تسجيل الدخول“Ngapain, Mas?” Pak Budi menegur tegas sembari menghampiri pria berjaket gelap yang sudah beberapa hari ini terlihat mondar-mandir di depan area kos Maximilian Residence. Pria itu sempat tersentak kaget, namun dengan cepat berusaha memasang raut wajah polos. “Mau cari kos buat adik saya, Pak,” jawabnya meyakinkan. Pak Budi menatapnya penuh curiga dari atas sampai bawah. “Adiknya cewek?” “Iya, Pak, cewek.” Pak Budi kemudian menjelaskan dengan nada datar, “Tempat ini memang kos khusus cewek, Mas. Keamanannya ketat.” Pria misterius itu memiringkan kepalanya sedikit, berpura-pura bingung lalu melancarkan aksi menyelidikinya. “Tapi... saya sering lihat ada laki-laki yang keluar masuk tempat itu, Pak. Yang pakai SUV hitam itu.” “Itu pemiliknya, Mas,” jawab Pak Budi tanpa ragu. “Lho, katanya khusus cewek? Nggak bahaya pemilik cowok yang masih muda seperti itu tinggal di dalam?” sahut pria itu cepat, mencoba memancing informasi lebih dalam. Pak Budi terkekeh pelan, lalu menjawab san
@Raymond Chandra[Kamu pulang duluan pakai taksi][Aku mampir ke rumah dulu][Mau kasih hadiah buat Vio]@Jovita Anindita[OK][Om nginap di sana]Om Ray:[Tentu saja tidak][Tunggu aku pulang][Jangan lupa pakai baju yang aku belikan dari Singapura]Jovita menghembuskan napas panjang, seketika teringat wujud baju tidur yang dibawakan Raymond dari Singapura. Wajahnya merona merah sekaligus dongkol.“Jauh-jauh ke Singapura, masa yang dibeli baju kurang bahan begitu... mana tipis banget lagi! Bikin mriang saja,” gerutu Jovita dalam hati, mengetuk-ngetuk layarnya dengan gemas sebelum mengunci ponsel.Jovita bergegas merapikan barang-barangnya di meja kerja. Ia memandang sekeliling ruangan untuk terakhir kalinya, mematri kenangan manis dan ilmu yang didapatkan di sana, lalu melangkah keluar gedung untuk memesan taksi online.Sebagai anak magang, hari ini adalah hari terakhirnya menjejakkan kaki di kantor Vastu Chandra.Perjalanan pulang menuju Maximilian Residence terbilang lancar meski s
Dylan terdiam cukup lama, menunduk, menatap cangkir kopi di hadapannya yang mulai memutih akibat kepulan uap yang menghilang.Pernyataan terakhir Raymond memukul kesadarannya cukup telak. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan keluarga elite, Dylan tahu betul betapa kejamnya dunia mereka jika sebuah rahasia atau kelemahan terekspos sebelum waktunya.Dengan segala yang dimilikinya, Raymond akan tetap bertahan oleh badai skandal. Tapi tidak akan sama dengan Jovita. Posisinya sangat lemah, bisa saja dia menjadi bahan perundungan yang menyudutkannya.Sebutan-sebutan yang merendahkan bisa saja langsung melekat pada diri Jovita. Pelakor, perempuan simpanan, atau lebih kasar lagi, pelacur.Dylan menghembuskan napas panjang, mencoba menekan seluruh ego dan gelombang kekecewaan yang masih bergolak di dadanya.“Saya paham...” ujar Dylan pelan, nadanya berubah jauh lebih tenang walau garis wajahnya masih menyiarkan luka yang tak sanggup ia sembunyikan.Pemuda itu mendongak, menatap lurus mata Ra
Raymond melangkahkan kaki memasuki area private sebuah restoran mewah yang suasananya sangat tenang.Sebagai seorang pria matang yang kenyang pengalaman hidup dan dunia bisnis, seharusnya tidak ada keraguan sedikit pun untuk menemui pria muda yang usianya jauh di bawahnya.Tapi, membayangkan betapa dekat anak muda ini dengan istrinya selama ini, rasa cemburu yang membakar dada menguapkan seluruh rasionalitasnya. Panggilan telepon dan ajakan pertemuan dari Dylan terasa seperti tantangan duel.Raymond mengontrol raut wajahnya, tetap bersikap tenang dan berwibawa saat mendekati meja. Di sana, Dylan sudah berdiri menunggu.“Selamat siang, Om,” sapa Dylan berusaha formal.“Siang, Dylan,” balas Raymond singkat.Mereka saling berjabat tangan. Genggaman erat dan tatapan mata yang saling mengunci mengirimkan gelombang ketegangan yang nyata di antara dua pria dewasa.Meski terlihat tenang, sebenarnya jantung Raymond bergemuruh hebat.Dylan pun sama. Ada gejolak amarah dan rasa tidak terima yang
Seusai konfrontasi panas dengan Felisa, Jimmy melangkahkan kaki kembali ke kantornya. Pertemuan dengan Felisa benar-benar menghancurkan mood kerjanya hari ini. Jika bisa, rasanya ingin pulang saja dan menenangkan diri bersama istri tercinta.Jimmy melangkah cepat menuju ruangannya. tapi langkah Jimmy terhenti seketika.Di balik meja pimpinan, Raymond sudah duduk dengan santai sembari membolak-balik beberapa berkas.“Oh... jadi begini kerjamu saat aku sedang tidak ada di kantor?” sindir Raymond tanpa mendongak, menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.Jimmy tidak langsung menjawab sindiran itu. Ia berjalan mendekat, menyilangkan dada dan menatap tajam ke arah sahabatnya dari atas kepala.“Kau pulang cepat ini karena urusan proyek di Singapura benar-benar sudah selesai... atau karena memang sudah kangen istri?”Raymond menghentikan gerakan tangannya, lalu mendongak. Sebuah senyum jahil yang amat jarang terlihat kini mengembang bebas di wajah tegasnya.“Dua-duanya,” jawab Raymond s
“Bantu aku, Jim. Bantu aku bicara sama Ray.”Felisa terpaksa merendahkan harga diri, memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Bahkan tak peduli jika saat ini berada di tempat umum, di sebuah kafe kecil biasa di dekat gedung Vastu Chandra.“Aku mohon, Jim, ini demi Vio. Dia sangat menderita karena perceraian kami.”Jimmy meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas tatakan porselen. Ia menatap Felisa dingin, lalu menggeleng tegas tanpa ragu.“Aku tidak mau ikut campur dalam masalah kalian, Ray punya hak penuh untuk menentukan masa depannya sendiri.”“Lalu bagaimana dengan Vio?” Nama Viola selalu jadi senjata andalan bagi Felisa.“Kamu mau biarkan Vio menderita. Keinginannya tidak muluk-muluk, dia hanya ingin keluarga yang utuh, papa mamanya rujuk?”Jimmy bukannya tersentuh, malah menyunggingkan senyum miris yang penuh akan cemoohan. Matanya menatap tajam ke arah Felisa, lalu pertanyaan sinis meluncur mulus dari bibirnya.“Kamu tanya bagaimana dengan Vio?” tanya Jimmy keras dan kasar
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







