PESONA LELAKI PLUS-PLUS

PESONA LELAKI PLUS-PLUS

last updateLast Updated : 2026-07-16
By:  IRSADEUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
10Chapters
22views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sinopsis  "PESONA LELAKI PLUS-PLUS” Macho, mahasiswa  yang kerja paruh waktu di kafe, hidup pas-pasan. Gajinya kecil, bikin dia diremehkan teman dan dijauhi cewek. Suatu malam pulang kerja, dia ketemu Bianca, wanita misterius berpakaian glamor yang terlihat kesepian. Karena kasihan sekaligus lapar, Macho menerima tawarannya: menemani Bianca di hotel dengan bayaran. Dari situ hidupnya berubah. Awalnya polos dan gugup, Macho lama-lama sadar "menemani" yang dimaksud Bianca bukan sekadar ngobrol. Alih-alih menolak, dia justru masuk ke dunia baru. Bianca lalu merekrut Macho jadi "lelaki plus-plus" untuk melayani teman-temannya yang kesepian dan kaya. Dengan wajah tampan hasil makeover di salon, Macho jadi primadona. Uang mengalir, dia pindah ke apartemen mewah, dan bahkan merekrut teman-teman cowok lain. Di sisi lain, Macho tetap pacaran dengan Citra, gadis kampus yang tulus dan gak tahu apa-apa soal pekerjaan gelapnya. Dia jaga Citra sebaik mungkin. Tapi dunia ini penuh resiko: ada istri orang, ada guru, bahkan ada mafia yang mengincar. Macho harus pakai kecerdikan biar tetap aman, sambil mencari tahu asal-usulnya yang misterius. Dari anak miskin, jadi pria yang diperhitungkan... dengan harga yang harus dia bayar.

View More

Chapter 1

BAB 1

Jam 11 malam. Aku masih ngelap meja nomor 7 di Kafe Senja. Udah 3 kali muter di tempat yang sama. Pikiran entah kemana.

"Macho, tip malam ini 32 ribu," kata Mbak Dita sambil menaruh receh di tanganku.

Aku angguk. 32 ribu. 8 jam kerja. Cukup buat beli bensin 2 liter.

Di pojokan, ada 4 ibu-ibu kantor masih nongkrong. Salah satunya bisik-bisik sambil ngelirik aku.

"Itu loh kasirnya. Anak kuliahan kali ya. Kasihan."

"UMR juga kali. Pantas bajunya gitu-gitu aja."

Aku senyum. Pura-pura bodo amat. Buang sampah ke belakang.

Di toilet aku ngitung lagi. Gaji 1,3. Kost 600. Bensin 300. Sisa 400 buat 30 hari.

400 bagi 30. 13 ribu sehari.

Monologku:

Dua bulan lalu ayah ibu tabrakan. Sekarang aku sendirian. Ngekos. Kuliah semester 1. Semua biaya numpuk. TV sama kulkas udah kejual. Tinggal kasur sama kipas.

Harus kuat. Gak mau jadi beban siapa-siapa.

Keluar kafe aku jalan kaki. Motor mogok 3 hari. Dompet tipis. Aku berjalan dengan gontai walau pikiranku berkecamuk kayak nyamuk banyak berdengung di kepalaku.

Trotoar sepi. Cuma ada Pak Udin jualan cilok mau tutup.

Terus aku lihat dia.

Tante-tante. Dress merah darah. Belahan dada dalam. Heels tinggi. Rambut klimis. Duduk di kursi plastik sambil main HP dan ngerokok. Aku tertegun sejenak. Wanita, tengah malam dan gayanya yang seperti bukan wanita yang “benar.”

Cantiknya kelewatan. Auranya mahal. Bukan level aku. Dan aneh rasanya, jam segini masih berkeliaran. Apa nggak ada anak atau suami?, pikirku sambil tetap menengoknya.

Dia lihat aku. Mata kita ketemu.

Deg. Cepat-cepat aku menundukkan kepala takut dengan pikiranku sendiri yang berburuk sangka padanya.

Pesan cilok aja.

"Pak, 10 ribu."

Pak Udin racik. Wangi bawang gorengnya bikin perut keroncongan. 3 hari ini aku makan nasi kecap.

"Sepuluh ribu ya Mas," kata Pak Udin.

Tanganku masuk kantong. Ada 20 ribu. Uang terakhir.

Tiba-tiba lidahku kelu.

"Eh... jadi gak jadi Pak. Maaf."

"Apaan Mas! Udah aku racik ini!"

Orang di seberang pada nengok.

Aku melirik di sekitarku. Malu. Pengen nyungsep rasanya. Wajahku memerah. Dan dia datang, tepat disebelahku.

"Nih Pak, saya bayarin," tiba-tiba ada suara dari samping.

Tante itu. Udah berdiri di sebelahku. Ngeluarin 20 ribu dari dompet kecilnya.

"Kembalian gak usah."

Pak Udin diem. Ambil uangnya.

Tante itu nengok ke aku. "Kenapa? Lagi bokek?"

Aku melirik ke wajahnya. Bahkan sangat cantik dilihat dari dekat. Aroma parfum mahal nan lembut menyapa penciumanku. Aku geleng cepat. "Enggak Tante. Lagi diet."

Dia ketawa kecil. "Diet cilok? Baru denger aku."

Tanpa permisi, dia ambil 1 tusuk cilok dari bungkusan di tanganku. Nyicip. "Enak juga."

Aku hanya terpelongo dengan aksinya. Seakan tak percaya apa yang barusan terjadi.

Hening.

Terus dia ngomong pelan. "Kamu temenin Tante yuk."

Aku kaget. Aku memandangnya Lekat-lekat. Tengah malam, wanita cantik yang mengajak untuk menemani nya, aneh. Lalu aku cuma ngomong karena terkejut, "Hah? Temenin kemana Tante?"

"Aku kesepian. Bayarnya ya cilok tadi. Gimana?.”

Antara terkejut dan penasaran. Entah apa maksud tante ini sebenarnya. Tapi…baiklah, aku coba meladeni kemauan Tante ini.

"Tapi ngobrolnya dimana Tante? Warung kopi?"

Dia tersenyum dengan kepolosanku. Tante itu melirik dari atas sampai bawah. Seakan-akan berkata bahwa begitu polosnya aku berkata demikian.

"Warung kopi sudah tutup, Sayang. Ke hotel aja. Lebih tenang. Gak ada yang ganggu."

“Ke hotel??, berdua??... Ah.. Nggak mau… makasih Tan, aku pulang.”

Aku melangkah cepat ingin meninggalkannya. Tapi dia kemudian memanggilku.

“Tunggu!!.”

Aku berhenti sejenak. Langkah kaki menyusul setengah berlari dengan kakinya yang jenjang. Hembusan angin yang menerpa gaunnya, menyibakkan betisnya yang halus dan mulus.

Dan aku, melihat itu semua. Apalagi saat berlarian, gaun model “V” rendah membuat gundukan di balik blouse nya ikut berguncang. Aku menelan ludah.

“Dengar, Aku ngajak kamu nemani karena Aku butuh teman ngobrol. Aku lagi kesepian. Dan biar relax aku pengen kita ngobrol di hotel. Clear?.”

Aku menatap kembali wajahnya. Wajah kesepian. Di Balik bola mata nya tersimpan duka dan masalah. Dia kayaknya jujur dan tak ada salahnya aku menemani nya. Begitulah batin dan pikiranku saling membenarkan ucapan si tante itu.

“Tante nggak macem-macem kan.?”

“Suer la kewer-kewer. Aku nggak macem-macem sama kamu, cukup satu macam aja.”

Sejenak aku ragu. Tapi rasa penasaran membuatku ikut melangkah ke seberang jalan, menuju Civic merah yang terparkir, tempat dimana pandangan mata kami beradu tadi.

“Yuk, masuk.”

Aku manut kayak kerbau cucuk hidung. Aroma parfum mobil yang menyegarkan, membuat aku mencicipi sejenak kesegaran di dalamnya.

“Depan aja, biar enak ngobrolnya.”

Aku kembali menutup pintu belakang dan beralih disampingnya. Tentunya aku gugup, apalagi gaun lengan terbuka dan aroma tubuhnya yang menggoda membuat aku kikuk.

Untuk menormalkan suasana, kuberanikan diri bertanya.

“Tante dari mana dan mau kemana?.”

Dia menoleh sesaat, lalu kembali fokus melihat depan.

“Aku lagi sumpek nih. Bosen nggak ada kesibukan. Suami juga lagi dinas. Makanya cari suasana agar nggak sumpek.”

"Sibuk banget ya suami Tante?" tanyaku iseng.

Dia nengok. Tatapannya kosong. "Sibuk. Katanya keluar kota terus. Rapat. Bisnis."

"Terus Tante di rumah sendirian?"

"Iya." Dia ketawa getir. "Rumah gede. Dingin. Sepi."

Aku diem. Mulai ngerti. Ini bukan soal ngobrol.

Sampai Hotel Bintang lima. Dia memarkirkan mobil di parkiran hotel. Lalu bersama keluar menuju meja resepsionis. Mas resepsionis melirik dari atas sampai bawah.

"203. 1 bed," kata Tante Bianca.

"Lho Bu, 1 bed?"

"Iya. Dia keponakan saya." Dia langsung ngerangkul aku. Aku kaku kayak patung. Hanya tertegun dengan pengakuan tante tadi dan sikapnya yang santai merangkul aku.

Aneh

Kamar dingin. Sprei putih bersih. Bau pewangi.

Tante Bianca langsung lepas heels. Duduk di ranjang. Aku duduk di kursi pojokan.

"Kenalan dulu. Aku Bianca. Panggil Tante Bian aja."

Aku salim. M. Choki Tante. Panggil Macho."

"Nama bagus. Macho. Cocok sama badannya," katanya sambil ngelirik dari atas ke bawah.

Aku nunduk. Salah tingkah.

"Jadi Tante kesepian kenapa?" tanyaku memberanikan diri.

Sesaat dia menoleh aku dan memandang erat-erat. Lalu tertawa kecil. Bukan tertawa lucu, lebih mirip tertawa atas penderitaannya.

Aku bisa membedakan antara tertawa senang dan lucu atau tertawa menutupi getir dan gelisahnya perasaan si tante.

Dia tiduran, menatap langit-langit.

"Suami Tante sibuk. Seminggu pulang sekali. Katanya kerja. Tapi Tante tau... dia pasti ada perempuan lain."

Suaranya datar. Tapi ada perih di situ.

"Terus ngajak aku kesini..."

"Kamu beda, Macho. Dari mata kamu kelihatan capek. Capek jadi orang susah, ya? Tante juga capek. Capek tidur sendirian di ranjang dingin."

Aku diem. Karena bener.

"Iya Tante. Capek. Capek ditolak karena gak punya apa-apa. Capek kerja 8 jam cuma dapat 32 ribu."

Tante Bianca duduk di sebelahku. Wangi parfumnya nusuk.

"Mau minum? Biar rileks."

Aku mencium aroma alkohol dan minuman berkelas. Aku menolak. "Gak Tante. Aku gak bisa minum."

HP dia bunyi. Nama: SUAMI.

Dia liat. Terus reject. Buang HP ke meja.

"Lihat? Gak pernah nanya udah makan. Taunya transfer doang," bisiknya.

Terus dia deketin wajahnya. Jarak sejengkal. "Gimana kalau Tante bayar kamu 500 ribu? Temenin Tante semalaman. Ngobrol aja. Ngangenin."

500 ribu. Bisa buat bayar kos 1 bulan.

Tanganku gemetar.

"Gak Tante. Aku pulang aja."

Aku berdiri ke arah pintu.

"Macho," dia manggil.

Aku berhenti.

"Kalau kamu keluar sekarang, besok kamu tetap susah. Lusa juga. Tapi kalau kamu tetap di sini... Tante bisa bantu kamu. Beneran. Tante butuh ditemenin."

Pintu udah kebuka dikit. Angin masuk.

Dari belakang dia berbisik di kupingku. Nafasnya hangat. "Pilih, Macho. Jadi anak baik yang miskin... atau jadi anak pintar yang dibayar buat ngusir dingin di ranjang Tante?"

Aku nengok. Jarak kami mepet banget. Mata dia merah. Bukan karena nangis. Karena nahan.

"Tante... maksudnya apa?" tanyaku pelan.

Dia senyum. Cantik. Tapi rapuh.

"Kamu tau, Macho. Kamu cuma pura-pura gak tau aja."

Aku tercekat. Antara tawaran yang menggiurkan dan kenyataan hidup yang menggetirkan.

Aku yatim. Gak ada yang nolongin. Kalau nolak, besok makan apa. Kalau iya, aku jadi apa. Pelakor? Penghibur?

Tuhan... ini ujian apa jebakan sih?

HP Tante Bianca getar lagi di meja. Nama yang sama. SUAMI.

Dia gak angkat. Matanya tetap ke aku.

"Jadi gimana? Pintu... atau Tante?"

Handle pintu dingin di tangan kananku.

Di belakangku, Tante Bianca panas. Dan kesepian.

---

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Redezilzie
Redezilzie
next Thor ......
2026-07-15 12:02:17
0
0
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status