Masuk"Aroma apa ini, Badru? Sejak kapan penggembala sapi sepertimu tahu cara memakai parfum seseksi ini?" bisik Laras sambil mengendus nakal dada bidang Badru. Dulu, jangankan mendekat, melirik pun para wanita enggan pada Badru si 'Banteng Bau'. Bertubuh raksasa, berkulit cokelat eksotis, namun beraroma kandang, kehadirannya seolah menjadi pengusir wanita sejati. Tapi, sebuah botol parfum usang dari pasar loak mengubah segalanya. Kini, wangi misterius itu tak hanya menyamarkan peluhnya, tapi juga mengundang birahi. Dari janda kesepian hingga kembang desa, semua tiba-tiba mengantre ingin dicumbu sang Banteng. Rahasia gelap apa yang sebenarnya tersimpan di dalam parfum pemikat itu? Dan 'bayaran' berbahaya apa yang kelak menanti Badru di balik setiap tetes wangi penakluk wanita tersebut?
Lihat lebih banyak"Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini."
Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras meredam gejolak di dadanya. Jantungnya berdetak kacau, seolah siap meledak kapan saja. "Aku malu, Kang! Malu banget punya pacar yang kerjanya cuma angon sapi!" teriak Lilis, wajahnya memerah penuh penolakan. Deg! Dada Badru seakan dihantam palu godam. Pria itu menunduk perlahan. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, menahan sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar luka fisik. 'Jadi, selama ini dia malu bersamaku?' batin Badru, harga dirinya seakan baru saja diinjak-injak ke tanah. Rahang pria bertubuh besar itu mengeras. Tatapannya perlahan berubah menjadi tajam sekaligus kosong. Ia menelan kepahitan itu dalam-dalam, menolak membiarkan setetes pun air mata jatuh di hadapan wanita yang baru saja merendahkannya. "Lis ..." "Apa? Orang sekampung pada ngeledekin aku gara-gara punya pacar badannya segede banteng terus bau! Abah juga nggak bakalan mungkin kasih restu buat kita. Kita itu beda level, Kang. Tolonglah ... ngertiin aku dan harusnya Akang tahu diri." Suara Lilis mulai lirih, memohon seolah ia adalah korban yang ingin dibebaskan dari tawanannya. Badru tersenyum getir. Kenapa Lilis memohon seolah dirinya adalah penjahat yang kejam? Sebuah kesadaran yang menyakitkan tiba-tiba menghantam benaknya. Inikah alasannya? Alasan mengapa selama ini Lilis selalu menjaga jarak, bahkan menolak meski hanya sekadar diajak berpegangan tangan. Badru menarik napas dalam, membiarkan aroma tanah dan keringat ternak memenuhi paru-parunya untuk terakhir kali sebagai pria yang memuja Lilis. Saat ia mengangkat wajah, segalanya telah berubah. Lilis tersentak. Kelembutan yang biasanya menghuni mata pria itu telah lenyap, digantikan tatapan kosong yang terasa dingin. Tajam dan sangat berjarak. "Makasih ya, Lis," ujar Badru. Suaranya berat dan sangat tenang, yang justru membuat nyali Lilis menciut tanpa alasan. "Makasih karena hari ini kamu udah ngebebasin akang." Badru melangkah maju. Satu langkah maju dari Badru cukup untuk membuat Lilis refleks mundur. "Tadinya akang sempat merasa bersalah karena mau ngajak kamu berjuang dari bawah. Tapi sekarang akang sadar, tempat kamu emang bukan di sana." Badru menghela napas panjang, seolah baru saja menanggalkan beban di pundaknya. Tanpa menunggu jawaban, Badru berbalik dan meninggalkan Lilis. Lilis terpaku. Bibir merah mudanya menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dalam benaknya, Badru seharusnya