Masuk“Kalau suamiku berhubungan sama wanita lain, kenapa aku harus menahan diri?” Gila sekali! Tawaran untuk bermain dengan majikannya sendiri, terus menghantui pikiran Arnol. Pun saat ini, saat dia sedang berdua saja di ruangan pribadi majikannya. Namun, Arnol terpaksa melakukan itu, demi kesembuhan ibunya. Terlebih, ketika majikannya itu selalu mengingatkan, "Kamu mau membiarkan ibumu mati menahan sakit cuma karena kamu mau sok suci menolak tawaran untuk jadi priaku?"
Lihat lebih banyak“Arnol! Monitor! Masuk, Nol!”
Suara cempreng Pak Maman meledak dari walkie-talkie yang bertengger di dada Arnol, memecah keheningan ruang bawah tanah yang luar biasa pengap.
Arnol meletakkan kardus arsip terakhir ke atas tumpukan dengan gerakan kasar. Selama bekerja di sini, memang dia selalu dapat pekerjaan kasar. Entah itu kuli, angkat barang, benerin listri, ngepel, dan lainnya.
Yang pasti, pekerjaan Arnol hanya pekerjaan biasa saja.
“Masuk, Pak Maman. Ada apa lagi ini? Pinggang saya rasanya udah mau copot,” jawab Arnol sambil menekan tombol PTT pada alat komunikasi tersebut. Napasnya masih ngos-ngosan.
“Banyak ngeluh kamu! Tinggalkan kardus arsip itu sekarang. Naik ke lantai eksekutif. Ke ruang CEO. Ada brankas raksasa yang harus kamu pindahkan ke troli,” perintah Pak Maman tanpa basa-basi.
Arnol membelalakkan matanya. “Waduh, ke ruangan Pak Andra? Brankasnya isi apa, Pak? Emas batangan atau isi dosa perusahaan? Kok tumben banget kuli macam saya yang disuruh ke ruang bos besar?”
“Banyak tanya kamu ini! Pekerja lain lagi pada istirahat makan siang. Cuma kamu yang tenaganya kayak kuli panggul pelabuhan. Buruan naik, Bos lagi ngamuk besar di atas. Jangan sampai kamu telat, nanti kamu diamuk juga!”
“Siap, Pak Maman. Meluncur sekarang. Doakan saya selamat dari perut buncit si Bos, kena gampar bisa koid aku,” kelakar Arnol.
Arnol mematikan sambungan, menepuk-nepuk seragamnya yang kotor, dan menghela napas panjang. Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang menunggu di rumah.
Pihak rumah sakit sudah meneleponnya tiga kali pagi ini. Ibunya membutuhkan biaya operasi secepatnya. Arnol benar-benar butuh pekerjaan ini. Dia rela melakukan apa saja, termasuk menjadi kuli angkut brankas di ruangan bos besar yang super galak itu.
“Ayo, Nol. Demi Emak. Muka ndeso, otak pas-pasan, minimal tenaga harus kepakai buat cari duit,” gumam Arnol menyemangati diri sendiri.
Arnol segera menyeret troli besi beroda empat menuju lift barang. Roda troli berderit nyaring di sepanjang lorong sepi.
Lift terbuka, dan jantungnya berdebar ringan. Bosnya, Pak Andra, adalah tipe pria yang gampang meledak. Arnol sering membatin, bosnya itu sangat mirip belalang kayu kurang gizi. Tubuhnya kurus, badannya pendek, tapi suaranya melengking tajam hingga membuat sakit telinga.
Arnol mendorong trolinya dengan sangat hati-hati. Dia berhenti tepat di depan pintu ganda ruang CEO yang terbuat dari kayu jati berukir.
Samar-samar, terdengar suara pecahan barang dari dalam ruangan.
Prang!
“Dengar baik-baik, wanita mandul! Kalau sampai bulan depan hasil USG kamu masih kosong, aku bawa perempuan lain ke rumah ini! Atau sekalian aku ceraikan kamu biar kamu jadi gembel di jalanan!”
Suara bentakan Pak Andra menggema keras hingga menembus pintu tebal. Arnol menelan ludah. Tangannya ragu-ragu menyentuh gagang pintu.
“Mas, kamu nggak bisa terus-terusan nyalahin aku! Kita sudah periksa ke dokter, dan dokter bilang—” Suara lembut namun bergetar dari seorang wanita membalas.
Itu suara Nyonya Liliana, istri bosnya Arnol.
“Dokter tolol itu nggak tahu apa-apa! Aku ini sehat, jangan asal tuduh kamu yaa! Benih-ku bibit unggul! Kamu yang nggak becus nyimpan benih! Perutmu itu yang bermasalah, dasar wanita mandul, jalang!” potong Pak Andra dengan nada menghina yang luar biasa menyakitkan.
Arnol merasa situasi ini sangat tidak tepat untuknya masuk. Dia ingin berbalik dan kabur, tapi suara bentakan dari dalam tiba-tiba membuyarkan niat Arnol untuk lari dari sana.
“Nunggu apa lagi di luar pintu, Hah?! Cepat masuk dan pindahkan brankasnya!”
Ternyata pintu itu tidak tertutup rapat, dan Pak Andra menyadari kehadirannya. Arnol terkesiap kaget. Dia buru-buru mendorong pintu dan melangkah masuk bersama trolinya.
Pak Andra berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan.
Di sudut lain, Nyonya Liliana berdiri menunduk. Wanita itu luar biasa cantik. Pakaian modisnya menempel pas di tubuhnya yang memiliki proporsi sempurna bak gitar spanyol.
“Maaf, Pak Andra, Bu Liliana. Saya disuruh Pak Maman memindahkan brankas,” ucap Arnol sambil menunduk dalam-dalam.
“Kamu! Ngapain bengong di situ? Matamu jelalatan ke mana-mana! Pindahkan brankas besi di sudut itu ke troli sekarang! Dasar kuli lamban!” bentak Pak Andra sambil menunjuk brankas raksasa di dekat rak buku.
“Siap, Pak. Saya kerjakan detik ini juga.”
Arnol segera memosisikan trolinya di dekat brankas. Dia menggulung lengan seragamnya hingga ke bahu.
Urat-urat di lengan dan bisep Arnol menonjol jelas. Otot-ototnya terbentuk alami dari kerja kasar bertahun-tahun yang tanpa disadari, istri Pak Andra menggigit bibirnya sendiri ketika melihat Arnol angkat-angkat seperti itu.
Pak Andra kembali menatap istrinya dengan sorot mata jijik.
“Kamu lihat dia?!” Pak Andra menunjuk tepat ke wajah Arnol dengan jari telunjuknya yang kurus.
“Kalau aku ceraikan kamu, hidupmu bakal melarat seperti dia! Kamu bakal mengemis di jalanan. Kamu cuma bisa hidup mewah karena aku! Tanpa aku, pria kotor, miskin, dan bau keringat seperti dia pun pasti ogah memungutmu!”
Arnol yang sedang membungkuk memeluk brankas besi mendadak kaku.
“Asem bener mulut si belalang kayu ini,” batin Arnol frustrasi. “Aku diam saja dari tadi berusaha nggak ikut campur, kenapa bawa-bawa fisikku ini, dasar Monyet?! Sudahlah muka pas-pasan, dibilang kotor dan miskin pula di depan wanita secantik ini. Sialan betul nasib kuli.”
Arnol menahan kekesalannya dalam diam. Dia menarik napas panjang, mengerahkan seluruh tenaga kulinya.
Brankas besi berukuran raksasa itu sangat berat. Normalnya butuh tiga orang untuk mengangkatnya dengan aman.
Arnol memeluknya erat, mengunci kuda-kuda kakinya yang kokoh, lalu dengan satu hentakan napas, dia mengangkat brankas itu sendirian. Punggungnya tegap menahan beban ratusan kilo. Dia memutarnya perlahan dan meletakkannya di atas troli dengan bunyi debuman pelan.
Bukk.
Suara isak tangis Nyonya Liliana mendadak terhenti total.
Dari sudut matanya, Arnol bisa merasakan tatapan wanita itu beralih padanya. Mata Nyonya Liliana melebar sedikit, menatap tak percaya pada brankas raksasa yang baru saja dipindahkan seorang diri oleh Arnol dengan begitu tenang.
“Bicaralah, Bodoh! Kamu pikir air matamu itu mempan buatku?!” Pak Andra kembali membentak, menyambar jas mahal yang tersampir di sandaran kursi kulitnya.
Jas itu terlihat kebesaran di tubuhnya yang kurus.
Pak Andra benar-benar terlihat seperti orang-orangan sawah yang siap diusir dari ladang jagung. Dia merogoh kunci mobil dari saku celananya dengan gerakan kasar. Wajahnya ditekuk kesal luar biasa.
“Jangan tunggu aku pulang malam ini. Aku mau cari hiburan di luar. Hiburan yang jauh lebih memuaskan dari wanita mandul sepertimu. Jangan jadi perempuan merepotkan yang berani meneleponku!” ancam Pak Andra dengan suara melengking.
Tanpa menunggu jawaban istrinya, pria kurus itu melangkah lebar melewati Arnol. Dia memelototi Arnol sekilas.
“Minggir kamu, kuli!”
Arnol mundur selangkah, memberi jalan. Pak Andra keluar ruangan dan menutup pintu dengan bantingan yang luar biasa keras.
BAM!
Kaca jendela ruangan bergetar hebat. Ruangan seketika hening. Hanya tersisa Arnol yang masih berdiri memegangi gagang troli, dan Nyonya Liliana yang masih mematung di tengah karpet tebal.
Keringat dingin mengucur deras di leher Arnol.
