MasukJovita tak menyangka akan menjadi istri rahasia Raymond, ayah dari sahabatnya sendiri. Padahal di mata dunia, Raymond adalah milik wanita lain. Sampai sebuah malam mengubah segalanya. Jebakan maut memicu malam panas yang mengaburkan batas antara belas kasihan dan gairah. Terjebak di antara status istri rahasia, sahabat putri suaminya, dan cinta yang terlarang, akankah Jovita bertahan saat rahasia itu mulai terkuak?
Lihat lebih banyak“Argh….”
Basah, dingin, dan lengket. Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah. “Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Sepertinya, tempat ini memang tidak cocok untukmu, Jo.” Menjadi mahasiswa pintar dan sering membantu teman mengerjakan tugas, tidak serta merta membuat Jovita diterima saat kemiskinan melekat erat dalam kehidupannya. “Hei, apa-apaan ini?” Viola datang membelah kerumunan. Gaun silvernya berkilau mewah di bawah lampu kristal. “Jojo itu sahabatku! Aku yang mengundangnya….” Kalimat Viola terjeda, dilihatnya Jovita dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kenapa pakai baju ini? Kenapa tidak pakai gaun yang kuberi kemarin?” Tawa renyah sekumpulan mahasiswa elit itu mendadak senyap, digantikan seringai geli merendahkan. Dalam benak mereka, saking miskinnya Jovita, baju saja pemberian dari Viola. Bukan hanya baju pesta yang baru saja disebut Viola, tapi baju andalan yang sering digunakan ke kampus adalah pemberian Viola. “Aku harus bekerja.” Jovita memaksakan senyum untuk sahabatnya. “Selamat ulang tahun, Vio.” “Masuk ke kamar mandi di belakang ballroom sekarang, Jo. Bersihkan dirimu,” perintah Vio tegas, tapi terdengar peduli. Jovita mengangguk samar, bergegas menuju ke kamar mandi. Membersihkan baju bukan tujuan utamanya, tapi meninggalkan orang-orang yang merendahkannya. Begitu Jovita menghilang dari ballroom, sorot mata Vio langsung beralih antusias ke ambang pintu. “Tepat waktu,” gumam Viola dengan senyum puas, bergegas menghampiri sosok yang baru memasuki ballroom tanpa menoleh lagi ke arah Jovita. “Dylan!” Viola menyapa pemuda tampan itu dengan nada manja dan menggoda. “Selamat ulang tahun,” ucap Dylan dingin sambil menyerahkan kado tanpa minat. Tatap mata Dylan tidak tertuju pada Viola, justru memindai seisi ballroom seperti ada orang lain yang dicarinya. Berbeda dengan keriuhan di dalam ballroom, lorong menuju toilet terasa sunyi dan dingin. Jovita berjalan lambat sembari mengusap noda di dadanya. Langkahnya mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara bariton yang sangat ia kenal dari balik belokan. “Oh… Sayang. Aku mohon sekali lagi!” Suara itu terdengar nelangsa, jauh dari gambaran sosok Raymond Chandra, pemilik biro arsitektur raksasa yang biasanya berdiri tegak, dingin, dan tak tersentuh di rumah mewah tempat Jovita sering menumpang belajar. “Aku mohon pengertianmu, Karin. Aku tidak mungkin meninggalkan ulang tahun Vio sekarang. Dia bisa ngamuk, dan itu sangat buruk untuk hubungan kita nanti.” Dengan kepala mendongak dan ponsel masih menempel erat di telinganya, Raymond menarik napas panjang. Gurat lelah tampak jelas di dahi pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu. Di bawah sorot lampu lorong hotel, segala kelebihan Raymond seolah raib. Yang tersisa kini hanya pria yang terjepit di antara dua perempuan yang menguasai hidupnya, putri tunggal dan kekasihnya. Napas Jovita tertahan, dadanya mendadak sesak oleh rasa iri yang janggal. Memorinya terlempar ke gubuk pengap yang ia sebut rumah, teringat Joni, ayahnya. Jangankan memohon dengan suara selembut itu, Joni hanya tahu cara berteriak, mengayun sabuk dan membanting botol minuman keras jika keinginannya tak dipenuhi. Ayahnya adalah alasan mengapa sang ibu memilih pergi beberapa tahun lalu, meninggalkan Jovita yang harus banting tulang membiayai hidupnya sendiri. “Seandainya aku memiliki ayah seperti dia,” batin Jovita perih. “Mungkin Bunda tidak akan kabur, dan aku akan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.” Tiba-tiba, Raymond memutar tubuh. Matanya langsung menangkap sosok gadis di sudut lorong, Raymond mengenali sahabat putrinya itu. “Jojo?” Raymond menurunkan ponselnya. Matanya menyipit, menelusuri seragam katering yang dikenakan gadis itu. “Kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak di dalam bersama Vio dan yang