LOGINAku masih berperang dengan pikiranku sendiri. Anak yatim piatu. Masih ngekos dan hidup mandiri. Semua demi kehidupan yang lebih baik. Baru dua bulan lalu ayah dan ibu meninggal tabrakan maut di jalan raya. Aku baru kuliah semester satu. Butuh banyak biaya.
Kujual semua yang ada. Kami tinggal ngontrak. Hanya anak tunggal. Tapi semangat tak menyerah. Aku tetap lanjut sekolah dan bekerja di Kafe Senja. Mbak Dita bersedia membantu. Owner Kafe Senja hanya bisa bantu gaji harian sesuai pendapatan kafe. Komisi diberikan, saat kafe tutup. Lumayan untuk menambah ongkos dan makan walau tak seberapa. Rasa penyesalan masih membekas. Tapi rasa nikmat masih terasa. Walau wajah tak ganteng amat, tapi bodiku lumayan tinggi dan six pack. Aku rajin bantu tetangga yang bangun rumah dan mendapat upah saat liburan. Kadang ngangkat beras dan lainnya. Bianca sudah keluar dari kamar mandi. Tanpa malu bersalin pakaian di hadapanku. Sangat menantang. “Aku harus pergi. Sekarang.” Aku hanya diam tak bersuara. Bianca sudah mau pergi. Lalu memasukkan kontak ke HP ku. “Ini nomorku.” Bianca mendekat dan mencium pipiku kanan dan kiri. “Hati-hati.” Jawabku polos sambil mengamati punggungnya yang membuka handle pintu dan berlalu. Masih kedengaran langkahnya keluar. Padahal jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Aku beranjak pergi menutup pintu. _Srekk_ Lalu kembali tidur sampai pagi. Tidur dalam mimpi indah tentang pergumulan yang baru saja berakhir. Lamat-lamat sinar mentari menerobos celah-celah jendela. Aku mengucek mata. Bergegas mengambil arloji dan melirik. “Astaga… sudah jam 10!.” Sudah tentu terlambat ke kampus. Apalagi harus pulang ke kos-kosan tuk berpakaian. Aku termenung dan men scroll hp melihat nomor kontak Bianca. Lalu memencetnya. Aku mendekati hp tuk mendengar. Hanya suara dan tulisan memanggil. Sekali lagi hingga lima kali. Tapi tetap sama. Aku diam sejenak lalu jemariku lincah mengetik di tuts tombol hp. [Halo Bianca. Aku rindu. Apakah kamu ketagihan?] Aku diam dalam hening. Lalu bergegas mandi dan siap-siap check out. Berpakaian dan tiba-tiba. Hp berdering. Cepat-cepat ku angkat. “Hallo. Kamu dimana?” “Aku di rumah.” “Aku hanya memastikan keadaanmu apakah kamu baik-baik saja.” Terdengar suara renyah diseberang sana dan terdengar suara tertawa yang lepas seperti tadi malam saat menertawakan kekonyolanku. “Hahahahahaha… . Kamu ketagihan ya?.” “Hemm.. Nggak… Cuma iseng nelponin kamu.” Hening sejenak. “Kalau gitu, nanti sore kita jumpa di kafe Senja. Aku ada ide buat kamu.” “Okelah kalau begitu. Kita jumpa disana.” Telepon ditutup. Aku bergegas check out. Mata resepsionis seakan nakal memandangku. “Kok ditinggal sendiri, Mas?.” Aku melirik. Dan diam saja tak meladeni pertanyaan iseng itu. Sesampai di kos-kosan, aku kembali rebahan. Memandang langit-langit kamar dan termenung. [Aku gila. Atau aku sudah terpikat?] Kemudian tertidur. Jam tiga sore aku sudah nongol seperti biasa membantu Mbak Dita jadi pelayan di kafe Senja. Kembali ke aktivitas semula. Sebagai pelayan. Jam empat sore, Bianca hadir. Kali ini ditemani seorang wanita. Bianca dan temannya memesan minuman dan makanan. “Mas, Americano dua dan kalau beef.” Dia tersenyum. Aku bahagia. “Bentar ya, Mbak.” Aku bergegas ke meja orderan dan menyerahkan nota ke bagian dapur. Saat mengantar pesanan Bianca, Bianca mengenali temannya pada Macho. “Kenalin, ini Lidya.” “Lidya” “Macho” Bianca berbisik, “Nanti kamu permisi bilang sama owner ada keperluan mendadak. Kita tunggu ya.” Aku hanya mengangguk. Mbak Dita memperhatikan dari jauh. Kasir juga menoleh heran karena Macho kelihatan akrab sama pengunjung. Aku bersikap biasa aja saat kerja. Tak ingin menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Tapi, setelah dekat, Mbak Dita usil bertanya. “Itu, siapa?” sambil tangannya menunjuk ke meja Bianca. Aku menoleh arah telunjuk Mbak Dita. “Oh.. itu temanku Mbak.” Mbak Dita melihatku aneh. Karena aku masih anak