Share

BAB 3

Author: Riichan
last update publish date: 2026-06-24 16:06:07

"Siapa yang menulis persyaratan konyol seperti itu?!" gerutu Nathan di sepanjang perjalanannya ke kantor.

Semalaman ia benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus tertuju pada syarat di lembaran terakhir, dan itu membuat moodnya benar-benar memburuk.

"Menikah?" ejeknya, tak habis pikir dengan syarat itu.

Tangan Nathan mengepal di sisi tubuhnya.

Memasuki kantor Nathan mengabaikan sapaan dari semua orang, wajahnya dingin dengan rahang mengeras. Ia benar-benar merasa usahanya mengabdi selama lima belas tahun ini sia-sia.

Setibanya di ruang kerjanya, Nathan membanting pintu saat menutupnya. Membuat asisten sekaligus sahabatnya yang duduk di mejanya di luar ruangan kerja Nathan terkejut.

Tok tok tok!

“Masuk!” ucap Nathan.

Asistennya mengantarkan secangkir teh. Nathan langsung meminumnya.

“Duduklah, Jack!” ucapnya pada asisten.

“Baik, pak,” jawabnya.

“Hari ini tak perlu mode atasan-bawahan. Kau bisa bicara santai padaku seperti di luar jam kantor,” kata Nathan.

“Jadi… apa yang membuatmu kesal di pagi yang cerah ini?” tanya Jackson.

Nathan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya.

“Apa kau sudah membaca persyaratan untuk naik jabatan yang kau berikan padaku kemarin?” tanyanya.

“Tentu saja belum. Itu kan hanya diberikan untuk para kandidat saja. Mengingat posisi wakil CEO saat ini kosong, sudah jelas posisi itu harus segera diisi kan? Lalu apa masalahnya? Sepertinya kau pasti sudah lolos semua persyaratannya kan? Tinggal maju tes tahap kedua,” jelas Jackson.

“Masalahnya, aku gak lolos tahap pertama!” seru Nathan.

“HAH? Apa maksudmu?” tanya Jackson.

Nathan menyodorkan berkas persyaratan pada asistennya itu sembari berkata, “langsung saja baca halaman terakhir.”

Jackson menerimanya dan langsung melihat ke halaman terakhir. Dia langsung tertawa setelah membacanya.

“Apa yang kau ketawakan?” Nathan semakin kesal, ia kembali menyeruput tehnya.

“Harus punya pasangan sah atau singkatnya sudah menikah,” ulang Jackson.

“Tepat sekali! Persyaratan itu sangat konyol, urusan pribadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan! Aku sudah merangkak dari bawah selama lima belas tahun. Kesempatan promosi muncul jelas di depan mataku. Masa gara-gara belum punya istri semuanya berhenti di sini?” sahut Nathan.

“Kalau memang syaratnya sudah menikah, ya kau tinggal nikah saja,” jawab Jackson.

“Memangnya cari istri semudah beli printer?” tanya Nathan sarkas sambil mendengus sinis.

“Yah… minimal pacaran dulu sih,” Jackson masih menjawab.

“Tidak semudah itu!” balas Nathan.

“Kenapa?” tanya asisten lagi.

“Aku tak mau membohongi orang demi keuntungan pribadiku sendiri,” Nathan menegaskan.

“Kalau gitu kan, kau tinggal bayar aja. Maksudku melakukan pernikahan kontrak dengan persyaratan yang ketat,” Jackson mencoba memberikan solusi.

“Mana bisa aku tinggal seatap dengan sembarangan orang, kau gila ya!” bantah Nathan.

“Haruskah aku menyamar menjadi wanita. Ini jelas ide konyol sih, tapi patut dicoba,” ucap Jackson dengan berwajah serius.

“Hah… kau membuatku semakin pusing. Selama seminggu ke depan, kau harus menemaniku lembur,” ucap Nathan akhirnya.

“Wah… kau berlebihan sekali. Dendam pribadi kau limpahkan ke urusan pekerjaan,” gerutu Jackson.

“Apa? Kau mau protes? Mau kuperpanjang jadi sebulan?” ledakan Nathan.

“Maaf, pak. Sebaiknya satu minggu saja. Kalau begitu, saya mohon ijin untuk undur diri. Selamat bekerja, pak,” ucap Jackson kemudian meninggalkan ruang kerja Nathan.

“Hah… ternyata aku jadi ikut-ikutan CEO, menyalahgunakan jabatan demi kepuasan pribadi,” gumamnya pelan sembari mengingat memberi hukuman konyol pada sahabatnya itu.

Siang harinya saat Nathan hendak makan siang di kedai sandwich dekat kantor. Ia tanpa sengaja melihat Loraine yang kembali diseret mantan suami ke area lebih sepi.

“Wanita itu… lagi-lagi menurut saja diseret seperti itu. Ada banyak orang, kenapa nggak teriak aja sih? Sudahlah. Pasti ada orang lain yang akan menolongnya,” ucap Nathan sambil menggelengkan kepalanya.

Ia kembali berjalan menuju kedai untuk makan siang. Sesekali melirik ke belakang dan melihat Loraine yang masih bersama mantan suaminya itu.

“Haiishhhh!” Nathan berbalik dan berlari menghampiri Loraine.

Ia menarik pundak Leon hingga sekarang keduanya saling berhadapan.

“Kau lagi! Jangan mengganggu untuk kedua kalinya!” ucap Leon.

“Aku yang seharusnya bicara begitu! Kau ini sedang mengacau di kantor orang! Entah dari sini!” tegas Nathan.

“Berani-beraninya kau bicara begitu! Kau tak tahu siapa aku?” tanya Leon sambil mendorong Nathan.

Loraine melihat sekitar, beberapa orang mulai memperhatikan. Ia tak ingin merusak reputasi atasan karena terseret masalah pribadinya.

“Cu-cukup. Hentikan! Leon, se-sebaiknya kau segera pergi sekarang. A-aku akan menemuimu sepulang kerja,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Apa ini Loraine? Kau sedang mengkhawatirkan playboy ini daripada aku?” tanya Leon.

“Hei! Aku bukan playboy, bahkan tak ada waktu untuk berpacaran,” Nathan menyeletuk tanpa sadar.

“Bahkan belum pernah pacaran. Apa kau impoten?” tanya Leon sambil ketawa sinis.

“Berhenti meremehkanku!” tegas Nathan.

“Cukup, kali ini aku mohon Leon. Pergilah, aku akan menemui nanti. Aku berjanji,” pinta Loraine.

Leon pun akhir pergi sambil memberitahukan bahwa dia akan menunggu Loraine di rumah.

Setelah melihat Leon pergi, Loraine merasa sedikit lega. Namun di waktu yang sama, ia merasa tertekan mengingat harus kembali menginjakkan kakinya di rumah yang terasa seperti neraka itu.

“Hanya ini yang bisa kulakukan, demi menjaga reputasi pak Nathan,” batinnya.

Suara perut Loraine berbunyi cukup keras hingga Nathan mendengarnya.

“Hah… kau kapan terakhir kali makan? Suara perutmu brutal sekali seolah lebih dari seminggu tak makan,” ucap Nathan sarkas.

Loraine hanya tertunduk malu. Nathan akhirnya mengajak makan bersama di kedai yang tadi hendak ditujunya. Sambil berjalan beriringan, Nathan memperhatikan Loraine secara diam-diam.

Wanita itu memakai atasan lebih longgar dan lengan panjang, serta rok panjang. Sudah jelas untuk menutupi bekas luka yang didapatnya semalam. Untuk memar di pipinya cukup samar terlihat, seperti disamarkan dengan make up.

“Anu, pak. Kali ini saya saja yang mentraktir sebagai ucapan terima kasih karena bapak sudah menolong saya,” ucap Loraine ragu-ragu.

“Wah apa ini, harusnya kalau mau mentraktir bukankah makanan yang lebih mahal,” jawab Nathan.

“Sudah kuduga, tak ada yang gratis di dunia ini,” batin Loraine.

Kenyataannya, Nathan mengatakan itu hanya untuk mencairkan suasana. Namun ternyata malah sebaliknya.

“Apa aku salah bicara?” gumam Nathan dalam hati.

Di kejauhan tanpa mereka sadari, saat Leon akan masuk ke dalam mobilnya, ia tidak sengaja melihat Loraine sedang bersama pria tadi sedang makan siang bersama.

Ia cukup lama berdiri di dekat mobilnya. Kemudian masuk dan menutup pintu mobilnya dengan keras, lalu memukul-mukul setirnya untuk melampiaskan kekesalannya.

“Apa ini, Loraine? Ternyata kau berselingkuh di belakangku?” ucap Leon sambil meremas setir mobilnya.

“Kau diam-diam menggugurkan kandunganmu gara-gara pria itu! Tunggu saja nanti malam saat kita bertemu. Kau harus bertanggung jawab atas kematian anakku!”

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 9

    “A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 8

    “Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Perawat itu berjalan mendekat ke arah Loraine dan mengatakan, “saya letakkan di sini ya?” “Tu-tunggu. Bisakah anda lihat apa isinya?” tanya Loraine ragu.Perawat mengangguk pelan dan mengeluarkan isinya. Ternyata berisi sebuah tas yang familiar bagi Loraine. “Oh! Tasku!” seru Loraine. Loraine mengulurkan tangannya perlahan. Perawat itu menyerahkan tas tersebut. Saat menerimanya Loraine mengucapkan terima kasih.Perawatan tersebut akhirnya keluar dan meninggalkan Loraine sendirian. Sementara Loraine mengecek isi tasnya masih lengkap. Dia mulai penasaran tentang pengirimnya.“Jelas bukan dari Leon. Dia tak mungkin melakukan tindakan seperti untuk sekarang, mengingat kejadian semalam. Lalu siapa?” tanyanya sendiri.“Apakah pak Nathan?” tanyanya lirih.Pertanyaan itu tetap tertinggal di pikirannya untuk beberapa saat. Loraine mengecek ponselnya, tak ada seseorang atau teman dekat yang

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 7

    “SIAL!”Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.“

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 6

    “Nathan?”Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. “Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya. Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan.“Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya. Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?”“Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan. Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja. “Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi.“Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan. “Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 5

    “Arghhh,” teriak Loraine kesakitan. Nathan yang berhasil mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Melihat semua yang kacau itu, tanpa basa basi menendang Leon hingga ia terpental dan melepas tangannya dari rambut Loraine. Dengan segera Nathan langsung merengkuh tubuh Loraine dan menggendongnya di atas pundak. Posisi ini adalah satu-satunya cara agar punggung wanita itu tidak tersentuh. Nathan bergerak secepat mungkin tanpa membuat gadis itu semakin kesakitan dan berlari keluar.“Kau! Bagaimana bisa tiba-tiba muncul? Berhenti!” teriak Leon. “Sial! Kalian bersekongkol mempermainkanku!” teriak Leon saat mencoba berlari mengejar mereka. Loraine sudah dibawa pergi Nathan. Dia dibaringkan di kursi belakang dengan posisi tengkurap. Loraine yang mulai sadarkan diri menatap punggung Nathan, pundaknya naik turun tak beraturan karena napas yang memburu.“Pak Nathan menepati ucapannya,” gumamnya.Ingatan Loraine bercampur tentang banyak hal, dari pengasingan serta cibiran yang selama ini

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 4

    “Kau kan bisa langsung masuk, password pintu masih sama yaitu tanggal lahirmu,” ucap Leon setelah membukakan pintu saat mendengar bel berbunyi.Loraine akhirnya masuk ke rumah Leon. Rumah yang sudah lima tahun ditempatinya saat masih menjadi istri Leon Valeㅡpria yang sering menjadi sampul majalah bisnis ataupun sering masuk di beberapa stasiun tv. Pria yang terkenal ramah dan selalu hadir di acara amal serta terkenal sebagai family man. Hampir semua wanita menginginkan menjadi pasangannya. “Aku hanya sebentar saja di sini,” ucap Loraine.Loraine berusaha tetap tenang, ia melihat sekilas semuanya tidak berubah. Masih sama seperti terakhir diingatnya. Bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang di ruang tamu.Leon menyadari bahwa ekspresi Loraine sedikit melembut karena melihat foto-foto kenangan mereka masih terpajang seperti saat ia masih tinggal di sini.“Kau pasti belum makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” ucap Leon dengan lembut. Loraine tak menjawabnya, hanya meli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status