lainnya?” Jovita menunduk. “Saya... saya sedang bekerja, Om.” Raymond terdiam sejenak. menyaksikan penampilan Jovita yang sangat kontras dengan gaun-gaun pesta seharga puluhan juta yang berseliweran di ballroom sana. Jovita adalah sahabat dekat Viola, tidak datang sebagai tamu undangan, melainkan sebagai buruh kasar. “Ayo, ikut merayakan ulang tahun Vio.” “Tidak Om,” tolak Jovita tanpa berpikir panjang, menunduk menatap seragamnya. “Saya tidak ingin merusak pesta Vio.” Sebagai seorang pelayan saja kedatangannya tidak diterima, apalagi jika sampai dia masuk bersama sang donator acara. Raymond memperhatikan jemari Jovita yang saling meremas, lalu mengangguk samar seolah paham situasi. Dia tidak akan memaksa. Raymond paham, berada di tengah pesta mewah dengan seragam katering pasti membuat Jovita tidak nyaman. “Baiklah kalau begitu. Lain kali kalau ada masalah jangan sungkan untuk bicara, mungkin Om bisa bantu.” Jovita mengangguk. “Terima kasih, Om.” “Jangan terlalu memaksakan diri.” Kalimat pendek Raymond, layaknya kepedulian yang menghangatkan hati Jovita. Raymond berbalik, melangkah tegap menuju ballroom, meninggalkan Jovita yang terpaku menatap punggung lebar itu. Punggung yang terlihat begitu kokoh untuk bersandar. Menjelang jam sebelas malam pesta akhirnya usai. Lorong hotel mulai lengang, menyisakan sisa aroma parfum mahal yang menguap di udara. Di depan lobi, Viola tampak gelisah. Matanya tertuju pada Dylan, pria incarannya itu terlihat mondar-mandir di dekat pintu kaca, mengawasi setiap orang yang keluar. Viola tahu persis siapa yang sedang ditunggu pemuda itu, dan kenyataan tersebut membuat hatinya terbakar cemburu. “Papa!” Viola mencegat Raymond yang baru kelar dari lift. “Papa, tolong antar Jojo pulang, ya? Sudah malam, kasihan dia.” Raymond mengernyit, mengalihkan pandangan pada Jovita yang muncul dengan kemeja flannel sederhana. “Pokoknya Papa harus antar. Vio nggak tenang kalau Jojo pulang sendiri jam segini,” ucap Viola dengan manja, sambil menarik lengan papanya mendekat ke arah Jovita. Jovita mencoba menolak. “Enggak usah, Vio. Aku bisa sendiri.” “Jojo, jangan bantah!” Viola memelotot. “Papa nggak keberatan, kan?” Raymond menatap Jovita sejenak, lalu mengangguk singkat. Bukan hanya untuk menuruti permintaan anaknya, tapi juga kasihan pada Jovita. “Ayo, saya antar.” Dengan perasaan sungkan yang amat sangat, Jovita akhirnya menurut. Saat mobil hitam milik Raymond perlahan meninggalkan pelataran hotel, Viola tersenyum puas. Ia berbalik dan melangkah cepat menghampiri Dylan yang masih menunggu Jovita. “Dylan!” panggil Viola dengan nada yang dibuat sedih. “Bisa antar aku pulang? Papa tiba-tiba ada urusan bisnis mendadak, aku ditinggal sendiri.” Dylan menoleh, matanya masih tampak mencari. “Kamu lihat Jovita?” Viola mendesah pelan, pura-pura tidak acuh. “Oh, Jojo? Dia sudah pulang dari tadi. Kamu telat, tadi ada cowok yang jemput.” Wajah Dylan seketika lesu. Ia mengembuskan napas kecewa dan cemburu mendengar Jovita bersama pria lain. “Dylan! Bisakan antar aku?” Tatap mata Viola memohon manja. Dylan mengembuskan napas kasar. Ia tahu keluarga Viola memesan penthouse di hotel ini untuk menginap, tapi penolakan hanya akan membuat semakin lama untuk menghindar dari Viola. “Masuk!” perintah Dylan dengan terpaksa. Sementara itu di mobil Raymond membelah jalan yang mulai lengang. Jovita merasa kerdil di jok kulit yang empuk. Tangan Jovita bertumpu di pangkuan, saling meremas ujung kemeja belel. “Kenapa mengambil kerja sampingan di hari ulang tahun sahabatmu sendiri?” Suara bariton Raymond memecah keheningan, matanya tetap lurus menatap jalanan. “Saya butuh uang, Om.” “Untuk?” “Tunggakan semesteran saya sudah lewat tiga bulan. Kalau minggu depan belum lunas, saya di-DO.” Jovita menunduk malu. “Kalau cuma itu, saya bisa bantu.” Raymond melirik singkat. “Sebagai gantinya, saya ingin bantuan kecil.” Jantung Jovita mencelos hingga membuatnya langsung menoleh. Di dalam mobil yang remang, wajah matang Raymond tampak begitu tenang, tapi tetap menyiratkan kuasa yang mutlak. Hidup keras mengajarkan Jovita satu hal, tidak ada makan siang gratis, apalagi dari pria sekaya Raymond. “Apa... apa yang harus saya lakukan untuk itu, Om?” tanya Jovita, suaranya bergetar. Raymond mengetukkan jarinya di setir, menatap gadis muda di sampingnya yang tampak ketakutan namun butuh pertolongan. “Kamu adalah orang yang paling didengar oleh Vio saat ini,” ucap Raymond dengan nada rendah yang dingin. “Bantu saya meyakinkan dia… agar mau menerima Karina sebagai ibu barunya.”Karina merogoh tas tangan branded miliknya, mengeluarkan sebuah ponsel berselimut casing elegan, lalu menatap Jovita dengan sebuah senyuman santai tanpa beban.