LOGINHujan baru reda.
Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air. Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis. Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman. Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi. Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?" Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak." Arman nengok. Matanya coklat. Tajam. Capek. Tapi tetap ngelawan. Dia senyum. Tipis. Cuma sebelah. "Orang pinter milih hidup." Dia ngeluarin dua map dari tas kerjanya. Taruh di bangku di antara kami. Satu coklat. Satu biru. "Buka yang biru." Jariku gemetar pas narik map itu. Di dalamnya kertas. Banyak. Dijepit. Rapi banget. Aku baca sekilas. Gak paham semua bahasanya. Tapi aku paham intinya. Gaji. Tugas. Kerahasiaan. Hukuman kalau bocor. Intinya, aku disuruh ngawasin istri dia. 24 jam. Foto. Laporan. Lokasi. Semua. Aku membaca ulang dan mencoba memahami arti yang tertera dalam berkas itu. Arman memperhatikan dengan seksama. Aku mendongak dan bertanya penuh keberanian. "Mengawasi istri sendiri?" tanyaku. Aku maksa suara tetap keluar. "Supaya dia gak cari yang lain," jawab Arman. "Supaya dia gak bikin masalah." Aku bingung apa maksud semua ini. Bianca adalah wanita yang baik walau sedikit nakal. Mencari pelarian karena hyper. Dan aku terjebak dalam permainan mereka. Atau… Bianca sengaja menjebakku?, aku bertanya pada diriku sendiri. “Kenapa harus aku, Pak?.” Dia jeda. Natap aku. "Kamu yang paling dia dengerin. Kamu yang paling dia percaya. Kamu tau cara bikin dia diem. Tanpa teriak. Tanpa bekas." Kalimat itu masuk ke kepala. Nancep. Jadi aku bukan manusia di mata dia. Aku alat. Aku peredam. "Tapi saya punya syarat," kataku. Cepat. Takut kalau kelamaan nyaliku hilang. "Saya gak mau kena masalah hukum. Dan saya mau tau saya kerja buat siapa." Arman diem. Angin lewat. Daun jatuh ke pangkuan map. Terus dia ketawa. Pelan. Dari hidung. "Berani juga." Dia geser map coklat. Isinya fotokopi. KTP. Kartu keluarga. NPWP. Nama Arman Wibowo. Kerja: Staf Ahli. "Itu kedok," katanya. "Buat ketemu orang penting. Buat bayar pajak." Dia nutup lagi. "Kerjaan beneran? Aku punya tempat. Club. Diskotik. Impor. Dan beberapa titipan yang bikin orang kaya lupa hutangnya." Darahku dingin. Bandar. "Saya gak mau pegang barang haram." "Kamu gak akan," katanya santai. "Kerja kamu cuma satu. Jagain dia. Lapor ke aku. Lewat HP ini." Dia ngeluarin HP baru. Masih segel. Ditaruh di atas map. "Nomor ini khusus ke aku. HP lamamu biar aku yang pegang. Biar kita sama-sama kebuka." “Gak bisa, Pak!. Ini privasi karena ini banyak berisi nomor penting bagiku.” Aku mengepal di bawah bangku. Kuku menancap ke telapak. Ini bukan tawaran. Ini jerat. Terserah kamu, jika menolak. Kamu sudah tahu jawabannya!.” Aku berpikir sejenak. Gak ada jalan keluar dari jebakan ini. Aku tak mau malu, apalagi kembali jatuh miskin setelah apa yang kudapatkan. Alhasil, pulpen tetap aku pegang. Tanda tangan tetap aku bubuhi. Karena kalau enggak, pintu keluar udah ketutup dari awal. Arman ikut tanda tangan. Terus dia berdiri. Merapikan jas. "Besok ke rumah. Kenalan sama istriku." Dia pergi. Orang di belakangnya ikut. Gak ada pamit. Gak ada salam. Aku ditinggal. Sama map, sama HP baru, sama rasa mual yang naik sampai ke leher. Muntah. --- Rumah Menteng pagarnya tinggi. Ada CCTV di tiap sudut. Satpam bukain gerbang tanpa nanya. Pembantu bukain pintu. Mukanya datar. "Ibu di atas." Tangga marmer. Dingin. Pegangannya licin. Di ujung lorong ada cahaya kuning dari celah pintu. Bianca ada di dalam. Duduk di depan meja rias. Daster sutra. Rambut terurai. Di meja ada lilin yang apinya udah mau mati. Wanginya manis. Bikin sesak. Dia nengok pas aku masuk. "Macho?" Matanya kaget. Terus menyipit. "Ngapain kamu di sini?" Aku melangkah mendekat. Bianca masih mendelik dan tak percaya aku bisa sampai dihadapannya. Aku duduk disebelahnya. "Aku disuruh Pak Arman. Jadi asistennya." Bianca diem lama. Dia berdiri. Jalan ke jendela. Buka gorden dikit. Di luar gelap. Taman kosong. "Delapan bulan," katanya pelan. "Delapan bulan dia gak pulang. Gak nyentuh. Katanya sibuk." Dia nengok. Matanya merah. Tapi gak ada air mata. Udah kering. "Tau kenapa? Karena aku gak bisa kasih dia anak lagi. Tiga kali. Yang terakhir gede. Dokter bilang sudah. Selesai." Suaranya datar. Kayak baca cuaca. "Sejak itu rumah ini dingin. Dia pulang cuma buat ganti baju. Dan aku... aku cari cara biar ngerasa masih ada." Bianca menangis. Setelah reda aku bertanya, “Dan mengapa kamu harus jadikan aku gigolo?. Pak Arman kaya dan rumah ini megah. Apa alasannya?, atau kalian berdua menjebak aku?.” Bianca ketawa kecil. Pahit. "Dua tahun lalu aku nekat. Aku buka usaha sendiri. Spa. Pinjam nama teman. Kalah. Bangkrut. Hutang satu miliar. Rentenir. Dan yang nolongin bayarin siapa? Dia." Dia menunjuk ke arah pintu. "Arman. Dengan satu syarat. Aku jadi istri yang baik. Di rumah. Jangan keluar. Jangan kenal siapa-siapa. Kalau aku langgar, hutang itu jatuh ke namaku lagi. Plus bunga." "Jadi kamu..." kataku pelan. "Jadi aku cari cara biar ngerasa masih hidup," potong Bianca. "Aku cari cara biar punya uang sendiri. Biar punya pegangan kalau suatu hari dia buang aku. Makanya ada kamu. Makanya ada yang lain." Aku semakin merasa aneh. Ada yang ganjil. Tapi aku nggak tahu itu apa. Otakku beku dan jiwaku kasihan melihat penderitaan Bianca. Walau bagaimanapun, Bianca telah melepaskan aku dari kemiskinan. Bianca melihatmu diam. Bianca menyentuh pundakku dan bertanya. "Jadi tugas kamu apa?" tanya Bianca. "Mengawasi kamu. Lapor ke Pak Arman." “Biadab!.” Lalu Bianca menatapku. Bianca angguk. Pelan. "Berarti kita sama. Sama-sama dipenjara. Dia punya cara mengikatmu. Kalau begitu, aku punya cara menghubungi mu.” Bianca berjalan menuju laci nakas. Mengambil sebuah HP baru yang masih bersegel. Lalu menyerahkan padaku. “Aku tahu, pasti HP mu ditahan. Kartumu disadap. Maka gunakan HP ini jika aku menghubungimu.” Aku menerima pemberian Bianca dan berlalu pergi. --- Hari-hari setelah itu kebelah. Siang aku pake jas. Duduk di lobi kantor. Dengerin Arman telpon dengan suara paling sopan. "Siap Pak. Data saya kirim." Malam aku jadi bayangan. Ikuti Bianca ke mall. Ke salon. Ke tempat gym. Foto dari jauh. Kirim. "Lapor. Ibu di sini. Sendiri." HP pemberian Arman bunyi juga. Isinya ancaman. "Aku liat kamu sama siapa. Ingat video itu." Aku mulai muntah tiap habis kirim laporan. Lama-lama aku ngerti polanya. Arman punya dua HP. Satu di laci mobil. Dikunci. Satu di saku. Tiap dia keluar, dia selalu bawa tas kecil. Hitam. Berat. Sopirnya pernah bilang pelan. "Anter titipan, Mas. Jangan dibuka." Bianca juga punya pola. Kalau Arman gak ada, dia pasti ke satu tempat. Hotel yang sama. Kamar yang sama. Tempat pertama kali aku ketemu dia. Mereka sama. Kosong. Dan aku ada di tengah. Jadi penambal. Jadi pendengar. Jadi mata-mata. Sampai akhirnya Arman manggil aku ke ruang kerjanya. Ruangannya gelap. Cuma lampu meja. Dindingnya ada lukisan yang harganya bisa buat beli rumah orang tuaku. Dia ngasih aku kotak. Kecil. Bungkus hitam. Berat. "Anter. Kasih ke orang. Jangan dibuka. Jangan nanya." Tanganku dingin pas nerima. Tempatnya rame. Musiknya nusuk ke dada. Bau alkohol campur parfum. Orang yang menerima kotak itu lihat aku dari atas sampai bawah. Terus bisik. "Hati-hati. Bos lagi dipanasin orang." HP getar. Nomor gak dikenal. Aku ke toilet. Kunci pintu. "Macho?" Suara perempuan. Napasnya kacau. "Ini aku. Bianca. Ketemu. Di tempat kita pertama. Penting. Soal Arman. Datang sendiri." Telepon mati. Aku keluar. Keringat dingin. Di satu sisi ada Arman. Pegang kontrak, pegang video, pegang hidupku. Di sisi lain ada Bianca. Yang pertama kali ngasih aku makan pas aku kelaparan. Di belakang ada Citra. Yang gak tau apa-apa. Dan di atas, entah siapa, yang mungkin udah ngintip dari lama. Aku di parkiran hotel. Kartu kamar di tangan. Dari dalam kedengeran suara isakan. Dan dari jauh Dua pasang mata tanpa kedip menguntitku. Orang suruhan Arman. Pintu kebuka. Remang. Bianca duduk. Di depannya laptop. Di layar ada dua hal. Wajahku. Dan satu folder. Namanya bikin jantungku copot. BUKTI ARMAN. "Macho... bantu aku," katanya. "Kita habisin dia. Atau kita yang habis." Dari luar ada langkah. Dua orang. Berat. Berhenti pas di depan pintu. Tok. Tok. Tok. Pintu belum dikunci. HP di saku getar. Pesan masuk. "Sayang kamu dimana? Aku kangen." Di depan, Bianca dan rahasia yang bisa meledakkan semua. Di belakang: orang yang ngetok. Di HP, orang yang nunggu aku pulang. Dan aku. Terjebak di tengah. Siang jadi anjing. Malam jadi peliharaan. Gak ada sisi yang bersih. Semua abu-abu. Semua kotor. Siapa yang ngetok? Dan kalau pintu ini kebuka... siapa yang pertama kali akan aku khianati? ---Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be
Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m
Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih
Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl
Jam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer. Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho."Suara itu bikin darahku berhenti.Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak...""Duduk."Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bi