author-banner
Arandiah
Arandiah
Author

Novelas de Arandiah

Nyonya Puas Abang Lemas

Nyonya Puas Abang Lemas

"Bagaimana kalau kamu masuk ke kamar saya sebentar? Saya butuh bantuan laki-laki yang ... kuat kayak kamu, Rus." Rusdi tediam mendengar ucapan Nyonya Vivian, majikannya yang terasa ambigu itu. Selama ini, Rusdi bekerja sebagai tukang kebun, tapi tidak sekali dua kali majikannya itu seolah berusaha menggodanya dan membuatnya hilang kewarasan.
Leer
Chapter: Bab 300 TAMAT
Vivian tidak mengubah posisi duduknya. Kakinya yang ramping tetap menyilang dengan anggun. Jari lentiknya yang berkuku merah perlahan mengetuk meja kaca di depannya. Sebuah senyum tipis dan dingin akhirnya muncul di bibir Vivian. Senyum itu tidak sampai ke matanya, tapi justru membuat wajahnya terlihat semakin menggoda dan mematikan. "Membesarkan?" ulang Vivian pelan. "Maksud Paman membesarkan rekening pribadi Paman dengan menggelapkan dana proyek selama tiga tahun berturut-turut?" Anton maju setelah mendapat isyarat dari mata Reynard. Dia meletakkan sebuah tumpukan map merah di depan Pak Broto. Itu adalah semua bukti aliran dana gelap yang sudah diselidiki tim keamanan Aryasatya. Melihat tumpukan map itu, tubuh Pak Broto langsung lemas. Dia jatuh terduduk di kursinya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di dahinya. Reynard berdiri diam di belakang kursi Vivian. Matanya menatap puas ke arah istrinya. Garis leher Vivian yang terekspos dari potongan kerah blazernya t
Última actualización: 2026-05-11
Chapter: Bab 299
Pintu tertutup rapat setelah Anton dan Felicia keluar. Reynard menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Matanya langsung terkunci pada Vivian yang duduk di seberang meja.Wanita itu sedang serius membaca lembaran profil di dalam map. Blus sutra berwarna krem yang dia pakai melekat pas di tubuhnya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kulit leher dan tulang selangkanya yang seputih susu. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggul hingga pahanya. Kakinya menyilang santai di bawah meja, memperlihatkan betisnya yang mulus.Reynard menelan ludah pelan. Ingatannya mundur ke masa lalu.Dulu, saat Reynard masih menyamar menjadi Rusdi si tukang kebun, dia sering mencuri pandang saat Vivian duduk sendirian di teras belakang rumah. Wajah Vivian saat itu selalu dingin, datar, dan tak tersentuh. Namun justru sikap dinginnya itulah yang membuat aura Vivian sangat menggoda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang jarang tersenyum selalu sukses membuat darah Reynard berdesir pan
Última actualización: 2026-05-11
Chapter: Bab 298
Beberapa hari kemudian...Pagi itu di penthouse, suasana terasa lebih santai dari biasanya. Vivian sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan terusan berwarna nude berbahan brokat yang elegan tapi tidak terlalu mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi.Reynard masuk ke kamar setelah selesai berganti pakaian di ruangan sebelah. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Pria itu berdiri di belakang Vivian dan menatap pantulan istrinya di cermin."Sudah siap?" tanya Reynard.Vivian mengangguk. "Sudah. Apa menurutmu ini terlalu sederhana?""Tidak. Ibu justru lebih suka kalau kau tampil apa adanya. Beliau tidak suka sesuatu yang berlebihan," jawab Reynard sambil memegang bahu Vivian."Aku hanya merasa sedikit gugup. Aku takut mengecewakan ibumu," kata Vivian jujur.Reynard membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. "Tidak perlu gugup. Ibu sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat mu. Sekarang, ayo berangkat. Sopir sudah menunggu di bawah.
Última actualización: 2026-04-30
Chapter: Bab 297
Dentingan lift pribadi itu terdengar pelan saat pintu terbuka. Vivian melangkah keluar dengan santai. Karena ini adalah malam keduanya di penthouse, dia tidak lagi melayangkan pandangan kagum pada langit-langit tinggi atau pilar marmer yang megah. Dia berjalan langsung menuju meja konsol eboni, meletakkan tas tangannya yang mungil di sana dengan gerakan yang sangat terbiasa.Gaun merah hati berbahan satin yang ia kenakan tampak mengikuti setiap gerak tubuhnya dengan sempurna. Saat ia berjalan, cahaya lampu kristal memantul di permukaan kain yang mengilap, menciptakan gradasi warna merah yang elegan. Potongan gaun itu benar-benar menonjolkan kulit bahunya yang seputih porselen.Reynard berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pria itu sudah melepas jam tangan dan melonggarkan dasinya. Ia memperhatikan bagaimana Vivian merapikan rambut hitamnya di depan cermin besar."Aku sudah meminta koki untuk menyiapkan semuanya di dapur sebelum kita sampai," kata Reynard. Suaranya berat, menggema
Última actualización: 2026-04-30
Chapter: Bab 296
"Katakan pada wanita ini, siapa aku," perintah Reynard dingin.Manajer itu menatap Adisty dengan bingung. "Beliau adalah Tuan Muda Reynard, pemilik dari Grup Aryasatya. Mal ini, butik ini, dan hampir sebagian besar gedung di kota ini adalah miliknya."Wajah Adisty seketika berubah menjadi sangat pucat. Dia menatap Reynard dengan tidak percaya. "Pemilik Grup Aryasatya? Tapi... tapi..."Reynard melangkah maju satu langkah, membuat Adisty mundur ketakutan. "Kau bilang Vivian tidak pantas memakai berlian? Kau bilang suamimu, eh maksudku, kakakmu yang dipenjara itu lebih baik dariku?""Sa... saya tidak bermaksud begitu, Tuan," gagap Adisty."Kau juga menghina Rusdi," lanjut Reynard dengan nada yang sangat rendah. "Kau tidak tahu kalau Rusdi dan aku adalah orang yang sama? Aku hanya sedang ingin melihat seberapa busuk hati keluarga kalian."Adisty seolah tersambar petir. Dia hampir saja jatuh pingsan. Pria miskin yang dulu selalu dia injak-injak dan dia hina ternyata adalah salah satu orang
Última actualización: 2026-04-30
Chapter: Bab 295
Reynard melangkah masuk ke dalam butik perhiasan dengan sorot mata yang tajam. Di belakangnya, Anton mengikuti dengan langkah yang tertata. Kehadiran Reynard membuat seluruh pelayan di toko itu seketika menunduk hormat.Pandangan Reynard langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi beludru. Vivian. Dia mengenakan gaun merah hati yang sangat pas di tubuhnya. Potongan gaun itu memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah gaun tersebut.Namun, wajah Vivian terlihat gelisah. Dia memegang sebuah kotak perhiasan dengan tangan yang sedikit gemetar."Kenapa belum dibayar?" tanya Reynard. Suaranya berat dan memenuhi ruangan yang sunyi itu.Vivian tersentak. Dia menoleh dan melihat Reynard berdiri di sana dengan aura yang sangat kuat. "Reynard? Kamu sudah selesai rapatnya?"Reynard tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Vivian. Dia mengambil kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung
Última actualización: 2026-04-30
Ciuman Ratu Iblis Membuatku Dikelilingi Banyak Wanita

Ciuman Ratu Iblis Membuatku Dikelilingi Banyak Wanita

“Woy! Siapapun itu! Mau Tuhan, iblis, setan, mak lampir, atau semuanya! Dengerin Aku!” teriak Dewa sambil menatap langit dengan kesal. “Siapapun yang bisa bikin semua orang tunduk sama aku, kalian bisa ambil apapun yang aku punya. Ambil nyawaku juga gak masalah! Aku capek diinjak-injak terus!”
