Partager

Chapter 5

Auteur: Rara Radika
last update Date de publication: 2026-05-30 03:07:53

Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut.

Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana.

Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana.

"Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran.

Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar.

"Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos."

Lucas pergi setelah menutup pintu. Meninggalkan Valerie sendiri di dalam kamar yang ia yakini itu adalah kamar Demiral. Sebuah kamar utama yang luas dan besar dengan nuansa hitam putih di dalamnya, tidak banyak barang yang tertata di sana, hanya beberapa rak kaca berisikan beberapa figura foto.

Valerie melihat-lihat foto tersebut, beberapa foto Demiral berserta keluarga besarnya. Di dalam foto, pria itu tetap terlihat dingin tanpa ekspresi, tidak tersenyum sedikitpun.

Satu pintu yang terbuka membuat pandangan Valerie tertarik untuk menelusuri tempat itu. Banyak lemari besar berisikan pakaian pria tersebut. Itu walk in closet.

Sementara itu di lantai bawah. Demiral sedang berbincang mengenai pekerjaan dengan beberapa orang. Beberapa pria bertubuh tegap serta berjambang tebal tengah menerima perintah dari sang empu.

"Kapal pesiar kita tenggelam," ucap dari salah satu pria tersebut.

"Ratusan kilo kokain serta puluhan kontainer berisi senjata tidak bisa diselamatkan."

"Klien meminta ganti secepatnya, mereka sama sekali tidak memberikan waktu."

Adu tiga pria berjambang tebal tersebut. Tiga orang kepercayaan Demiral yang menjaga bisnis gelap milik pria itu.

Demiral terdiam mendengarkan. Sebelum akhirnya ia buka suara untuk bertanya, pria itu berdeham samar. "Bagaimana dengan para aparat yang selalu mengintai? Sudah tahu siapa dalangnya?"

Para pria itu saling menatap, mereka terdiam sejenak. Sementara Lucas yang berdiri di samping Demiral langsung mencondongkan tubuhnya pada pria tersebut, berbisik akan satu hal.

Lantas pria itu menarik ujung bibirnya asimetris. Telah terpikirkan olehnya siapa orang yang berani mengusik ketenangan bisnisnya. Tidak lain ialah orang yang sama berkuasa, memiliki banyak kabel dengan orang-orang di atas pemerintahan.

"Dia memaksa ingin kuhancurkan."

Demiral beranjak, diikuti dengan beberapa pria di sana. "Pergilah. Jangan biarkan bangkai tercium dan membuat para lalat mendekat. Buat janji dengan klien, biar kuurus mereka semua," tegasnya memerintah.

Kemudian pria itu pergi melangkah dengan gagah, naik ke atas tangga menuju kamarnya di lantai dua. Sebelum ia memegang kenop pintu hendak membuka, suara sesuatu yang pecah terdengar begitu nyaring dari dalam.

"Ahh!" Valerie merintih. Dia tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak musik yang dipajang saat ia hendak mengambilnya. Kotak musik berbentuk bulat kaca dengan air di dalamnya. Snowball.

Valerie merasa bersalah. Alih-alih prihatin dengan kakinya yang berdarah terluka, dia malah memungut isi dari snowball tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" Demiral mendekat. Jatuh pandangannya pada Valerie yang tengah bersimpuh di lantai dengan kaki yang terluka berdarah.

"Aku tidak sengaja."

Menghela nafasnya dalam, pria itu kemudian mencondongkan tubuhnya untuk membawa tubuh Valerie ke dalam gendongan. Refleks wanita itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Demiral agar tidak terjatuh. Jujur saja, ini merupakan kali kedua pria itu menggendongnya hari ini.

Demiral membawanya duduk pada sebuah sofa tunggal. Lalu pria itu keluar dan datang kembali dengan satu kotak obat di tangannya. Dia bersimpuh di hadapan Valerie, tangannya bergerak cekatan membersihkan darah dari luka di kakinya.

"Ah, itu sakit," keluhnya.

"Hanya luka kecil. Diam dan duduk saja, ini akan segera selesai." Demiral mengatakan tanpa mendongak melihat Valerie.

Dia menggigit bibir bawahnya, merasakan sakit sekaligus perih pada punggung kakinya yang terluka. Luka kecil apanya, kulitnya terkena pecahan kaca dan berdarah cukup banyak, selain itu benturan dari snowball tersebut membuat lukanya memar kebiruan.

Sepuluh menit berlalu pria itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menutup kotak obat lalu berdiri di depan Valerie. Raut wajahnya yang dingin menatap wanita cantik itu penuh sidik.

Valerie berada di dalam kamarnya selama kurang lebih satu jam. Wanita ini juga tidak segan menelusuri setiap ruangan di dalam kamar pribadi itu. Dia pastinya menemukan sesuatu yang tentu saja Demiral simpan dengan rapih.

"Ingin minum obat untuk menghilangkan rasa sakit?" tawar pria itu.

Valerie menengadah, menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mau."

Pria itu berbalik dan pergi keluar kamar, entah ke mana. Meninggalkan Valerie di dalam kamar itu sendiri lagi.

Dia duduk pada sofa yang berhadapan langsung dengan jendela, melihat hujan badai serta angin yang kencang hingga menyebabkan kabut tebal di luar sana. Suhu ruangan yang dingin membuat matanya berat dan mengantuk, rasanya tidak bisa ia tahan hingga akhirnya dia menutup mata dan pergi untuk terlelap, membangun dunia mimpi di bawah alam bawah sadarnya.

"She sleeps." Lucas berbicara perlahan pada Demiral yang sedang memasukan peluru ke dalam Glock 17 miliknya.

"Dia harus tertidur agar tidak mendengar apapun."

Demiral berjalan mendekat pada Valerie yang memang tengah terlelap. Penampilan pria itu berbeda dari sebelumnya saat terakhir ia berada di dalam kamar bersama Valerie dan mengobati luka wanita itu.

Kemeja hitam yang selalu menjadi ciri khasnya telah ternoda oleh cairan segar berwarna merah yang tidak terlalu kentara saat menyatu dengan warna gelapnya, rambut yang selalu tersisir rapih telah jatuh ke depan berkeringat, wajahnya yang biasa tenang tanpa ekspresi apapun kini bertaut alis pria tersebut, dadanya naik turun akibat nafasnya yang memburu.

Sementara di lantai bawah, tergeletak tiga mayat segar berlumuran darah. Masing-masing tubuh mereka telah terserang beberapa peluru yang mengakibatkan nyawa melayang.

Itulah balasannya jika tidak menurut, itulah balasannya jika tidak taat pada sang empu, itulah balasannya jika menjadi pengkhianat.

Kematian adalah jalan terbaik yang Demiral berikan pada tiga pengkhianat itu. Setidaknya tidak dia siksa terlebih dahulu untuk menambah rasa sakit. Peluru yang panas menembus daging serta lemak mereka, menghancurkan tulang-tulang rusuk yang langsung mencabut nyawa, itulah yang terbaik dibandingkan dengan penyiksaan kejam yang selalu dilakukannya.

Kematian untuk tiga orang kepercayaannya yang memilih untuk berkhianat. Mencolong bisnis miliknya dengan mengatakan jika kapal pesiar telah tenggelam.

Matilah dengan damai. Setidaknya tidak merasakan rasa sakit akibat penyiksaan yang fatal.

.

.

.

Bersambung ....

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 18

    "Hei Baby, aku berada di depan kediamanmu."Demiral mengirimkan Valerie pesan, yang saat ini Valerie baru saja menyelesaikan acara mandinya. Ia memerlukan waktu guna bersiap memilih baju serta memoleskan make up.Pria itu datang lebih cepat setengah jam dari waktu yang telah mereka janjikan. Janji temu Demiral dengan kedua orang tuanya untuk datang melamar Valerie, meminta restu untuk menikah dengan putri semata wayang keluarga Yoxavos.Valerie tidak menjawab pesan itu. Ia membiarkannya. Biarkan Demiral menunggu sebentar dirinya bersiap-siap dan pasti di bawah Alba dan Latina juga akan menyambutnya. Mereka akan berbincang bersama.Ini kali pertama seorang pria masuk ke dalam kediaman datang untuk melamarnya. Jujur hal tersebut membuat jantung Valerie berdegup kencang takut-takut jika Demiral dan kedua orang tuanya bukan orang yang cocok. Namun di sisi lain Valerie percaya, sekeras apapun ayahnya, ia amat menyayangi Valerie dan tidak mungkin merusak kebahagiaan putrinya.Sementara di l

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 17

    “Kudoakan semoga senantiasa kau berbahagia, Valerie.”“Tentu aku akan berbahagia, Nolan.”Nolan menatap wajah cantiknya, lalu pandangannya turun pada kalung indah yang bertengger pada leher jenjang wanita itu.“Kau cocok mengenakannya. Tapi tahukah dirimu?”“Apa?” Valerie menaikan dagunya.“Orang terakhir yang mengenakannya telah tewas. Kuharap kau tidak dihantui oleh pemilik lamanya,” lugas pria itu, kontan membuat alis Valerie berkerut menyatu.“Aku tidak percaya hantu,” sungut Valerie.“Bukan hantu, bayang-bayang masalalu lebih mengerikan daripada itu.”“Apa maksudmu, Nolan?”“Semoga pernikahanmu lancar, Ms.Valerie Yoxavos.”Nolan berbalik pergi sebelum Valerie mendapatkan penjelasan atas apa yang pria itu katakan. Begitu ambigu membuat dirinya bingung dengan semua itu. Orang terakhir? Siapa? Bayang-bayang masalalu?Terdengar suara langkah kaki dari belakang, langsung Valerie berbalik dan melihat Demiral gontai mendekatinya. Pria itu meraih, merangkul pinggang wanitanya sensitif.“

