LOGINAREA DEWASA!! Di istana yang penuh intrik, ada seorang selir yang seolah tak pernah ada. Kaisar tak pernah memanggilnya, bahkan seolah melupakan namanya. Namun, di balik pengabaian itu tersimpan rahasia kelam. Apakah ia benar-benar terlupakan… atau justru sengaja disembunyikan?
View MoreBab 1
Sudah empat tahun berlalu sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di gerbang istana kekaisaran sebagai salah satu dari sekian banyak selir Kaisar Hongwu. Empat tahun yang panjang itu, aku tak pernah sekalipun disapa, dipanggil, atau sekadar diperhatikan oleh penguasa itu. Tidak ada sentuhan, tidak ada tatapan, bahkan namaku pun jarang terdengar disebut di antara para penghuni istana. Bisa dikatakan dengan tegas: aku sama sekali bukan selir kesayangan. Keberadaanku seolah hanya ada di pinggiran, tak lebih dari bayangan yang bergerak tenang di antara kemegahan dan hiruk-pikuk kehidupan istana. Siang itu, seperti hari-hari biasanya, aku duduk sendirian di sudut taman yang teduh, menyeruput teh hangat dengan ketenangan yang telah lama kupelajari. Aku tak mencari perhatian, tak ikut bersaing, dan tak berambisi mengangkat kedudukan ku. Bagiku, ketenangan itu adalah perlindungan terbaik. Namun kedamaian itu perlahan terganggu ketika suara seruan lantang menggema ke seluruh penjuru istana, membawa kabar yang mengubah suasana seketika: "Kabar gembira! Kami mengumumkan kepulangan Yang Mulia Kaisar dari medan perang!" Dua tahun lamanya Kaisar Hongwu memimpin pasukan di perbatasan, dan kini ia akhirnya kembali. Sesuai adat, seluruh selir, pejabat, dan pelayan wajib berkumpul di halaman depan untuk menyambut kedatangannya. Di kediaman utama yang megah, Nyonya Xiwu—selir yang paling disukai Kaisar, dan yang paling bangga akan kedudukannya itu—berdiri di depan cermin dengan penuh kesibukan. Ia mengenakan hanfu berwarna merah terang yang disulam benang emas, rambutnya dihiasi perhiasan paling berkilauan. Ia bersiap sebaik mungkin, yakin bahwa Kaisar akan langsung mencarinya begitu ia tiba. Di sebelahnya ada Chuntao, selir lain yang dikenal sangat cantik sekaligus sahabat dekat Xiwu; ia pun berpakaian indah, namun sadar betul bahwa di hadapan Nyonya Xiwu, kecantikannya tak akan pernah menyaingi kedudukan sahabatnya itu. Di sisi lain, aku hanya mengenakan hanfu berwarna hijau muda yang sederhana, tanpa hiasan berlebih. Wajahku mungkin cantik namun tak mencolok, keindahanku tersembunyi di balik sikap yang pendiam dan penampilan yang tak menarik pandangan. Aku mengangguk singkat kepada pelayan setiaku, lalu berjalan menyusuri lorong panjang menuju halaman depan, berbaris di bagian paling belakang, di antara selir-selir lain yang sibuk merapikan pakaian dan berbisik penuh harap. Tak lama kemudian, suara langkah kaki pasukan terdengar mendekat. Kaisar Hongwu tampak berjalan di depan barisan, sosok yang gagah berani dengan pakaian yang masih menyisakan jejak debu perang namun tetap memancarkan wibawa yang menekan siapa saja yang memandangnya. Ia berjalan tenang, matanya mengamati barisan wanita yang berjejer menyambutnya. Pandangannya bergerak cepat, melewati wajah-wajah yang berusaha menarik perhatiannya, hingga tiba-tiba berhenti sejenak tepat di tempatku berdiri. Sesaat, kilatan yang sulit diartikan melintas di matanya—seolah ada sesuatu yang menarik minatnya—namun ia segera melanjutkan langkah menuju takhta di ujung halaman. Setelah duduk di atas takhta itu, tatapan Kaisar kembali menyapu seluruh barisan, dan kali ini berhenti lebih lama lagi pada sosokku. Suaranya yang berat dan berwibawa bergema hingga ke sudut halaman: "Di antara kalian, siapakah yang bernama Lianhua?" Suasana seketika hening. Para pelayan saling bertukar pandang, tak ada yang menyangka nama itu disebutkan. Ketegangan terasa menyesakkan; tak ada yang mengerti mengapa Kaisar yang baru kembali itu justru memanggil nama yang hampir tak dikenal di istana ini. Aku pun melangkah maju dengan tenang, tanpa terburu-buru dan tanpa menunjukkan kegelisahan. Aku menundukkan kepala sedikit, lalu bertanya dengan suara yang jelas namun rendah: "Ada apa yang Yang Mulia cari dari saya?" Mata Kaisar menyipit melihat sikap tenang itu—sikap yang jarang ia temukan di antara para wanita istana yang biasanya penuh harap atau takut. Ia bangkit berdiri dari takhtanya, menuruni tangga perlahan mendekatiku, sementara semua orang di sana menahan napas. "Jadi kamulah Lianhua," ucapnya, berhenti tepat di hadapanku dan memandangi wajahku dengan teliti. "Sudah empat tahun kamu tinggal di istanaku, namun sampai saat ini aku hampir tak mengenal wajahmu." Ia memiringkan kepala, pandangannya tajam seolah ingin menembus pikiranku. "Katakan padaku, Lianhua," suaranya terdengar rendah dan serak, "Bakat apa yang kamu miliki sehingga bisa tersembunyi begitu lama dari perhatianku?" Aku mengangkat wajah sedikit, menatap balik tanpa gentar. "Aku tak memiliki bakat istimewa apa pun, Yang Mulia." Seringai tipis terbit di sudut bibir Kaisar. Ia mulai berjalan mengelilingiku perlahan, memerhatikan setiap gerak-gerikku. "Tak ada bakat?" gumamnya pelan. "Namun kamu berdiri di sini tanpa rasa takut menghadapiku." Ia berhenti tepat di belakangku, napas hangatnya terasa menyentuh leherku. "Kamu membuatku penasaran," bisiknya. Tangannya terulur perlahan, menyisir sehelai rambut yang jatuh ke bahuku, lalu jari-jarinya turun menyentuh lenganku, meninggalkan rasa dingin sekaligus merambat di sekujur tubuhku. Para selir lain menyaksikan dengan campuran rasa iri dan takut; tak ada yang mengerti apa makna perhatian tiba-tiba ini bagi nasibku. "Aku tak mengerti maksud perkataan Yang Mulia," jawabku lagi dengan nada yang tetap tenang, meski hatiku mulai berdebar kencang. Seringai Kaisar melebar menjadi senyum yang penuh teka-teki, memperlihatkan gigi yang rapi namun memberi kesan tajam. Ia kembali berdiri di hadapanku, lalu mengangkat tangannya untuk menangkup pipiku, ibu jarinya menyentuh pelan sudut bibirku. "Ah, sepertinya kamu justru mengerti sepenuhnya," ucapnya pelan. Matanya bersinar dengan sorot yang intens, membuat siapa saja yang ditatapnya merasa tak tenang. "Kamu adalah sebuah misteri, dan hal seperti itulah yang membuatku terpesona." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat, hingga suaranya hanya terdengar olehku saja. "Mulai hari ini, kamu akan tetap berada di dekatku. Aku ingin mengungkap apa yang membuatmu begitu... berbeda. Dan ingatlah satu hal: apa pun yang aku inginkan, pasti akan aku dapatkan." Dengan seringai terakhir, Kaisar berbalik menghadap kerumunan yang masih diam terpaku. "Mulai sekarang, Lianhua akan mendampingiku secara pribadi. Kalian semua boleh kembali ke kediaman masing-masing untuk malam ini," ucapnya lantang, lalu berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang, seolah yakin aku akan segera mengikutinya. Aku terpaku di tempat, jantungku berpacu kencang di dada. Di sekelilingku, bisik-bisik mulai terdengar. Beberapa selir menatapku dengan rasa iri yang tak tersembunyi, yang lain dengan rasa kasihan, sementara Nyonya Xiwu berdiri dengan wajah yang memerah menahan amarah, tak senang sama sekali dengan perubahan nasib yang tak terduga itu. "Kenapa hanya diam di sana?" seru Nyonya Xiwu dengan nada sinis dan tak sabar. "Apakah kamu akan berdiri sepanjang hari, atau segera mengikuti Kaisarmu itu?" Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Aku sadar, menolak perintah Kaisar sama saja dengan mencari masalah besar. Dengan langkah yang perlahan namun pasti, aku mulai berjalan mengikuti sosok Kaisar yang menjauh, sementara pikiranku dipenuhi tanya-tanya: apa sebenarnya yang diinginkan Kaisar Hongwu dariku? Dan apa yang akan terjadi mulai saat ini? Aku mempercepat langkah hingga berada tepat di belakang pria itu, lalu bertanya pelan, suara yang hanya terdengar olehnya: "Yang Mulia... apa sebenarnya yang ingin Yang Mulia lakukan kepadaku?"Bab 8Hongwu tak ragu sedikit pun. Saat bibirku menyentuh bibirnya, ia langsung membalas dengan rasa lapar yang mendalam—sebuah kerinduan yang telah terpendam dan tertekan selama bertahun-tahun lamanya dalam keheningan yang panjang. Tangannya yang tadi melingkar di pinggangku kini bergerak ke bagian bawah punggungku, menekan dan menarikku semakin dekat ke arahnya, seolah berusaha menghapus sisa jarak yang masih tersisa di antara tubuh kami, menjembatani kesenjangan waktu yang telah memisahkan kami begitu lama.Ciuman itu terasa dalam, menuntut, sekaligus penuh rasa penasaran yang meluap. Ada rasa manis anggur yang tadi ia minum, bercampur dengan kehangatan yang menyebar cepat ke seluruh tubuhku—keinginan yang selama ini kami berdua simpan rapat-rapat tanpa sadar. Aku mendengar erangan pelan yang lolos dari mulutnya, dan ketenangan yang selalu ia pertahankan kini hancur sepenuhnya. Kaisar yang telah memimpin ribuan pasukan menembus medan perang, yang berani menghadapi maut tanpa sediki
Bab 7"Terima kasih banyak, Yang Mulia," ucapku dengan suara yang penuh ketulusan, lalu tanpa ragu sedikit pun aku melangkah maju dan memeluk tubuhnya erat-erat. "Yang Mulia sungguh dermawan hati. Tak ada kata yang pantas untuk mengungkapkan rasa syukurku."Tubuh tegap Hongwu seketika menegang kaku di pelukanku, seolah ia sama sekali tak menyangka akan keberanianku yang tiba-tiba itu. Selama bertahun-tahun, tak ada satu pun orang—baik selir, pejabat, maupun keluarganya sendiri—yang berani memeluknya dengan cara begitu: tanpa rasa takut, tanpa pamrih tersembunyi, dan hanya murni karena rasa terima kasih. Namun kekakuan itu tak berlangsung lama. Perlahan namun pasti, lengannya yang besar dan kuat terangkat, lalu melingkar di punggungku dengan kehati-hatian yang luar biasa, membalas pelukanku semakin erat seolah ia tak ingin lagi membiarkanku merasa terasing di istananya sendiri."Sama-sama," gumamnya pelan, suaranya teredam di sela rambutku, terdengar jauh lebih lembut dan manusiawi dar
Bab 6"Ya, saya yakin Yang Mulia pasti akan mampu melihat siapa diri saya yang sebenarnya," ucapku sambil menatapnya dan tersenyum lembut namun penuh keyakinan.Tatapan Hongwu perlahan melunak saat ia memperhatikan senyumku itu—senyum yang tak lagi menyembunyikan rasa takut atau keraguan, melainkan kepercayaan yang tulus. Cahaya hangat yang sangat jarang terlihat kini menyelinap masuk ke dalam manik matanya yang biasanya gelap dan tajam."Kau memiliki kepercayaan yang jauh lebih besar padaku daripada yang pantas kuterima," akunya pelan, lalu tangannya terulur perlahan untuk menangkup wajahku dengan lembut, seolah aku adalah bunga paling rapuh yang tak boleh rusak sedikit pun. "Kebanyakan orang di istana ini hanya melihat apa yang ingin mereka lihat: kekuasaan mutlak, kekayaan yang tak terhingga, kedudukan yang tak tertandingi. Namun kau... kau melihat sesuatu yang lain di dalam diriku, bukan? Sesuatu yang berada di luar jubah Kaisar dan pedang penakluk itu."Ia terdiam sejenak, mencar
Bab 5Ekspresi wajah Kaisar Hongwu perlahan berubah, ketegasan yang biasanya menyelimuti seluruh wajahnya luntur seketika saat melihat titik air mata yang mulai menggenang di sudut mataku, berkilau lembut di bawah cahaya lilin yang bergoyang. Dengan gerakan yang begitu hati-hati dan lembut—hal yang tak pernah kubayangkan akan dilakukan oleh penguasa sekejam dia—ibu jarinya menyapu perlahan tetesan pertama yang jatuh membasahi pipiku."Membencimu?" ulangnya pelan, nada tegas dan berwibawa yang biasa terdengar dari suaranya kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh nada yang terdengar hampir seperti keheranan yang mendalam. "Aku tidak pernah membencimu, Lianhua. Sama sekali tidak. Tak pernah sekalipun ada rasa benci di hatiku untukmu."Ia perlahan melepaskan cengkeramannya di daguku, lalu melangkah mundur beberapa langkah sambil menyisir rambut hitamnya sendiri dengan gerakan yang tampak frustrasi dan tak tenang. Bahunya yang biasanya tegap dan kokoh kini terlihat sedikit merosot, seolah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.