“Oh iya, Jo. Aku minta nomor rekening atau e-wallet kamu. Ada sedikit uang jajan, nanti kalau kamu berhasil meyakinkan Vio, aku akan memberikan reward yang sepadan untukmu.”Jovita seketika terpaku. Sedetik kemudian, dia menggelengkan kepala dengan cepat, refleks menolak tawaran itu.“Eh, tidak usah, Bu. Benaran tidak usah. Bisa mendapatkan izin magang di sini dari Om… Pak Ray saja aku sudah sangat beruntung dan merasa terbantu. Jadi tidak perlu sampai seperti itu.”Agar atmosfer di sudut kantin itu tidak semakin canggung dan menjepitnya, Jovita melirik jam tangan digital di pergelangan tangan kirinya. Ia sengaja memberikan kode bahwa ia harus segera memulai aktivitas sebagai anak magang di Vastu Chandra.“Maaf, Bu Karina, sepertinya saya sudah harus segera melapor ke divisi HRD untuk penempatan magang.”Sebenarnya itu hanya al
Karina membawa Jovita menuju area kafetaria khusus karyawan yang terletak di lantai mezanin. Tempat itu jauh dari kesan kantin konvensional pada umumnya, desain interiornya mengusung tema industrial-biophilic yang sangat estetis dan megah.Jovita dan Karina mengambil posisi duduk di salah satu sudut yang agak privat, terlindung oleh partisi tanaman vertikal yang cukup rimbun.“Kamu sudah sarapan, Jo? Mau memesan sesuatu?” tanya Karina. Suaranya terdengar renyah, ringan, dan bersahabat sembari melambaikan tangan dengan anggun pada seorang pelayan.Di seberang meja, Jovita meremas jemarinya sendiri di bawah kolong meja. Tubuhnya mendadak kaku, dipenuhi rasa takut yang luar biasa dahsyat.Di kepala gadis muda itu, skenario terburuk mulai bermunculan.Apakah Karina sudah mengetahui hubungannya dengan Raymond?Apakah wanita ini sengaja membawanya ke sini untuk melabrak, memaki, dan mempermalukannya di depan seluruh karyawan kantor?Jovita menahan napas, berusaha keras menyembunyikan getar
Jovita berdiri mematung di kamar mandi, menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin yang mulai berembun.Jemarinya perlahan naik, menyentuh bibirnya yang masih sedikit bengkak, lalu turun meraba lehernya yang tertutup rapat oleh kerah sweater turtleneck.Ada rasa asing dan tidak percaya diri yang mendadak menggerogoti dadanya. Ia sadar, ada sesuatu yang telah berubah secara permanen di dalam dirinya kini.Sudah tidak perawan lagi.Kenyataan itu menghantam dada Jovita, memicu rasa takut yang menjalar ke seluruh sarafnya.Bagaimana jika orang-orang menyadarinya dari cara jalannya?Bagaimana jika rahasia ini terbongkar?Jovita buru-buru menggelengkan kepala, menghalau air mata yang hampir menetes. Ia tidak boleh lemah. Hari ini ia harus mulai masuk magang, atau kuliah arsitekturnya tidak akan pernah selesai, dan ia akan selamanya terjebak dalam kemiskinan dan bayang-bayang keluarga yang hancur.Dengan memantapkan hati, Jovita menyandang tas ranselnya dan melangkah keluar dari kamarn
Pertanyaan Jimmy siang tadi terus berdengung di kepala Raymond sepanjang perjalanan pulang. Bahkan tetap mengganggu benaknya hingga roda SUV hitamnya berhenti di depan pelataran rumah.Bagaimana nasib hubungannya dengan Karina?Bagaimana pertanggungjawabannya pada Jovita?Dua pertanyaan itu menghimpitnya dari dua sisi yang berbeda, membuatnya nyaris gila.Raymond melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya dengan langkah yang sengaja ditenangkan. Saat ia melintasi ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih, langkahnya terhenti. Di sana, Viola sedang berdiri di depan dispenser, menuangkan air ke dalam gelas.Mendengar suara langkah kaki, Viola menoleh. "Eh, Papa baru pulang?" sapanya, berusaha menampilkan senyum sewajarnya remaja yang menyapa ayahnya.Sesuai dengan saran Jimmy, Raymond memasang topeng tenangnya dengan sempurna."Iya, baru beres urusan di kantor," jawab Raymond datar.Sambil melangkah mendekati meja konter dapur, Raymond sengaja mengangkat tangan kanannya sedikit lebih ti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan