author-banner
MoonCake
MoonCake
Author

Novel-novel oleh MoonCake

Ajari Aku, Mbak Ipar!

Ajari Aku, Mbak Ipar!

Hanya karena sebuah terong Arga terjebak dalam gairah mematikan kakak iparnya. Awalnya, Arga mengira kakak iparnya membawa pria selingkuhan ke dalam rumah, Arga nekat mendobrak pintu kamar. Saat pintu terbuka, tak ada siapa pun di ruangan itu selain Wulan, kakak iparnya, yang tengah bermain solo dengan posisi yang tak lazim. "Karena kamu udah lihat, sekarang aku mau main pakai terongmu!" Hubungan antara Arga dan Wulan semakin rumit, setelah kakak Arga sekaligus suami Wulan kembali dari perantauan.
Baca
Chapter: 8. Ajari Aku, Mbak!
"Isep punyaku. Cincinnya pasti bakalan keluar!"Degh!Jantung Arga spontan berdetak brutal seperti mau melompat keluar dari tempatnya berada.Kalimat yang terucap dari mulut Wulan hampir membuatnya nyaris serangan jantung. Beruntung, kondisi dan fisik pemuda tanggung itu sangat sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit serius sebelumnya. "A-a-apa, Mbak? Diisep?" tanya Arga dengan wajah merah padam dan tubuh menegang. Sepasang matanya melotot tanpa berkedip, menatap wajah ayu kakak iparnya yang pucat.Kepala Wulan mengangguk pelan. Tangannya semakin erat menggenggam jemari Arga, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya saat ini."Tapi, Mbak. Masa iya aku ngisep pu—""Please, Ga. Satu-satunya orang yang kupercaya cuma kamu, dan kamu satu-satunya yang bisa. Aku mohon tolongin aku...." mohon Wulan, memasang tampang paling melas di muka bumi.Arga meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Otaknya berpikir keras, apa yang harus ia lakukan saat ini? Haruskah ia membantu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: 7. Ajari Aku, Mbak!
Arga yang menggenggam jemari Wulan mengerutkan kening keheranan. Tak paham dengan maksud kakak iparnya yang mengatakan jika cincin kawinnya tertinggal di dalam. "Maksudnya apa, Mbak? Ketinggalan di dalam mana?" tanya Arga sambil melepaskan genggaman tangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajah Wulan memerah bak tomat matang yang hampir busuk. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Di hadapan Arga, wanita berwajah ayu itu menggigit bibir. Ia memejamkan matanya sesaat, sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri untuk memberitahu Arga jika cincin kawinnya tertinggal di dalam lubang sensitifnya saat bermain solo kemarin sore. Sebelum menjawab dan menjelaskan semuanya pada Arga, Wulan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. "Cincin kawinnya ketinggalan di dalam sini, Ga. Di lubang apemku," kata Wulan pelan sembari menyentuh area sensitifnya dari balik daster tipis penutupnya. "Apa?!" pekik Arga dengan suara melengking. Mata pemuda tanggung itu seketik
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: 6. Ajari aku, Mbak!
"Mulai hari ini kamu dipecat!" Kalimat singkat yang dilontarkan pria paruh baya bertubuh gempal dan agak pendek itu membuat dada Arga berdegup kencang. Benar dugaannya, hari ini dia akan kehilangan pekerjaannya karena terlambat. "Bos, to—" "Setiap hari selalu datang telat, kamu pikir kafe ini punya nenek moyangmu. Dasar gak tahu diri!" tukas bos kafe itu, memaki Arga yang berdiri di hadapannya. Selanjutnya, pria paruh baya itu merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah amplop tipis berwarna cokelat ke hadapan Arga. Swos! Secepat kilat, Arga menyambar amplop tersebut agar tidak jatuh ke lantai. Jika jatuh ke lantai, otomatis ia harus memungutnya dan membuat harga dirinya sebagai pemuda miskin semakin jatuh dan rendah. "Itu gaji kamu bulan ini. Ingat, jangan pernah pijakan kaki kamu lagi di tempat ini! Muak saya lihat muka gembel kamu!" Degh! Dikatakan bermuka gembel oleh bosnya, hati Arga berdenyut nyeri. Meskipun miskin, ia bukan gembel peminta-minta. Bukan, pria jelek i
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: 5. Ajari aku, Mbak!
"Mbak, terong goreng ini bukan terong kemarin sore yang dipakai buat anu, kan?"Degh!Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut bocor Arga spontan membuat sepasang mata Wulan mendelik lebar. Wajahnya kini memerah, lebih merah daripada wajah Arga sehabis tersedak dan terbatuk-batuk sebelumnya."Kamu, kamu—" tunjuk Wulan ke wajah Arga sambil menjeda kalimatnya.Wanita berwajah ayu itu merasa kesal bercampur malu. Bisa-bisanya Arga menanyakan hal seperti itu setelah apa yang terjadi."Aku seriusan, Mbak. Kemaren sore aku sempet lihat terong di pinggir kasur Mbak Wulan. Terongnya bukan terong ini, kan?" tanya Arga dengan tampang polosnya dan juga seenaknya.Serius bertanya atau hanya ingin membuat kakak iparnya merasa malu? Entahlah, hanya Arga sendiri dan Tuhan yang tahu!Yang jelas, Wulan benar-benar sangat malu saat ini. Bahkan, hampir menangis karena pertanyaan gila adik iparnya yang tidak kira-kira."Huaaa, Arga. Kamu sengaja bikin aku malu, ya?!" jerit Wulan dengan sepasang mata yang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: 4. Ajari aku, Mbak!
Kejadian memalukan di pagi hari antara Wulan dan Arga membuat posisi keduanya semakin canggung.Arga yang keluar dari kamarnya dengan seragam kerja terlihat melangkah terburu-buru melewati ruang makan, tempat kakak iparnya sedang menyiapkan sarapan."Arga!"Waduh!Arga menepuk jidat. Sudah buru-buru agar tidak berpapasan dengan Wulan, tetapi kakak iparnya itu justru memanggilnya, membuatnya mau tak mau menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.Pemuda itu menyengir kuda dan menatap kakak iparnya dengan wajah memerah seperti tomat matang yang hampir busuk."Hee....""Kamu masih demam, Ga. Gak usah kerja dulu. Istirahat aja di rumah," kata Wulan. Ia meletakkan piring berisi lauk di tangannya ke atas meja, lalu mendekati Arga yang mematung di tempatnya.Didekati oleh Wulan, Arga spontan melangkah mundur. Kejadian menegangkan kemarin dan pagi tadi membuatnya merasa sangat gugup setiap melihat wajah ayu nan cantik kakak iparnya yang ternyata sangat menggoda.Sebagai kaum batang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: 3. Ajari aku, Mbak!
Brak!Wulan yang mendorong pintu kamar Arga dan menatap ke arah kasur seketika melotot lebar saat mendapati adik iparnya menggigil dengan posisi meringkuk tanpa selimut."Astaga, Arga!"Buru-buru wanita cantik itu mendekati adik iparnya yang menggigil kedinginan. Lalu mendaratkan bokongnya yang cukup berisi di pinggiran kasur. Tangannya pun bergerak, menarik selimut dan menutupi tubuh Arga yang terasa sangat panas."Astaga, Ga, kamu demam," kata Wulan. Suaranya pelan, sedangkan guratan cemas terlihat jelas di wajahnya yang ayu nan cantik."Huhu... dingin banget. Rasanya seluruh badanku kayak ditempeli es batu," lirih Arga yang benar-benar menggigil hebat.Suara Arga yang bergetar dan sepasang matanya yang terkatup membuat Wulan semakin cemas. Sudah dua tahun tinggal berdua bersama Arga, ini adalah kali pertama adik iparnya itu mengalami sakit dan demam tinggi."Tunggu di sini sebentar, aku ambilin obat." Takut demam Arga semakin parah, Wulan pun beranjak dari duduknya dan hendak melan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status