Share

BAB 6

Author: Riichan
last update publish date: 2026-06-24 16:08:27

“Nathan?”

Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut.

“Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya.

Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan.

“Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya.

Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?”

“Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan.

Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja.

“Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi.

“Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan.

“Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau beruntung memiliki teman yang baik sepertinya,” ucap ayahnya sambil menepuk pundaknya.

“Ya… aku beruntung,” ulangnya pelan.

“Kalau bukan Jackson, lalu siapa yang sakit?” tanya ayahnya lagi.

Pertanyaan itu mengejutkan Nathan. Ia tak berpikir jika ayahnya akan sepenasaran ini.

“Temanmu kan hanya Jackson,” lanjut ayahnya.

“Aku tak semenyedihkan itu hingga hanya memiliki seorang teman saja, ayah,” gerutu Nathan.

“Ya… ayah tahu. Hanya saja teman-temanmu kebanyakan tinggal di luar negeri,” sambung ayahnya.

“Aku harus mengalihkan pembicaraan,” batin Nathan.

“Omong-omong, ayah. Kenapa ayah baru pulang jam segini?” tanyanya untuk mengalihkan.

Ekspresi ayahnya berubah menjadi serius, “ayah menunggu pasien ayah melewati masa kritisnya.”

Nathan mengerutkan alisnya, “lalu?”

“Anak itu berhasil melewati masa kritisnya,” jawab ayahnya.

“Syukurlah…” sahut Nathan.

“Kantung mata ayah semakin hari semakin gelap. Orang selembut ayah memang pantas menjadi seorang dokter anak. Aku sangat bangga pada ayah,” batin Nathan.

“Bagaimana kalau ayah pulang bersamaku saja. Ayah terlihat lelah sekali, cukup berbahaya jika memaksakan diri untuk mengemudi sendiri,” ucap Nathan.

“Tentu saja ayah tak bisa menolak tawaran dari putra ayah yang paling sibuk ini,” ucap ayahnya sambil menepuk pundaknya.

Nathan membukakan pintu untuk ayahnya, selanjutnya ia masuk mobilnya dan mengemudi dengan hati-hati.

Ayahnya sekilas mengamati mobilnya, lalu…

“Kau pandai merawat mobil ini,” ucapnya lembut.

“Yah… ini mobil yang sangat berharga sekaligus bersejarah,” sambung Nathan.

“Kau benar,” kenang ayahnya pada mobil yang hampir seumuran putranya itu.

Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja. Nathan merasa sedikit bersalah karena tak memiliki waktu untuk dihabiskan dengan orang tuanya. Ia hanya sibuk dan fokus bekerja saya.

Meski begitu… melihat orang tuanya sehat, sudah cukup untuknya.

“Ayah?” panggil Nathan.

“Ada apa?” jawab ayahnya.

“Ah.. tidak jadi,” ucap Nathan.

“Kau ini konyol sekali! Sudahlah, fokus mengemudi saja,” ledek ayahnya.

Setibanya di rumah, ayahnya menyuruhnya untuk menginap saja malam itu. Tapi Nathan menolak dengan alasan masih ada kerjaan tertunda untuk segera diselesaikan. Namun ia tak menolak ajakan ayahnya untuk sekedar mampir dan minum kopi sebentar.

“Sudah berapa bulan aku tak kesini,” batin Nathan saat berjalan di belakang ayahnya.

“Biasanya jam segini ibumu sudah tertidur. Tapi ayah akan membangunkannya,” ucap ayahnya.

“Tidak perlu ayah. Jika ibu sudah tidur, biarkan saja,” sahut Nathan.

“Kenapa? Apa kau kesal gara-gara desakan untuk segera menikah?” ledek ayahnya.

“Ukkhhh, kenapa ucapan ayah selalu tepat sasaran sih,” gerutu dalam hati.

“Ayah, aku sebaiknya kembali pulang saja. Sudah terlalu larut juga. Sebaiknya ayah segera beristirahat, selamat malam ayah,” ucap Nathan sambil berbalik dan berlari menuju mobilnya.

“Dasar anak ini!” omel ayahnya, “hati-hati di jalan,” lanjutnya dengan suara lebih keras.

Nathan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Lalu masuk ke dalam mobilnya lagi menuju rumahnya. Ia melirik jam tangannya, terlihat sudah hampir jam 12 malam.

“Kenapa sih aku selalu pulang selarut ini,” keluhnya.

Ponselnya kembali berdering, ia menjawabnya.

“Halo?” ucapnya.

“Anak ini! Kau bersekongkol dengan ayahmu ya! Sudah sampai rumah bukannya mampir, tapi malah langsung pulang,” omel ibunya.

“Bu, hentikan… putramu ini sangat lelah. Akhir pekan ini saja mengomelnya. Aku akan berkunjung lagi,” jawabnya.

“Baiklah, ibu akan menantikannya, selamat malam. Kututup dulu ya,”

“Selain berkunjung, aku akan memberikan banyak keluhan untuk ibu. Tunggu saja bu,” gerutunya.

***

Pagi harinya saat Nathan sudah di parkiran, ia hendak mengambil berkas di jok belakang mobilnya. Namun…

“SIAL!”

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 9

    “A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 8

    “Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Perawat itu berjalan mendekat ke arah Loraine dan mengatakan, “saya letakkan di sini ya?” “Tu-tunggu. Bisakah anda lihat apa isinya?” tanya Loraine ragu.Perawat mengangguk pelan dan mengeluarkan isinya. Ternyata berisi sebuah tas yang familiar bagi Loraine. “Oh! Tasku!” seru Loraine. Loraine mengulurkan tangannya perlahan. Perawat itu menyerahkan tas tersebut. Saat menerimanya Loraine mengucapkan terima kasih.Perawatan tersebut akhirnya keluar dan meninggalkan Loraine sendirian. Sementara Loraine mengecek isi tasnya masih lengkap. Dia mulai penasaran tentang pengirimnya.“Jelas bukan dari Leon. Dia tak mungkin melakukan tindakan seperti untuk sekarang, mengingat kejadian semalam. Lalu siapa?” tanyanya sendiri.“Apakah pak Nathan?” tanyanya lirih.Pertanyaan itu tetap tertinggal di pikirannya untuk beberapa saat. Loraine mengecek ponselnya, tak ada seseorang atau teman dekat yang

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 7

    “SIAL!”Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.“

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 6

    “Nathan?”Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. “Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya. Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan.“Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya. Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?”“Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan. Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja. “Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi.“Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan. “Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 5

    “Arghhh,” teriak Loraine kesakitan. Nathan yang berhasil mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Melihat semua yang kacau itu, tanpa basa basi menendang Leon hingga ia terpental dan melepas tangannya dari rambut Loraine. Dengan segera Nathan langsung merengkuh tubuh Loraine dan menggendongnya di atas pundak. Posisi ini adalah satu-satunya cara agar punggung wanita itu tidak tersentuh. Nathan bergerak secepat mungkin tanpa membuat gadis itu semakin kesakitan dan berlari keluar.“Kau! Bagaimana bisa tiba-tiba muncul? Berhenti!” teriak Leon. “Sial! Kalian bersekongkol mempermainkanku!” teriak Leon saat mencoba berlari mengejar mereka. Loraine sudah dibawa pergi Nathan. Dia dibaringkan di kursi belakang dengan posisi tengkurap. Loraine yang mulai sadarkan diri menatap punggung Nathan, pundaknya naik turun tak beraturan karena napas yang memburu.“Pak Nathan menepati ucapannya,” gumamnya.Ingatan Loraine bercampur tentang banyak hal, dari pengasingan serta cibiran yang selama ini

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 4

    “Kau kan bisa langsung masuk, password pintu masih sama yaitu tanggal lahirmu,” ucap Leon setelah membukakan pintu saat mendengar bel berbunyi.Loraine akhirnya masuk ke rumah Leon. Rumah yang sudah lima tahun ditempatinya saat masih menjadi istri Leon Valeㅡpria yang sering menjadi sampul majalah bisnis ataupun sering masuk di beberapa stasiun tv. Pria yang terkenal ramah dan selalu hadir di acara amal serta terkenal sebagai family man. Hampir semua wanita menginginkan menjadi pasangannya. “Aku hanya sebentar saja di sini,” ucap Loraine.Loraine berusaha tetap tenang, ia melihat sekilas semuanya tidak berubah. Masih sama seperti terakhir diingatnya. Bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang di ruang tamu.Leon menyadari bahwa ekspresi Loraine sedikit melembut karena melihat foto-foto kenangan mereka masih terpajang seperti saat ia masih tinggal di sini.“Kau pasti belum makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” ucap Leon dengan lembut. Loraine tak menjawabnya, hanya meli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status