Suami yang dijual itu ternyata Dewa Perang

Suami yang dijual itu ternyata Dewa Perang

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-05-24
Oleh:  Chana LeeTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
184Bab
5.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Indra hanyalah seorang pengemudi ojek online yang selalu dipandang rendah. Di malam ulang tahun istrinya, hadiah cincin sederhana yang ia berikan justru membuatnya dipermalukan di depan banyak orang. Mertuanya menghina, dan istrinya sendiri meminta cerai karena tak tahan memiliki suami miskin seperti dirinya. Penghinaan itu semakin menyakitkan ketika Hansen, anak orang terkaya di kota, datang membawa hadiah rumah mewah untuk istrinya dengan satu syarat: Dina harus menceraikan Indra. Di tengah rasa malu dan kemarahan yang membara, seorang wanita kaya dan misterius bernama Clara justru melihat potensi lain dalam diri Indra. Clara menawarkan sesuatu yang tak pernah Indra bayangkan sebelumnya: sebuah sexy hot offer. Ia membuka pintu menuju dunia rahasia para wanita berkuasa dan sosialita kaya yang haus tubuh lelaki. Tubuh Indra akan dibayar mahal, rahasia mereka akan terkunci rapat, dan hidupnya bisa berubah dalam satu malam. Dari pria miskin yang dihina semua orang, Indra kini berdiri di persimpangan. Menolak tawaran itu dan tetap hidup dalam hinaan… atau menerimanya dan membalikkan nasibnya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Harga seorang Lelaki

"Ambil sendiri!" bentah. seorang pria berjas itu sambil melempar beberapa lembar uang ke dada seorang driver ojek yang baru saja mengantarnya.

pria berjas itu tubuhnya tinggi, jasnya terlihat mewah jam tangannya pun mengkilat.

dia dikenal sebagai anak sekaligus pewaris dari salah satu orang terkaya di kota ini.

sementara, Uang yang ia lempar itu hanya uang dua ribuan, melayang sebentar sebelum jatuh berserakan di atas aspal yang sedikit basah

Indra sang driver ojol itu menatapnya beberapa detik, lalu ia mebghempaskan napas, seperti menahan emosinya, ia lantas menunduk dan memungut uang itu satu per satu dengan tenang. baginya, uang itu, meski recehan tapi sangat berharga baginya.

Indra terus memunguti uang recehan itu, sementara Motor tuanya masih menyala di pinggir jalan depan sebuah hotel mewah. Lampu terang dari lobi memantulkan bayangan tubuhnya di kaca gedung yang tinggi itu

sementara pria berjas yang merupakan Penumpangnya itu, berdiri dengan tangan di saku celana, menatap Indra dengan senyum menyungging dan bernada merendahkan.

"Aku suka cara kamu bekerja," ujar pria itu santai sambil menyeringai. "Disuruh ambil uang di tanah pun mau saja, dan masih bilang terima kasih pula, dasar sampah!."lanjut pria itu seakan punya dendam pribadi yang sengaja diluapkan pada indra.

Indra tidak menjawab, juga tidak terlalu menggiraukannya.ia hanya memasukkan uang itu ke saku jaketnya.

"Terima kasih, Pak," jawab Indra akhirnya pelan sambil mengangguk sopan, hidupnya sudah terasa susah karena himpitan ekonomi, susah menghadapi Omelan istrinya yang biaya hidupnya dan k3hidupannya yang tinggi dari mulai biaya make up dan juga kebutuhan sehari- hari maka, indra tidak meladeni pria itu karena, ia gak ingin menambah kesusahan dengan membuat masalah, apalagi dengan orang kaya.

karena Indra tahu persis bahwa, sebenar apa pun posisinya jika orang miskin bermasalah dengan orang,kaya, maka orang miskin akan menjadi salah, demikian yang indra pikirkan dan memang begitulah faktanya. bahkan hukum sekali pun bisa tumpul untuk orang berduit.

sementara,Pria berjas itu mendengus kecil sambil memicingkan mata menatap Indra, bagai, menatap sampah busuk di comberan.

nampaknya, Baru kali ini juga pria itu melihat seorang pengemudi ojek online yang wajahnya setampan itu. ada rasa iri juga sepertinya pada pria kaya itu yang wajahnya bisa dikatakan biasa saja. tapi setampan apa pun tetap kalah oleh pria berduit.

jelas sekali, Di bawah helm yang sedikit terbuka, wajah Indra terlihat jelas. Rahangnya tegas, hidungnya lurus dan lancip sempurn dan matanya tajam namun lembut.

Kulitnya bersih. Tubuhnya tinggi dan tegap dengan bahu lebar serta dada bidang yang tetap terlihat meski tertutup jaket ojol sederhana. dilihat dari postur, indra ini lebih pantas menjadi tentara bukan ojol. dan kalau dari tampang, Indra ini lebih cocok jadi aktor atau sekurang- kurangnya, indluenser.

Sejujurnya ia terlalu tampan untuk ukuran seorang pengemudi ojek.

saking tampannya, hingga Beberapa wanita yang lewat di trotoar bahkan sempat menoleh dua kali ke arahnya. bahkan ada wanita yang hampir kejedot tiang listrik, saking terpesonanya pada ketampanan Indra.

tapi di dunia ini, lelaki, tampan saja tidak cukup. kekayaan tetap berada di kasta tertinggi. untuk seorang lelaki.

mengerikan memang, tapi begitulah faktanya.

wanita akan cenderung lebih memilih lelaki kaya ketimbang lelaki tampan dan baik.

"Tampangmu terlalu bagus untuk tukang ojek, tapi nasibmu sial cuma jadi sampah, kotoran kota!," pungkas pria itu lagi sambil menilai wajah Indra dari dekat dan memukul kaca helm yangcyerbuka hingga tertutup di wajah Indra yang tampan itu

Indra hanya tersenyum kecil mendengar komentar itu.

Ia sudah sering mendengar kalimat seperti itu, hinaan seperti itu.

Padahal sebenarnya ia bukan tukang ojek sejak awal.

Ia adalah sarjana peternakan dari salah satu universitas ternama di Bandung. Empat tahun ia habiskan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, berharap suatu hari bisa bekerja di perusahaan besar atau membuka usaha peternakan modern.itu saja yang Indra Ingat, selebihnya Indra sudah lupa.dan Indra gak tahu, kenapa ia bisalupa pada sebagian kisah hidupnya.

Namun kenyataan tidak semudah mimpi.

yang Indra rasakan saat ini,Lowongan kerja sedikit. Persaingan sangat banyak. Beberapa perusahaan bahkan terang-terangan meminta uang agar bisa diterima.

jelas sekali, Indra tidak punya itu sehingga harus mengubur mimpinya sedalam mungkin.

kabarnya, Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Yang tersisa hanya sebuah motor tua peninggalan almarhum.

Motor itulah yang sekarang ia gunakan untuk menjadi pengemudi ojek online.

AwalnyaIndramerasa malu. karena masa iya sih sarjana harus ngojek?

Namun, eith! lama-lama ia sadar satu hal.

Selama pekerjaan itu halal, ia tidak perlu menundukkan kepala pada siapa pun.

"Malam ini ulang tahun istri saya," gumam Indra Indra sambil menyalakan kembali motornya. "Jadi saya harus cepat pulang." lanjutnya sambil menatap pria berjas yang masih berdiri di samping motornya itu.

Pria berjas itu yang tadi hendak berjalan menuju pintu hotel tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah wajah Indra.

"Oh ya?" katanya sambil mengangkat alis.

Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menyalakan layar.

"Lihat ini dulu!" kata pria itu sambil memutar layar ponselnya ke arah Indra.

Indra menunduk.

Tubuhnya langsung terasa kaku.

Di layar itu terlihat seorang wanita yang sangat ia kenal.

indra melihat Dina, Istrinya yangxmalam ini berulang tahun.

dalam layar ponsel itu nampak Dina yang sedang berdiri di koridor hotel dengan gaun hitam yang sangat ia kenal.

Di samping Dina berdiri seorang pria berjas elegant dengan senyum pongah seraya mengacungkan jari love ke arah kamera.

dan yang mengejutkan, Pria itu ternyata adalah yang sama dengan pria yang sekarang berdiri di depan Indra.

"Itu istri saya," kata Indra pelan dengan suara tertahan.

Pria itu tersenyum lebar mendengar pengakuan itu.