Leer
Chapter: Bab 70
Dewa tidak mundur setapak pun. Dia justru menegakkan badannya, menatap lurus ke arah Pak Julian yang napasnya sudah memburu tua karena emosi.'Tua bangka ini belum tahu saja kalau anaknya sudah kuacak-acak semalam,' batin Dewa menyeringai puas di dalam hati. Kegugupannya sebagai orang kaya baru kini hilang total, digantikan oleh rasa superioritas yang membubung tinggi."Bosan hidup? Sepertinya terbalik, Pak Julian," sahut Dewa tenang, suaranya terdengar sangat meremehkan. "Gold Stick yang sedang berada di ujung tanduk, bukan aku."Niskala yang sejak tadi diam di sudut ruangan tiba-tiba melangkah maju. Buku catatannya ditutup dengan bunyi plek yang cukup keras, memotong konfrontasi kedua pria itu. Dia menatap Pak Julian dengan wujud manusianya yang cantik, namun sorot matanya yang dingin menyimpan aura mencekik yang perlahan memenuhi ruangan."Maaf, Pak Julian," potong Niskala dengan nada profesional yang dibuat-buat. "Tuan Muda Dewa tidak pernah menipu. Jika Anda menolak menandatangan
Última actualización: 2026-06-16
Chapter: Bab 69
Begitu pintu lift kantor terbuka, atmosfer tegang langsung menyengat. Di dalam ruang kerja Dewa yang mewah, Aruna duduk merapat dengan wajah pucat dan mata sembap yang terus menunduk. Di sampingnya, seorang pria paruh baya berambut klimis dengan setelan jas seharga ratusan juta tampak duduk bersedekap penuh wibawa.Pak Julian. Presiden Direktur sekaligus pemilik sah Gold Stick.Dewa sempat menghentikan langkahnya sejenak. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.'Sial, kenapa tua bangka ini malah ikut datang? Katanya cuma Aruna yang mau mengantar berkas!' batin Dewa shock. Sumpah, nyalinya agak menciut melihat tatapan tajam pria yang dulu memecatnya tanpa pesangon itu.Sebagai orang kaya baru, aura intimidasi dari konglomerat lama seperti Pak Julian benar-benar membuat Dewa gugup setengah mati. Tapi dia buru-buru mengeraskan rahang, memasang topeng sedingin es agar kegugupannya tidak terbaca.Dewa melangkah masuk dengan tenang, diikuti Niskala yang langsung berdiri siaga di
Última actualización: 2026-06-16
Chapter: Bab 68
Dewa tidak menjawab. Dia hanya menatap Niskala dengan sorot mata yang pelan-pelan kembali tajam. Ucapan iblis betina itu dicatatnya baik-baik di dalam kepala.'Mati di ranjang katanya? Sialan, dia pikir aku selemah itu,' batin Dewa meredam dongkol. Ambisinya untuk mengangkangi dunia tidak akan surut cuma karena gertakan seonggok succubus, meski sekarang dia terpaksa mengalah."Aku mengerti," jawab Dewa pendek. Suaranya sudah kembali berat dan tenang.Niskala mendengus geli melihat harga diri Dewa yang lecet. Dia bangkit dari sofa, membiarkan kemeja putih tipisnya bergoyang pelan, lalu melangkah anggun menuju kamar utama apartemen.Blam!Pintu kamar digebrak menutup dari dalam, menyisakan Dewa sendirian di ruang tengah yang remang.Dewa mengembuskan napas panjang. Dia berjalan menuju meja bar, menuangkan whiskey ke dalam gelas hingga setengah penuh. Minuman itu disesapnya pelan sambil menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota dari ketinggian lantai 3
Última actualización: 2026-06-16
Chapter: Bab 67
Niskala melangkah santai, ketukan tumit kakinya terdengar pelan di atas marmer. Dia menyilangkan tangan di bawah dada, membuat kemeja putihnya makin ketat menonjolkan aset jumbonya."Puas main-mainnya, Tuan Muda Dewa?" sindir Niskala. Mata merahnya menyipit sinis. "Kamu pikir hawa panas di klub tadi tidak berasa sampai sini? Naif sekali."Dewa menahan badannya yang mendadak kaku. "Aku cuma urus bisnis. Lagian, bukannya tadi di kantor kamu bilang sudah lemas? Kok bisa langsung ke sini?"Niskala terkekeh hambar, terdengar dingin menembus tulang. "Lemasnya iblis itu beda dengan manusia, Dewa. Aku tetap bisa melacak ke mana energi yang kamu maling dari tubuhku."Dia berjalan memutari Dewa, persis kucing besar mengunci tikus."Sepertinya kamu mulai amnesia soal kontrak kita," bisik Niskala di dekat telinga Dewa. Bau parfumnya yang manis sekaligus mematikan langsung membuat pusing.Jari lentik Niskala yang berkuku hitam menepuk-nepuk dada kiri Dewa—tepat di jantungnya yang masih ngilu."Aku
Última actualización: 2026-06-16
Chapter: Bab 66
Dewa semakin kesetanan. Hantaman pinggulnya dari arah belakang makin brutal dan tak beraturan. Cengkeramannya di pinggang Aruna sampai meninggalkan bekas memerah yang kontras dengan kulit putih mulus gadis itu.Plok! Clack! Clack!"Ah! Ah! Dewaaa! Aku keluarhh... pecaahhh... nggghhh!" Aruna menjerit histeris. Tubuhnya bergetar hebat, dinding rahimnya menjepit kejantanan Dewa dengan remasan yang super ketat seiring dengan semburan cairan keintimannya yang kembali membanjiri kasur.Jepitan luar biasa dari Aruna membuat pertahanan Dewa runtuh total. Di titik puncak gairahnya, Dewa menghantamkan pinggulnya kuat-kuat hingga mentok ke dasar rahim.Croot!Dewa mengerang berat saat cairannya sendiri menyembur deras di dalam tubuh Aruna. Bersamaan dengan pelepasan yang nikmat itu, Dewa mendadak merasakan sesuatu yang mengerikan.Deg!Jantungnya mendadak seperti dihantam godam tak kasat mata. Rasa sakit yang teramat sangat menyengat tepat di dada kirinya, membuat napasnya seketika tercekat.Dew
Última actualización: 2026-06-15
Chapter: Bab 65
Dewa menarik wajahnya dari selangkangan Aruna yang sudah banjir parah. Mulut dan dagunya basah kuyup oleh cairan pekat milik anak pemilik Gold Stick itu.Aruna terkapar lemas dengan paha yang gemetar hebat, matanya berputar ke atas menikmati sisa-sisa pelepasan yang baru saja meledak karena lahapan lidah Dewa.Sreeet...Dewa bangkit, menurunkan celana kainnya sendiri hingga lolos ke lantai. Kejantanan Dewa yang besar, berurat, dan sudah menegang maksimal kini mencuat tegang, berdenyut-denyut menuntut jatah di depan selangkangan Aruna yang masih menganga lebar."Lihat ini, Aruna. Benda ini yang bakal menghancurkan harga dirimu malam ini," bisik Dewa dingin.Aruna melirik ke bawah. Matanya yang sayu mendadak melebar melihat ukuran kejantanan Dewa yang mengerikan. Glek. Dia menelan ludah dengan kasar, rasa takut dan gairah liar beradu di dalam dadanya yang naik turun ekstrem."Dewa... hhh... besar banget... nggghhh... cepat masukkan... jalangmu sudah gak tahan..." rintih Aruna pasrah, ma
Última actualización: 2026-06-15
Terjebak Gairah (Calon) Mantan Suamiku

Terjebak Gairah (Calon) Mantan Suamiku

Nasib pernikahan yang Kirana kira akan segera kandas, justru membuka kehidupan baru yang tak pernah terpikirkan olehnya. Ia terjebak dalam gairah pria yang sebentar lagi jadi mantan suaminya. Bagaimana bisa, suami dingin yang tak pernah menyentuhnya selama bertahun-tahun, kini menjadi liar dalam kubangan gairah di atas ranjang panasnya.
Leer
Chapter: Rantai pengikat
Pagi harinya, Kirana terbangun bukan karena suara ombak, melainkan bau kopi dan roti panggang yang masuk ke kamar. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai matanya melihat Ardan yang sedang berdiri di depan lemari besar sambil memilihkan baju untuknya."Bangun, Sayang," ucap Ardan dengan nada ringan, seolah-olah pelarian Kirana selama beberapa waktu lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat. "Aku sudah siapkan sarapan. Aku ingin kamu pakai gaun sutra biru ini. Ini warna favoritku kalau kamu yang pakai."Kirana bangun perlahan, tubuhnya masih terasa kaku. "Ardan, apa yang kamu lakukan?"Ardan berbalik sambil memegang gaun itu di depan tubuhnya sendiri. Ia tersenyum—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang tetap terasa dingin. "Kita mulai lagi dari awal, Kirana. Hari ini, tidak ada Barra, tidak ada Zara. Cuma ada kita. Aku sudah batalkan semua janji di kantor. Kita akan habiskan waktu bersama di rumah."Kirana melangkah menuju meja rias, tapi ia tersentak saat menyadari s
Última actualización: 2025-12-18
Chapter: Titik awal lagi
Bunyi bip dari kunci pintu digital itu terdengar seperti peringatan yang mengerikan di koridor yang sepi. Ardan masuk lebih dulu. Gerakannya tenang tapi waspada, persis seperti pemburu yang sedang mengawasi mangsanya. Ia sengaja tidak menyalakan lampu utama; hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala otomatis, menciptakan bayangan panjang yang terlihat seram di atas lantai marmer."Selamat datang kembali, Kirana," ucap Ardan tanpa menoleh. Suaranya rendah, hampir berbisik, tapi sanggup membuat Kirana merinding.Kirana terpaku di depan pintu. Dadanya terasa sesak saat menghirup bau ruangan itu—campuran wangi kayu cendana dan aroma pembersih ruangan yang mahal. Inilah tempat yang ia kira sudah ia tinggalkan selamanya. Setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu saat ia dikurung berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil kabur ke Amerika."Kenapa kita balik ke sini?" tanya Kirana dengan suara serak yang hampir pecah. "Aku benci tempat ini, Ardan. Kamu tahu itu."Setelah menaruh kunci m
Última actualización: 2025-12-18
Chapter: Diajak pulang
Hening yang menyelimuti kamar itu terasa begitu rapuh, siap pecah kapan saja. Kirana menahan napas, mencoba membedakan suara di sekelilingnya. Hanya ada dua, deburan ombak yang ritmis di kejauhan, dan gemuruh detak jantungnya sendiri yang memukul-mukul gendang telinga. Ia menajamkan pendengarannya ke arah sofa, menangkap irama napas Ardan yang dalam dan teratur. Yakin suaminya telah terlelap, ia menarik ponsel dari balik selimut dengan gerakan sepelan mungkin.Tubuhnya masih bergetar hebat, tetapi tekadnya membara lebih panas dari rasa takutnya. Jari-jarinya yang sedingin es nyaris tak mampu menekan tombol daya. Sedetik kemudian, layar ponsel menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang terasa membutakan di dalam kegelapan pekat. Kirana buru-buru meredupkan tingkat kecerahan, lalu menyembunyikan diri lebih dalam di bawah selimut, menciptakan tenda kecil yang remang-remang sebagai benteng pertahanannya.Ia bahkan tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Polisi? Teman? Siapa pun. Siapa pun y
Última actualización: 2025-10-09
Chapter: Semakin posesif