sekolah dan kedua wanita di ujung sana sudah berumur. Sekitar 40-an, jomplang jawaban Macho yang berkata itu, “teman”. Lebih cocok jadi tante Macho. “ Kamu yakin?” Macho meralat jawabannya. “Itu teman almarhum mama yang aku kenal, Mbak.” Macho berlalu pergi. Tak ingin ada pertanyaan lain yang menyusul. Sebelum pergi, aku ngomong sama Mbak Dita. “Maaf Mbak Dit. Tante aku itu mau ngajak aku pergi, ada urusan keluarga dan penting. Jadi, aku izin nggak kerja ya hari ini.” Mbak Dita memperhatikanku dengan serius. Lalu beralih ke meja Bianca bergantian. “Kamu serius?.” “Lha iya lah Mbak. Ini tentang masalah keluarga. Jadi, aku mohon Mbak ijinkan.” “Okelah kalau memang benar.” Aku lewat dari meja kasir mau keruangan ganti pakaian, kamar karyawan. Santi mencolek lenganku. Aku menoleh. “Macho… itu pacarmu?.” Aku paham arah pembicaraan Santi. Mataku tajam dan mimik pura-pura marah. Santi agak menunduk melihat wajahku. “Bukan, itu tante ku. Ah… tau urusan orang aja kamu. Masak kamu bilang itu pacarku. Aku kan masih muda, sedangkan di sana kan sudah tante-tante.” “Oooo… kirain..kamu suka sama….“, Santi menggantungkan jawaban dan tersenyum. “Husss… kamu pikir aku apa, San. Sialan kamu.. “ “Hahahahahha” Santi ketawa cekikikan. Aku diam dan berlalu pergi ke kamar ganti. Aku mulai siap-siap pulang. Bau badan dan keringat serta wajah berantakan memaksaku tuk ke toilet sebentar membenahi penampilan. Ku basuh muka dan semprotkan parfum agar tak malu di hadapan Bianca. Bianca dan temannya segera ke kasir dan membayar bill tagihan. Aku sudah keluar menyusul Bianca. “Masuk” Aku masuk dan membuka pintu belakang. Mbak Dita yang kepo langsung keluar memastikan bahwa Macho memasuki mobil merah itu. Tapi, saat di mobil. Bianca dan Lidya menutup hidung. Aku yang dibelakang memperhatikan dengan heran sikap mereka berdua. “Ada apa, Mbak?.” Bianca melirik dari spion kaca depan. Aku melirik spion. “Kayaknya kamu kebanyakan nyemprotin parfum.” Cepat-cepat aku menciumi aroma parfum yang melekat di bajuku. “Keciuman ya?”, tanyaku polos. Sambil tetap memegang baju dan menciumi pakaianku. Lidya dan Bianca saling pandang dan tersenyum simpul. Lalu kemudian ngakak melihat aksi konyolku. “Dasar bocah… . Hahahahahaahaha.” “Sialan, “ rungutku pura-pura marah. “Aku hanya tak ingin Mbak berdua malah nyium aroma tak sedap badanku. Makanya aku semprot kan parfum. Maaf ya.” “Hai, Macho. Kamu cukup panggil nama aja. Kalau di luar boleh lah. Tapi saat seperti ini kamu cukup panggil nama. Lidya juga. Nih teman aku yang mau kukenali sama kamu. Yang kita omongin tadi pagi!.” “Kan emang Mbak, Eh maaf.. Lidya dan Bianca kan dah tante-tante. Wajar dong kalau panggil Mbak, nggak enak panggil yang tua dengan nama aja.” Bianca kembali menatap dari kaca depan ke arahku. Aku melihat tatapan itu. “Emang coba tebak, umur kami berapa?.” Aku berpikir sambil menaksir umur keduanya. “Paling tiga puluh tahun”, ujarku mantap. Keduanya kembali saling pandang dan tertawa lepas.. “ Hahahahahaha” Aku tertegun dan bingung. [Karena kelihatannya seperti keduanya masih tiga puluhan kayak umur Mbak Dita.] “Emang aku salah ya?.” “Lha… iya lah… nih dengarin ya bocah… aku umur 42 tahun dan Lidya udah 43 tahun.” “Ah… yang bener.. Kok kelihatan masih fresh dan muda?.” Keduanya hanya tersenyum. Jalanan kota sore ini memang padat. Apalagi jam pulang kantor dan sekolahan. Civic kemudian berbelok ke arah Simpruk, memasuki sebuah taman. “Kok.. Kemari?.” —----Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be
Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m
Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih
Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl
Jam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer. Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho."Suara itu bikin darahku berhenti.Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak...""Duduk."Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bi