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 16

    Menjuntai indah kalung dengan liontin cantik batu zamrud berwarna hijau tua itu pada leher jenjang sang pemakai. Cantik bertengger dengan warna yang menyatu dengan kulit putih cerahnya.Valerie menatap dirinya di sebalik cermin, memegang kalung berharga milik satu keluarga yang kini berakhir pada dirinya. Ia tidak menyangka jika pria itu begitu cepat mengutarakan perasaanya."Menikahlah denganku."Demiral memeluknya dari belakang, mencium ceruk leher wanitanya lalu menyimpan wajahnya di sana. Ia menatap lurus ke depan pada tampilannya bersama Valerie dari balik cermin.Velerie merasakan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, perasaan gugup sekaligus senang bercampur menjadi satu. Tidak pernah ia sangka jika kedekatannya bersama Demiral malah membawanya kepada hubungan yang lebih serius, pun pria itu kini telah melamarnya. Tidak pernah ia sangka juga dirinya akan jatuh cinta kepada paman dari mantan kekasihnya, yang awalnya ia mendekati Demiral hanya ingin m

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 15

    Gontai berjalan pada lorong gelap menuju sebuah ruangan di ujung sana. Sosoknya tegap melangkah tersorot oleh cahaya bulan yang menembus dari jendela-jendela di setiap sisi lorong. Bayangan hitamnya bergerak, gelap mencekam bak aura yang dipancarkan.Demiral berjalan bersama Lucas serta dua algojo bertubuh besar di belakang. Masuk ke dalam ruangan setelah pintu dibuka oleh sang penjaga. Pandangannya mengedar menatap satu-persatu pada semua wajah garang yang berada di ruang tersebut dengan holster-holster desertai Glock yang terpatri pada pinggang mereka. Seorang algojonya menarik kursi dengan letak berhadapan dengan seorang pria yang telah menunggunya beberapa waktu.“Maaf terlambat, aku harus menidurkan bayiku terlebih dahulu,” tutur pria itu lantas membuat tatapan pria di hadapannya semakin tersorot tajam. “Dia sedikit manja malam ini sebab menginginkan sebuah sentuhan,” imbuh Demiral sengaja.Seorang penjaga pria di hadapanya siap dengan senapan laras panjang yang jika saja pelurun

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 14

    Setelah kejadian traumatis yang di alami Valerie, wanita cantik itu kini masih berada di penthouse milik Demiral dan menghabiskan hari-harinya di dalam kediaman pribadi milik pria itu. Tidak bekerja ataupun pulang ke rumahnya sendiri, ia berpamitan pada keluarga serta Lidya jika dirinya perlu melakukan healing sementara agar tidak stress dengan pekerjaan yang menumpuk. Dirinya sudah berada di penthouse Demiral selama satu Minggu penuh, tidak ada yang ia lakukan kecuali diam dan beristirahat guna memulihkan luka tubuhnya yang cukup parah.Sementara itu Demiral sendiri sangat jarang berada di sana. Dalam satu Minggu ini pria itu hanya berkunjung satu kali untuk melihat perkembangan keadaan Valerie. Membuat Valerie sendirian pada malam hari karena perawat yang dipekerjakan Demiral hanya memiliki waktu kerja dari pagi hingga sore.Ia berada di ruang utama penthouse, duduk pada sofa berwarna hitam gelap sembari menonton saluran di televisi. Di hadapannya telah tersedia beberapa iris buah d

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 13

    Demiral mengangkat Glock 19 miliknya, membidik para Pirate yang mencoba masuk menyerang. Handal pria itu melesatkan peluru panas yang langsung ia arahkan tepat pada sang mangsa, menembus kepala dingin pun dada yang bergemuruh langsung menghancurkan tulang keras yang kontan berdarah hancur berceceran.Auranya yang gelap menguar kuat amat mendominasi. Wajah dinginnya terpasang halus saat ia menembakan banyak peluru pada manusia bernyawa yang langsung mati di hadapannya tanpa ekspresi sedikitpun. Dingin, tanpa tekanan, pun rasa gentar. Itulah Demiral Hugo, pembunuh berdarah dingin.Puluhan mayat serta lautan darah segar mengalir memenuhi aula kapal pesiar. Acara lelang mewah yang seharusnya diadakan semeriah mungkin hancur karena para perompak masuk tanpa undangan, membunuh serta mencuri harta berharga dari sang mangsa tanpa pandang buluh. Mayat-mayat tergeletak di atas lantai, berpuluh-puluh banyaknya tubuh dingin sang perompak pun para tamu undangan acara lelang itu sendiri yang mengha

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status