تسجيل الدخولTerjebak di tubuh karakter novel yang paling dibenci adalah mimpi buruk. Tapi bagi Feranda, menjadi Grizella Lucelia Syailendra adalah tiket menuju maut. Di kehidupan aslinya, Grizella adalah benalu. Ia dibenci kakak-kakaknya, menjadi penghambat cinta Tuan Muda Zio dengan Adeeva, dan berakhir tewas mengenaskan tanpa ada yang peduli. Kini, jiwa Fera berada di tubuh ringkih itu. Dinginnya tatapan keluarga Syailendra menyambutnya setiap hari. Menjauh dari mereka terdengar seperti rencana yang waras. Namun, melihat bagaimana plot novel mulai berjalan, Fera tertantang untuk membalikkan keadaan. Jika dulunya Grizella adalah sampah yang dibuang, bisakah Fera membuat ketiga kakak yang membencinya itu berlutut, memohon agar adik bungsu mereka tidak pergi?
عرض المزيدSeorang gadis cantik, terlihat tengah mengkhayal di dalam kamarnya. Sampai suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring, hingga khayalannya langsung buyar.
"Ganggu orang lagi mengkhayal aja," keluh gadis itu yang tidak lain adalah Ferandha Carissa. Ferandha atau kerap disapa Fera adalah seorang artis papan atas. "Fera bangun! Enggak liat udah jam berapa?" Talia– Asisten Fera berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar majikannya. "Apa sih Tal! Gue udah bangun kali, lo lagi ngapain sih ketuk-ketuk gitu. Padahal lo bisa tinggal masuk ke kamar gue kayak biasanya, toh gue nggak kunci kamar," balasnya dengan jengah. "Lupa gue, Fer. Gue kira kamarnya lo kunci kayak kemarin. Lo juga sih, Fer. Enggak liat jam apa gimana? Sekarang udah pukul berapa, lo itu harus syuting tau nggak sih. Kalau udah bangun, harusnya lo udah siap di depan tinggal berangkat. Enggak perlu gue teriak-teriak panggilin lo. Atau lo lupa ada syuting hari ini?" Talia memang Asisten Fera, tetapi Fera tidak menganggapnya sebagai Asisten melainkan sahabat. Karena Talia sudah lama bekerja dengan Fera, bahkan sejak pertama Fera me jadi Artis. Talia sendiri usianya 3 tahun lebih tua dari Fera, tetapi Talia lebih nyaman dipanggil nama oleh Fera tanpa embel-embel apapun. Talia sudah menikah dan punya anak, tetapi ia tidak pernah melalaikan tugasnya sebagi Asisten artis besar. Fera dan Talia kenal karena keduanya pernah sama-sama bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Tentu Fera tidak bisa langsung menjadi artis, Fera melakukan berbagai cara agar bisa tercapai. Sampai ada suatu casting pemeran pembantu yang Fera ikuti, sutradara dan produser melihat Fera akting sangat bagus menurut mereka Fera layak menjadi pemeran utama di film yang mereka garap. Apalagi Fera memang sangat cantik, mereka juga mempertimbangkan Fera yang pernah menjadi figuran, foto model dan bintang iklan. Fera awalnya mengajak Talia untuk ikut dengannya, tetapi Talia sama sekali tidak berminat untuk menjadi seorang artis. Dirinya sadar, tidak bisa akting dan juga tidak secantik Fera. Akhirnya, Fera yang ingin membantu perekonomian keluarga Talia. Meminta Talia menjadi Asistennya saja, gadis itu tahu bahwa teman kerjanya membutuhkan banyak uang untuk membiayai pengobatan Ibunya serta membiayai sekolah keempat adiknya. Untuk tawaran menjadi Asisten seorang artis, jelas Talia tidak akan menolaknya. Walau saat itu Fera juga tidak bisa memberikan gaji yang banyak, tetapi Talia tetap bersyukur karena pekerjaan yang diberikan Fera tidaklah sulit. "Kalau gue nggak lagi pengen sendiri juga nggak akan kunci pintu kok. Gue nggak lupa, tapi gue lagi males aja, Tal. Gue tuh lagi asyik baca novel 'Panah Asrama Tuan Muda' ceritanya seru banget. Gue bahkan mengkhayal punya suami kayak Tuan Muda Zio," ujar Fera panjang lebar. "Lo nggak bisa seenaknya bilang males, ini itu hari pertama syuting sinetron. Bisa dicap gak profesional kalau lo sampe gak ikut syuting di hari pertama," omel Talia pada majikan sekaligus sahabatnya. "Lagian apa serunya novel kayak gitu? Inget Fer, novel itu cuma bikinan manusia. Nggak bakal ada cowok sesempurna Tuan Zio-lo itu." Mendengar ucapan Talia, Fera hanya bisa memanyunkan