LOGINPram diminta menjadi pelayan oleh seorang nyonya yang cantik. Ternyata sang nyonya cantik seperti meminta pelayanan lebih! Para wanita penghuni rumah tersebut satu persatu juga meminta servis spesial. "Mas Pram! Aku butuh kamu secepatnya!"
View MoreHari yang paling bersejarah dan mendebarkan bagi masa depan dinasti Husodo pun akhirnya tiba. Sesuai dengan rencana taktis yang telah disusun matang oleh Sisil, Sarah, dan Sinar, prosesi pernikahan akbar Pram bersama empat wanita muda sekaligus yakni Dara, Bunga, Intan, dan Tari, resmi digelar di area dalam mansion mewah milik Pak Herman. Suasana di dalam kediaman megah berarsitektur klasik Eropa tersebut nampak begitu anggun, sakral, dan diselimuti oleh aura keintiman yang teramat sangat kental. Area ruang tengah telah disulap sedemikian rupa menjadi ruang prosesi akad nikah yang sangat elegan, dengan hiasan kelambu kain sutra putih, rangkaian bunga lili segar, serta pendar lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan yang hangat.Acara pernikahan darurat namun sangat terhormat ini sengaja diadakan secara tertutup, tanpa dihadiri oleh media ataupun kolega bisnis eksternal demi menjaga kerahasiaan strategi publik mereka. Tamu yang hadir hanyalah lingkaran dalam yang sang
Melihat Pram yang masih tertegun dalam keheningan yang panjang, Sisil, Sarah, dan Sinar segera mengambil inisiatif untuk bergerak cepat. Sebagai wanita-wanita matang yang terbiasa mengelola operasional korporasi besar dengan tingkat efisiensi tinggi, mereka tahu betul bahwa keraguan dan waktu yang terbuang hanya akan memperumit situasi batin sang kepala dinasti. Keputusan besar telah diketuk palu secara mufakat oleh seluruh lingkaran dalam mereka, dan kini saatnya mengeksekusi rencana tersebut menjadi sebuah realitas yang legal dan sakral.Sisil bangkit dari kursi sofanya, melangkah anggun mendekati meja kaca di tengah ruangan, lalu mengambil selembar kertas catatan dan pena yang tersedia di sana. ”Mas, karena semuanya sudah sepakat dan tidak ada lagi ganjalan rahasia di antara kita, tidak ada alasan untuk menunda-nunda hal baik ini lebih lama lagi,” ucap Sisil dengan nada suara yang sangat lugas, tegas, namun dipenuhi kelembutan yang menenangkan.Sinar dan Sarah segera bergeser dud
”Aku memang yang keliru, Sil. Aku terlalu kemaruk dan egois karena ingin memiliki kalian semua tanpa memikirkan batasan moral yang ada,” Pram akhirnya mengakui dengan nada suara bariton yang teramat sangat rendah, berat, dan dipenuhi rasa sesal yang mendalam. Kepalanya yang biasa mendongak penuh otoritas kini tertunduk samar di atas sofa tunggalnya, menerima kenyataan bahwa konstelasi hubungan yang ia bangun selama ini telah terbongkar seutuhnya di depan semua wanita yang ia cintai.Namun, di luar dugaan Pram, Sisil justru menggelengkan kepalanya dengan lembut. Tidak ada sepercik pun amarah, dendam, atau air mata kecemburuan yang keluar dari sepasang mata indahnya yang matang.”Kita semua salah, Mas. Bukan cuma kamu sendirian. Makanya itu, kami semua sepakat datang jauh-jauh ke Belanda ini biar kita bisa memperbaiki semuanya bersama-sama di sini,” tutur Sisil dengan nada suara yang teramat tenang, dewasa, dan penuh pengampunan.Pram mengangkat wajahnya, menatap Sisil dengan kerutan
Malam harinya, setelah seluruh rombongan dari Indonesia menyelesaikan jamuan makan malam yang meriah bersama pasangan Pak Herman dan Tante Jane di lantai bawah, atmosfer santai itu seketika bergeser. Pram membawa seluruh wanitanya untuk berkumpul di ruang keluarga yang terletak di lantai tiga mansion. Ruangan privat yang dilengkapi dengan deretan sofa melingkar dan perapian elektrik itu sengaja dipilih agar mereka bisa berbicara tanpa terganggu oleh kehadiran Pak Herman maupun Tante Jane. Pintu ganda lantai tiga ditutup rapat-rapat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa pekat dan menegangkan.Pram duduk di sofa tunggal utama, sementara para wanita mengambil posisi duduk melingkar di hadapannya. Sisil, dengan keanggunan matangnya yang selalu memancarkan aura kepemimpinan, duduk di tengah diapit oleh Bunga dan Intan. Di sisi lain, Sinar, Sarah, Tari, dan Dara duduk berdekatan dengan raut wajah yang bervariasi—mulai dari yang nampak tenang, cemas, hingga gelisah.Suasana hening
Pram berjalan ke meja rias Dara dan mengambil tube gel untuk pijat. “Lepas semua aja, lalu kamu tengkurap ya. Biar pakaiannya nggak kotor kena gel.“Dara menurut. Usai melepaskan you can see-nya, ia berdiri sedikit untuk menurunkan celana pendek berikut segitiga hanya.Mendadak pikiran Pram menjadi
Mengingat kondisi Bi Surti yang masih lemas dan tangannya yang terikat selang infus, Pram khawatir wanita itu akan jatuh terjungkal jika terus memaksakan diri dalam posisi berdiri seperti itu. Ia pun memutuskan untuk membuka mata sepenuhnya dan menangkap tangan Bi Surti."Astaga! Mas Pram... a-aku
Sisil mulai merunduk dan menghisap helm serdadu di ujung meriam Pram dengan lahap, sementara Pram juga membenamkan wajahnya di antara pangkal paha Sisil, menghisap dan menjilat lorong labirin majikannya yang sudah banjir cairan pelicin. Suasana di bibir kolam itu dipenuhi suara kecipak basah yang
Ia mencoba meraih bantal di sampingnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, namun gerakannya justru membuat mercusuar itu bergoyang ke kiri dan ke kanan, semakin memperlihatkan kegagahannya di depan mata Bunga. Pram merasa sangat malu sekaligus bingung dengan situasi yang luar biasa canggung ini.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore