."Tentang ucapan saya tadi..."Kalimat itu menggantung beberapa detik.Jemari Loraine tanpa sadar meremas kedua sisi roknya hingga kusut."Ya?" jawab Loraine. Nathan mengusap tengkuknya pelan."Menurut saya... sebaiknya kita membicarakannya di tempat lain."Loraine terdiam."Di sini terlalu banyak orang."Nathan melirik beberapa pegawai yang masih sesekali menoleh ke arah mereka."Saya tidak ingin menambah bahan gosip,” ucapnya. Loraine ikut melihat ke sekeliling. Beberapa pegawai memang masih memperhatikan mereka diam-diam."...""Baik, Pak."Jawabannya lirih. Meski begitu… dadanya justru semakin berdegup kencang."Tempat lain?" pikirnya. "Kenapa harus di tempat lain?" tanyanya dalam hati.Berbagai kemungkinan mulai bermunculan di kepala Loraine. Nathan mengangguk pelan setelah mendengar ja
Loraine memejamkan mata."Hah… selamat. Sementara satu masalah selesai," gumamnya dalam hati."Lalu… bagaimana dengan ucapan Pak Nathan tadi?" lanjutnya dalam hati.Suasana di depan gedung kantor mendadak terasa canggung. Para karyawan yang tadi sempat memperhatikan perlahan kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.Nathan mengusap tengkuknya pelan."Maaf."Suara itu membuat Loraine menoleh ke arahnya langsung. Dan Nathan menarik napas panjang."Tadi... saya bicara tanpa berpikir."Loraine hanya mengangguk pelan."Tidak apa-apa, Pak."Jawabannya terdengar tenang. Namun ekspresinya tetap menyisakan kewaspadaan. Nathan kembali membuka suara."Saya hanya ingin dia melepaskan Anda.""...""Saya tidak bermaksud merugikan Anda."Loraine kembali mengangguk."Baik, Pak."Nathan merasa penjelasannya belum cukup."Saat itu... saya pikir it
"Selamat. Mulutmu berhasil menghancurkan hidupmu sendiri,” batin Nathan. "Astaga. Apa yang baru saja kukatakan?" bisiknya dalam hati.Nathan memejamkan mata beberapa detik. Kalau saja waktu bisa diputar lima detik… mulutnya pasti sudah ia tutup rapat sebelum sempat mengucapkan kalimat memalukan itu.Ia menarik napas panjang."Sudahlah. Semoga wanita ini mau mengikuti sandiwaraku,” Nathan berharap dalam hatinya. "Kalau dia malah membantah sekarang… aku benar-benar ingin menghilang dari planet ini,” batinnya. Nathan perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung bertemu dengan Loraine. Wanita itu masih menatapnya dengan mata membulat."...""Apa maksud Pak Nathan? Calon suami? Aku? Kapan?" batin Loraine. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Loraine setelah mendengar ucapan Nathan yang tak hanya membuatnya terkejut, melainkan juga membuatnya tak tahu harus merespon apa.Loraine mencoba menginga
"Sialan." Nathan langsung mematikan sambungan teleponnya begitu melihat sosok pria yang berdiri tak jauh dari pintu keluar gedung. “Pria itu lagi,” gumamnya. Leon berdiri santai dengan kedua tangan di saku celananya. Tatapannya terus mengarah ke pintu masuk kantor, seolah sedang menunggu seseorang. Nathan menghela napas panjang. "Apa dia tidak punya pekerjaan?" cibir Nathan pelan. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. "Kalau dibiarkan begini, wanita itu pasti kesulitan untuk pulang lagi." Nathan sebenarnya enggan ikut campur. Yang diinginkannya saat ini hanya pulang, mandi, lalu tidur tanpa diganggu siapa pun. "Hari ini sudah cukup melelahkan. Besok masih ada tiga rapat. Jangan cari masalah lagi,” batinnya. Namun kedua kakinya justru melangkah menuju Leon. Dan Leon menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat. "Kau?" Nathan berhenti tepat di depannya. Sementara Leon hanya menatapnya datar. Kemudian Nathan membuka suara lebih dulu. "Silakan tinggalkan area ini." L
Degh! Jantung Loraine berdegup lebih cepat ketika melihat sebuah sedan hitam perlahan mengurangi kecepatan lalu berhenti tak jauh dari halte."Leon?" batinnya.Tanpa sadar ia melangkah mundur satu langkah. Jemarinya menggenggam tali tas semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.Pintu mobil terbuka saat seorang wanita melambaikan tangan sambil tersenyum."Maaf ya, bikin kamu nunggu lama.""Belum lama kok, aku juga baru sampai."Pria itu tertawa kecil, lalu membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut.Mobil itu kembali melaju meninggalkan halte. Loraine akhirnya bisa menghela napas panjang."Ternyata bukan Leon..."Ia menundukkan kepala sambil tersenyum getir."Aku benar-benar tak bisa bernapas lega."Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya datang. Loraine segera naik dan memilih duduk di dekat jendela.Sepanjang perjalanan, pandangannya hanya tertuju ke arah lua
“A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump







