Share

Bab 2

Author: NamNamjoo
last update publish date: 2026-06-10 10:57:58

Sugiono menatap Gendis yang masih duduk dengan wajah memerah. "Tidak perlu malu, Nduk. Pakde sudah biasa mengobati wanita penderita penyakit bagian dadanya. Jalur darah tersumbat memang selalu bikin nyeri dan ngilu."

Gendis menggigit bibir bawahnya. "Tapi.... Bagian tengah dadaku biasanya memang suka nyeri kalau sedang datang bulan, Pakde. Kadang bengkak kemerahan terus terasa sakit."

Sugiono kembali duduk mendekat. "Sekarang buka bajumu. Pakde mau memijatnya sekalian biar peredaran darah lancar."

Ia membuka tutup botol minyak zaitun di samping kakinya, mulai mengusap cairan licin ke kedua telapak tangannya sendiri. Bunyi gesekan telapak tangan terdengar jelas memecah kesunyian gubuk bambu.

"Tapi, Pakde... apa tidak bisa hanya memakai baju saja? Aku masih malu," keluh Gendis ragu-ragu. Tangannya memegangi ujung bawah kaos putihnya erat-erat.

"Pakde tidak ada waktu buat berpikiran mesum," balas Sugiono tegas. "Kain menghalangi transfer hawa murni dari tenaga pengobatan Pakde. Kalau mau sembuh total, jangan setengah-setengah."

Mendengar nada tegas iparnya, Gendis menelan ludah. Ia membayangkan senyum puas Mas Ranto besok pagi. Dengan perlahan dan tangan sedikit gemetar, Gendis pun menarik kaos putihnya ke atas melewati kepala.

Kulit putihnya langsung terpapar udara malam. Bagian dadanya terlihat agak kemerahan akibat bengkak. Aset kembar Gendis tampak penuh, tegang, dan menunjukkan rasa perih jika tersentuh sembarangan. Gendis buru-buru menyilangkan kedua lengannya menutupi wajah karena menahan malu. 

Sugiono menatap lurus ke depan. Ia mengambil segelas air putih dari kendi tanah liat di atas meja kecil, merapal mantra dengan suara bergumam sangat cepat. Bibirnya bergerak-gerak membaca rapalan kuno. Setelah mantranya selesai, ia mengambil seteguk air penuh.

Pyorrr!

Sugiono menyemburkan air dari mulutnya langsung mengenai dada Gendis.

"Ahhh!" rintih Gendis kaget. Sensasi dingin air berbenturan kasar dengan kulitnya yang memanas bengkak. Tetesan air mengalir perlahan melewati sela-sela belahan dadanya.

Sugiono mencondongkan badannya ke depan. Tangannya sudah berlumur minyak zaitun licin mengkilap. "Pakde mulai, ya."

Perlahan jari-jari besar Sugiono mulai memijat pinggiran sisi dadanya. Ia menekan secara ritmis memutar dari arah luar ke dalam garis urat. "Tahan ya, Nduk. Aliran darahmu kurang lancar di sini, makanya terjadi sumbatan tebal."

"Ahh... iya... euhmm... ahhh..." Tubuh Gendis menegang hebat membusungkan dada. Setiap kali tekanan keras dari tangan Sugiono datang, suara rintihan meluncur lepas dari bibir mungilnya.

Jari Sugiono bergerak makin ke bagian tengah, menyusuri area paling sensitif sarang saraf. "Ahhh... iya tepat di sana, Pakde... sakit... uhhh..."

Gendis berusaha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan lengkingan. Namun perlahan sensasi asing aneh menggantikan rasa sakit. Rasa nyeri berubah drastis menjadi sensasi kenikmatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Napas Gendis semakin memburu kencang tak beraturan. Kepalanya mendongak jauh ke belakang.

Tangan Sugiono terus bergerak memijat konstan tanpa jeda. Melihat ritme napas Gendis makin tidak terkontrol, Sugiono segera meraih gelas kendi tanah liat lagi. Ia mengambil seteguk besar air murni.

Pyorrr!

Sugiono menyemburkan kembali semburan air mengenai tepat ke dada Gendis. "Uhhh..." Gendis meringis merasakan sensasi air mengenai kulitnya yang memerah.

Sugiono kembali memasukkan beberapa lembar daun sirih ke dalam mulutnya lalu mengunyah sambil membaca mantra kuno. Gendis tersentak kaget membelalakkan mata. Hawa sedingin es langsung menabrak dan menetralkan hawa panas membakar dari cincin akik. Sensasi rileks seketika menjalar menyelimuti seluruh persendian tubuh Gendis.

Sugiono perlahan menarik kedua tangannya mundur. "Sudah selesai, Nduk. Ini hari pertama kamu dipijat," ucapnya santai. "Bilang sama Masmu untuk tidak main dulu malam ini. Biarkan proses pengobatannya meresap pulih sepenuhnya. Paling cepat besok malam baru boleh disentuh Ranto."

