MasukRonald Satria, terpaksa pensiun dini dari posisinya sebagai tentara elit karena cedera tulang. Ia menjadi luntang-lantung dan menganggur. Beruntung datang seorang pengacara, sahabat mendiang ayahnya, yang menawarkan pekerjaan sebagai Caretaker/Perwakilan Pengelolaan atas kekayaan, aset, perusahaan, dan mansion yang ditinggal mati seorang miliarder. Namun yang membuat Ronald tercengang adalah anggota keluarga si miliarder yang tinggal di mansion itu, SEMUANYA WANITA CANTIK!
Lihat lebih banyak“Saya umumkan pada kalian semua bahwa mulai detik ini, Ronald Satria akan menjadi Caretaker di dalam mansion ini,” ucap Pengacara Buan lantang. “Semua kekayaan dan aset peninggalan Pak Hermawan akan sepenuhnya dikelola oleh Ronald,” lanjut sang pengacara membacakan surat penunjukannya.
Semua tercengang! Setiap pasang mata di ruang tamu mansion itu tertuju pada Ronald. “Kenapa harus dia, Pak Buan? Bukankah warisan bisa segera dibagikan?“ sanggah Bianca keras. Pengacara Buan tersenyum tenang. “Bianca, statusmu dan Citra nggak kuat. Kalian berdua cuma anak bawaan dari istri pertama Pak Hermawan, bukan anak kandung!“ jawabnya tegas. “Bagaimana dengan Bu Arumi? Dia 'kan istri keduanya ayah,” Citra menambahkan. Buan kembali tersenyum. “Hanya istri di bawah tangan. Bukan istri sah secara hukum!“ Semua tercekat mendengar jawaban Buan. Mereka tak sepenuhnya bisa menerima kehadiran sosok Ronald yang terasa asing. “Dia masih muda, hanya beberapa tahun di atasku kayaknya. Apa hebatnya dia?!“ Bianca masih tidak terima. Ia menatap tajam ke arah Ronald. “Usia bukan ukuran, Bianca. Dan aku menunjuknya juga bukan asal tunjuk. Aku paham betul sejauh mana kejujuran dan jiwa loyalitasnya,” ujar Buan sambil melirik Ronald yang masih duduk diam. “Jujur saja nggak cukup, Pak. Kekayaan Paman Hermawan sangat besar. Butuh otak yang cerdas dan gigih,” bantah Septa, salah satu keponakan Hermawan. Buan tak menanggapi. Ia tak peduli sebesar apapun penolakan mereka—keputusannya sudah bulat. Buan sangat tahu bahwa Ronald yang merupakan perwira sarjana bukanlah pemuda yang bodoh. Lebih dari itu, kegigihan, keuletan, dan ketangguhan Ronald sudah teruji karena dia adalah mantan tentara yang terbiasa terdidik keras—tahan banting. “Keputusan ini sudah final. Ronald dilindungi secara hukum sebagai pengelola resmi atas semua kekayaan Pak Hermawan hingga nantinya ditemukan sosok pewaris yang layak!“ pungkas Buan tanpa kompromi. Ia kemudian melangkah pergi setelah menepuk bahu Ronald sebagai bentuk dukungan. Ronald segera berdiri dari kursinya setelah Buan menghilang dari pandangan. “Rapat keluarga aku akhiri. Silakan kalian kembali ke kamar masing-masing!“ ucap Ronald tanpa basa-basi. Ronald kemudian berjalan masuk ke ruang kerjanya di dalam mansion tersebut. Di dalam ruang kerja, Ronald berpikir cepat. Ia harus menjalankan amanah Hermawan dengan sebaik-baiknya. Ronald tak pernah berpikir akan menerima penunjukan seperti itu. Dalam benaknya masih hangat tersimpan saat-saat terakhir ia mendapatkan surat pensiun dini dari militer karena cedera tulang panggul di usianya yang masih 25 tahun. Saat Pengacara Buan, sahabat mendiang ayah Ronald, menawarkan hal tersebut, ia sempat menolak. Namun karena faktor kebutuhan finansial yang cukup krusial sejak ia menganggur, akhirnya ia menerima penunjukan tersebut. Tok! Tok! Terdengar ketukan ringan dari balik pintu ruang kerja Ronald. “Masuk!“ ujar Ronald pendek. Seorang wanita cantik berusia awal tiga puluhan masuk. Dia adalah Arumi, istri muda Hermawan. “Apa aku ganggu, Ronald?“ sapa Arumi lembut. Ia sengaja tersenyum manis dan sedikit membusungkan dadanya. Ronald sedikit tercekat menatap bagian yang membusung itu. Matanya nanar seperti seekor serigala yang haus darah. “Ohh, nggak kok, Bu Arumi. Silakan,” jawab Ronald datar menutupi debaran jantungnya. “Aku cuma mau bilang… sebagai penghuni baru mansion ini, pasti kamu perlu mengenal seluk beluknya secara keseluruhan. Silakan cari aku kalau butuh bantuan,” Arumi menawarkan, kali ini dengan menghempaskan buah pantat sekalnya ke kursi di depan Ronald. Ronald kembali tercekat. Arumi menyilangkan kakinya dengan santai, membuat paha putihnya sedikit terbuka dibalik rok spannya. Tanpa diminta, pedang pembunuh naga miliknya yang tersimpan rapi di balik celana segera bangkit menggeliat. “Tentu, Bu. Aku bakal mencarimu kalau pas butuh bantuan,” balas Ronald sambil sesekali mencuri pandang ke arah paha Arumi yang terbuka. Arumi mengangguk anggun, kemudian beranjak berdiri, mendekat ke posisi Ronald. “Tak perlu terlalu formal begitu, Ronald. Kita hampir sepantaran. Kamu hanya sedikit lebih muda dariku,” bisik Arumi di dekat telinga Ronald. Hembusan napas hangat seketika menerpa telinga dan tengkuknya. Ronald menegang. Ia seperti ingin merengkuh Arumi saat itu juga jika tak teringat bahwa itu adalah hari pertamanya bekerja di mansion tersebut. Arumi semakin berani. Jemarinya yang lentik kini bermain-main di dada Ronald yang masih tertutup kemeja dan jas. “Atau mungkin kamu butuh hal lain? Aku pasti bersedia bantu,” ucap Arumi dengan nada suara sedikit mendesah. Pikiran Ronald melayang. Ia jelas paham tentang maksud dari perkataan Arumi. 'Astaga! Dia bener-bener wangi dan montok!' teriak batin Ronald meronta. “Pokoknya, kalau kamu 'butuh', cari aja aku, Ronald,” lanjut Arumi memberikan tawaran menggiurkan. Pikiran Ronald seketika buntu. Ia hampir saja menangkup wajah Arumi, namun, tak lama kemudian Arumi melenggang pergi dengan lenggok pinggul yang sangat indah. Arumi sengaja memancing Ronald dengan pesona kematangannya. Belum hilang keterkejutan Ronald pada tingkah berani Arumi, wanita lain muncul di ambang pintu yang tidak ditutup oleh Arumi. “Apa yang rubah betina tadi katakan padamu?“ tanya Bianca tajam. Matanya melotot ke arah Ronald."Aku tahu selama ini kalian anggap aku cuma parasit kecil yang kerjanya cuma bisa nyinyir. Tapi kalian salah besar. Kenyataannya jauh lebih mengerikan dari itu," ucap Septa dengan suara yang bergetar namun penuh dengan tekanan emosional yang selama ini ia pendam sendirian.Septa mengeluarkan sebuah ponsel dari saku gaunnya yang ketat, lalu dengan jemari yang gemetar ia membuka beberapa folder tersembunyi. Ia meletakkan ponsel itu di atas meja kayu di tengah ruangan, memperlihatkan beberapa foto dan memutar sebuah rekaman suara yang nampak diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik celah pintu."Aku selama ini diam karena aku takut, Ron! Aku takut kalau aku buka mulut, aku bakal jadi korban selanjutnya yang muntah darah hitam di mansion itu!" lanjut Septa sembari menunjuk ke layar ponselnya. Di sana terlihat foto Diana, wanita yang selama ini mereka pikir paling lembut dan penakut, tengah menuangkan serbuk halus ke dalam botol suplemen milik Pak Hermanto.Keempat wanita lainnya, May
"Itu bisa saja terjadi. Kita lupa kalau ada orang-orang penting di dua perusahaan itu yang mungkin punya ambisi tersembunyi," kata Maya sembari menyandarkan punggungnya di sofa, membuat bulatan sekalnya yang montok sedikit bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang gelisah.Ronald mengangguk, namun raut wajahnya tetap menunjukkan keraguan yang mendalam. Ia mengusap dagunya sembari memandangi keempat wanita cantik itu secara bergantian. "Kemungkinan itu memang ada, tapi yang perlu kita ingat adalah alat pembunuhan ini berupa racun yang harus masuk melalui makanan atau minuman yang mereka konsumsi secara langsung. Itu artinya pelakunya harus punya akses yang sangat privasi," ucap Ronald dengan nada bariton yang menegangkan."Kalau Pak Hermawan mungkin bisa mereka dekati saat jam kantor atau makan siang bisnis, tapi bagaimana orang luar bisa menjangkau Pak Hermanto dan Bu Hermin yang minim interaksi dengan perusahaan? Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam mansion atau di lingk
"Siapa yang paling punya kemungkinan buat ngelakuin itu, Ron? Kasih tahu kami biar aku sendiri yang habisi dia sekarang!" tanya Bianca dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, sorot matanya yang liar nampak berkilat penuh amarah yang tertahan.Ronald menggeser posisi duduknya agar lebih tegak, membuat otot lengannya yang kekar nampak semakin menonjol. Ia menatap keempat wanita cantik di hadapannya dengan tatapan yang sangat dalam dan serius. "Kita akan coba menganalisa satu persatu biar nggak salah langkah. Kita mulai dengan Septa. Menurut kalian, bagaimana dengan Septa?" ucap Ronald membuka diskusi."Septa emang terlihat licik dan culas sejak dulu. Tapi dia itu masih di bawah umurku, pengalamannya belum seberapa. Menurutku, dia nggak bakal seberani itu buat ngerencanain pembunuhan berantai dalam keluarga sendiri," ujar Bianca sembari menyandarkan punggungnya, membuat gumpalan daging di dadanya sedikit terangkat."Aku juga kurang yakin jika Septa pelakunya. Meskipun dia egois, tapi p
"Katakan, Ron. Apa yang bisa kami bantu buat kamu?!" ucap Lia lembut sembari memperbaiki posisi duduknya, menatap Ronald dengan sorot mata yang kini sepenuhnya patuh dan penuh kedekatan emosional.Ronald pun melangkah mendekat dan duduk di sofa panjang bersama mereka. Posisi duduknya berada di tengah-tengah, diapit oleh Maya dan Citra, sementara Bianca dan Lia berada di sisi lainnya. Kehadiran Ronald yang begitu terlihat serius membuat keempat wanita cantik itu secara otomatis memberikan perhatian penuh."Ada rahasia yang perlu kita selidiki kebenarannya. Ini menyangkut nyawa dan masa depan mansion kalian sendiri," ucap Ronald pelan dengan nada bicara yang sangat serius, membuat suasana di dalam rumah singgah itu mendadak berubah hening."Apa itu, Ron? Kamu jangan bikin kami penasaran dong! Katakan saja, kami semua di sini ada di pihak kamu," ucap Maya manja sembari menyandarkan kepalanya di bahu Ronald, tangannya tanpa sadar mengelus lengan berotot sang caretaker.Citra dan Bianca
"Rasanya beda sama jari tadi kan kalau yang ini yang masuk?" imbuh Ronald dengan suara berat yang penuh dominasi, sembari menahan pinggulnya agar tetap menekan kuat di atas panggul Citra.Citra mengerang panjang, tubuhnya yang ramping bergetar di bawah beban tubuh Ronald. Ia mengangguk dengan gera
Ronald tidak berhenti di situ. Ia berpindah lagi menghisap saluran irigasi Citra, lalu bergantian menjilati lubang mataharinya lagi. Ia terus melakukan gerakan tersebut secara bergantian dengan ritme yang sangat cepat, seolah sedang melakukan gerilya gairah di area paling privat milik Citra.Citra
Citra menoleh ke arah Arumi, sedikit cemberut. "Iya, Bu Arumi. Aku tahu. Aku cuma bosen saja di mansion sepanjang hari tanpa kegiatan."Bianca sebenarnya ingin sekali memarahi Citra lagi karena dianggap terlalu manja, namun ia lagi-lagi mengurungkan niatnya. Ia tidak berani menentang aura dominan
"Aku harus kuat, Ron. Kalau aku nggak kuat ngelayanin kamu, nanti kamu bosen sama aku dan nyari yang lain di mansion," ucap Arumi sembari menatap Ronald dengan tatapan yang sangat manja sekaligus penuh kekhawatiran.Ronald terkekeh kecil, tangannya mengelus pipi Arumi yang halus seperti pantat bayi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak