แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Pein
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 11:29:33

Arman masih menatap layar hologram yang melayang di hadapannya. Tulisan-tulisan bercahaya itu terus berkedip, menampilkan satu fakta yang sulit diterima.

Sebelum sempat mencerna semuanya, dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dari balik pintu gudang.

Refleks seorang mantan pemimpin gangster yang terbawa sejak jiwanya bertransmigrasi. Dalam sekejap, Arman bergerak cepat mendekati wanita yang sejak tadi menodongkan pisau ke arahnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu dengan suara bergetar. Meski ketakutan, genggaman pada pisaunya sama sekali tidak mengendur.

Arman meletakan jarinya di mulut. "Jangan banyak bertanya. Jika kau ingin tetap hidup, patuhi semua perintahku."

Wanita itu menggigit bibir bawahnya, matanya dipenuhi keraguan. "Tidak... aku tidak percaya padamu."

Belum sempat Arman membalas, sebuah suara mekanis kembali bergema di dalam kepalanya.

[Terdeteksi wanita yang dapat dijadikan Keluarga Harmonis.

Nama: Sekar Ayu.

Tingkat Kecantikan: 93/100.

Poin Afeksi: -80/100.

Tingkatkan Poin Afeksi untuk memperoleh Poin Sistem. Capai Poin Afeksi 100 untuk membuka fitur Berbagi Kemampuan.]

Alis Arman sedikit terangkat. "Begitu rupanya cara kerja Sistem ini...." gumamnya dalam hati.

Namun, belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara engsel pintu berderit nyaring.

Kreeeek...

Pintu gudang perlahan terbuka, tatapan Arman langsung berubah dingin. Tanpa ragu, ia mencengkeram pergelangan tangan Sekar.

"Kau... lepaskan...." Sekar belum selesai bicara, sebuah hantaman mengenai tengkuknya.

Sekar bahkan tidak sempat menjerit sebelum tubuhnya lemas tak sadarkan diri. Arman segera merebut pisaunya, lalu membaringkan tubuh Sekar secara perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Sesudah itu, ia ikut merebahkan tubuhnya di lantai. Pisau disembunyikan di balik punggung, sementara napasnya dibuat setenang mungkin, seolah dirinya benar-benar telah menjadi mayat.

Tak lama kemudian, dua pria bersenjata memasuki gudang, salah seorang menatap tubuh Arman sambil mendengus.

"Sepertinya dia benar-benar mati," ucapnya yakin melihat tubuh Arman tidak bergerak.

Rekannya menggeleng. "Pastikan dulu. Kalau ternyata masih hidup, Bos bisa-bisa menguliti kita."

Pria pertama mengangguk. Dengan senapan sergap yang diarahkan ke kepala Arman, ia melangkah mendekat.

Kakinya beberapa kali menendang tubuh Arman, tidak ada reaksi sedikit pun, seringai puas pun muncul di wajahnya.

Dia menoleh ke arah rekannya sambil tertawa pelan. "Lihat? Kubilang juga apa dia sudah mati."

Rekannya menghampiri untuk memastikan, Arman yang sedang menahan napas dia menggenggam pisau ditangannya dengan erat.

Namun, saat pria itu semakin mendekat, tiba-tiba terdengar suara walkie talkie berbunyi. "Kodok dua, cepat bantu kami, ada serangan fraksi Utara!"

Pria itu langsung meraih walkie talkie dan berkata. "Baik, kami segera ke sana!"

Kedua orang itu saling mengangguk satu sama lain, kemudian bergegas keluar dari tempat tersebut dengan tergesa-gesa.

Begitu mereka berdua pergi, gudang kembali diselimuti keheningan. Arman mengembuskan napas panjang, tanpa membuang waktu, ia segera berdiri berjalan menghampiri Sekar yang masih tidak sadarkan diri.

Tatapannya berhenti beberapa saat pada wajah cantik wanita itu yang terlihat kusam. "Karena kau adalah wanita pilihan Sistem... aku akan merwatmu dengan baik."

Tanpa kesulitan, Arman membopong tubuh Sekar ke pundaknya. Namun, pada saat yang sama, suara langkah kaki tergesa-gesa mulai bergema dari luar gudang.

Rupanya pemberitahuan barusan juga tertuju anggota lainnya. Mereka kini berlari menuju wilayah utara untuk membantu rekan-rekannya.

Arman pun menyadari hal itu, dia mengintip dari pintu sebelum keluar dari tempat tersebut sambil menggendong Sekar dipundaknya.

Terlihat sekolompok orang bersenjata berlari ke arah Utara semua. Dia pun menunggu semua orang pergi dari sana terlebih dahulu.

Dia menunggu beberapa saat, selapas tidak ada orang lagi yang berjaga di sana, dia pun bergegas keluar dan berlari ke sebuah gang untuk melarikan diri.

Setelah berlari beberapa saat akhirnya dia berhenti disebuah bangunan yang dulunya bekas minimarket, dengan napas terengah dia merebahkan tubuh Sekar di lantai.

"Brengsek, jumlah mereka cukup banyak juga ternyata," gumam Arman sembari duduk dan bersandar di dinding mengatur napasnya.

Dia menatap Sekar beberapa saat, melihat tubuh kurus dan wajah pucat wanita itu, dia merasa kasihan. "Hidup di dunia akhir zaman pastinya sangat sulit, beruntung sekali kau bertemu denganku."

Menghela napas pelan, Arman masih mencoba mencerna apa yang terjadi pada dirinya yang kini berada di dunia akhir zaman.

Berkat ingatan pemilik tubuh aslinya, dia pun menyadari satu hal, meski bodoh tapi tubuhnya memiliki ketahanan terhadap radiasi.

Saat dia sedang memahami semua informasi, tiba-tiba terdengar suara teguran wanita. "Angkat tangan, serahkan semua sumberdaya yang kau milikki!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 10

    Arman dan Rahayu akhirnya tiba kembali di tempat persembunyian di ruang bawah tanah laboratorium yang hanya diterangi satu buah lampu darurat.Begitu suara langkah kaki mereka terdengar, dua sosok wanita yang sejak tadi menunggu dengan cemas segera berdiri."Mas!"Rini berlari paling cepat menghampiri Arman. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan akhirnya sedikit mengendur setelah melihat pria itu kembali dengan selamat.Tanpa ragu ia memeluk lengan Arman erat-erat. "Kalian tidak apa-apa, Mas?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Di belakangnya, Sekar hanya berdiri memandangi Arman dan Rahayu bergantian. Meski tidak seberani Rini dalam mengungkapkan perasaannya, sorot matanya sudah cukup menunjukkan betapa lega ia melihat keduanya kembali.Arman tersenyum menenangkan. "Kami baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."Mendengar jawaban itu, Rini mengembuskan napas panjang seolah beban di dadanya akhirnya terangkat.Sementara itu, Rahayu memandang interaksi keduanya d

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 9

    Arman tertegun ketika suara seseorang tiba-tiba menggema dari kejauhan."Zombie! Ada zombie!""Cepat tembak!"Rentetan tembakan langsung menyusul, memecah kesunyian malam. Suara peluru menghantam dinding dan besi bergema di seluruh laboratorium.Trat! Trat! Trat! Trat!Arman refleks menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Zombie...?"Dia segera mengingat kembali serpihan ingatan pemilik tubuh aslinya. Sejauh yang diketahuinya, dunia ini memang telah memasuki era akhir zaman akibat berbagai bencana. Peradaban runtuh, hukum tidak lagi berlaku, dan manusia saling berebut sumber daya. Namun, tidak pernah ada informasi mengenai makhluk seperti zombie.Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Rahayu tiba-tiba berlari melewatinya dengan wajah serius.Arman terkejut, tanpa sadar ia meraih pergelangan tangan wanita itu. "Kau mau ke mana?" tanyanya.Rahayu berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku. Kalau terlambat, tempat ini tidak akan

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 8

    Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 7

    Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 6

    Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 5

    Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status