berlutut, bersujud di kakinya, dan memohon agar tidak ditinggalkan. Namun kenyataannya lain, laki-laki itu terus berjalan tanpa sekali pun menoleh. "Baguslah kalau akang sadar diri!" teriak Lilis, suaranya melengking, menahan kesal. "Tapi jangan lupa, kang! Setelah ini gak akan ada perempuan yang mau nerima tukang angon kayak akang!" Teriaknya lagi, berharap Badru akan berbalik untuk memohon di kakinya. Tapi nihil, Badru tetap pergi tanpa menanggapi dirinya. Badru berjalan gontai menuju kandang besar milik Haji Sodiq. Ayah Lilis. Sungguh ironi yang menyakitkan. Di sana, ia melihat Mang Jaka sedang asyik melinting tembakau. "Kenapa muka kamu, Dru? Kusut amat kayak cucian belum disetrika," tegur Mang Jaka tanpa menoleh. Mang Jaka adalah tetangga yang sama-sama bekerja di kandang haji Sodiq. Pria jangkung itu sudah seperti kakak baginya. Badru duduk di bangku kayu, lalu mengendus bahunya sendiri. "Bau banget ya, Mang? Sampai Lilis malu punya pacar kayak saya." Mang Jaka mengembuskan asap rokoknya pelan, lalu menatap Badru tajam. "Ya jelas malu. Dru, dengerin Mamang. Perempuan itu butuh kebanggaan, bukan cuma sekadar cinta. Kalau penampilanmu begini terus, bau sapi, baju dekil, dompet tipis, sampai kiamat pun kamu cuma bakal jadi bahan injakan." Badru terdiam, kalimat itu terasa lebih perih dibanding ucapan Lilis. "Jangan cuma jago angon sapi. Angon nasibmu juga! Perhatikan penampilanmu, pake parfum kek, apa kek, biar enak dicium, enak dipandang, Dru. Kalau kamu nggak berubah sekarang, selamanya kamu cuma dianggap kuli yang nggak punya harga diri. Paham?" Badru mengangguk pelan. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa panas yang menuntut pembuktian. "Berubah ya?" Gumam Badru sambil tersenyum kecut. Tatapan matanya kosong menatap langit. Kemudian, ia mengendus kedua keteknya bergantian. Whuuss... Sial! Bau. Pantas saja Lilis selalu menjaga jarak dengannya. Badru melirik jam butut di tangannya, sudah waktunya pulang. Ia berdiri, lalu menepuk celana bagian bokongnya yang kotor. Namun, ketika ia hendak pergi— "Badru! Sini kamu!" Teriak Laras. Kakaknya Lilis. Wanita yang dianggap nasibnya lebih beruntung, karena menikah dengan saudagar tua dari desa sebelah. Mendengar panggilan itu, Badru berjalan tergopoh-gopoh, menghampiri Laras. Namun, langkahnya mendadak berat, saat melihat wanita dengan dua pepaya besar itu berdiri di daun pintu dengan daster ketat, dengan belahan rendah, sambil menatap jijik ke arah Badru. Glek! 'Itu dada apa buah kelapa? Gede banget,' batin Badru tanpa sadar. Matanya seolah punya nyawa sendiri, sulit dialihkan dari pemandangan di depannya.Srek...Badru menarik tangannya dari bra merah itu. Ia mempercepat gerakan tangannya melepas ritsleting celana, lalu buang air kecil di balik bilik sumur. Suara gemericik air beradu dengan debar dadanya yang makin kencang.'Pantas saja celana dalam merah itu baunya wangi dan ukurannya pas. Ternyata kepunyaan gadis selugu Jenar,' batin Badru sambil menyeringai tipis.Badru mendadak teringat masa-masa lalunya. Dulu, waktu Lilis membuangnya dan hampir semua gadis di kampung menjauhinya karena dia cuma kuli angon miskin, Jenar adalah salah satu dari sedikit orang—selain Merpati—yang tidak pernah memandangnya sebelah mata. Setiap kali Badru lewat atau sekadar mampir di dekat warung, Jenar selalu tersenyum manis dan menyapanya ramah tanpa pilih kasih.'Jangan-jangan... dari dulu Jenar memang sudah suka padaku?' batin Badru.Ego lelakinya melesat tinggi. Gadis berwajah manis yang biasanya tampil sopan dan polos di depan orang kampung itu ternyata menyimpan rasa padanya, bahkan punya sisi lia