Gendis buru-buru meraih kaos putihnya dan memakainya kembali. Wajah cantiknya masih bersemu merah menahan malu. "Baik... Baik, Pakde," jawabnya terbata-bata.

Ia menyodorkan dua bungkus rokok Sampoerna. "Ini, Pakde. Mas Ranto sendiri yang menyuruh."

Sugiono tersenyum lebar. "Ya sudah. Hati-hati langkahmu di jalan gelap. Ingat pesanku tadi."

Gendis mengangguk pamit. Senter kuning menerangi jalan setapak gelap. Malam harinya, Gendis tidur lebih nyenyak daripada biasanya.

Keesokan paginya, ia bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Gendis sudah sibuk di dapur, menggoreng tempe, menyapu lantai—gerakannya lincah seperti tidak pernah sakit. Ranto yang sedang ngopi di meja makan cuma bisa geleng-geleng kepala.

"Semalam baru dipijat, pagi ini kamu udah pecicilan lagi," puji Ranto.

"Makanya, Mas. Nanti kalau lewat warung, belikan Pakde Yono rokok," balas Gendis sambil meletakkan sepiring tempe panas.

Setengah jam kemudian, Ranto sudah nongkrong di warung kopi. "Asli, Kang Maman. Istriku sembuh total," ujarnya sambil menepuk paha tetangganya. "Padahal berbulan-bulan uratnya kejepit. Kemarin dibawa ke gubuk Pakde Yono, dipijat bentar, langsung lentur badannya."

Tanpa disadari Ranto, Bu Tejo—janda pemilik toko sembako, mendengar obrolan dari balik rak. Dadanya seketika berdegup kencang. Sudah tiga bulan ia sesak napas setiap malam Jumat, dan dokter bilang paru-parunya bersih.

"To, beneran omonganmu barusan?" tanya Bu Tejo penuh harap. "Kakak iparmu bisa ngobatin penyakit urat?"

"Beneran, Bu. Coba aja datang ke gubuknya. Orang bilang sih Pakde Yono punya tenaga dalam."

Bu Tejo tidak banyak mikir lagi. "Kang Parman! Ojek!" panggilnya melengking. "Ke gubuk pinggir hutan, Kang. Tempat Pakde Yono. Buruan, ulu hatiku sesak banget!"

Mendengar kata 'dada sesak' dari mulut janda paling semlohay sejagat desa, jakun Kang Parman kontan naik turun. Motor ojek segera melaju membelah jalanan desa menuju gubuk bambu pinggir hutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nita Vivo
cerita nya seru banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 42

    Sugiono membawa kucing belang itu melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya yang sempit. Ia mendudukkan diri di tepi kasur busa tipis, lalu mengusap bulu halus kucing tersebut dengan penuh kelembutan."Kamu sepertinya bukan kucing jalanan biasa. Bulumu sangat terawat dan bersih," gumam Sugiono pelan sambil memperhatikan corak unik di tubuh hewan kecil itu.Kucing belang tersebut perlahan membuka kelopak matanya, menatap lurus ke arah Sugiono, lalu mengedipkan matanya dua kali."Terima kasih, manusia baik," sebuah suara lembut langsung bergema jelas di dalam kepala Sugiono tanpa ada gerakan bibir dari sang hewan.Astaga! Sugiono terlonjak kaget dari duduknya. Ia melompat mundur hingga hampir menabrak dinding kamar.Di ruang tengah, Samsul sedang sibuk merebus dua bungkus mie instan dan menggoreng telur di atas kompor portabel. Suara benturan tubuh Sugiono ke dinding membuat Samsul menoleh dengan wajah heran."Kamu sedang apa di dalam kamar sampai bikin kaget saja, Yono? Jangan bikin aku

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 41

    "Bu, kalau begitu saya permisi dulu mau beli mie di warung. Tidak enak kalau Samsul menunggu lama di kontrakan," pamit Sugiono sambil menarik pelan tangannya dari genggaman Bu Dita.Bu Dita langsung menarik napas dengan berat, memperlihatkan raut wajah kecewa yang jelas. "Oh... ya sudah, Yono. Hati-hati di jalan ya."Wanita muda itu merasa obrolan mereka baru berjalan beberapa menit saja, tetapi separuh jiwanya seolah sudah menyatu dengan pria paruh baya tersebut. Sugiono begitu mengerti setiap keluh kesah yang selama ini tertahan di dadanya.Sugiono melangkah keluar dari ruang kerja darurat, membelah gerimis tipis yang tersisa di halaman proyek. Sesampainya di warung kelontong kecil dekat gerbang, ia mengusap-ngusap pelan jari tangannya yang tadi bersentuhan dengan kulit mulus Bu Dita. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Pesona gaib dari cincin yang ia miliki sudah mulai merasuki batin wanita itu, sehingga tinggal menunggu waktu yang tepat sampai Bu Dita datang sendiri menyerahkan

