Home / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Permainan dan Rahasia

Share

Permainan dan Rahasia

Author: Melati Lu
last update publish date: 2026-06-05 19:14:28

Bab 2

Hongwu berhenti tepat di ambang pintu kamarnya yang besar itu, lalu berbalik perlahan untuk menatapku. Cahaya lilin yang bergoyang-goyang di dinding memantul di wajahnya, membuat ekspresinya semakin sulit dibaca—campuran rasa penasaran yang mendalam, dan sesuatu yang lain, jauh lebih tajam, seperti mata elang yang sedang mengamati mangsanya, tersembunyi rapat di balik sorot matanya yang gelap.

"Apa yang ingin aku lakukan?" ulangnya pelan, nada bicaranya terdengar lembut seolah menyanyikan lagu yang manis, namun ada nada geli yang samar sekaligus menekan menyelinap di setiap kata yang terucap. "Aku ingin mengenalmu, Lianhua. Bukan sekadar nama yang tercatat di buku catatan istana, bukan sekadar sosok yang terlihat berjalan di taman. Aku ingin tahu apa yang tampak di luar, dan apa yang tersembunyi jauh di dalam hatimu—bahkan apa yang mungkin kamu sembunyikan dari dirimu sendiri."

Ia mendorong daun pintu kayu jati yang berat itu hingga terbuka lebar, lalu memberi isyarat dengan satu tangannya agar aku melangkah mendahuluinya. Aku melangkah masuk dengan langkah hati-hati, menyadari betapa luas dan megahnya ruangan ini—berbeda jauh dengan gubuk kecil yang selama empat tahun menjadi tempat tinggalku di sudut terjauh istana. Lantai marmer yang dingin terasa menyentuh telapak kakiku, udara di sini berbau wangi kayu cendana yang pekat, bercampur dengan aroma debu tipis dan wangi tubuh pria itu sendiri.

Saat aku berdiri diam di tengah ruangan, Hongwu berjalan mengikuti dari belakang, lalu menutup pintu itu perlahan. Bunyi klik halus saat kunci terpasang terdengar begitu jelas di ruangan yang hening itu, seolah menjadi tanda tak terelakkan bahwa di sini, di balik pintu yang terkunci ini, nasibku telah sepenuhnya masuk ke dalam genggamannya. Tak ada jalan keluar lain, tak ada siapa pun yang bisa menolongku. Hanya aku dan dia.

"Sudah empat tahun kamu tinggal di istanaku," gumam Hongwu pelan, langkah kakinya terdengar berat namun berirama saat ia mulai berjalan mengelilingiku. Matanya tak lepas sedikit pun dari setiap gerak-gerikku, seolah ingin menghafal setiap lekuk wajahku, setiap ekspresi kecil yang mungkin terlihat. "Empat tahun lamanya aku diam-diam mengamatimu dari kejauhan. Aku melihatmu duduk berjam-jam di sudut taman tanpa bergerak. Aku melihatmu menunduk hormat saat aku lewat, lalu kembali menjadi bayangan yang tak terlihat begitu aku pergi. Aku terus bertanya-tanya, rahasia apa yang sebenarnya tersimpan di balik ketenangan yang tak tergoyahkan itu? Apakah kamu bodoh? Atau justru kamu adalah orang yang paling cerdik di antara mereka semua?"

Ia berhenti tepat di hadapanku, jaraknya begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat. Ia mengangkat satu jarinya, menyentuh pelan daguku dengan ujung jari yang dingin namun kasar—bekas genggaman pedang selama bertahun-tahun—lalu memaksaku mendongak agar pandangan kami bertemu. Matanya hitam pekat, tak memiliki dasar, seolah bisa menelan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama.

"Jadi, katakan padaku," suaranya merendah, hampir berdesir tepat di depan bibirku, membuat bulu kudukku meremang. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? Mengapa kamu memilih untuk menjadi tak terlihat begitu lama? Dan apa tujuanmu berada di sini?"

"Aku tidak menyembunyikan apa pun, Yang Mulia," jawabku tenang, meski jantungku berdegup kencang di balik dadaku. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, dan kendali atas diriku perlahan telah kembali sepenuhnya. "Aku hanyalah selir yang tak beruntung, yang tak pernah mendapat perhatian. Tak ada yang perlu disembunyikan."

Mata Hongwu menyipit tajam. Sekilas kilatan kekesalan melintas di wajahnya, seolah ia tak suka jawaban yang begitu sederhana, begitu kosong. Namun kilatan itu lenyap secepat kedipan mata, digantikan oleh senyum tipis yang sulit diartikan.

"Semua orang menyembunyikan sesuatu," ucapnya, nada suaranya berubah menjadi rendah dan mengandung ancaman halus yang membuat suasana ruangan mendadak menjadi dingin. "Bahkan jiwa yang tampak paling polos sekalipun pasti memiliki rahasia yang dikubur dalam-dalam agar tak diketahui orang lain. Manusia adalah makhluk penuh kebohongan, Lianhua. Dan aku sudah melihat terlalu banyak kebohongan selama memerintah negeri ini."

Ia melangkah mundur sejenak, lalu melepaskan sentuhannya secara tiba-tiba, seolah menyentuhku bukanlah hal yang penting baginya.

"Baiklah," sambungnya, kini nada bicaranya terdengar santai—padahal bertentangan dengan ketajaman tatapan yang tak lepas dari sosokku. "Jika kamu bersikeras bersikap tertutup dan enggan berterus terang dengan kemauan sendiri, maka kita akan memainkan permainan ini sesuai keinginanku. Aku akan membuka rahasiamu, perlahan-lahan, sampai kamu tak punya tempat untuk bersembunyi lagi."

Hongwu bergerak menuju meja kecil yang terletak di dekat jendela besar yang terbuka, dengan gerakan luwes dan terlatih ia mengambil kendi perak, lalu menuangkan cairan kemerahan ke dalam dua cawan porselen halus yang bermotif naga. Cahaya bulan yang masuk dari jendela memantul pada permukaan cairan itu, membuatnya tampak berkilau seperti darah segar. Setelah selesai, ia berbalik kembali ke arahku dan mengulurkan salah satu cawan itu.

"Marilah kita minum bersama," katanya, diiringi senyum yang tak pernah sampai ke manik matanya yang dingin. "Siapa tahu, saat anggur ini mulai melemahkan pertahananmu, melunakkan hatimu yang keras kepala ini, kamu akan bersedia mengungkapkan kebenaran tentang siapa dirimu sebenarnya."

Aku menatap cawan itu sejenak, memikirkan segala kemungkinan—apakah ada racun di dalamnya? Atau hanya sekadar cara baginya untuk melihat reaksiku? Namun menolak tawaran Kaisar sama saja dengan menantang nyawaku sendiri.

"Baiklah, aku akan minum bersama Yang Mulia," jawabku pelan, lalu menerima cawan itu dengan tangan yang tak sedikit pun gemetar, berusaha menyembunyikan segala kekhawatiran yang ada di dalam hatiku.

Senyum Hongwu melebar, secercah kepuasan tampak berkilat di matanya saat melihatku tak menolak tawarannya. Ia mengangkat cawannya sendiri, seolah hendak bersulang denganku.

"Sangat baik," gumamnya rendah. "Untuk awal yang baru... dan rahasia yang kelak akan terungkap sepenuhnya."

Kami berdua mengangkat cawan ke bibir, lalu meneguk isinya hingga tandas sekaligus. Cairan itu terasa hangat, sedikit membakar tenggorokan saat turun, sebelum perlahan menyebarkan kehangatan yang menyenangkan ke seluruh dadaku. Anggur yang mahal, rasanya manis namun ada rasa pahit yang tertinggal di ujung lidah—persis seperti kehidupan di istana ini. Hongwu meletakkan cawannya kembali ke meja dengan bunyi pelan, lalu bersandar di sana sambil menyilangkan tangan di dada, mengamati setiap perubahan kecil pada wajahku dengan saksama.

"Nah," ia memulai kembali, nadanya kembali terdengar seperti sedang berbincang santai, seolah kami bukanlah penguasa dan selir yang baru saja saling bertatapan penuh ancaman. "Ceritakanlah tentang dirimu, Lianhua. Apa yang sebenarnya membawamu masuk ke dalam istana ini? Apa yang kamu inginkan dari hidup? Mimpi-mimpi apa yang pernah kamu miliki sebelum takdir menyerahkanmu ke dalam tanganku?"

Aku menundukkan pandanganku sejenak, memandangi sisa tetesan anggur di dasar cawan. Banyak hal yang bisa kukatakan, namun lebih banyak lagi yang tak boleh kukatakan.

"Tidak ada yang istimewa," jawabku singkat dan tenang, sekenanya. "Ayahku adalah pejabat rendahan di daerah perbatasan. Saat istana meminta pengiriman wanita dari setiap keluarga bangsawan, ayahku menyerahkanku kepada Yang Mulia, begitu saja. Aku tak pernah punya mimpi besar, Yang Mulia. Hanya ingin hidup tenang."

Alis Hongwu terangkat sedikit, terkejut mendengar jawaban yang begitu sederhana dan terus terang itu—namun ia segera menyembunyikan reaksinya itu di balik wajah yang datar.

"Begitu rupanya," gumamnya pelan sambil kembali menyerupai sisa anggur di cawannya, matanya menatap kosong ke arah jendela. "Berarti kamu hanyalah sebuah bidak dalam permainan politik keluarga dan kekuasaan, ya? Dikirim ke sini untuk menyelamatkan nama baik ayahmu, atau sekadar untuk memenuhi kuota yang ditetapkan istana?"

Ia meletakkan cawannya kembali dengan keras, lalu berjalan mendekat lagi hingga jarak kami terasa semakin sempit, hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang besar dan kuat. Pandangannya menembus tepat ke dalam manik mataku, seolah ingin membaca isi pikiranku yang tersembunyi di balik kepala ini.

"Dan apa pendapatmu tentang hal itu?" bisiknya pelan, suaranya begitu lembut namun menekan. "Apakah kamu membenci kenyataan dirimu diserahkan begitu saja kepada orang asing? Apakah di dalam hatimu tersimpan keinginan untuk melarikan diri, ataukah kamu justru menerima takdir itu dengan lapang dada, tanpa harapan dan tanpa keinginan lain?"

Tangannya terulur kembali, jari-jarinya menyapu lembut pipiku dengan sentuhan yang tampak penuh kelembutan—namun tetap terasa ada kekuasaan mutlak di sana, seolah setiap sentuhannya adalah hak yang tak bisa aku tolak.

"Katakanlah yang sebenarnya, Lianhua," bisiknya lagi, wajahnya semakin mendekat hingga hidung kami hampir bersentuhan. "Aku ingin tahu apa yang ada di balik wajah tenang ini. Apakah kamu sedih? Marah? Atau mungkin kamu diam-diam berharap bisa menduduki posisi tertinggi di istana ini?"

"Aku sudah mengatakan kebenaran apa pun yang Yang Mulia minta," jawabku, nada bicaraku kini mulai terasa tegas, menandakan rasa tidak senang yang mulai tumbuh karena terus-menerus didesak. "Aku hanya menerima apa yang ada di depan mata. Tak ada yang perlu disembunyikan, dan tak ada yang perlu didustakan."

Mata Hongwu berkilat tajam, tangannya jatuh perlahan dari wajahku, seolah kecewa karena tak bisa mendapatkan apa yang ia cari.

"Kesal, ya?" gumamnya, nada suaranya kini berubah dingin dan penuh tekanan. "Sungguh... hal yang sangat menarik. Di sini semua orang berusaha menyenangkanku, menjilatku, atau takut setengah mati padaku. Baru kali ini ada yang berani menatapku dengan wajah kesal begitu."

Ia mundur selangkah, namun tatapannya tak pernah lepas sedikit pun dariku, tak berkedip sama sekali.

"Sepertinya kamu lupa kedudukanmu," ucapnya lembut namun penuh penekanan, setiap kata terasa seperti pukulan ringan ke telingaku. "Aku adalah Kaisarmu, pemimpinmu, dan tuanmu. Kamu tidak berhak merasa kesal, tidak berhak membantah, dan tidak berhak berdebat denganku. Kamu adalah milikku, Lianhua. Segala sesuatu tentangmu adalah milikku."

Nadanya merendah menjadi dengkuran rendah yang berat, membuat getaran yang aneh merambat di sekujur tubuhku.

"Namun mungkin justru itulah daya tarikmu," tambahnya seolah berbicara sendiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh arti. "Ada percikan pembangkangan yang tersembunyi di balik tatapanmu yang tenang itu. Sesuatu yang jarang aku temukan pada wanita lain di istana ini."

Tiba-tiba ia tersenyum kembali—senyum yang tajam, penuh perhitungan, dan seolah seekor pemangsa yang sedang bersiap menerkam mangsanya yang sudah terpojok.