bibirnya. Talia menarik tangan Fera untuk segera bersiap-siap, ia tidak ingin Fera sampai terlambat ke tempat syuting. Fera menghela napas panjang, sebelum akhirnya bangkit dari ranjangnya. Ia tidak akan bisa melawan Talia. Sebenarnya yang membuat Fera malas untuk syuting karena lawan mainnya ada artis senior yang tidak suka padanya, merasa tersaingi dengannya. Padahal ia tidak pernah melakukan apapun yang bisa merugikan artis itu. Sebenernya Wenda–artis senior yang tidak suka dengan Fera, bukan lawan main Fera. Karena lawan main Fera berhalangan hadir, jadi sutradara malah menggantikannya dengan Wenda. Sedangkan Fera sudah tanda tangan kontrak, tidak mungkin ia membatalkannya begitu saja hanya karena tidak ingin syuting dengan Wenda. *** Fera tidak perlu waktu lama untuk bersiap-siap, ia sudah siap untuk pergi syuting walaupun dengan wajah ditekuk. "Fer, nanti biar gue yang nyupirin ya. Pak Dodi lagi izin nggak masuk soalnya," ucap Talia memberitahu Fera saat mereka sudah keluar rumah Fera. "Terserah lo aja, Tal," jawab Fera tanpa minat. Fera malah asyik membaca novel online kesukaannya. Talia langsung mengeluarkan mobil Fera dari garasi. Fera membuka pintu, langsung masuk ke mobilnya. Saat Talia hendak mengemudikan mobil, ponsel Talia tiba-tiba berbunyi. Talia ingin mengabaikannya. Namun, Fera berkata, "Angkat aja sebentar, nggak akan telat kok." Talia akhirnya mengangkat telponnya, ternyata pengasuh anaknya yang menelpon mengabarkan anaknya kejang-kejang di sekolah padahal tadi saat berangkat baik-baik saja. Fera tidak menguping pembicaraan Asistennya, tetapi ia bisa melihat raut wajah khawatir sang asisten. "Kenapa?" "Clara– anak gue kejang-kejang di sekolah, tadi pengasuhnya yang ngabarin. Sekarang mereka udah perjalanan ke rumah sakit," jawab Talia dengan terisak. Fera langsung memeluk sahabatnya. "Lo yang tenang, jangan panik. Gue tau lo pasti khawatir banget sama anak lo, dari pada panik mending sekarang kita susulin ke rumah sakit. Biar gue yang nyetir." "Terus lo gimana syutingnya, Fer?" ucap Talia tidak enak, jika karenanya Fera sampai dicap tidak profesional. "Gue bakal bilang ke Kak Prita, bahwa gue bakal telat sampai ke lokasi syutingnya." Prita sendiri adalah Manager Fera. "Lo tetap ke lokasi syutingnya, biar gue aja yang ke rumah sakit naik taksi aja. Gue nggak mau lo sampe kena masalah, karena masalah keluarga gue. Apalagi Wenda pasti seneng liat lo nggak profesional." Fera menatap tajam Talia. "Gue nggak peduli apa kata orang Tal. Gue cuma mau pastiin lo sampai ke rumah sakit dengan selamat, lo lagi panik. Lo butuh gue. Kalaupun gue harus dipecat atau kena denda karena keterlambatan gue, gue nggak masalah." Percuma berdebat dengan Fera, Talia hanya bisa mengangguk setuju untuk saat ini. Jika urusan keluarga, Fera tidak akan memperdulikan apapun termasuk pekerjaannya. Sekalipun yang dimaksud adalah keluarga Talia, karena Fera memang sebatang kara. Fera dan Talia akhirnya bertukar tempat, Fera yang akhirnya mengemudikan mobilnya dengan cepat. Sedangkan Talia sedang berusaha menghubungi sang suami, wanita itu tidak tahu suaminya sudah atau belum sampai di rumah sakit. *** Setelah mengantarkan Talia ke rumah sakit dengan selamat, serta menunggu kondisi Clara– putri Talia lebih baik. Fera baru berangkat ke lokasi syuting, ia mengemudikan mobilnya dengan pelan karena ia merasa tidak perlu terburu-buru ke lokasi syuting. Tadi ia sudah meminta izin pada Prita, bahwa dirinya akan datang sedikit terlambat. Ditengah perjalanan, Fera merasa mobilnya tidak enak. Ia bingung, kenapa mobilnya tiba-tiba bermasalah padahal tadi mobilnya baik-baik saja saat ia kendarai ke rumah sakit. Saat hendak mengerem, ternyata mobilnya tidak dapat di rem padahal jalanan sedang ramai. Gadis itu langsung panik, hingga tanpa sadar menepikan mobilnya dan berakhir menabrak pohon. Lalu Fera tidak sadarkan diri. "Jika memang sudah saatnya aku bertemu dengan Mama, Papa. Aku siap, tuhan."Baru saja Zella memejamkan mata, tetapi ponselnya malah berbunyi hingga membuatnya membuka mata kembali. Zella ingin menghiraukan nada dering ponselnya yang terus berbunyi tanpa henti, hingga ia akhirnya mengambil ponselnya. Gadis itu melihat siapakah yang menghubungi malam-malam.Terdapat nama Yudha di ponselnya, ternyata pria yang menjadi pacar Zella-lah yang menghubungi gadis itu saat hari sudah larut malam. Zella malas sekali mengangkat telponnya, tetapi ia teringat ingin memberikan pelajaran pada pria itu."Halo ini siapa ya?" tanya Zella sengaja, Zella memang tahu siapa Yudha. Namun, ia tidak tahu bagaimana rupanya karena memang belum sempat mencari tahu."Sayang, aku dengar kamu udah sadar makanya aku telpon kamu. Aku seneng banget akhirnya kamu sadar juga, kamu enggak kangen sama aku?" Mendengar suara Yudha yang dibuat sok lembut, Zella mendadak mual rasanya ingin muntah."Kamu siapa ya? Kok berani-beraninya manggil saya sayang." "Ini aku pacar kamu, masa kamu lupa saya aku s
Zio memang mencintai seorang gadis dalam diam, gadis yang beruntung itu adalah Ferandha Carissa. Zio mencintainya sebelum Ferandha menjadi artis terkenal, tetapi pria itu tidak berani bertemu maupun mendekati Fera padahal Zio bukanlah orang sembarangan. Zio adalah seorang Tuan Muda Syailendra, jelas hartanya sangat banyak.Namun, bukan insecure alasan Zio tidak berani mendekati Fera. Zio tau ia sudah dijodohkan dengan Adeeva, saat dirinya berniat mendekati Fera. Perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuanya, tentu tidak akan mudah ditentang. Apalagi perjodohan yang ia jalani adalah perjodohan bisnis.Zio tidak ingin gegabah mendekati Fera, apalagi ia tahu dirinya sudah dijodohkan dengan gadis lain. Pria itu tidak ingin gadis yang ia cintai merasa ditinggalkan, jika saat itu ia benar-benar mendekati Fera dan berhasil mendapatkan hati Fera. Sedangkan mereka tidak dapat bersatu karena terhalang restu.Padahal belum tentu saat Zio mendekati Fera, gadis itu bisa luluh dan menerima cintany
"Kalau itu keputusan lo, gue nggak bisa mencegahnya," kata Talia. Prita melihat jam yang melingkar ditangannya. "Gue ada kerjaan, Tal. Lo mau pulang kapan? Gue pergi sekarang soalnya.""Gue mau di sini dulu, Prit. Lo kalau mau pergi-pergi aja," ujar Talia dengan santai."Lo serius? Emang lo enggak ke rumah sakit, bukannya anak lo masuk rumah sakit ya kemarin?""Gue serius, iya Clara memang masih di rumah sakit tapikan ada Papanya. Suami gue udah kasih waktu gue buat berduka, jadi mungkin besok gue baru balik ke rumah.""Yaudah, gue pergi dulu ya. Lo ati-ati ya di sini, kalau ada apa-apa lo bisa hubungi gue," pamit Prita sebelum berlalu dari hadapan Talia.Setelah kepergian Prita, suasana di rumah Fera terasa begitu sepi karena memang hanya Talia di sana."Rumah ini bakal tetap jadi rumah kenangan kita, Fer. Gue enggak akan biarin rumah ini dijual atau diambil alih oleh orang yang enggak bertanggung jawab, karena gue tau selain banyak kenangannya. Rumah ini adalah rumah peninggalan ora
Zella merasa sudah waktunya ia pergi dari pemakaman, sekarang bukan saatnya ia bersedih-sedih lagi. Mau tidak mau gadis itu harus menerima kenyataan."Selamat tinggal, Fera," pamitnya sebelum pergi.Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, Zio berjalan mendekati makam Fera. Pria itu menangis tersedu-sedu. "Kita bahkan belum pernah bicara berdua lagi Fer, setelah waktu, tapi sekarang kamu malah pergi dari hidupku. Kenapa kamu harus pergi sekarang? Padahal aku mempunyai rencana untuk menemui kamu sebentar lagi, setelah sekian lama aku baru berani bertemu kamu. Ternyata semua sudah terlambat."Zio yang mempunyai sifat kaku dan dingin, ternyata ia bisa terlihat sangat hancur di depan makam Fera. Padahal Zio dan Fera tidak memiliki hubungan apapun.***Zella kembali ke mobil, di sana sudah ada Pak Jono yang sejak tadi menunggunya. "Pak Jono antarkan saya ke suatu tempat," pintanya saat sudah masuk mobil."Baik, Nona.""Ingat, jangan beritahu siapapun kalau saya ke makam lalu ke te


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.