Share

BAB 2

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-10 22:58:13

Tanpa ragu Bianca menarik pergelangan tanganku. Tarikannya lembut tapi pasti, sampai tubuhku terdorong dan duduk di tepi ranjang bersamanya.

Terlalu dekat.

Aroma parfumnya bukan parfum murah. Mahal. Lembut. Tapi begitu masuk ke hidung, kepalaku langsung pusing. Wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Kulitnya bersih, bibirnya merah muda, matanya menatapku tanpa berkedip. Seolah sedang menimbang.

Tangannya turun. Mendarat di pahaku. Hangat. Jari-jarinya bergerak pelan, seperti menguji. Lengan kami bersentuhan dan ruangan itu mendadak kehilangan suara.

“Maksud Tante apa?”

Suara aku keluar pelan, mencoba menahan gugup. Aku berusaha terdengar tenang, tapi gagal.

Bianca tersenyum tipis.

“Aku tahu kamu anak kos. Masih baru kuliah, ya?”

Aku terkejut. "Kok Tante tahu?"

"Karena aku memperhatikan." Ia menunduk, memainkan ujung jarinya di pahaku. "Kamu tiap pulang kuliah selalu lewat depan butikku. Beli indomie, duduk di depan kos, baca buku sambil nunggu jemuran kering."

Darahku berdesir. Aku bergeser sedikit, memberi jarak. Polos. Bodoh.

Tenggorokanku kering.

"Terus... ngajak kesini buat apa?"

Ia mengangkat wajah. Tatapannya lurus ke mataku.

"Menurut kamu, Macho, kalau seorang wanita umur tiga puluh lima mengajak cowok umur dua puluh tahun ke hotel, tujuannya buat ngobrol soal skripsi?"

"Aku... kesepian," katanya pelan. Hampir seperti bisikan. "Rumahku besar. Dingin. Suamiku sibuk. Aku butuh hangat."

Kata itu menghantamku. Aku bergeser. Jarak dua jengkal. Tubuhku bergetar bukan karena takut. Karena bingung.

Bianca berdiri.

Dengan tenang ia menarik ujung kaosnya ke atas. Satu tarikan. Kaos itu lepas, memperlihatkan perut rata dan BH pink yang menahan dua bukit montok. Lalu tangannya ke pinggang, membuka kancing jeans. Resletingnya turun pelan, menimbulkan suara ssst yang membuat nafasku tercekat.

"Apa yang tante lakukan?" tanyaku. Suaraku serak.

Ia tidak menjawab. Hanya senyum.

Dalam hitungan detik yang terasa lambat, yang tersisa hanya pakaian dalam berwarna pink. Kulitnya putih, tubuhnya mengundang.

Aku menelan ludah. Di kepalaku dua suara bertarung. Satu menyuruh lari. Satu lagi menyuruh tetap duduk dan melihat. Logika dan nafsu bertarung di kepalaku. Nafsu menang.

“Kenapa diam saja?” bisiknya manja.

Ia mendekat lalu duduk di pangkuanku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya. Nafasku kacau. Berat tubuhnya menekan. Panas.

Aku bisa merasakan setiap lekuk tubuhnya melalui kulitku. Nafasnya hangat di leherku. Tangannya naik ke rambutku, mengacak pelan. Dadanya menempel di daguku. Lembut. Kenyal.

Jari-jarinya menyusup ke rambutku. Nafasnya hangat di telingaku. Dadanya menempel di daguku. Dan di bawah sana, aku sudah tidak bisa menyangkal lagi.

"Buka," perintahnya. Pelan. Tapi membuatku tidak bisa menolak.

Aku berdiri. Tangan gemetar melepas kaos. Lalu jeans. Saking buru-burunya, kaki kiriku menginjak ujung celana.

Tak.

Bugh.

Aku jatuh ke ranjang, terlentang dengan posisi konyol.

Bianca tertawa. Tawa lepas yang menggema di kamar. Ia memegang perutnya.

"Ya ampun Macho..."

Wajahku merah. Malu, marah, dan nafsu bercampur jadi satu. Aku bangkit dan kali ini melepas semuanya dengan benar.

Saat akhirnya aku benar-benar telanjang, ia tidak tertawa lagi. Matanya menatapku. Bukan ke wajahku.

Ke bawah.

Matanya turun. Menatap.

Nafasnya tertahan.

"Macho..." gumamnya. "Kamu... besar. Dan muda."

Ada bangga aneh yang muncul di dadaku. Pujian dari wanita secantik dia. Tubuhnya sempurna. Lengkung pinggul, dada yang penuh, dan lekuk di antara pahanya membuat kepalaku kosong.

Bianca mendekat. Tangannya menyentuh dadaku, turun ke perut, berhenti di bawah. Genggamannya lembut tapi kuat. Tangannya yang lain melingkar ke pinggang, menarikku lebih dekat.

Ia menatapku. Lama. Seakan bertanya dengan mata.

Lalu ia berlutut di depanku.

Dunia di kepalaku kosong.

Aku memejamkan mata. Menikmati. Ini yang selama ini hanya ada di khayalan.

Yang ada hanya sensasi. Hangat. Basah. Dalam. Ritme yang awalnya lambat, lalu semakin cepat. Nafas terputus-putus. Tanganku tanpa sadar meremas rambutnya.

Setiap kali ia mendongak, matanya bertemu dengan mataku. Ada nakal di sana. Ada menang.

Tubuhku mengejang. Nafasku tertahan. Dan akhirnya aku menyerah pada gelombang yang menghantam.

Bianca menerima semuanya. Tanpa protes. Ia berdiri, mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup.

Aku terduduk. Lutut lemas.

Perjakaku hilang. Di tangan wanita yang aku tidak tahu statusnya.

Tapi anehnya, di dada tidak ada sesal. Hanya ada kosong... dan ingin lagi.

Dari kamar mandi terdengar suara air. Beberapa menit kemudian Bianca keluar. Handuk melilit di tubuhnya, masih basah, masih wangi.

Bianca keluar dengan handuk putih melilit di tubuhnya. Basah. Wangi. Rambutnya menetes.

Ia menatapku dari atas sampai bawah.

"Tongkat sakti sudah berdiri lagi. Hebat kamu." Ia terkekeh. "Mandi dulu. Biar segar. Kita belum selesai."

Aku masuk kamar mandi. Air dingin mengguyur tubuhku tapi tidak memadamkan apa-apa. Saat keluar, Bianca sudah duduk di depan cermin, memakai lipstik.

Aku berdiri di belakangnya.

Tiba-tiba ia memelukku dari belakang. Hangat. Lembut.

“Kamu hebat dan luar biasa, Macho. Untuk pertama kali, kamu tahu cara membuat wanita merasa dibutuhkan.”

Jantungku berdegup. Aku berbalik menghadapnya. Sangat dekat.

Tanpa kata, bibir kami bertemu. Awalnya lembut. Lalu semakin dalam. Tangan kami saling mencari.

Tiba-tiba ia meraih tanganku dan menarikku. Pelukannya dari belakang. Erat.

"Kamu luar biasa, Macho. Untuk pertama kali, kamu tahu cara membuat wanita merasa hidup."

Bisiknya di telingaku membuat bulu kuduk berdiri.

Aku berbalik. Menghadapinya. Jarak kami hanya napas.

Tanpa aba-aba bibir kami bertemu. Awalnya lembut. Mencari. Lalu menjadi lapar. Lidah kami bertaut. Tangannya naik ke tengkukku, tanganku turun ke pinggangnya, ke punggungnya, ke bawah handuk itu.

Hingga akhirnya ia mendorongku pelan. Aku jatuh ke ranjang. Ia naik ke atasku. Menunggangi. Rambutnya terurai menutupi wajah kami berdua.

Ia menuntun. Pelan. Mengatur napas. Menatapku dengan mata yang berkaca.

Lalu pelan-pelan, ia menurunkannya.

Sakit dan nikmat datang bersamaan. Ia mendesah pelan di awal, lalu semakin dalam semakin cepat.

"Gede ya..." desahnya. "Isi aku, Macho."

Kami tenggelam. Dalam pelukan, dalam desah, dalam kesalahan yang sama-sama kami inginkan.

Kamar itu penuh dengan suara. Napas, desah, gesekan kulit. Aku menggenggam pinggangnya, membantunya. Ia melempar kepala ke belakang, punggungnya melengkung.

Kami bergerak bersama. Saling menuntut. Saling memberi. Sampai akhirnya tubuhku kembali menegang dan ia ikut menjerit pelan, mencakar punggungku.

Sampai akhirnya semua berakhir. Kami terkapar, berdampingan, kehabisan tenaga. Dada naik turun. Keringat membasahi sprei.

Monologku:

Ini salah. Ini dosa. Ini gila. Tapi kenapa rasanya seperti pulang?

Bianca bangkit. Mengambil ponselnya. Jarinya mengetik cepat. Wajahnya serius.

Lalu ia ke kamar mandi lagi.

Di ambang pintu ia berhenti.

"Aku harus pergi."

Aku menoleh. "Sudah selesai?"

Ia diam tiga detik.

"Kamu mau lagi?"

Pintu tertutup.

Pintu kamar mandi tertutup.

Monolog Bianca dalam hati:

“Dia masih polos. Kaku. Tapi jujur. Cairannya kental, hangat... dan dia gemetar saat pertama kali. Laki-laki. Selalu begitu. Tapi... kenapa dadaku terasa aneh setelah ini?”

—---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 10

    Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 9

    Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 8

    Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 7

    Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 6

    Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 5

    Jam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer. Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho."Suara itu bikin darahku berhenti.Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak...""Duduk."Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status