Berada di satu ruangan tertutup dengan istri bos yang baru saja disiksa secara batin sungguh situasi yang sangat canggung dan berbahaya.
“Aduh, Gusti. Saya harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum Nyonya ini nangis guling-guling minta tolong,” batin Arnol panik. “Lebih baik saya permisi sekarang juga.”
Baru saja Arnol melangkah, suara bentakan kembali terdengar dari belakang. “Dasar lelaki kurus kering, krempeng, modal bacot doang! Mati saja kamu sana!”
Keduanya melangkah masuk ke dalam lift. Keheningan yang pekat seketika menyelimuti ruang sempit itu. Arnol, yang pada dasarnya memang seorang pria pendiam, hanya bisa mengikuti situasi dengan cermat.Namun, benaknya tidak bisa tenang. Satu pertanyaan besar terus berputar di kepala Arnol: apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh sang nyonya setelah melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain? Tidakkah ada secuil saja rasa marah, kecewa, atau cemburu yang bergejolak di dada wanita itu?"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Arnol akhirnya, memecah kesunyian.Ia menatap punggung tegap sang nyonya. Namun, tidak ada respons sedikit pun dari wanita itu. Mengerti bahwa keheningan itu adalah isyarat bahwa sang nyonya sedang tidak ingin diganggu atau berbagi cerita, Arnol memilih untuk kembali mengunci mulutnya.Ting! Suara lift terdengar, disusul pintu yang mendenting terbuka."Nanti akan kuhubungi lagi," jawab Liliana dingin tanpa menoleh, lalu melangkah cepat keluar dari lift dan
Pakaian mereka telah kembali rapi dan sempurna seperti semula. Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa beberapa menit lalu, keduanya baru saja terlibat dalam pergumulan yang intim dan panas. Liliana sendiri tampak sibuk merapikan tatanan pakaiannya, atau bahkan sibuk melihat riasannya. Setelah merasa cukup ia menatap Arnol yang kini sudah rapi berdiri tak jauh dari Liliana."Aku yang akan menghubungi jika ada keperluan. Kamu dilarang keras menghubungiku lebih dulu. Terlalu rawan," ujar Liliana dingin sembari menyampirkan tasnya di bahu, kembali menatap penampilannya di cermin.Arnol yang berdiri tak jauh dari wanita itu mengangguk mengerti. Lagipula, ia tidak punya alasan untuk menghubungi Liliana. Waktunya terlalu berharga, dan ia lebih memilih menghabiskan waktu luangnya untuk menjaga ibunya. Karena itu Arnol hanya bisa mengiyakan dalam hati diiringi sebuah anggukan."Baiklah untuk hari ini selesai. Ingat untuk mengkomsumsi makanan yang bergisi, aku tak mau bibit ya
Di bawah siraman cahaya lampu temaram yang hangat, keheningan di antara Liliana dan Arnol melebur menjadi atmosfer yang sarat akan gairah, memang mereka menjalankan kontrak bisnis, tapi ada hasrat pribadi yag diluar dari kendali kontrak. Ada dahaga yang Liliana ingin tuntaskan.Gengsi yang selama ini Liliana pertahankan runtuh begitu saja di hadapan pesona maskulin sang kuli. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Arnol menundukkan wajahnya dan langsung mengunci bibir Liliana dalam sebuah ciuman yang mendalam.Liliana refleks terpejam, tubuhnya berdesir hebat saat belahan bibirnya disapu oleh pria di hadapannya. Semula itu hanya berupa pagutan lembut, namun lama-kelamaan Arnol mulai mengubah ritmenya menjadi lebih agresif. Lidahnya bergerak menjelajahi rongga mulut Liliana, memarkirkan dominasi mutlak yang membuat seluruh persendian wanita itu seketika terasa lemas.Liliana terdiam, kenapa lelaki ini berubah jadi lebih ahli dari sebelumnya, apakah Arnol memang ahli dalam hal ini, tapi
Liliana menatap ke luar jendela. Tampak seorang lelaki tengah berdiri di dekat pintu mobilnya sembari sedikit menundukkan kepala dengan takzim.Liliana perlahan menurunkan kaca jendela mobilnya."Ada apa?" tanya Liliana dengan nada suara yang sengaja dibuat ketus."Mohon maaf karena telah membuat Nyonya menunggu terlalu lama," ucap lelaki itu dengan suara yang terdengar sopan.Liliana seketika terbungkam. Ia menatap syok ke arah lelaki yang baru saja mengajaknya bicara."Arnol?" tanya Liliana, memastikan pendengarannya tidak salah.Lelaki itu mengangguk pelan mengiyakan. "Benar, Nyonya."Liliana sendiri dibuat benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya. Lelaki yang biasanya selalu datang dengan penampilan kumal dan berantakan itu kini telah berubah drastis. Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan tanpa pernah disisir, kini terlihat pendek dan tersusun rapi.Tanpa penutup rambut yang acak-acakan seperti dulu, kini alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.