Chapter: Bab 6Tekanan hawa dingin yang menguar dari tubuh pria bersetelan jas membuat napas Sugiono mendadak terasa berat. Udara di sekitar halaman gubuk serasa membeku. Empat emak-emak yang tadinya antre dengan wajah menor, tergeletak tak berdaya di atas tanah. Mereka pingsan dengan bibir yang perlahan membiru akibat hantaman energi pelet dan teluh tingkat tinggi.Sugiono melangkah keluar melewati daun pintu bambu yang baru saja hancur berkeping-keping. Matanya tertuju lurus pada jari manis pria misterius. Sebuah cincin dengan bentuk lilitan yang sama persis dengan miliknya terpasang, hanya saja batu akiknya berwarna merah darah, berbeda dengan milik Sugiono yang hitam pekat."Jadi... cincin ini ada pasangannya...?" gumam Sugiono. Suaranya tetap diusahakan tenang meski dadanya bergemuruh hebat.Pria jas hitam menyeringai sinis. Suaranya terdengar menggema basah. "Cincin Akik Hitam Jagad Pamungkas yang kamu temukan di tepi sungai adalah milik guruku. Sepasang dengan Akik Merah Delima milikku. Ora
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 5Siluman ular sanca mendesis keras.Mulutnya terbuka lebar memamerkan taring melengkung meneteskan bisa hitam. Racun gaib menetes mengenai meja kayu reyot Sugiono, langsung membakar papan hingga bolong berlubang mengeluarkan asap berbau busuk.Ular gaib melesat secepat kilat menargetkan leher Sugiono. Gerakannya sangat cepat menyambar.Namun, insting Sugiono jauh lebih gesit. Tenaga dalam pusakanya membuat tubuh renta seolah kembali berusia dua puluh tahun. Ia menghindar ke samping, membiarkan taring siluman menancap kosong memakan angin. Tangan kanan Sugiono menyambar ke depan bagai kilat, mencengkeram kuat leher bawah kepala siluman ular."Cuma siluman kelas teri!" bentak Sugiono.Siluman ular meronta ganas. Ekor panjangnya melilit membelit pinggang dan kaki Sugiono, berusaha meremukkan tulang rusuk sang dukun. Hawa dingin mematikan menyusup berusaha membekukan aliran darah Sugiono.Sugiono tertawa meremehkan. Cincin akik di jari manisnya menyala terang benderang. Dia memusatkan selu
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 4Setiap kali ibu jari Sugiono menekan saraf dada bagian samping, tubuh Bu Tejo menegang melengkung ke atas. Keringat bercucuran membasahi wajah dan lehernya. Puncak dadanya menegang jelas di balik balutan kain tipis penutup tersisa. Sugiono menyalurkan tenaga dalam jauh lebih besar, berniat menghancurkan gumpalan hitam gaib di ulu hati sampai tuntas lebur tak bersisa sedetik pun.Tiba-tiba, Bu Tejo menjerit tertahan melengking nyaring. Mulutnya terbuka lebar mencari pasokan oksigen. Sejumput asap hitam pekat berbau anyir busuk keluar melesat dari rongga mulutnya, melayang ke udara sesaat lalu lenyap tertiup angin malam memasuki celah dinding bambu gubuk."Uhhh... Pakdehh..." Bu Tejo lemas tak berdaya. Tubuhnya ambruk sepenuhnya rata mencium anyaman tikar. Tarikan napasnya seketika terasa sangat ringan.Sugiono menarik tangannya santai, menyeka keringat di dahi menggunakan secarik kain lap usang. "Sudah bersih total. Santet penutup jalan napasmu sudah hancur lebur kembali ke pengirim as
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 3Siang bolong matahari lumayan terik. Sugiono kebetulan sedang duduk santai di lincak depan gubuknya. Dia asyik merokok sambil mengipasi badannya menggunakan pelepah pisang. Mendengar suara motor berhenti, Sugiono menoleh.Bu Tejo turun dari motor. Napasnya terdengar agak ngos-ngosan. Dasternya basah keringat di bagian punggung dan leher."Siang-siang begini tumben mampir ke gubuk saya, Bu Tejo. Ada perlu apa?" sapa Sugiono santai."Pakde, tolong urut dada saya," ucap Bu Tejo blak-blakan. Dia membuka ritsleting tas selempangnya, memperlihatkan beberapa lembar uang merah. "Dada saya sesak minta ampun, Pakde. Udah ke dokter tapi dibilang nggak ada penyakit. Tolong sembuhkan saya."Sugiono melirik uang di dalam tas sekilas, lalu pandangannya turun ke arah dada Bu Tejo yang naik-turun dengan cepat. Tiba-tiba, cincin akik hitam di jari telunjuk Sugiono terasa hangat. Ada denyutan energi asing merespons dari arah tubuh Bu Tejo.Insting Sugiono langsung menangkap ada yang tidak beres. Ini buk
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 2Sugiono menatap Gendis yang masih duduk dengan wajah memerah. "Tidak perlu malu, Nduk. Pakde sudah biasa mengobati wanita penderita penyakit bagian dadanya. Jalur darah tersumbat memang selalu bikin nyeri dan ngilu."Gendis menggigit bibir bawahnya. "Tapi.... Bagian tengah dadaku biasanya memang suka nyeri kalau sedang datang bulan, Pakde. Kadang bengkak kemerahan terus terasa sakit."Sugiono kembali duduk mendekat. "Sekarang buka bajumu. Pakde mau memijatnya sekalian biar peredaran darah lancar."Ia membuka tutup botol minyak zaitun di samping kakinya, mulai mengusap cairan licin ke kedua telapak tangannya sendiri. Bunyi gesekan telapak tangan terdengar jelas memecah kesunyian gubuk bambu."Tapi, Pakde... apa tidak bisa hanya memakai baju saja? Aku masih malu," keluh Gendis ragu-ragu. Tangannya memegangi ujung bawah kaos putihnya erat-erat."Pakde tidak ada waktu buat berpikiran mesum," balas Sugiono tegas. "Kain menghalangi transfer hawa murni dari tenaga pengobatan Pakde. Kalau mau
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 1Sugiono mengusap peluh di dahinya. Pria paruh baya berusia awal empat puluhan hanya bisa menghela napas panjang menatap jalanan desa yang sepi. Pekerjaannya sebagai tukang pijat keliling sedang surut. Alih-alih dipanggil mengobati, dia lebih sering menjadi bahan tertawaan warga.Sugiono kerap dianggap tukang pijat gadungan yang ilmunya tidak becus. Padahal, dia sudah belajar sungguh-sungguh soal titik saraf. Hanya saja, tenaganya memang dirasa kurang maksimal.Karena tidak ada pemasukan sepeser pun, Sugiono terpaksa pergi ke ladang pinggir hutan siang harinya. Ia mengayunkan cangkul di bawah terik matahari, berniat menanam singkong sekadar menyambung hidup.Trang...!Mata cangkul Sugiono membentur benda keras di dalam tanah. Dia berhenti, berjongkok, lalu menyingkirkan gumpalan tanah basah dengan tangan kosong. Sebuah kotak kayu kecil seukuran kepalan tangan terlihat menyembul.Sugiono perlahan membuka penutup kayunya. Sebuah cincin akik hitam tergeletak rapi di dalam, memancarkan kil
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 21Praja akhirnya meninggalkan tenda. Langkah kakinya pelan, menuju rumah sederhana tempat Sekar dan Riri tinggal sementara. Dari kejauhan, ia melihat Sekar duduk sendirian di beranda. Riri tampaknya sudah masuk, meninggalkan Sekar yang menatap langit penuh bintang.“Sekar,” suara itu pelan, tapi cukup untuk membuat Sekar menoleh.Sekar terkejut, tapi cepat-cepat menunduk. “Komandan, malam-malam begini seharusnya istirahat. Ada apa?”Praja berhenti beberapa langkah darinya, seakan ragu untuk lebih dekat. Namun akhirnya ia menarik napas dan melangkah maju. “Aku tidak bisa tidur kalau kita masih dalam keadaan seperti ini.”Sekar menelan ludah. “Keadaan seperti apa?”Praja menatapnya dalam-dalam. “Keadaan di mana kamu menjauh dariku, padahal aku ingin lebih dekat. Keadaan di mana kamu menutup hatimu, padahal aku sudah membukanya lebar-lebar untukmu.”Sekar menghela napas berat, jemarinya meremas ujung kain selendangnya. “Komandan, jangan mempersulit. Kita sudah berbeda sejak awal. Kamu seor
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: Bab 20Sekar berjalan cepat meninggalkan tenda, langkahnya terburu-buru, nyaris berlari. Dadanya bergemuruh hebat, entah marah, kecewa, atau terluka—ia tak tahu. Hanya satu hal yang jelas: melihat Praja begitu dekat dengan Kirana membuatnya merasa hampa.“Sekar!” suara Praja memecah keheningan senja, terdengar di belakangnya.Sekar tak menggubris, malah mempercepat langkah. Namun suara langkah sepatu Praja makin mendekat, hingga akhirnya tangan kokoh itu meraih lengannya.“Sekar, tunggu sebentar!”Sekar berbalik dengan mata berkaca-kaca, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. “Lepaskan aku, Komandan! Saya tidak ingin ikut campur urusan pribadi Komandan dengan Dokter Kirana.”Praja terdiam sesaat, terkejut oleh nada suaranya. “Sekar, kamu salah paham.”“Tidak ada yang salah paham!” Sekar memotong cepat, suaranya bergetar. “Saya jelas melihatnya sendiri, Komandan berbicara berdua, begitu dekat, seakan ... seakan ...” suaranya tercekat, “seakan kalian memang berjodoh.”Praja menghela napas
Last Updated: 2025-10-23
Chapter: Bab 19Pagi itu, suasana desa terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Praja berdiri di depan pos penjagaan, menatap ke arah hamparan sawah yang diselimuti kabut tipis.Dari jauh, Sekar datang membawa keranjang berisi sayuran segar untuk para prajurit. Praja melihat langkahnya yang anggun, sederhana, namun entah mengapa membuat dadanya bergetar. Ia menoleh sekilas, seolah tidak peduli, tetapi mata dan pikirannya tetap menuntunnya untuk memperhatikan Sekar.“Pagi, Komandan,” sapa Sekar sambil tersenyum tipis.“Pagi,” jawab Praja singkat. Suaranya dalam, tapi ada nada lembut yang jarang sekali ia keluarkan.Sekar menunduk, meletakkan keranjang di meja kayu. “Ini sayuran dari ladang. Untuk persediaan makan siang kalian. Aku titip sama prajurit yang lain saja.”Praja mengangguk, tapi sebelum Sekar beranjak pergi, ia memberanikan diri. “Sekar, tunggu.”Sekar berhenti, menoleh pelan. “Ada apa?”Praja menelan ludah. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi lidahnya terasa kelu. “Aku ..
