LOGINTok. Tok. Tok.
Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana. Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen." Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja." "Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku." Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik." Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa." Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih waras." --- Aku yang buka pintu. Rantai masih terpasang. Kuintip lewat celah rantai yang menggantung. Dua orang jas hitam. Wajah kosong. Yang satu bawa map. Salah satunya menatapku tajam. Lalu berkata. "Pak Arman nyuruh jemput Ibu," katanya. "Atas dasar apa?" "Atas dasar kontrak." Aku ngelirik ke belakang. Bianca udah berdiri di belakangku. Rapi. Daster diganti pake dress hitam. Wajahnya dingin. "Baik," kata Bianca. "Aku ikut. Tapi dia ikut juga." Kedua orang itu saling pandang seakan berembuk. Lalu yang satunya mengangguk. Jari orang itu mengetuk-ngetuk map. "Boleh." Kami turun. Lift. Parkiran. Mobil hitam. Sepanjang jalan gak ada yang ngomong. Cuma suara wiper menyapu kaca. Hujan rintik lagi. Mobil berhenti bukan di rumah Menteng. Tapi di ruko. Lantai 2. Lampunya kuning. Di depan ada tulisan kecil. AGENCY. Di dalam, ruangannya putih. Ada sofa. Ada meja. Ada empat kursi. Dan di kursi itu... ada tiga orang. Cowok. Umur 20an. Jas. Rambut rapi. Wajah pasaran FTV. Mereka nengok pas kami masuk. Aku kenal satu. Teddy. Pernah liat di gym. Lagi ngelap alat. Yang satu lagi Deni. Barista di kafe langganan Bianca. Tempat aku dan Bianca pernah bertemu klien istri pejabat. Yang satu lagi Ivan. Anak delivery yang pernah anterin makanan ke apartemenku. “Aneh” gumamku dalam hati. Darahku turun ke kaki. "Silakan duduk, Macho," kata suara dari belakang. Arman. Dia keluar dari pintu samping. Jas dilepas. Kemeja digulung. Di tangannya gelas whiskey. "Duduk. Kita ngobrol keluarga." Kami duduk. Lima orang di satu meja. Aku, Teddy, Deni, Ivan. Berjejer. Semua saling pandang. Mataku memandang lekat tiga orang itu. Teddy, Ivan dan Deni. Aku masih belum paham tentang semua ini. Begitu juga Teddy, Ivan dan Deni yang semuanya saling pandang. Bianca duduk di sebelah Arman. Patuh. Tapi matanya kosong. "Perkenalan dulu," kata Arman. Santai. Kayak tuan rumah. "Ini Teddy. Ini Deni. Ini Ivan. Dan ini Macho." Dia berhenti. Nyeruput whiskey. "Kalian berempat punya satu kesamaan. Kalian semua... anaknya Bianca." Ruangan mendadak senyap. Cuma suara AC. Kami berempat saling terkejut. Ada rasa dipermainkan dalam hal ini. Sejenak mata kami berempat memandang Bianca yang kelihatan tenang. Profesional. "Kalian kira kalian spesial?" lanjut Arman. "Kalian kira Bianca beneran janda kesepian yang butuh dipuaskan? Kalian kira kalian satu-satunya?" Dia ketawa. Pelan. "Tidak." Aku menatap ke Bianca dengan wajah marah. Dia menunduk. Gak berani natap. "Jelaskan!," kataku. Suaraku getar. Bianca angkat kepala. "Aku... aku bukan istri Arman." Kalimat itu kayak ditusuk ke dada. "Kami gak pernah nikah," lanjut Bianca. "Aku cuma... yang dia pelihara. Salah satunya." Arman tepuk tangan sekali. "Pinter. Jujur juga akhirnya." Dia jalan ke depan kami. "Lihat. Kalian semua sama. Miskin. Butuh uang. Punya muka. Punya tenaga. Dan yang paling penting... punya rasa bersalah yang gampang dimainin." Dia nunjuk aku. "Kamu. Butuh SPP. Butuh nolong keluarga. Aku kasih." Nunjuk Teddy. "Dia. Ibunya sakit. Butuh operasi." Nunjuk Deni. "Dia. Adiknya kuliah." Nunjuk Ivan. "Dia. Bapaknya di penjara karena hutang." "Terus aku kasih kalian ke Bianca," kata Arman. "Dengan cerita yang sama. Rumah tangga berantakan. Suami dingin. Aku korban. Tolong aku." Aku ngepal. Kuku menancap lagi. Wajahku merah padam. Hal yang sama kulihat sekilas terjadi pada ketiganya. Kami diperalat. "Buat apa?" tanyaku. "Buat ini," kata Arman. Dia ngeluarin map dari meja. Tebal. "Proyek Kementerian. Tender 800 miliar. Pengusaha-pengusaha bego butuh 'jembatan'. Butuh orang dalam. Butuh hiburan." Dia buka map. Isinya foto. Foto pejabat. Foto istri pejabat. Foto di klub. Foto di hotel. Beberapa pejabat dan pengusaha ada yang familiar kulihat di foto itu. "Bianca yang atur. Kalian yang eksekusi. Kalian temenin istri-istri mereka. Suapin. Puasin. Rekam. Terus kami pegang. Dan proyeknya... jatuh ke orang yang bayar kami." Monolog Arman berhenti. Diganti suara Deni yang ketawa pahit. “Hahahahahaha.” Aku tertawa lepas sambil berdiri. Betapa bodohnya aku selama ini dengan permainan mereka. Kutatap Arman dan Bianca bergantian. Ku lirik yang lainnya, diam membisu tidak seberani diriku. "Jadi kita ini gigolo. Sekaligus alat pemerasan." "Tepat," kata Arman. "Kalian bukan korban. Kalian karyawan. Gaji kalian lancar kan? 15 juta sebulan. Bonus kalau 'proyek' berhasil." Teddy nunduk. Ivan ngusap muka. Aku lihat Bianca. "Kamu tega?" Bianca senyum. Senyum yang udah gak ada jiwanya. "Aku juga korban, Macho. Hutang 1 miliar itu bener. Dia yang bayarin. Dan kalau aku gak jalanin ini, dia sebar video aku. Ke semua orang. Aku gak punya pilihan." "Bohong," kata Ivan pelan. "Kamu nikmatin juga." Bianca diem. Gak menyangkal. Arman duduk lagi. "Jadi sekarang kita rata. Kalian tau rahasia aku. Aku tau rahasia kalian. Fair." Dia dorong kotak kecil ke tengah meja. Bungkus hitam. Yang sama kayak yang pernah dia kasih ke aku. "Ini proyek terakhir. Yang paling gede. Besok diantar ke Dragon Club. Salah satu dari kalian." Hening. "Siapa yang mau?" tanya Arman. Gak ada yang angkat tangan. "Kalau gak ada yang mau..." Arman ngeluarin HP. Nunjukin video. Video aku dan Bianca. Video Teddy. Video Deni. Video Ivan. Semua ada. "Maka semua video ini tayang malam ini. Ke kampus. Ke keluarga. Ke kantor. Pilih." Aku liat ke kanan kiri. Teddy keringetan. Deni gigit bibir. Ivan udah mau nangis. Dan aku. Aku di tengah. Lagi. HP ku getar. Sekali. Pesan dari nomor tak dikenal. Foto. Foto kami berlima di ruangan ini. Diambil dari CCTV pojok. Di bawahnya tulisan: "BNN. Kami awasi. Jangan gerak." Jantungku berhenti. Arman belum tau. Bianca belum tau. Yang lain belum tau. Di depan: kotak yang isinya bisa penjarakan kami semua. Di belakang: BNN yang udah ngintip. Di samping: tiga orang lain yang sama-sama terjebak dan sama-sama bisa nusuk dari belakang. Dan aku, Macho. Harus mutusin. Angkat kotak itu... atau angkat tangan dan nyerah. Tapi kalau aku nyerah sekarang, siapa yang jamin Citra aman? ---Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be
Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m
Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih
Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl
Jam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer. Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho."Suara itu bikin darahku berhenti.Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak...""Duduk."Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bi