"Aku tahu," jawab pria itu santai.

pria berjas itu lantas mematikan layar ponselnya lalu menatap Indra dengan tatapan penuh ejekan.

"Perkenalkan," katanya sambil menepuk dadanya ringan. "Namaku Hansen. orang terkaya di kota ini,"

Nama itu membuat Indra diam beberapa detik.

Di kota ini hampir semua orang tahu siapa Hansen.

benar sekali, jika dia adalah Anak orang terkaya di kota. sehingga Indra merasa sangat kecil dan tak punya tenaga untuk bersaing dengan lelaki itu Kendari pun untuk bersaing memperebutkan istrinya. Indra benar-benar merasa tak punya tenaga

Hansen melangkah sedikit lebih dekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Baru saja kami keluar dari kamar hotel," kata Hansen dengan nada santai.

Indra tetap tidak bergerak.

Namun Hansen belum selesai.

Ia kembali membuka galeri ponselnya lalu memperlihatkan foto lain kepada Indra.

Foto Dina di atas ranjang hotel.

Rambutnya berantakan. Tubuhnya hanya tertutup selimut tipis.

Di sudut foto terlihat bahu seorang pria yang sedang memeluknya.

Hansen tersenyum tipis melihat reaksi Indra.

"Tubuh istrimu enak juga," kata Hansen sambil terkekeh pelan.

Ia menambahkan dengan nada mengejek, "Martabaknya ternyata masih rapat."

Indra masih diam menatap layar ponsel itu.

Hansen lalu berkata lagi dengan senyum sinis, "Dan jepitan dagingnya luar biasa."

Setelah itu Hansen memasukkan kembali ponselnya ke saku.

"Tapi santai saja," kata Hansen sambil menepuk bahu Indra dengan santai.

"Istrimu tetap bisa pulang ke kamu malam ini," lanjut Hansen dengan nada mengejek.

Ia menatap Indra sejenak sebelum berkata, "Perempuan seperti dia butuh pria yang lebih dari sekadar tukang ojek."

Setelah mengatakan itu Hansen berjalan masuk ke hotel tanpa menoleh lagi.

Indra masih berdiri di samping motornya.

Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.

Namun beberapa detik kemudian ia menarik napas panjang.

"Mungkin ada penjelasannya," gumam Indra pada dirinya sendiri.

Ia tidak ingin merusak malam ini dengan kecurigaan.

Beberapa waktu kemudian Indra sampai di rumah mertuanya.

Pesta ulang tahun Dina sudah ramai.

Begitu Indra masuk ke halaman rumah, seorang pria langsung berkata sambil tertawa, "Oh menantunya datang."

Beberapa tamu ikut tertawa mendengar ucapan itu.

Mertua perempuan Indra berdiri dengan tangan terlipat sambil menatapnya sinis.

"Kamu baru pulang narik ojek ya?" tanya wanita itu dengan nada merendahkan.

"Iya, Bu," jawab Indra sopan sambil tersenyum tipis.

Dina berdiri di tengah ruangan dengan gaun cantik.

Indra mendekat sambil memegang kotak kecil.

"Dina, selamat ulang tahun," kata Indra lembut.

Ia membuka kotak kecil itu lalu memperlihatkan cincin di dalamnya.

"Ini buat kamu," lanjut Indra dengan senyum tulus.

Seorang teman Dina langsung berseru sambil menunjuk cincin itu.

"Itu cincin imitasi ya?"

Tawa langsung pecah di ruangan itu.

Mertua Indra maju cepat lalu merebut cincin itu dari tangan Dina.

Ia memeriksanya sebentar lalu berkata dengan wajah marah, "Lima puluh ribu?"

Ia langsung melempar cincin itu ke lantai.

"Dasar menantu miskin!" bentaknya keras.

Ruangan dipenuhi tawa para tamu.

Namun tiba-tiba pintu rumah terbuka.

Seorang pria masuk dengan langkah santai.

Setelan jas mahal yang ia kenakan langsung menarik perhatian semua orang.

Beberapa tamu berbisik kagum.

"Itu Hansen," bisik seorang pria kepada temannya.

"Anak orang terkaya di kota," jawab temannya pelan.

Mertua Indra langsung berubah sikap.

Ia buru-buru berjalan menghampiri dengan senyum lebar.

"Pak Hansen!" serunya penuh antusias. "Kami tidak menyangka Anda datang!"

Hansen tersenyum tipis sambil menatap sekeliling ruangan.

Lalu matanya berhenti pada Dina.

"Selamat ulang tahun, Dina," ucap Hansen tenang.

"Terima kasih, Pak Hansen," jawab Dina dengan wajah tersipu.

Hansen mengeluarkan sebuah amplop tebal dari saku jasnya.

"Aku datang membawa hadiah," kata Hansen sambil menyerahkannya kepada Dina.

Dina menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar.

"Sudah buka saja," ujar Hansen santai sambil melipat tangan di dada.

Dina membuka amplop itu.

Matanya langsung membesar.

"Ibu... ini sertifikat rumah!" seru Dina terkejut.

Mertua Indra segera merebut dokumen itu dan membacanya cepat.

"Rumah mewah di Bandung..." gumamnya dengan mata berbinar.

Ia menatap Hansen penuh harap.

"Pak Hansen... ini benar?"

"Itu hadiah ulang tahun untuk Dina," jawab Hansen santai.

Beberapa tamu langsung berseru kagum.

Namun Hansen mengangkat satu jari.

"Tapi ada syaratnya," kata Hansen tenang.

Ruangan langsung hening.

"Syarat apa?" tanya Dina dengan suara ragu.

Hansen mengalihkan pandangannya ke arah Indra.

"Kunci rumah dan sertifikat itu akan kuberikan," kata Hansen perlahan.

Ia menunjuk Indra dengan dagunya.

"Jika kamu menyerahkan surat cerai dengan suami miskinmu itu."

Ruangan langsung sunyi.

Di sudut ruangan, seorang wanita dengan gaun merah elegan sejak tadi memperhatikan semuanya dengan tenang.

Ia memegang gelas wine sambil menatap Indra.

Wanita itu berdiri.

Sepatu hak tingginya berbunyi pelan saat ia berjalan mendekat.

Beberapa tamu berbisik.

"Itu Clara," kata seorang wanita pelan.

"Direktur perusahaan tempat Dina bekerja," jawab temannya.

Clara berhenti di depan Indra.

Ia menatap wajah Indra cukup lama sebelum berbicara.

"Kamu suaminya Dina?" tanya Clara tenang.

"Iya," jawab Indra singkat.

Clara mengangguk kecil lalu menilai tubuh Indra dari atas sampai bawah.

"Kamu ojek kan?" tanya Clara lagi.

"Iya," jawab Indra.

Clara tersenyum tipis.

"Antar saya pulang."

Motor mereka melaju di jalan malam.

Tiba-tiba tangan Clara meraba dada Indra dari belakang.

Indra terkejut.

"Bu?" kata Indra kaget.

Clara tertawa kecil.

"Tubuhmu bagus," bisik Clara di telinganya.

Tangannya turun menyusuri perut Indra.

"Pria seperti kamu jarang," lanjut Clara pelan.

Lalu tangannya masuk ke dalam celana Indra.

"Tongkat kamu besar dan juga panjang," bisik Clara lagi.

Indra benar-benar bingung.

"Apa maksudnya?" tanya Indra dengan napas berat.

Clara menunjuk sebuah hotel di depan mereka.

"Belok ke sana," kata Clara tenang.

Beberapa menit kemudian mereka berdiri di dalam kamar hotel.

Clara mendorong dada Indra hingga tubuhnya jatuh ke ranjang.

Ia menatap Indra dari kepala sampai kaki dengan tatapan penuh minat.

"Indra," kata Clara pelan.

Ia tersenyum tipis.

"Kita mulai negosiasi."Lanjut Clara sambil tersenyum seraya menatap tonjolan panjang dan besar di bawah pusar Indra.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Chana Lee
Chana Lee
............ selamat datang di buku baruku,Gengs. semoga berkenan,ya. ada pribahasa lama mengatakan ... TAK KENAL MAKA TAK SAYANG, maka dari itu yoks jsinggah, duduk/rebahan baca dengan nyaman dan jangan lupa follow,ya..........
2026-04-28 17:08:29
0
0
BliDek
BliDek
gas keun kak
2026-04-06 17:40:59
1
1
184 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status