Rasa dingin menjalar di punggung Kirana, bukan karena angin laut, melainkan karena tatapan Ardan yang menguncinya. Genggaman pria itu di pergelangan tangannya terasa seperti borgol yang mustahil dilepaskan. Keputusasaan yang tadinya sempat mereda, kini kembali mencengkeramnya dengan lebih erat.“Ini bukan cinta, Dan,” desis Kirana, berusaha menarik tangannya meski sia-sia. Air matanya mulai menggenang, campuran antara amarah dan ketakutan. “Ini obsesi. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya ingin memilikiku.”“Apa bedanya?” balas Ardan, suaranya rendah dan berbahaya. Ia menarik Kirana lebih dekat, memaksa wanita itu menatap matanya. “Aku melihat foto pernikahan kita di meja. Kamu tidak membuangnya. Itu artinya kamu masih merasakan hal yang sama, Kirana. Kamu hanya sedang bingung dan terluka.”“Aku menyimpannya sebagai pengingat,” sahut Kirana dengan suara bergetar. “Pengingat betapa bodohnya aku pernah percaya pada ilusi kebahagiaan bersamamu.”Penolakan Kirana yang begitu tajam membuat r
Última actualización: 2025-10-09
Chapter: Penolakan Kirana
“Boleh aku tetap menjagamu sampai kamu benar-benar pulih? Bukan sebagai suami, tapi sebagai seseorang yang pernah kamu cintai.”“Tidak,” jawab Kirana dengan suara pelan tapi tetap tegas. “Aku tidak butuh itu, Dan. Aku butuh ruang. Aku ingin menjauh dari kamu.”Ardan terdiam. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Ia hanya bisa mengangguk perlahan, seolah menerima kekalahan yang sudah ia ketahui. Hatinya terasa hancur. Ia ingin terus berada di dekat Kirana, memastikan wanita itu baik-baik saja, tetapi ia tak punya hak lagi.“Baiklah,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Aku akan urus semuanya. Nanti kamu bisa tandatangani berkasnya.”Ardan pun bangkit dan keluar dari kamar. Kirana hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Ada rasa lega, tetapi juga perih yang tak bisa ia jelaskan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir perlahan di pipinya. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa bernapas kembali.Beberapa hari berlalu. Luka di pergelangan tangan Kirana sudah
Última actualización: 2025-10-09
Chapter: 49. Mengurus perceraian
Setelah keluar dari kamar, Ardan melangkah cepat ke arah ruang tengah. Wajahnya tegang, matanya penuh amarah yang ditahan. Ia langsung memanggil Bagas, asistennya yang sudah lama bekerja dengannya. “Bagas,” ucap Ardan dengan nada dingin, “Mulai sekarang, jaga semua pintu dan gerbang. Jangan biarkan Kirana keluar dari rumah ini tanpa izin dariku.” “Bos… apakah ini tidak berlebihan?” tanya Bagas tampak ragu. Ardan menatapnya tajam. “Lakukan saja. Aku tidak mau dia pergi. Dia pikir bisa lepas begitu saja? Tidak semudah itu.” Bagas mengangguk pelan, meski hatinya tidak tenang. Ia tahu hubungan antara bos dan Nonanya sedang buruk, dan tindakan ini bisa memperburuk keadaan. Sementara itu, di dalam kamar, Kirana duduk diam. Ia tahu Ardan tidak akan membiarkannya pergi. Ia merasa terjebak, seperti dikurung di dalam rumah yang dulu ia anggap tempat berlindung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, lalu beralih ke meja kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membuka laci dan menemu
Última actualización: 2025-09-07
Parfum Pemikat Wanita

Parfum Pemikat Wanita

"Aroma apa ini, Badru? Sejak kapan penggembala sapi sepertimu tahu cara memakai parfum seseksi ini?" bisik Laras sambil mengendus nakal dada bidang Badru. Dulu, jangankan mendekat, melirik pun para wanita enggan pada Badru si 'Banteng Bau'. Bertubuh raksasa, berkulit cokelat eksotis, namun beraroma kandang, kehadirannya seolah menjadi pengusir wanita sejati. Tapi, sebuah botol parfum usang dari pasar loak mengubah segalanya. Kini, wangi misterius itu tak hanya menyamarkan peluhnya, tapi juga mengundang birahi. Dari janda kesepian hingga kembang desa, semua tiba-tiba mengantre ingin dicumbu sang Banteng. Rahasia gelap apa yang sebenarnya tersimpan di dalam parfum pemikat itu? Dan 'bayaran' berbahaya apa yang kelak menanti Badru di balik setiap tetes wangi penakluk wanita tersebut?
Leer
Chapter: Bab 16
Glek. Tenggorokan Badru tercekat. Perintah Laras barusan seperti petir yang langsung menyambar seluruh akal sehatnya hingga hangus tak bersisa. Pandangannya terkunci pada dua gundukan besar di depan dadanya yang kini basah dan berkilau oleh cairan putih pekat. "T-Teh... tapi saya—" "Cepetan, Dru... Sakit pisan ini..." Laras merintih. Tangannya bergerak cepat mencengkeram tengkuk Badru, menarik kepala pemuda itu ke bawah, mengarahkannya langsung ke dadanya yang ranum. Aroma manis air susu bercampur kehangatan tubuh wanita langsung menyerbu indra penciuman Badru. Jono di balik celana kolornya sudah menegang maksimal, berneuro-neuro kencang seolah ikut mendesak untuk segera dituntaskan. Persetan! Pertahanan Badru runtuh sepenuhnya. Dengan napas memburu, Badru langsung menyergap salah satu gundukan padat itu. Mulutnya mengulum puting besar Laras yang kencang, lalu mulai menghisapnya dengan kuat. 'Gusti... Ternyata rasanya seenak ini. Kenyal dan hangat banget,' batin Badru takjub. S
Última actualización: 2026-06-15
Chapter: Bab 15
Badru menelan ludah yang terasa menyangkut di tenggorokan. Tawaran disiapkan makanan setelah memeras daster merah marun itu membuat otaknya semakin tidak keruan. 'Makan sepuasnya? Disiapin? Gusti... ini maksudnya makan nasi apa malah makan yang lain?' batin Badru, matanya melirik liar ke arah celah daster Laras yang semakin menganga. "T-Teh, tapi saya..." "Udah, gak ada tapi-tapi, Dru. Sini," potong Laras. Laras langsung berbalik membelakangi Badru dan duduk di pinggir ranjang. Daster merah marunnya ditarik ke bawah dari arah pundak, menyingkap seluruh punggung mulusnya yang putih bersih tanpa sehelai benang pun. Srett! Kedua tangan Laras bergerak ke depan, membuka penuh kancing dasternya hingga kain itu melorot, menampakkan sisi samping dua gundukan dagingnya yang ranum dan sangat padat dari arah belakang. "Ayo, Dru. Pegang dari belakang sini, terus remas pelan-pelan sampai airnya keluar. Jangan kencang-kencang, sakit," bisik Laras setengah mendesah, kepalanya mendongak pasrah.
Última actualización: 2026-06-15
Chapter: Bab 14
Badru mencengkeram celana kolornya kuat-kuat. Pelipisnya basah oleh keringat dingin. Di dalam sana, si Jono benar-benar mengamuk, menegang maksimal sekeras linggis hingga terasa ngilu bergesekan dengan kain kasar."T-Teh... Ada perlu apa nyuruh saya ke kamar?" tanya Badru dengan suara terputus-putus. Matanya dipaksa menatap dinding putih kusam.Laras mendesah berat, memegangi dadanya yang menyembul padat dari balik daster merah marun. "Gini, Dru... Teteh mau minta tolong pisan.""Minta tolong apa, Teh? Kalau angkat beras atau benerin genteng, saya siap."Laras menggeleng. Ia bangkit, membuat daster tipisnya bergoyang memperlihatkan lekuk pinggul yang berisi. "Bukan itu. Pompa ASI yang kamu beli kemarin ternyata rusak, pecah di dalem. Gak bisa dipakai.""Hah? Rusak, Teh? Waduh, maaf pisan.""Udh gak apa-apa. Tapi masalahnya... dada Teteh sekarang bengkak pisan, Dru. Sakit, cenat-cenut dari subuh karena air susunya penuh," keluh Laras sambil meringis. Jemari lentiknya meremas gundukan d
Última actualización: 2026-06-15
Chapter: Bab 13
Badru melangkah keluar dari area kandang dengan pikiran yang berkecamuk. Kakinya melangkah lebar-lebar menuju rumah Laras yang letaknya memang tidak jauh dari situ.Sepanjang jalan, matanya terus menatap lurus ke depan, sementara otaknya berputar keras.'Ada apa lagi sih? Kenapa Teh Laras nyariin aku lagi sampai ke kandang?' batin Badru bertanya-tanya penuh heran.Glek.Badru menelan ludah kasar saat bayangan kejadian kemarin mendadak melintas kembali di kepalanya. Ingatan tentang gaun malam satin hitam semacam lingerie yang super ketat dan tipis, memperlihatkan gundukan dadanya yang besar bergoyang saat menarik napas, membuat tenggorokan Badru mendadak terasa kering."Ah, tapi gak mungkin. Teh Laras kan istri muda saudagar kaya. Mana mungkin dia sengaja godain tukang angon sapi kayak aku. Paling dia cuma butuh bantuan angkat-angkat barang," gumam Badru, berusaha berpikir positif demi menenangkan hatinya yang mulai dag-dig-dug.Sesampainya di depan rumah Laras, suasana terasa sangat s
Última actualización: 2026-06-14
Chapter: Bab 12
Badru menarik kepalanya dari balik daun talas. Ia melangkah mundur dengan tergesa-gesa, lalu berlari kecil kembali ke arah pohon teureup.Punggung lebarnya langsung bersandar ke batang pohon yang kasar.Deg! Deg! Deg!Jantung Badru berdegup kencang seperti dipalu. Dada bidangnya naik turun dengan cepat. Badru memegangi dadanya, mencoba menahan napasnya yang memburu."Gusti... Merpati beneran nyebut nama aku?" gumam Badru melongo.Ia menunduk dan meringis. Di balik celana kolor lusuhnya, si Jono sudah menegang maksimal. Kain celananya meregang kencang, tercetak menonjol panjang dan tebal lurus ke depan. Rasanya sesak dan sangat ngilu."Aduh, Jon! Jangan ngamuk di sini siah!" bisik Badru panik.Ia menekan tonjolan itu dengan telapak tangan kirinya agar agak turun. Badru terpaksa duduk selonjoran di akar pohon dengan kaki mengangkang lebar mirip kepiting sawah. Matanya terus melirik ke arah rimbunan pohon talas gajah.Matahari mulai naik tinggi. Sapi-sapi Haji Sodiq sudah kenyang dan mul
Última actualización: 2026-06-14
Chapter: Bab 11
Badru berjalan memutari kandang sapi dengan sapu lidi besar di tangan kanannya. Ia membersihkan sisa pakan yang berserakan di lantai tanah.Srak... Srak... Srak...Kain celana kolornya menonjol sangat besar di bagian depan. Si Jono masih berdiri tegak menantang langit. Badru terpaksa berjalan dengan kaki melangkah mengangkang lebar. Langkahnya lambat dan kaku seperti kepiting sawah yang jalannya miring."Aduh, Jon. Turun dulu napa. Ngilu siah jalan begini terus," bisik Badru pelan sambil menunduk.Mang Jaka yang sedang mengikat tumpukan rumput gajah menoleh. Ia memperhatikan kaki Badru yang terbuka lebar saat berjalan."Kamu kenapa, Dru? Jalannya aneh begitu? Bisulan?" tanya Mang Jaka sambil menyipitkan mata.Badru tersentak. Ia buru-buru membetulkan posisi kaos oblongnya yang melar untuk menutupi tonjolan di celana."Eh, enggak, Mang. Ini kaki saya kram lagi. Kayaknya gara-gara saya sering mandi kemaleman," dusta Badru. Wajah sawo matangnya langsung memerah sampai ke telinga.Mang Ja
Última actualización: 2026-06-13
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status