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 40

    Udara dingin sisa gerimis masih menempel di dinding kayu ruang kerja darurat. Lampu gantung kuning berkedip pelan, memantulkan bayangan remang di wajah Bu Dita yang kelelahan. Wanita muda itu memeluk cangkir kertas berisi air mineral hangat, menatap lurus ke arah Sugiono yang duduk tenang di kursi plastik."Bagaimana anak sama istrimu ngasih izin merantau ke kota, Yono? Apa istrimu tidak kesepian di kampung?" tanya Bu Dita pelan, memecah keheningan di antara mereka.Sugiono tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang keras. "Sudah lama pisah sama istri. Anak dibawa mantan istri ikut keluarganya."Bu Dita mengangguk kecil, menunduk menatap permukaan air di dalam cangkir kertas. Ada garis-garis kelelahan yang nyata di sekitar mata indahnya. "Nasib kita mirip, Yono. Bedanya kamu di bawah, aku di atas harta doang."Wanita itu menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik turun dengan sesak. Emosi yang selama ini dipendam rapat-rapat akhirnya tumpah begitu saja

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 39

    Marten terus mengocok pusakanya yang ngaceng di balik tiang besi proyek. Napasnya memburu tidak beraturan, keringat bercampur air hujan membasahi keningnya."Ughh yamataehhh ughh sedap..." Lidahnya sampai keluar saat merasakan lava kental putihnya sebentar lagi berada di ujung puncak kenikmatan. "Ahhh, sikit lagi..."Jono menginjak bungkus rokok kosong hingga pipih di lantai yang tergenang air. "Hujan ini tidak akan reda, sebaiknya kita pulang saja. Dilanjutkan juga adukan semennya tidak bagus hasilnya. Malah ngulang kerjaan dari awal kalau kena air terus."Jono melirik ke arah tiang besi tempat rekan kerjanya bersembunyi. "Marten... kalau sudah ngocok, cepat pakai celana sana, lalu pulang.""Ughh ahhhh..." Suara desahan tertahan masih terdengar dari balik tiang.Samsul menggelengkan kepala sambil merapikan jas hujannya. "Ada gila-gilanya si Marten di dalam tuh. Cuaca dingin begini malah sempat-sempatnya mengeluarkan cairan.""Dasar memang kelakuan dia tidak ada beresnya," jawab Jono.

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    bab 38

    Sugiono memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan keheningan malam menyelimuti kamar kontrakan sempit tersebut. Suara dengkuran Samsul yang mulai lelap terdengar bersahut-sahutan dengan bising kendaraan dari jalan raya di luar.Pikiran Sugiono melayang kembali pada pertemuan singkat di ruang kerja darurat sore tadi. Aroma parfum mahal bercampur keringat tipis milik Bu Dita masih melekat kuat dalam ingatannya. Sentuhan kecil di meja kerja tadi membuktikan bahwa bentakan kasar wanita itu hanyalah topeng penutup keputusasaan.Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya meninggi ketika Sugiono dan Samsul kembali menginjakkan kaki di gerbang proyek pembangunan rumah mewah. Suara bising mesin molen semen dan benturan batu bata menyambut kedatangan para pekerja.Jono langsung menyenggol lengan Sugiono sambil tertawa nyengir. "Pagi-pagi sudah melamun saja, Yono. Kurang tidur gara-gara semalam bayangin video di HP-ku, ya?"Sugiono hanya melirik sekilas, tidak ambil pusing dengan godaan rekannya.

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    bab 37

    Sugiono menarik perlahan jemarinya dari permukaan meja kerja. Bu Dita menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja bersentuhan, merasakan getaran hangat masih tertinggal di sana. Suasana mendadak senyap, menyisakan deru napas pelan dari dada wanita berpenampilan rapi tersebut."Maaf, Bu. Kalau begitu, saya mau lanjut kerja. Tidak enak kalau meninggalkan teman-teman yang lain sedang mengaduk semen," ucap Sugiono datar sambil berdiri tegak.Bu Dita mengangguk kaku, membiarkan kuli bangunan berambut putih itu berbalik dan melangkah keluar ruangan. Matanya terus mengikuti punggung Sugiono sampai bayangan pria tersebut menghilang di balik pintu kayu.Di luar, terik matahari semakin menyengat kulit. Sugiono kembali bergabung dengan Samsul, Marten, dan Jono di dekat tumpukan material bangunan. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengangkat dua ember cor penuh berisi adukan semen basah di tangan kiri dan kanan.Marten yang berdiri tidak jauh dari tumpukan bata langsung mengangkat dua jempol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status