เข้าสู่ระบบArman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam.
Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi dia angsung memiringkan tubuhnya. Ujung pisau hanya berjarak beberapa sentimeter dari dadanya. Wanita itu kesal, tapi tepat saat hendak menyerang kembali, suara teriakan menggema dari kejauhan. "Cepat! Dia ada di depan!" "Jangan sampai lolos!" Langkah kaki terdengar berlari mendekat. Wanita itu mendecak kesal. "Urusan kita belum selesai!" Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menarik kembali belatinya, lalu melompat mundur, tubuhnya bergerak sangat ringan. Hanya dalam beberapa saat, sosoknya telah berlari cepat meninggalkan Arman. "Hei! Tunggu!" Arman spontan mengejarnya, tetapi baru beberapa langkah ia teringat pada dua orang yang tadi ikut terjatuh bersamanya. Dia segera berbalik, Sekar dan Rini masih terduduk di tanah sambil meringis kesakitan. Arman mengulurkan kedua tangannya. "Ayo, cepat berdiri." Keduanya menerima uluran tangan itu. "Apa kalian terluka?" Sekar menggeleng pelan. "Tidak" "Aku juga tidak apa-apa, Mas." Mendengar jawaban itu, Arman sedikit lega, tapi suara orang-orang yang mengejar wanita tadi semakin dekat. Dia menoleh ke arah lorong Laboratorium. Tiga pria berpakaian hitam dengan senapan otomatis tampak berlari menuju arah mereka. Arman mengernyit. "Siapa sebenarnya wanita itu sampai dikejar mereka, padahal dia kurus?" Tanpa berpikir panjang, ia menggenggam tangan Rini dan Sekar, lalu ikut berlari mengikuti jejak wanita misterius tersebut. --- Ditengah malam yang sangat gelap wanita itu tetap berlari tanpa pernah menoleh ke belakang, kecepatannya luar biasa. Arman hampir kehilangan jejaknya berkali-kali. "Dia manusia atau mutan?" gumamnya. Tidak lama kemudian, wanita itu berbelok menuju area belakang Laboratorium BioGen. Sesaat setelah memasuki halaman belakang laboratorium, wanita itu menghilang. Arman berhenti, napasnya memburu. "Brengsek...." Ia memutar tubuh ke segala arah. "... kemana perginya wanita itu?" Dia tidak melihat ada siapa pun di sana. "Mas!" Rini tiba-tiba menunjuk ke arah samping. "Lihat itu!" Arman mengikuti arah telunjuknya. Di sudut halaman terdapat sebuah tempat sampah berukuran cukup besar. Belum sempat Arman berpikir lebih jauh, suara langkah kaki para pengejar kembali terdengar. "Mereka ke arah sini!" "Cari sampai ketemu!" Arman langsung mengambil keputusan. "Kita sembunyi dulu!" Ia menarik tangan Rini dan Sekar menuju tempat sampah tersebut. Tutupnya ternyata tidak terkunci. Begitu dibuka, ketiganya langsung melompat masuk. Namun, bukannya mendarat di atas tumpukan sampah, tubuh mereka justru kehilangan pijakan. "Lho?" "Mas!" "Aaaahhh!" Ketiganya meluncur menuruni sebuah lorong kebawah. Semakin lama, semakin cepat. Brugh! "Ugh!" Tubuh mereka akhirnya terjatuh ke lantai. Arman menjadi bantalan hidup bagi dua wanita yang jatuh tepat di atasnya. "Aduh..." Ia meringis sambil memegangi punggungnya. "Sakit sekali...." Dengan susah payah ia mendorong Rini dan Sekar yang ada di atasnya kemudian berdiri, barulah membantu kedua wanita itu bangkit. "Kalian baik-baik saja?" Kedua gadis itu mengangguk meski wajah mereka masih menahan nyeri. Arman mengusap debu di pakaiannya, baru setelah itu ia menyadari sesuatu, mereka tidak berada di tempat biasa. Ruangan itu sangat luas, lampu di langit-langit masih menyala terang. Padahal, sejak dunia runtuh jaringan listrik nasional sudah lama mati. "Ini..." Rini menatap lampu-lampu itu dengan mata membesar. "... bagaimana mungkin masih ada listrik?" Sekar buka suara. "Tempat ini sepertinya bunker rahasia." Arman mengangguk pelan, Instingnya juga mengatakan tempat ini menyimpan rahasia besar. Di saat yang sama, dari atas terdengar suara para pengejar. "Sial!" "Kemana mereka menghilang?" "Aku yakin tadi mereka masuk ke area ini!" Beberapa langkah kaki terdengar mondar-mandir tepat di atas kepala mereka. Arman langsung mengangkat telunjuk. "Ssst..." Rini dan Sekar langsung menutup mulut, mereka bahkan menahan napas. Beberapa menit berlalu, suara langkah kaki mulai menjauh. "Mungkin mereka lari ke sisi timur." "Ayo cari ke sana!" Tak lama kemudian, keheningan kembali menyelimuti lorong bawah tanah. Arman akhirnya mengembuskan napas panjang. "Syukurlah...." Belum sempat rasa lega itu bertahan lama, sebuah suara wanita terdengar dari belakang mereka. "Berani sekali kalian masuk ke tempatku!" Seketika Arman membalik badan dengan cepat, begitu pula Rini dan Sekar. Di belakang mereka sudah berdiri seorang wanita berambut hitam panjang mengenakan pakaian tempur berwarna gelap, memegang pistol berperedam yang kini diarahkan lurus ke kepala Arman. Jari telunjuk wanita itu telah berada di pelatuk siap menembak kapan saja. Arman perlahan mengangkat kedua tangannya, belum sempat dia bicara. Sebuah layar biru transparan muncul di depan matanya. [Ding! Terdeteksi wanita yang memenuhi syarat sebagai anggota Keluarga Harmonis. Nama : Rahayu Rahma Tingkat Kecantikan : 94/100 Poin Afeksi : -10/100 Tingkatkan Poin Afeksi target untuk memperoleh Poin Sistem. Hadiah Tambahan: Saat Poin Afeksi mencapai 100/100, fitur "Berbagi Kemampuan" akan otomatis terbuka.]Arman dan Rahayu akhirnya tiba kembali di tempat persembunyian di ruang bawah tanah laboratorium yang hanya diterangi satu buah lampu darurat.Begitu suara langkah kaki mereka terdengar, dua sosok wanita yang sejak tadi menunggu dengan cemas segera berdiri."Mas!"Rini berlari paling cepat menghampiri Arman. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan akhirnya sedikit mengendur setelah melihat pria itu kembali dengan selamat.Tanpa ragu ia memeluk lengan Arman erat-erat. "Kalian tidak apa-apa, Mas?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Di belakangnya, Sekar hanya berdiri memandangi Arman dan Rahayu bergantian. Meski tidak seberani Rini dalam mengungkapkan perasaannya, sorot matanya sudah cukup menunjukkan betapa lega ia melihat keduanya kembali.Arman tersenyum menenangkan. "Kami baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."Mendengar jawaban itu, Rini mengembuskan napas panjang seolah beban di dadanya akhirnya terangkat.Sementara itu, Rahayu memandang interaksi keduanya d
Arman tertegun ketika suara seseorang tiba-tiba menggema dari kejauhan."Zombie! Ada zombie!""Cepat tembak!"Rentetan tembakan langsung menyusul, memecah kesunyian malam. Suara peluru menghantam dinding dan besi bergema di seluruh laboratorium.Trat! Trat! Trat! Trat!Arman refleks menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Zombie...?"Dia segera mengingat kembali serpihan ingatan pemilik tubuh aslinya. Sejauh yang diketahuinya, dunia ini memang telah memasuki era akhir zaman akibat berbagai bencana. Peradaban runtuh, hukum tidak lagi berlaku, dan manusia saling berebut sumber daya. Namun, tidak pernah ada informasi mengenai makhluk seperti zombie.Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Rahayu tiba-tiba berlari melewatinya dengan wajah serius.Arman terkejut, tanpa sadar ia meraih pergelangan tangan wanita itu. "Kau mau ke mana?" tanyanya.Rahayu berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku. Kalau terlambat, tempat ini tidak akan
Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan
Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c
Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi
Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di







