Share

BAB 2

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 16:04:51

“Cukup!”

Suara itu membuat mata Loraine terbelalak.

Leon menoleh ke sumber suara itu. Sosok pria berdiri di sampingnya. Ia menepis tangan pria itu.

“Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur?” tanya Leon.

“Pa-pak nathan,” ucap Loraine dengan gugup.

Nathan mengamati Loraine, penampilannya sangat berantakan bahkan salah satu lengannya terlihat merah karena bekas cengkeraman sosok pria di depannya ini. Sementara itu lututnya berdarah dan kakinya lecet-lecet.

“Sejauh apa dia diseret hingga roknya sampai robek begitu?” batin Nathan.

Loraine perlahan mencoba berdiri dengan berpegangan pada mobil.

“Oh… kau mengenal pria ini, Loraine?” tanya Leon.

“Sudahlah… lepaskan dia, atau…” ucap Nathan.

“Atau apa?” sela Leon.

Nathan menghela napasnya pelan.

“Kenapa aku ikut campur urusan orang secara impulsif seperti ini. Aku sudah lelah banget, ingin segera berbaring di atas kasur,” gumamnya dalam hati.

“Atau apa?” tanya Leon lagi.

“Sebaiknya kau pergi, tak usah ikut campur urusan rumah tangga orang lain,” lanjut Leon.

Nathan mengerutkan alisnya, ia cukup terkejut mendengar pernyataan Leon itu.

“Ma-mantan suami. Pri-pria ini mantan suami saya,” bisik Loraine.

Mendengar ucapan Loraine, Nathan mendekat satu langkah ke arah Leon dan menyentuh pundak kirinya.

“Rumah tangga mana yang kau maksud? Bukankah kalian sudah bercerai?” ucapnya.

Mata Leon membesar, emosinya terasa disulut. Ia menepis tangan Nathan yang ada di pundaknya dengan lengan kirinya. Dan dengan tangan kanannya bersiap untuk memukul Nathan.

Loraine menyadari itu, ia berusaha untuk menghentikannya. Tapi sudah terlambat…

BUGHHHH!

Pukulan itu mendarat di pipinya sampai ia tersungkur jatuh saking kuatnya pukulan itu. Tak hanya Nathan, Leon pun juga terkejut. Nathan menghentikan saat Leon hendak menolong Loraine.

“Jauhkan tanganmu yang ringan itu!” ucapnya.

Ia bergegas menolong Loraine. Darah keluar dari sudut bibir Loraine, pipinya pun terlihat memar. Setelah Loraine terduduk, Nathan kembali berdiri dan mendekati Leon.

“Ini penganiayaan, aku akan menelepon polisi,” ucap Nathan sambil mengeluarkan ponselnya.

Leon mulai panik, ia bergegas menuju ke arah mobil dan segera menaikinya.

“Awas saja kau! Aku akan buat perhitungan denganmu!” ucap Leon sambil memacu mobilnya.

“Wajahnya cukup familiar, apa orang terkenal,” gumam Nathan sambil memasukkan kembali ponselnya dalam sakunya.

Nathan kembali menghampiri Loraine, “Apa kau bisa berdiri?”

Loraine mengangguk, Nathan membantunya berdiri dengan hati-hati. Saat ia sudah berdiri dan mencoba berjalan, luka-lukanya terasa perih. Ia hanya meringis untuk menahan rasa perih itu.

“Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa luka-lukamu,” ucap Nathan.

“Ti-tidak perlu pak, sa-saya bisa mengobatinya sendiri di rumah,” jawab Loraine.

“Saya tak ingin merepotkan bapak lebih dari ini,” lanjutnya.

“Takutnya lukamu terinfeksi, jadi menurut saja kali ini,” jawab Nathan.

Loraine akhirnya menurut, lalu ia meraba pundaknya. Tatapannya beralih ke pundak kiri dan berpindah ke pundak kanan. Nathan menyadari hal itu dan bertanya, “Kau mencari sesuatu?”

“Ta-tas saja, pak,” jawab Loraine sambil melihat sekeliling mencari tasnya.

“Ayo naik mobilku dulu, setelah itu akan kucarikan tamu,” ucap Nathan.

Setelah membantu Loraine masuk ke dalam mobilnya, Nathan kini berkeliling di sekitar tempat kejadian untuk mencari tas Loraine.

“Arghhh… apalagi ini? Kenapa aku melakukan semua ini. Aku udah capek banget,” gerutunya.

Setelah menemukan tas milik Loraine, ia bergegas kembali ke mobilnya dan segera menuju ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Loraine dibantu perawat untuk diobati oleh dokter.

Setelah selesai dan semua baik-baik saja. Nathan hendak mengantarkan Loraine pulang, namun Loraine tak ingin berhutang budi lebih dari ini. Akhirnya menolak tawaran Nathan dan memilih untuk pulang naik taksi saja.

“Saya permisi duluan pak, sekali lagi terima kasih banyak,” ucap Loraine sebelum naik taksi.

Nathan hanya mengangguk dan kembali ke mobilnya untuk pulang.

Setibanya di rumah, ia membawa dokumen yang sengaja ingin dikerjakan di rumah. Sebelum kembali bekerja, ia terlebih dahulu mandi supaya lebih segar. Setelah selesai, ia kembali ke ruang kerjanya sambil membawa secangkir kopi.

“Rasa capek selalu hilang setiap kali tiba di rumah,” gumamnya sambil memilah dokumen.

Amplop coklat terjatuh, Nathan mengambilnya dan teringat bahwa amplop itu berisi persyaratan untuk mengikuti tes kenaikan jabatan.

Saat akan membukanya, ponselnya tiba-tiba berdering. Tertulis nama “ibu” di layar ponselnya.

“Halo, bu. Bukankah ini sudah terlalu larut malam untuk menelepon?”

“Hah… putra ibu belum tidur rupanya,”

“Ibu kan menelepon, bagaimana bisa aku tertidur?”

“Baiklah… ibu akan mematikan telepon. Sebelum itu, kapan ya ibu bisa menggendong seorang bayi?”

“Pertanyaan konyol apa lagi ini, bu? Ibu kan bisa membuat bayi lagi bersama ayah. Kenapa bertanya padaku segala sih?”

“Anak ini! Ibu terlalu tua untuk melahirkan lagi. Maksud ibu itu cucu! Ibu ingin menggendong cucu!”

“Sudahlah bu, kututup dulu ya teleponnya. Putramu ini mau tidur. Selamat malam,”

Nathan mematikan ponselnya.

“Hah… ibu selalu saja, apa ibu nggak bosan bicara hal sama berulang,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.

Ia kembali fokus pada amplop coklat di depannya itu. Perlahan menyobek dan membaca isinya. Jelas tertulis semua persyaratan untuk naik jabatan. Awalnya ia santai membaca semua persyaratan itu.

Mulai dari pengalaman kerja, masa kerja, target keuntungan, penilaian kepemimpinan, dan seterusnya. Semuanya terpenuhi hingga catatan tambahan di halaman paling akhir yaitu memiliki pasangan sah (sudah menikah).

Brakkk!

Berkas itu dibanting.

“Konyol!”

“Apa gunanya aku kerja mati-matian selama lima belas tahun terakhir ini?”

“Persyaratan ini sungguh tak masuk akal dan benar-benar konyol!”

Saking kesalnya ia beranjak dan memilih untuk tidur.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 9

    “A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 8

    “Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Perawat itu berjalan mendekat ke arah Loraine dan mengatakan, “saya letakkan di sini ya?” “Tu-tunggu. Bisakah anda lihat apa isinya?” tanya Loraine ragu.Perawat mengangguk pelan dan mengeluarkan isinya. Ternyata berisi sebuah tas yang familiar bagi Loraine. “Oh! Tasku!” seru Loraine. Loraine mengulurkan tangannya perlahan. Perawat itu menyerahkan tas tersebut. Saat menerimanya Loraine mengucapkan terima kasih.Perawatan tersebut akhirnya keluar dan meninggalkan Loraine sendirian. Sementara Loraine mengecek isi tasnya masih lengkap. Dia mulai penasaran tentang pengirimnya.“Jelas bukan dari Leon. Dia tak mungkin melakukan tindakan seperti untuk sekarang, mengingat kejadian semalam. Lalu siapa?” tanyanya sendiri.“Apakah pak Nathan?” tanyanya lirih.Pertanyaan itu tetap tertinggal di pikirannya untuk beberapa saat. Loraine mengecek ponselnya, tak ada seseorang atau teman dekat yang

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 7

    “SIAL!”Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.“

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 6

    “Nathan?”Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. “Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya. Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan.“Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya. Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?”“Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan. Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja. “Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi.“Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan. “Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 5

    “Arghhh,” teriak Loraine kesakitan. Nathan yang berhasil mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Melihat semua yang kacau itu, tanpa basa basi menendang Leon hingga ia terpental dan melepas tangannya dari rambut Loraine. Dengan segera Nathan langsung merengkuh tubuh Loraine dan menggendongnya di atas pundak. Posisi ini adalah satu-satunya cara agar punggung wanita itu tidak tersentuh. Nathan bergerak secepat mungkin tanpa membuat gadis itu semakin kesakitan dan berlari keluar.“Kau! Bagaimana bisa tiba-tiba muncul? Berhenti!” teriak Leon. “Sial! Kalian bersekongkol mempermainkanku!” teriak Leon saat mencoba berlari mengejar mereka. Loraine sudah dibawa pergi Nathan. Dia dibaringkan di kursi belakang dengan posisi tengkurap. Loraine yang mulai sadarkan diri menatap punggung Nathan, pundaknya naik turun tak beraturan karena napas yang memburu.“Pak Nathan menepati ucapannya,” gumamnya.Ingatan Loraine bercampur tentang banyak hal, dari pengasingan serta cibiran yang selama ini

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 4

    “Kau kan bisa langsung masuk, password pintu masih sama yaitu tanggal lahirmu,” ucap Leon setelah membukakan pintu saat mendengar bel berbunyi.Loraine akhirnya masuk ke rumah Leon. Rumah yang sudah lima tahun ditempatinya saat masih menjadi istri Leon Valeㅡpria yang sering menjadi sampul majalah bisnis ataupun sering masuk di beberapa stasiun tv. Pria yang terkenal ramah dan selalu hadir di acara amal serta terkenal sebagai family man. Hampir semua wanita menginginkan menjadi pasangannya. “Aku hanya sebentar saja di sini,” ucap Loraine.Loraine berusaha tetap tenang, ia melihat sekilas semuanya tidak berubah. Masih sama seperti terakhir diingatnya. Bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang di ruang tamu.Leon menyadari bahwa ekspresi Loraine sedikit melembut karena melihat foto-foto kenangan mereka masih terpajang seperti saat ia masih tinggal di sini.“Kau pasti belum makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” ucap Leon dengan lembut. Loraine tak menjawabnya, hanya meli

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status