
PESONA LELAKI PLUS-PLUS
Sinopsis
"PESONA LELAKI PLUS-PLUS”
Macho, mahasiswa yang kerja paruh waktu di kafe, hidup pas-pasan. Gajinya kecil, bikin dia diremehkan teman dan dijauhi cewek. Suatu malam pulang kerja, dia ketemu Bianca, wanita misterius berpakaian glamor yang terlihat kesepian. Karena kasihan sekaligus lapar, Macho menerima tawarannya: menemani Bianca di hotel dengan bayaran. Dari situ hidupnya berubah.
Awalnya polos dan gugup, Macho lama-lama sadar "menemani" yang dimaksud Bianca bukan sekadar ngobrol. Alih-alih menolak, dia justru masuk ke dunia baru. Bianca lalu merekrut Macho jadi "lelaki plus-plus" untuk melayani teman-temannya yang kesepian dan kaya. Dengan wajah tampan hasil makeover di salon, Macho jadi primadona. Uang mengalir, dia pindah ke apartemen mewah, dan bahkan merekrut teman-teman cowok lain.
Di sisi lain, Macho tetap pacaran dengan Citra, gadis kampus yang tulus dan gak tahu apa-apa soal pekerjaan gelapnya. Dia jaga Citra sebaik mungkin.
Tapi dunia ini penuh resiko: ada istri orang, ada guru, bahkan ada mafia yang mengincar. Macho harus pakai kecerdikan biar tetap aman, sambil mencari tahu asal-usulnya yang misterius. Dari anak miskin, jadi pria yang diperhitungkan... dengan harga yang harus dia bayar.
Read
Chapter: BAB 11Ruangan sidang itu dinginnya bukan main. Dingin yang menusuk sampai ke sumsum. Bukan karena AC 16 derajat, tapi karena ratusan mata di dalamnya menelanjangiku hidup-hidup. Baunya mual. Kecampur bau kayu jati meja hakim yang udah minum keringat puluhan tahun, bau parfum mahal para pengacara, bau rokok yang nyelip di jas wartawan, dan bau logam dari borgol di tanganku._Tok. Tok. Tok._ Palu hakim menghantam tiga kali. Suaranya menembus gendang telinga. "Sidang perkara nomor 127/2026/PN.JKT atas nama terdakwa Macho Pratama, dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum."Jantungku naik ke tenggorokan. Rasanya mau muntah. Borgol baja di pergelanganku berat, dingin, dan meninggalkan luka lecet. Baju tahanan oranye yang aku pakai basah di punggung. Bukan karena AC, tapi karena keringat dingin. Aku duduk di kursi pesakitan paling tinggi, di atas podium. Disorot lampu. Dipajang. Kayak maling ayam di pasar.Di bawah sana neraka. Kamera TV nasional, kamera wartawan online, pulpen yang nulis tiap ke
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: BAB 10Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: BAB 9Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: BAB 8Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: BAB 7Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: BAB 6Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl
Last Updated: 2026-07-14