LOGINDi dunia pasca kiamat, para wanita cantik dan bertubuh langsing dibuang ke jalanan karena dianggap mandul. Aku bertekad membawa mereka pulang untuk 'menyembuhkan' rahim mereka....
View More"Aduh...." Sebuah suara lirih terdengar di dalam sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh.
Seorang pemuda perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa seperti dihantam palu berkali-kali. Rasa sakit yang menusuk membuat pandangannya berkunang-kunang. Dengan susah payah ia bangkit dari lantai yang kotor. "Apa yang terjadi?" Pemuda itu memijat pelipisnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan yang ia tempati tampak kumuh dan berantakan. Dinding dipenuhi retakan. Besi-besi berkarat mencuat dari berbagai sudut. Aroma darah bercampur debu memenuhi udara. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara wanita tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan. "Jangan mendekat!" Suara itu penuh ketakutan. "Aku... aku bisa membunuhmu!" Pemuda itu langsung menoleh. Di sudut ruangan berdiri seorang wanita muda yang tampak sangat kurus, tubuhnya dipenuhi luka memar. Pakaiannya compang-camping, wajahnya pucat akibat kekurangan gizi. Meski begitu, kecantikannya tetap terlihat jelas. Wanita itu menggenggam pisau pendek dengan kedua tangan yang gemetar hebat, tatapannya penuh kewaspadaan. Tiba-tiba, rasa sakit yang jauh lebih hebat menyerang kepalanya. "Ugh!" Dia memegangi kepalanya erat-erat. Dalam sekejap, gelombang ingatan asing membanjiri pikirannya. Ribuan potongan memori muncul secara bersamaan. Pemandangan dunia yang hancur akibat perang nuklir, radiasi mematikan, dan runtuhnya pemerintahan tergambar jelas. Dunia memasuki era baru di mana hukum kehilangan makna dan nyawa manusia lebih murah daripada sepotong roti. Namun, yang paling gila dari dunia baru ini adalah standar kecantikannya yang sangat ekstrem. Wanita bertubuh besar dan gemuk dianggap sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Mereka bisa mendapatkan hidup nyaman, diperebutkan oleh para pemimpin faksi, dan hidup dalam kemewahan. Sebaliknya, wanita yang memiliki tubuh ramping, pinggang langsing, dan wajah cantik justru dianggap cacat. Mereka dicap lemah, tidak produktif, memiliki penyakit, dan dianggap sebagai pembawa sial. Akibatnya, para wanita cantik menjadi kelompok yang paling tertindas di dunia. Mereka diusir, dihina, dan dibiarkan mati kelaparan di jalanan. Dunia telah benar-benar kehilangan kewarasannya. Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu perlahan mereda. Pemuda tersebut terengah-engah sambil menatap kosong ke depan. Ekspresi keterkejutan perlahan muncul di wajahnya. "Astaga..." Suara seraknya menggema di dalam ruangan. "Aku bertransmigrasi ke dunia akhir zaman dan menempati tubuh pria bodoh yang menjadi pesuruh sebuah geng kecil?" Nama pemilik tubuh ini adalah Arman Zulkarnain, seorang pria bertubuh besar dan berotot. Sayangnya, pemilik tubuh asli dikenal sebagai orang bodoh yang hanya tahu menuruti perintah. Arman menghela napas panjang, lalu ia menatap kedua tangannya. Otot-otot besar terlihat jelas memenuhi lengan dan dadanya, tubuh ini jauh lebih kuat dibanding tubuh aslinya. "Aneh sekali..." Senyuman pahit muncul di bibirnya. "Sebelum mati, aku adalah bos gangster yang ditakuti banyak orang. Aku mengendalikan wilayahku sendiri dan memiliki puluhan anak buah. Hanya saja, aku terlalu percaya pada orang yang salah." Sebuah ingatan lain muncul di benaknya. Wanita di sudut ruangan ini ternyata adalah hasil tangkapan pemilik tubuh asli. Rencananya, ia ingin menyerahkan wanita tersebut kepada bos geng sebagai hadiah. Sayangnya pemilik tubuh asli terlalu bodoh. Dia lupa bahwa bos geng mereka hanya menyukai wanita bertubuh gemuk. Akibat kesalahan itu, ia dihajar habis-habisan oleh rekan-rekannya sendiri hingga tewas. Setelah itu, mereka meninggalkan tubuhnya begitu saja di bangunan tua ini bersama wanita tersebut. Arman menghela napas kasar. Ia menatap wanita itu. "Turunkan pisaumu. Aku tidak akan menyakitimu." "Pembohong!" Wanita itu mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding yang retak. Napasnya memburu. "Kau yang membawaku ke tempat neraka ini! Kau mau menyerahkanku pada mereka!" "Dengar," Arman mengangkat kedua tangannya perlahan, mencoba menenangkan wanita itu. "Kepalaku baru saja dihantam sampai rasanya mau pecah. Begini, anggap saja orang yang barusan membawamu ke sini sudah mati. Aku tidak punya niat menyerahkanmu kepada siapapun." Mata wanita itu membelalak, campuran antara ketakutan dan ketidakpercayaan menyelimuti wajah pucatnya. "Jangan mendekat atau aku benar-benar akan menusukmu!" Arman berhenti melangkah, memijat pangkal hidungnya. Situasi ini benar-benar kacau. Tidak ada makanan, tidak ada perlengkapan bertahan hidup, dan ia terjebak bersama tawanan yang siap membunuhnya kapan saja. Tepat ketika pikiran itu muncul, sebuah suara mekanis tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. [Ding!] Arman membeku, matanya menyipit. Layar hologram transparan berwarna biru muncul di hadapannya tanpa peringatan. [Sistem Keluarga Harmonis berhasil dipasang! Jalin hubungan dengan wanita pilihan Anda, tingkatkan afeksi mereka dan dapatkan Poin Harmonis. Poin dapat digunakan untuk membeli berbagai item di Toko Sistem. Selain itu, tuan rumah juga dapat memperoleh transfer kekuatan, kemampuan spesial, dan berbagai hadiah misterius lainnya!] Arman menatap layar transparan tersebut tanpa berkedip selama beberapa saat. "Sistem?" Suara Arman terdengar penuh ketidakpercayaan. Belum sempat Arman mencerna hal tersebut, suara langkah kaki berat dan tawa kasar mendadak terdengar dari luar bangunan. "Hei, coba periksa ke dalam! Pastikan si bodoh Arman itu sudah benar-benar jadi mayat. Bos menyuruh kita membereskan semuanya, termasuk wanita pembawa sial itu!"Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan
Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c
Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi
Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.