FAZER LOGINHari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk menikmati sarapan khas di sana, pergi berbelanja, dan juga pergi menonton film.
Alih-alih membuat Louis menikmati, Valerie malah lebih menikmatinya sendiri, bahkan dia mengajak Louis pergi ke tempat yang ada di dalam daftar otaknya selama ini. Louis pergi menemaninya, dan bukan sebaliknya. Itu terlihat jelas di mata Valerie jika wanita itu benar-benar antusias ketika berkeliling. Kini keduanya berakhir di sebuah kedai ice cream. Setelah itu, mereka berjalan bersama menyusuri trotoar jalan sembari memakan Ice cream di tangan. Valerie berpakaian Casual hari ini. Rok mini sepaha dan kaos putih bergambar kucing. Memakai topi pada rambutnya yang sengaja diurai agar orang-orang di sekitar tidak terlalu memperhatikan, kaki jenjangnya pun dibalut sneakers senada dengan kaos yang dikenakan. Penampilannya hari ini sangat berbeda dengan sehari-harinya yang lebih tampak seperti wanita dewasa. Louis memperhatikan wajah cantik polosnya yang hanya terpoles make up tipis natural. Berbeda dengan yang ia lihat kemarin saat pertama kali bertemu. Valerie menyadari jika dirinya sedang diperhatikan, lantas ia menoleh pada Louis yang spontan mengalihkan arah pandangnya. "Ada apa?" tanya Valerie sambil menjilat ice cream miliknya. Louis tersenyum simpul. "Tidak ada." "Apa penampilanku terlihat aneh?" "Tidak. Sama sekali tidak, Valerie." Valerie menjumput rambutnya ke belakang telinga, dan terlihatlah garis rahangnya yang cantik berkulit putih mulus. "Sudah lama aku tidak berpakaian santai seperti ini, aku pikir itu terlihat aneh," keluhnya. "Kau cantik," puji Louis, membuat Valerie terkekeh kecil mendengarnya. "AH!" Valerie sontak berterak kaget saat ia melihat seekor anak kucing hendak menyebrang jalanan. Louis yang melihat hal tersebut segera berlari untuk menyelamatkan anak kucing tersebut. "Valerie!" "Ya, itu Valerie." Terakan Valerie membuat heboh, dan tidak sengaja membuat orang-orang sekitar melihat ke arahnya. Saat mereka lihat wajah di balik topi tersebut ialah seorang model terkenal, orang-orang itu langsung heboh hendak mendekat. Valerie tertegun, ia hendak melarikan diri sebelum orang mengerumuninya. Namun, sebelum dirinya melangkah, sebuah tangan kekar melingkar pada perutnya yang langsung saja membopong tubuh Valerie pergi dari sana dengan sangat ringan, seolah ia patung jalanan yang hendak dipindahkan. Wanita cantik itu didudukan di dalam mobil. Matanya membulat dan ia terdiam saat pintu sebelahnya ditutup lalu seorang pria naik dan duduk di sampingnya. "Hallo, Ms. Valerie Yoxavos." Pria ini menoleh dan tersenyum simpul, menatap Valerie yang masih terkejut karena tiba-tiba dia di bawa pergi lalu dimasukan ke dalam mobil pria itu. "Jalan," titah Demiral. Dia lagi. Valerie melihat ke arah jalanan, berbalik melihat pada kaca belakang mobil. Sebelum mobil tersebut melaju menjauh, ia bisa melihat Louis di pinggir jalan sedang menggendong seekor anak kuncing pun pria itu melihat sekitar mencari seseorang. "Kau tidak bisa membawaku pergi begitu saja, aku bersama seseorang," protesnya pada Demiral. Kemudian mobil itu berhenti atas titah sang tuan. Demiral melirik wanita itu dingin. "Keluar jika ingin," katanya tanpa nada dan terdengar datar. Mendadak Valerie diam. Dia tahu orang-orang akan mengerumuninya jika ia keluar sekarang, dan Valerie tentu saja tidak ingin hal itu terjadi. Maka dari itu dia hanya duduk, menatap Demiral dengan sirens eyenya yang menurun. "Jalan." Pria itu memberi perintah lagi. Valerie menggeser posisi tubuhnya, miring menghadap Demiral di samping. Ia tatap pria itu dengan intens dan dalam. Kini bukan ketampanan Demiral yang ia pandang, melainkan keberadaan pria itu yang menjadi tanda tanya. "Kau selalu ada di saat orang-orang mengejarku," papar Valerie, lalu sirens eyenya menyipit. "Kau menguntitku?" Demiral terkekeh samar mendengarnya. Ia matikan layar ponsel lalu memasukan benda pipih itu ke dalam saku. "Kau berada di area perusahaanku, Ms. Valerie, wajar jika aku berada di sini." Valerie berdecak, mengalihkan pandangnya lalu membenarkan posisi duduk tubuhnya kembali. Jawaban dari Demiral tidak membuatnya puas. Menatap lurus ke depan. Valerie membuka topi miliknya, lalu merapikan rambut legamnya yang terurai. Di samping Demiral melirik, menatap wanita cantik yang ia lihat kini dengan polesan wajah yang natural. Berbeda seperti sebelum-sebelumnya saat ia melihat Valerie yang terpoles make up cukup tebal. "Aku tahu aku cantik." Valerie menoleh. "Apa sekarang kau jatuh cinta padaku, Mr. Hugo?" "Maybe?" Pria itu menjawab. "Hidung belang." "Karena itu kau harus menjauhinya." "Kau yang terus mendekat." Lantas Demiral mencondongkan tubuhnya ke depan, membawa wajah pada sisi wajah cantik itu. Ketika Valerie menoleh, jarak antara wajahnya dengan wajah Demiral hanya berjarak beberapa inci saja. "Apa yang kau lakukan?" "Mendekat, seperti katamu." "Bukan itu yang kumaksud." Valerie mendorong dada pria itu menjauh, kontan jatuh punggung Demiral menabrak senderan kursi mobil. "Ingin membeli pakaian?" oceh Valerie. "Pakaian?" Sebelah alisnya terangkat, heran. "Kemejamu selalu terbuka di bagian atas. Kurasa kancingnya putus." Ia melirik, menunjuk kemeja bagian atas Demiral yang memang selalu terbuka dua kancing di bagian atasnya seolah pria itu sengaja memperlihatkan dada kekarnya yang bidang dan terbentuk sempurna. Belum Demiral menjawab, ponsel Valerie lebih dulu berdering menyebabkan atensi wanita cantik itu berpaling. Ia ambil benda pipih itu dari dalam tas, menerima telepon dari Louis yang pastinya pria itu masih mencarinya sekarang. "Hallo Louis, maaf aku pergi lebih dulu. Beberapa orang menyadari keberadaanku di sana." "Tidak masalah Valerie, yang terpenting kau baik-baik saja." "Tentu, aku baik-baik saja." "Baiklah, kutunggu di kediamanmu." "Baiklah, sampai jumpa." Kembali ia masukan ponselnya ke dalam tas. Saat melihat jalanan dari dalam jendela, Valerie heran karena itu bukanlah jalan menuju rumahnya. "Ke mana kau akan membawaku?" Alisnya bertaut menatap Demiral. "Penthouse. Aku memiliki rapat lima belas menit lagi, dan tidak bisa mengantarmu pulang, Ms." "Apa? Maka turunkan saja aku di sini." "Terlambat. Kita sudah memasuki area jalur laju." Valerie mendengus. Ia bersandar pada sandaran jok dan menatap pada jalanan. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain duduk diam di dalam sana sampai mereka sampai di tempat tujuan. Tiba-tiba langit yang cerah mendadak gelap. Hujan lebat disertai angin kencang turun membasahi kota Roma, merubah drastis suhu pada ibukota itali tersebut. Sepuluh menit berlalu, akhirnya mobil itu memasuki area basement sebuah penthouse mewah. Demiral pun Valerie sama-sama keluar dari sana. "Hujan lebat serta jalanan yang macet, kau tidak akan mendapatkan kendaraan jika kembali sekarang," tutur Demiral pada wanita cantik itu. . . . Bersambung ...."Hei Baby, aku berada di depan kediamanmu."Demiral mengirimkan Valerie pesan, yang saat ini Valerie baru saja menyelesaikan acara mandinya. Ia memerlukan waktu guna bersiap memilih baju serta memoleskan make up.Pria itu datang lebih cepat setengah jam dari waktu yang telah mereka janjikan. Janji temu Demiral dengan kedua orang tuanya untuk datang melamar Valerie, meminta restu untuk menikah dengan putri semata wayang keluarga Yoxavos.Valerie tidak menjawab pesan itu. Ia membiarkannya. Biarkan Demiral menunggu sebentar dirinya bersiap-siap dan pasti di bawah Alba dan Latina juga akan menyambutnya. Mereka akan berbincang bersama.Ini kali pertama seorang pria masuk ke dalam kediaman datang untuk melamarnya. Jujur hal tersebut membuat jantung Valerie berdegup kencang takut-takut jika Demiral dan kedua orang tuanya bukan orang yang cocok. Namun di sisi lain Valerie percaya, sekeras apapun ayahnya, ia amat menyayangi Valerie dan tidak mungkin merusak kebahagiaan putrinya.Sementara di l
“Kudoakan semoga senantiasa kau berbahagia, Valerie.”“Tentu aku akan berbahagia, Nolan.”Nolan menatap wajah cantiknya, lalu pandangannya turun pada kalung indah yang bertengger pada leher jenjang wanita itu.“Kau cocok mengenakannya. Tapi tahukah dirimu?”“Apa?” Valerie menaikan dagunya.“Orang terakhir yang mengenakannya telah tewas. Kuharap kau tidak dihantui oleh pemilik lamanya,” lugas pria itu, kontan membuat alis Valerie berkerut menyatu.“Aku tidak percaya hantu,” sungut Valerie.“Bukan hantu, bayang-bayang masalalu lebih mengerikan daripada itu.”“Apa maksudmu, Nolan?”“Semoga pernikahanmu lancar, Ms.Valerie Yoxavos.”Nolan berbalik pergi sebelum Valerie mendapatkan penjelasan atas apa yang pria itu katakan. Begitu ambigu membuat dirinya bingung dengan semua itu. Orang terakhir? Siapa? Bayang-bayang masalalu?Terdengar suara langkah kaki dari belakang, langsung Valerie berbalik dan melihat Demiral gontai mendekatinya. Pria itu meraih, merangkul pinggang wanitanya sensitif.“
Menjuntai indah kalung dengan liontin cantik batu zamrud berwarna hijau tua itu pada leher jenjang sang pemakai. Cantik bertengger dengan warna yang menyatu dengan kulit putih cerahnya.Valerie menatap dirinya di sebalik cermin, memegang kalung berharga milik satu keluarga yang kini berakhir pada dirinya. Ia tidak menyangka jika pria itu begitu cepat mengutarakan perasaanya."Menikahlah denganku."Demiral memeluknya dari belakang, mencium ceruk leher wanitanya lalu menyimpan wajahnya di sana. Ia menatap lurus ke depan pada tampilannya bersama Valerie dari balik cermin.Velerie merasakan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, perasaan gugup sekaligus senang bercampur menjadi satu. Tidak pernah ia sangka jika kedekatannya bersama Demiral malah membawanya kepada hubungan yang lebih serius, pun pria itu kini telah melamarnya. Tidak pernah ia sangka juga dirinya akan jatuh cinta kepada paman dari mantan kekasihnya, yang awalnya ia mendekati Demiral hanya ingin m
Gontai berjalan pada lorong gelap menuju sebuah ruangan di ujung sana. Sosoknya tegap melangkah tersorot oleh cahaya bulan yang menembus dari jendela-jendela di setiap sisi lorong. Bayangan hitamnya bergerak, gelap mencekam bak aura yang dipancarkan.Demiral berjalan bersama Lucas serta dua algojo bertubuh besar di belakang. Masuk ke dalam ruangan setelah pintu dibuka oleh sang penjaga. Pandangannya mengedar menatap satu-persatu pada semua wajah garang yang berada di ruang tersebut dengan holster-holster desertai Glock yang terpatri pada pinggang mereka. Seorang algojonya menarik kursi dengan letak berhadapan dengan seorang pria yang telah menunggunya beberapa waktu.“Maaf terlambat, aku harus menidurkan bayiku terlebih dahulu,” tutur pria itu lantas membuat tatapan pria di hadapannya semakin tersorot tajam. “Dia sedikit manja malam ini sebab menginginkan sebuah sentuhan,” imbuh Demiral sengaja.Seorang penjaga pria di hadapanya siap dengan senapan laras panjang yang jika saja pelurun
Setelah kejadian traumatis yang di alami Valerie, wanita cantik itu kini masih berada di penthouse milik Demiral dan menghabiskan hari-harinya di dalam kediaman pribadi milik pria itu. Tidak bekerja ataupun pulang ke rumahnya sendiri, ia berpamitan pada keluarga serta Lidya jika dirinya perlu melakukan healing sementara agar tidak stress dengan pekerjaan yang menumpuk. Dirinya sudah berada di penthouse Demiral selama satu Minggu penuh, tidak ada yang ia lakukan kecuali diam dan beristirahat guna memulihkan luka tubuhnya yang cukup parah.Sementara itu Demiral sendiri sangat jarang berada di sana. Dalam satu Minggu ini pria itu hanya berkunjung satu kali untuk melihat perkembangan keadaan Valerie. Membuat Valerie sendirian pada malam hari karena perawat yang dipekerjakan Demiral hanya memiliki waktu kerja dari pagi hingga sore.Ia berada di ruang utama penthouse, duduk pada sofa berwarna hitam gelap sembari menonton saluran di televisi. Di hadapannya telah tersedia beberapa iris buah d
Demiral mengangkat Glock 19 miliknya, membidik para Pirate yang mencoba masuk menyerang. Handal pria itu melesatkan peluru panas yang langsung ia arahkan tepat pada sang mangsa, menembus kepala dingin pun dada yang bergemuruh langsung menghancurkan tulang keras yang kontan berdarah hancur berceceran.Auranya yang gelap menguar kuat amat mendominasi. Wajah dinginnya terpasang halus saat ia menembakan banyak peluru pada manusia bernyawa yang langsung mati di hadapannya tanpa ekspresi sedikitpun. Dingin, tanpa tekanan, pun rasa gentar. Itulah Demiral Hugo, pembunuh berdarah dingin.Puluhan mayat serta lautan darah segar mengalir memenuhi aula kapal pesiar. Acara lelang mewah yang seharusnya diadakan semeriah mungkin hancur karena para perompak masuk tanpa undangan, membunuh serta mencuri harta berharga dari sang mangsa tanpa pandang buluh. Mayat-mayat tergeletak di atas lantai, berpuluh-puluh banyaknya tubuh dingin sang perompak pun para tamu undangan acara lelang itu sendiri yang mengha







