로그인"Yono, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dita cemas. Tatapannya tertumbuk pada tas ransel kosong dan kerangkeng besi di tangan Sugiono.Sugiono menunduk, merapikan tali ransel di bahu. "Aku sudah dipecat dari proyek pembangunan, Bu Dita."Ibu Dita yang berdiri di samping putrinya langsung mendelik kaget, sebelah tangan menutup mulut. "Astaga! Siapa yang berani memecatmu...?""Ceritanya panjang, Bu. Kalau begitu, karena sudah tidak ada barang yang mau diangkat, saya pamit permisi dulu mau cari jalan," jawab Sugiono datar, berniat segera melangkah pergi menghindari kerumitan."Eh, jangan pergi dulu!" cegah Ibu Dita cepat, menahan lengan putrinya. "Dita, kamu ajak Pakde ini untuk ikut bersama kita di rumah saja. Kasihan, loh, sudah jam segini tapi dia malah mau pergi entah ke mana."Dita mengangguk cepat, mendukung penuh usul sang ibu. "Betul kata Mama, Yono. Sebaiknya kamu ikut kami masuk ke mobil belakang, ambil alih juga kerangkeng besi mu itu. Kucing belang, kucingmu kan?""Iya,
Wanita berambut kecoklatan itu menghentikan usaha sejenak. Ia menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu merosotkan sedikit kacamata minus yang bertengger di hidung pesek. Mengamati penampilan Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Perut wanita itu tampak sedikit buncit di balik balutan blus kerja, sementara bibir yang merona merah.Wanita itu melihat perawakan Sugiono yang kurus kering, pakaian kerja yang sudah kusut berdebu semen, serta kerangkeng besi berisi kucing yang diletakkan tidak jauh dari sana."Loh, memangnya Pakde bisa? Saya ragu kalau Pakde mau mengangkat koper ini. Berat sekali isi koper, penuh dengan buku laporan dan dokumen kantor," kata wanita itu dengan nada sangsi. "Tapi memang kebetulan, saya sedang mencari orang buat ngangkat barang karena troli di stasiun tadi penuh semua.""Tentu saja bisa, Bu. Saya masih kuat mengangkat koper. Jangan lihat dari luar saja. Otot saya masih sanggup membawa beban berat seperti ini," ujar Sugiono
Perampok bertato yang memegang celurit itu melangkah menyusuri lorong bus, merampas dompet dari tangan para penumpang secara paksa. Begitu tiba di deretan kursi Sugiono, ia melihat buruh paruh baya itu duduk dengan tenang tanpa menyerahkan apa pun."Heh, kakek tua! Tuli ya? Dompet dan tasmu, serahkan cepat sebelum kusebelah lehermu!" bentak sang perampok sambil mengarahkan ujung celuritnya ke depan wajah Sugiono.Sugiono mendengus pelan sambil mengusap hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tetap memegang kerangkeng besi Dita."Majulah," tantang Sugiono datar.Melihat perawakan Sugiono yang terlihat tua dan ringkih, perampok itu tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan buruh itu sebagai bentuk keputusasaan."Wah, cari mati rupanya si kakek tua ini!" geram sang perampok. Ia melayangkan tendangan keras mengarah ke dada Sugiono.Namun, sebelum sepatu bot perampok itu menyentuh sasaran, kaki Sugiono bergerak cepat. Dengan tenaga dari cincin di jarinya, kaki Sugiono meng
"Hei, jangan hanya menyuap kepala lele itu ke mulutmu! Daging bagian punggung yang empuk untukku, ingat perjanjian kita," protes Dita dari dalam kerangkeng besi dengan suara berbisik tajam.Sugiono mendengus pelan, memisahkan bagian daging lele yang bersih lalu menyarungkannya ke sela-sela jeruji besi menggunakan lidi sate. "Makan saja yang banyak biar tenagamu pulih. Jangan banyak protes kalau tidak mau kutinggal di pinggir jalan."Dita menyambar potongan ikan itu dengan gerigi taringnya yang menyamar, menggerutu pelan sambil mengunyah makanan. "Awas saja kalau kita sudah sampai di tempat tujuan. Akan kuubah wujudmu jadi kodok sawah karena sudah memperlakukan siluman sepertiku begini!"Abang penjual pecel lele yang kembali datang membawakan es teh manis melirik sekilas ke arah kerangkeng, lalu tersenyum maklum melihat Sugiono seolah sedang menanggapi gerutuan kucingnya sendiri."Silakan diminum es tehnya, Pakde. Maklum ya, kucingnya aktif banget dari tadi malam," ujar si abang penjua
Sugiono memasukkan beberapa helai pakaian usang ke dalam tas kain kusam miliknya dengan gerakan tenang. Di dalam saku celananya, amplop tebal berisi uang sepuluh juta rupiah dari Jaka terasa begitu nyata, memberikan rasa aman yang membuat keputusannya untuk meninggalkan kota ini terasa sangat mudah.Samsul menghela napas panjang, menghembuskan asap kretek ke udara malam kontrakan yang sempit. Ia melirik sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan tatapan heran."Kamu yakin mau langsung cabut malam ini, Yono? Masih banyak mandor lain yang butuh tukang berpengalaman. Lagian si Jaka memang bos sialan yang suka semena-mena," ucap Samsul sambil kembali menyeruput kopi hitamnya yang nyaris dingin.Sugiono mengemas barang terakhirnya, lalu menoleh ke arah Samsul dengan senyum tipis. "Tidak perlu, Sul. Kalau akarnya sudah busuk, mau pindah ke sudut kota mana pun hasilnya bakal sama saja. Jaka punya jaringan luas di seluruh area proyek metropolitan ini. Percuma bertahan kalau geraknya bakal te
Tanpa disadari, Surip—wakil kepala proyek yang sejak tadi berdiri gemetar di sebelah Jaka—mengalami hal aneh. Tatapannya mendadak kosong, langkah kakinya berjalan kaku tanpa kendali seolah terseret oleh kekuatan magis dari ritual Nyai Roro. Tubuhnya masuk sendiri ke dalam ruang arsip bawah tanah, tepat saat tumpukan semen tebal menutup rapat ruangan tersebut.Begitu lubang cor tertutup sempurna dan kesadarannya pulih, Surip baru berteriak histeris meminta tolong dari dalam kegelapan."Tolong! Buka pintunya! Aku di dalam!" teriak Surip panik, suaranya teredam oleh timbunan adukan semen yang berat.Di atas permukaan tanah, Jaka sama sekali tidak tahu bahwa orang yang masuk ke dalam ruang arsip bukanlah target yang ia inginkan. Ia berdiri menyeringai puas bersama para pekerja, mengira semen tersebut telah mengubur Sugiono hidup-hidup.Beberapa saat kemudian, suasana halaman proyek mendadak hening ketika sesosok tubuh muncul dari arah gerbang belakang. Sugiono berjalan santai sambil merok