"Baiklah," katanya tegas, nada bicaranya berubah menjadi perintah yang tak bisa ditawar. "Jika enggan berbicara atas kemauan sendiri, aku akan mencoba cara lain. Aku akan mengajarkanmu cara berbicara dengan benar, cara menghormati penguasamu."

Ia menjentikkan jarinya pelan, dan seketika tirai sutra di sudut ruangan tersibak. Seorang pelayan berlutut di sana, seolah memang sudah bersiap menunggu perintah sedari tadi, tak berani bersuara sedikit pun.

"Bawalah perlengkapan penyajian teh lengkap," perintah Hongwu singkat, matanya tak beralih dariku. "Ambilkan teh paling pahit yang ada di gudang istana, dan bawalah cawan yang paling tipis."

"Baik, Yang Mulia," jawab pelayan itu dengan suara bergetar, lalu bergegas pergi secepat kilat.

Setelah pelayan itu menghilang, Hongwu kembali berjalan perlahan mendekatiku, berhenti tepat di hadapanku sambil menatap lurus ke mataku dengan senyum dingin yang tak berubah sedikit pun.

"Sudah saatnya kita mulai pelajaran tentang rasa hormat dan kepatuhan," ucapnya pelan namun tegas, seolah menjanjikan sesuatu yang tak menyenangkan. "Dan ingatlah satu hal: aku adalah orang yang sangat telaten dalam mengajarkan rakyatku untuk mengetahui tempat yang sebenarnya. Aku akan membuatmu bicara, Lianhua. Mau dengan cara apa pun."

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Yang Terlupakan   Di Balik Topeng Kekuasaan

    Bab 81 Tatapan Hongwu perlahan beralih kembali ke arah Xiwu. Wanita itu kini meringkuk di tempatnya, saputangan menekan matanya yang basah, menampilkan gambaran sempurna seorang wanita yang terluka dan dikhianati. Setiap tetes air matanya seolah menjadi senjata yang diarahkan tepat ke arahku, berharap akan menggerakkan hati Kaisar atau sekadar meruntuhkan ketenanganku. "Tenang," ucap Hongwu sekali lagi. Kata itu terasa berat dan keras, seolah terbuat dari besi tempa. Tangannya yang tadi menyentuh leherku kini meluncur turun, namun tak menjauh. Lengannya melingkar di belakang sandaran kursiku, mengurungku dalam jarak yang begitu dekat tanpa benar-benar menyentuh kulitku. Keintiman yang tercipta dari gerakan itu jauh lebih menyakitkan bagi siapa pun yang melihatnya daripada bentakan atau hukuman apa pun. "Kau ingin aku menghampirinya," bisiknya pelan, menoleh sedikit ke arahku. "Ingin aku menghiburnya. Memberitahunya bahwa segala kesalahan yang

  • Selir Yang Terlupakan   Di Tengah Badai Yang Tenang

    Bab 80 Kaisar membiarkan kalimatnya menggantung di udara, berat, tajam, dan penuh tekanan yang tak terjawab. Tatapan Nyonya Xiwu beralih bolak-balik antara wajah Kaisar dan jepit rambut perak itu, warna yang tersisa di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kepucatan yang semakin nyata. "Yang Mulia, ini semua adalah kesalahpahaman," ucapnya dengan suara yang mulai meninggi karena keputusasaan. "Nyonya Li Hua pasti salah mengartikannya, dia pasti—" "Tenang." Itu bukan bentakan, melainkan satu perintah pendek yang cukup untuk mematikan suaranya seketika. Hongwu memunggungi Xiwu sepenuhnya, memusatkan seluruh perhatiannya pada dayang yang gemetar berlutut di lantai. "Dan katakan padaku," suaranya rendah namun mematikan, "di mana tepatnya kau melihat wanita yang kau maksud berada di taman semalam?" Li Hua menelan ludah dengan susah payah. Rencana yang sudah diatur terasa begitu jelas dalam benaknya: katakan saja kau tidak m

  • Selir Yang Terlupakan   Jepit Rambut Kupu-Kupu Perak

    Bab 79 "Benarkah? Kau tidak akan mengganggu urusan sehari-hariku selain saat aku bekerja untukmu?" Aku berdiri perlahan, melangkah mendekat lalu duduk di tepi meja kayu, tepat di samping tempat Zhou duduk. Matanya meredup seketika saat ia merenungkan kata-kataku—jepit rambut kupu-kupu perak. Lambang kekaisaran. Itu bukan sekadar perhiasan biasa; itu adalah pernyataan kepemilikan yang tak terbantahkan. "Simbol Kaisar," gumamnya pelan, suaranya penuh perhatian dan perhitungan. "Itu bukan sekadar hadiah. Itu adalah pesan yang tak bersuara. Jika ada wanita yang terlihat memakainya, seluruh istana akan langsung menganggap dialah yang paling berhak atas hati dan perhatian Kaisar." Ia bersandar pada sandaran kursi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang teratur. "Kita butuh seseorang yang 'menemukannya'," lanjutnya. "Seorang pelayan yang mengaku menemukannya terjatuh di taman selatan setelah seseorang berjalan pulang

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Keragu-Raguan Yang Tumbuh

    Bab 78 Para pelayan senior menghentikan langkah mereka, mata mereka melebar kaget. "Dengar apa?" salah satu dari mereka bertanya, suaranya pelan penuh ingin tahu. "Tentang keindahan misterius dari selatan," kata Mei Mei, membungkuk dengan ekspresi pura-pura kaget. "Katanya dia sudah di sini selama berminggu-minggu, bersembunyi di bangunan tua yang jarang digunakan. Seorang wanita berbaju sutra merah yang begitu cantik, bahkan para penjaga istana pun tidak bisa berhenti menatap." Para pelayan tersentak bersamaan. "Sutra merah? Warna kesayangan Nyonya Xiwu?" "Tepat sekali," Mei Mei berbisik, matanya berbinar dengan kegembiraan. "Dan mereka mengatakan Kaisar sendiri secara pribadi meminta dia dirahasiakan sampai dia siap mengumumkannya." Rumor itu menyebar dari para pelayan bagaikan tinta yang jatuh ke dalam air, meresap dan menyebar dengan cepat. Pada saat Mei Mei mencapai paviliun utama tempat para selir berpangkat tinggi berkumpul, u

  • Selir Yang Terlupakan   Bisikan Merah Yang Menyebar

    Bab 77 Ketiga wanita yang tadinya duduk santai sambil menyesap teh dan berbisik-bisik, seketika menegakkan tubuh bersamaan. Jasmine, yang paling muda namun paling peka terhadap perubahan suasana, mendongak dari cangkirnya dengan mata terbelalak. Mei Mei yang dikenal dengan lidahnya yang tajam sekaligus kecerdikannya yang jauh lebih tajam, meletakkan cangkir tehnya perlahan hingga terdengar bunyi denting halus. "Apa ini, Nyonya? Anda terdengar bukan seperti seorang selir yang tinggal di pinggiran istana, melainkan seperti seorang panglima perang yang sedang merencanakan strategi." Liling yang paling pendiam dan berhati-hati di antara mereka, mendekat perlahan sambil memiringkan kepala penuh tanya. "Anda sudah menatap buku besar itu hampir satu jam lamanya. Kami mengira Anda sedang merenung atau melamun." Jasmine merendahkan suaranya, mendekatkan wajahnya ke meja. "Apakah ini kabar buruk? Ada sesuatu yang berhubungan dengan Kanselir Agung?"

  • Selir Yang Terlupakan   Permainan Kekuasaan Yang Baru Dimulai

    Bab 76 Rahang Hongwu menegang kaku, urat-urat halus menonjol di bawah kulitnya. Sesuatu yang dingin dan berat seketika mendesak dadanya. Kanselir Agung menyediakan kekuatan politik, legitimasi, dan kendali penuh atas birokrasi negara, sementara Xiwu memberikan akses sempurna—pengaruh tak kasat mata di dalam lingkaran istana untuk memastikan tak ada wanita lain yang berani menggugat posisinya. Bersama-sama mereka telah membangun tembok tinggi di sekeliling takhta. Mereka memastikan bahwa saat ia akhirnya kembali, ia akan mendapati dirinya dikelilingi musuh yang menyamar sebagai wajah-wajah yang ia kenal dan percayai. "Mereka ingin menjadikanku boneka," bisik Hongwu, suaranya setajam silet. "Seorang prajurit yang dihiasi mahkota, namun tak lagi mampu memegang kendali atas kerajaannya sendiri." Ia menatap Menteri Zhao yang masih gemetar berlutut di lantai, tak menyadari bahwa pengakuannya barusan hanyalah mengupas lapisan pertama dari konspirasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status