LOGINSuasana sepi mencekam.
Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri. Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua. AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_ Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Matanya gak lepas dari pintu. Kayak nunggu malaikat pencabut nyawa dateng ngetok. Semua tegang. Menanti. Apa yang akan diperbuat Arman. Dan aku. HP di saku celanaku ngebakar paha. Getar. Sekali. Dua kali. Aku gak berani ngeluarin. Tapi aku tau isinya. BNN. Kami awasi. Jangan gerak. Satu kalimat. Tiga kata. Cukup buat bikin lututku lemes. FLASHBACK DUA MINGGU LALU Aku baru nyambung sekarang. Baru ngerti. Malam pertama aku disuruh antar kotak ke Dragon Club. Riko yang nerima. Dia buka dikit. Cuma ngintip. Terus nutup lagi cepet. Wajahnya berubah. Dia menarik aku ke pojok. Bisik. "Hati-hati. Bos lagi dipanasin." Waktu itu aku ngangguk. Mikirnya, oh rival bisnis. Oh saingan proyek. Bego. Ternyata yang "mempanasin" itu negara. BNN sudah 3 bulan mengendus Arman. Mereka tau dari mana? Dari transfer fiktif 50M ke rekening yayasan. Dari "titipan" tas Hermes ke istri pejabat. Dari tiba-tiba ada tiga istri direktur BUMN yang menang tender proyek 200M dalam waktu bersamaan. Pola nya ketahuan. Kotor. Rapi. Kejam. Mereka butuh orang dalam. Butuh tikus yang tiap hari keluar masuk sarang. Butuh tikus yang dikasih HP khusus dan disuruh lapor. Butuh tikus yang diundang duduk satu meja di "ruang keluarga" dan disodorin whiskey. Tikusnya aku. Aku inget tangan Riko gemetar waktu balikin kotak itu ke aku. "Anter balik. Jangan dibuka." Dia takut. Dan sekarang aku tau kenapa. FLASHBACK CITRA Apartemen gelap. Pengap. Cuma lampu kulkas yang nyala. Cahaya kuning temaram mantul di lantai keramik. Aku kasih dia kunci duplikat dua minggu lalu. "Kalau kangen, datang aja. Aku lagi ngejar duit buat kita." Sekarang dia duduk di lantai. Punggung nempel pintu kulkas yang dingin. Di pangkuannya HP. Layar nyala. Chat terakhir dariku. Lagi kerja. Nanti aku kabarin. Centang dua. 36 jam. Gak dibaca. Dia nelpon. Nada tunggu. Terus mati. Dia ke kostku. Pintu kekunci. Ngintip dari jendela. Baju-bajuku masih di kursi. Laptop masih di meja. Tapi aku gak ada. Dia ke kampus. Nemu dosen wali. Macho. Sudah dua minggu tidak masuk. Ada masalah keluarga kah. Citra ketawa. Suaranya pendek. Pahit. Pecah di ujung. Uang kuliahnya aja udah lunas bulan lalu. Katanya buat kita. Katanya bentar lagi enak. Katanya sabar ya. Kemana kamu Macho. Dia buka laci meja. Keluarin map coklat. Isinya print rekening. Saldo terakhir 2 juta. Itu semua yang aku sisain buat dia. Dia pegang pigura kecil. Foto kami. Liburan ke Anyer. Aku pake kaos oblong. Dia pake dress putih. Aku lagi ketawa. Dia nyender di bahuku. Jari dia ngusap pipiku di foto itu. Jangan jadi bajingan Macho. Bisiknya. Aku satu-satunya yang kamu punya. Dan aku udah taruh semua hidupku di kamu. Dia anak yatim. Aku juga. Kita janji gak akan ninggalin satu sama lain. Itu sumpah kita pas saat aku serius dengannya. Saat yang lain tidak begitu peduli padaku. Saat dia mau menerima cintaku. HP nya getar di lantai. Nomor tak dikenal. Citra angkat. Gak ngomong. Suara di seberang berat. Laki-laki. Kalau mau tau pacar kamu masih hidup atau enggak. Ke Ruko Agency. Lantai 2. Sekarang. Tut. Citra diam 5 detik. Seakan berpikir, ini telepon dari siapa?. Terus dia berdiri. Ambil kunci motor. Ambil jaket hitam. Tangannya gak gemetar. Malah terlalu tenang. Tenang nya orang yang sudah gak punya apa-apa lagi buat kehilangan. KEMBALI RUANG AGENCY _Tok. Tok_ Arman ngetuk meja dua kali pake jari telunjuk. Suaranya pelan tapi bikin kami semua refleks angkat kepala. Matanya mengedar memandang kami satu persatu. Menelanjangi kami. Kami malah nunduk. Sibuk sama pikiran sendiri. Sibuk sama rasa takut sendiri. Lalu Arman berdiri. Kursinya mundur. Bunyi berdecit panjang. Gusar. Dia jalan muterin meja. Sepatu pantofelnya bunyi di lantai marmer. Gak ada yang ngaku. Katanya. Suaranya datar. _Gledakkk_ Meja dipukul kuat. Aku terkejut. Begitu juga lainnya. Jantungku mau copot mendengarnya. Bagai bom yang jatuh tiba-tiba. Lalu dia kembali melirik. Baik. Dia berhenti di belakang kursiku. Napas whiskey nya nyampe ke tengkukku. Kalau gitu kita tayangin aja. Satu satu. HP nya diangkat. Layar sebesar telapak tangan itu nyala. Thumbnail pertama. Mukaku. Di sofa. Kemeja kebuka. Di sebelah Bianca yang setengah telanjang. Waktu berhenti. Nafasku berhenti. Darah naik ke kepala. Panas. Dingin. Panas lagi. Ini memalukan. Ini kotor. Ini bukti. Dan dilihat oleh semua orang di meja ini. Termasuk mereka yang punya rahasia lebih busuk. Aku coba tenang. Napas. Buang. Aku liat ke Teddy. Wajahnya pucat. Aku liat ke Deni. Bibirnya bergetar. Aku liat ke Ivan. Dia merem. Rahasia mereka juga bakal kebuka. Semua bakal dipermalukan. _BRAK_ Pintu belakang jebol. “POLISI. BNN. JANGAN GERAK!.” Lima orang masuk. Serentak. Pistol mengedar di tangan mereka sambil sedikit membungkuk.Kedua belah tangan jemarinya mengatup ke pistol, siap menyalak jika diinginkan. Rompi hitam. Tulisan kuning BNN di dada. Senjata laras pendek setengah diangkat. Dua bodyguard Arman reflek. Tangan masuk ke balik jas. “Turunkan!.” Teriak salah satu petugas. Satu bodyguard angkat tangan pelan. Yang satu lagi lari ke jendela. Belum sampai. Ditendang dari luar. Dia jatuh. Meringis. Arman. Dia cuma minum sisa whiskey di gelasnya. Teguk terakhir. Es batunya krek di mulutnya. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Profesional. Akhirnya. Katanya, “Lama amat.” Petugas maju. Borgol di tangan. Arman Wibowo. “Anda ditahan atas dugaan penyalahgunaan narkotika. Pencucian uang. Dan pemerasan.” Arman diem. Dia ulurkan tangannya. Pas borgol mengunci, dia nengok ke arahku. Senyum. Tipis. Tatapannya ngomong. Cuma aku yang ngerti. “Kotaknya. Jangan sampai ke mereka.” Terus dia digiring keluar. Punggung tegak. Bianca langsung ambruk dari kursi. Jatuh ke lantai. “Aku dipaksa. Aku punya bukti. Di HP ku. Di laptop. Tolong.” Teddy langsung angkat dua tangan. “Saya korban Pak. Saya dipaksa. Saya ada keluarga.’ Deni nangis. Beneran nangis. “Saya cuma butuh uang. Buat bayar utang.” Ivan diem. Wajahnya udah pasrah. Kayak orang yang tau dia bakal mati besok. Petugas nengok ke kami berempat. “Kalian!.” “Ikut kami. Untuk keterangan.” Aku gak gerak. Kotak itu masih di tengah meja. HP ku getar lagi di saku. Kotak itu barang bukti negara. Jangan sampai jatuh ke tangan lain. BNN Di luar sirine meraung. Merah biru mantulin dinding. Di dalam Bianca meratap. Di meja, kotak itu kayak berdenyut. Punya jantung sendiri. Teddy ngelirik aku. Bibirnya komat kamit. Pelan. “Jangan tolol!.” Deni nunduk. Bisik ke meja. “Ambil. Kabur. Kita bagi. 15M cukup buat kita semua.” Ivan cuma geleng. Keringat jatuh dari dagunya ke lantai. _Tik_ Tanganku sudah di atas kotak. Dingin. Berat. Kayak megang nyawa 20 orang. Lalu kuambil secepatnya saat semua lengah. Hanya insting, tak tahu apa isinya. Tapi aku merasa kotak ini penting. Dan di luar jendela. Di kerumunan orang yang ditahan polisi. Ada Citra. Aku lihat dia sekilas. Jaket hitam. Rambut dikuncir. Dia nengok ke atas. Ke lantai 2. Matanya ketemu mataku. Tak percaya. Kecewa. Hancur. Aku seketika menunduk. Malu. Karena tatapan itu bertanya satu hal. “Mengapa” Sekali lagi dia nengok. Aku menoleh. Dia gak teriak. Dia gak nangis. Dia cuma ngangkat dagu. Dikit. Seolah bilang. Pilih. Pilih aku. Atau pilih kotak itu. Pilih jadi manusia. Atau jadi tikus selamanya. ---Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be
Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m
Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih
Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl
Jam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer. Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho."Suara itu bikin darahku berhenti.Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak...""Duduk."Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bi