Last Updated: 2025-10-23
Chapter: Bab 18Suasana pos berubah hening saat iring-iringan kendaraan militer berhenti di depan. Para prajurit langsung berdiri tegak, memberi hormat. Dari mobil utama, seorang pria paruh baya turun dengan wibawa penuhJenderal Sudirman.“Siap grak!” suara lantang komandan jaga menggema.Praja melangkah ke depan, memberi hormat dengan sikap sempurna. “Selamat datang, Jenderal!”Sudirman menepuk bahu Praja dengan bangga. “Kerja bagus, Komandan. Desa ini mulai pulih, rakyat merasa terlindungi. Aku bangga padamu.”Senyum tipis itu lalu berubah serius. Ia menatap Praja dalam-dalam.“Praja, setelah misi ini selesai, aku ingin kau mempertimbangkan sesuatu.”“Perintah, Jenderal?”“Bukan sekadar perintah. Aku hanya percaya padamu. Karena itu, apakah kau bersedia menikah dengan putriku, Kirana?”Seketika dada Praja sesak. Ia menunduk, wajahnya tegang. Kata-kata itu berat, jauh lebih berat daripada memimpin pertempuran.“Jenderal, saya.” suaranya tertahan.Tak jauh dari sana, Sekar yang tengah membawa kain un
Last Updated: 2025-10-22
Chapter: Chapter 17Malam itu markas terasa sunyi setelah hiruk-pikuk penyelamatan Arga. Hanya suara jangkrik dan sesekali langkah prajurit yang berkeliling membuat suasana tidak sepenuhnya hening.Sekar berdiri ragu di depan ruang komando. Cahaya lampu minyak dari dalam membuat bayangan tubuhnya jatuh panjang di tanah. Setelah menarik napas dalam, ia memberanikan diri mengetuk pelan.“Masuk,” suara berat itu terdengar.Praja duduk di balik meja, map laporan berserakan. Tatapannya langsung terarah pada sosok Sekar yang melangkah masuk dengan hati-hati. Wanita itu menunduk sebentar, lalu berkata lirih, “Komandan aku ingin minta maaf. Waktu itu, aku pernah menuduhmu dan aku menyesal. Terima kasih karena sudah menyelamatkan putraku. Kalau bukan karena keberanianmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arga.”Ruangan seketika hening. Praja hanya menatapnya lama, seakan sedang mencari jawaban dari wajah Sekar. Ada sesuatu yang berputar di kepalanya kenangan lama, malam kelam yang selama ini ia kubur rapa
Last Updated: 2025-10-18
Chapter: Chapter 16Suasana pos militer pagi itu riuh. Para prajurit sudah berkumpul di halaman, sebagian sibuk membersihkan senjata, sebagian lagi mendengarkan pengarahan. Namun di balik semua itu, wajah Praja terlihat lebih tegang dari biasanya.Doni, Yudha, Seno, dan Tama sempat saling pandang. Mereka tahu, ada sesuatu yang mengganjal di hati komandannya.“Komandan, laporan dari markas baru masuk,” ujar Doni sambil menyerahkan map. “Ada indikasi bandit yang semalam lolos, bergerak ke arah utara. Mereka kemungkinan menyusun kekuatan kembali.”Praja menerima map itu, matanya sekilas menatap dokumen, tapi pikirannya melayang. Yang ia lihat bukanlah peta pergerakan musuh, melainkan wajah Sekar semalam—murung, penuh luka, lalu pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasannya.Praja menghela napas, menutup map dengan cepat. “Kita tidak boleh lengah. Siapkan regu patroli. Jangan beri kesempatan mereka menyakiti warga desa lagi.”Para prajurit serentak mengangguk. Namun Doni memperhatikan mata Praja yang sayu.
Last Updated: 2025-10-18