Badru duduk santai di sudut bangku kayu sambil menghirup kopi hitam buatan Jenar. Di meja sebelah, Pak RT Sukra dan Kang Dudung sedang asyik menepuk nyamuk sambil main catur.Plak!Pak RT Sukra menepuk paha hitamnya, lalu menggeser bidak benteng kayu yang sudah kusam. Matanya melirik ke arah Badru yang tampak beda malam ini."Coba kamu lihat si Badru, Dung," celetuk Pak RT Sukra, memajukan dagunya. "Perasaan belakangan ini badannya makin tegap saja. Mukanya juga kagak kusam kayak biasanya. Ada angin apa kamu, Dru?"Kang Dudung tertawa terkekeh sampai gigi gigisnya kelihatan. "Iya juga ya, Pak RT! Dada bidangnya makin kelihatan berisi begitu. Bau bajunya juga wangi, kagak kayak kuli angon yang habis ngarit!"Deg!Badru yang mendengar godaan itu hanya tersenyum tipis, meneruskan seruputan kopinya.'Ternyata perubahan fisikku kelihatan juga sama orang-orang,' batin Badru, ego lelakinya melesat tinggi."Halah, palingan juga efek mau siap-siap kawin itu, Pak RT!" celetuk Kang Dudung asal t
Deg!Jantung Badru berdegup kencang. Langkah kakinya terhenti seketika."Badru?!"Badru menoleh ke arah pohon nangka. Merpati berdiri di sana sambil memegang gayung plastik berisi sisa sabun cuci.'Sial. Kenapa harus Merpati yang lihat?' batin Badru."Merpati? Kamu baru balik dari rumah Abah?" tanya Badru. Suaranya dibuat setenang mungkin.Merpati melangkah mendekat. Matanya meneliti Badru dari atas sampai bawah, lalu melirik pintu samping rumah Laras. Dahinya berkerut dalam."Harusnya aku yang nanya, Dru!" Merpati bersedekah tangan di dada. "Ngapain kamu keluar dari pekarangan samping rumah Teh Laras sore-sore begini? Pintu samping pula! Kamu habis ngapain di dalam?"Whuushh!Angin sore berembus pelan. Badru memasukkan kedua tangannya ke saku celana kargo.'Tenang, Dru. Kalau panik, dia makin curiga,' batin Badru."Perasaanmu saja itu, Mer," sahut Badru santai. "Siapa juga yang dari dalam rumah Teh Laras? Aku habis nyari ayam jago Pak RT yang lepas ke semak-semak.""Bohong!" potong M
Laras menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Sisa cairan hangat milik Badru pelan-pelan meleleh turun di sela paha dalamnya, bikin fokusnya makin berantakan."B-bukan gitu, Bah..." cicit Laras cepat. Tangannya makin erat memegang kain lengan baju koko ayahnya. "Bayinya tadi baru saja bisa tidur nyenyak habis Laras susui. Kalau Abah masuk sekarang, nanti dia kaget terus terbangun lagi. Abah kan tahu sendiri kalau dia sudah nangis susah banget ditenanginnya."Abah Haji Sodiq menghentikan jarinya yang baru saja mau mendorong pintu kamar utama. Pria tua itu menatap wajah anak perempuannya dengan pandangan menyelidik. Napas Laras yang agak memburu dan rona merah di lehernya tak luput dari perhatian sang ayah."Harta berlimpah dari Yanto ternyata tidak bikin muka kamu kelihatan bahagia ya, Neng," celetuk Abah Haji Sodiq tiba-tiba dengan nada dingin. "Muka pucat, badan tetep kelelahan, rumah pengap begini. Yanto itu benar-benar cuma obral janji, urus istri sa
Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan
Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak