Chapter: Extra 3Pesawat komersial mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle.Bagi Maura, ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan awal dari mimpi yang sempat tertunda. Pernikahan pertama mereka berjalan dingin tanpa ada pelukan hangat, apalagi sebuah perjalanan bulan madu.Namun kini, di bawah langit Paris yang romantis, Dewangga siap membayar tuntas semua waktu yang hilang.Mereka menginap di sebuah hotel mewah di kawasan Place Vendôme. Dari balkon kamar, Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan.Begitu tiba, Dewangga langsung memeluk Maura dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya dengan mesra."Akhirnya kita sampai, Sayang. Maaf ya, baru bisa membawamu ke sini sekarang," bisik Dewangga lembut.Maura berbalik, mengalungkan tangannya di leher Dewangga sambil tersenyum manis. "Tidak ada kata terlambat, Dewangga. Aku bahagia sekali."Empat hari di Paris dilewati bagai untaian mimpi indah. Pada hari pertama, mereka berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Montmartre, menikmati atmos
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Extra 2Maura masuk ke ruang rias itu. Mungkin memang kehadirannya yang seorang istri bos akan membuat canggung beberapa orang, padahal dia ingin berbaur dengan siapapun tanpa perlu memandang siapa dirinya.Seorang perias dengan dua asistennya menyambut Maura dengan ramah, meminta wanita itu duduk di kursi menghadap cermin.“Mbak, yang lain beneran ada di sebelah?" tanya Maura sedikit canggung.“Iya, Bu.”“Kok rasanya ada yang aneh, ya?” tanya Maura mulai merasakan keganjilan.“Sebaiknya bu Maura nggak perlu berpikir macam-macam. Fokus saja biar hari ini tampil maksimal," sahut penata rias itu dengan nada menenangkan yang justru terdengar mencurigakan.Kecurigaan Maura memuncak saat dia diminta mengenakan gaun yang tak mirip dengan gaun bridesmaid. Gaun itu berwarna putih bersih, berbahan premium, dengan potongan megah yang sangat indah."Mbak, ini salah kostum nggak, sih? Kenapa gaun saya lebih mirip gaun pengantin?" tanya Maura panik sambil menatap pantulan dirinya di cermin.Penata rias
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Extra 1Ponsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang. Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura. “Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura. “Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah. “Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia. “Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?” “Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” “Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu. “Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana. “Siang ini?” “Iya, siang ini. Waktu itu
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Bab 136. TAMATHari telah pagi sekitar pukul enam. Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya. Maura pikir pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan. Maura pikir pria itu tak menginginkan anaknya karena pernah menawarinya opsi untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri. “Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas. Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak. “Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya. “Zefan? Kamu udah di
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 135. IzinDewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Bab 134. Serangan MalamHari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki
Last Updated: 2026-05-18

Pesona Upik Abu
Sri Rejeki jatuh dari tangga dan menderita amnesia ketika dia masih berusia delapan tahun.
Saat dia berusia 18, dia mulai menemukan potongan ingatannya yang hilang.
Gadis itu mulai menyadari bahwa orang tua yang merawatnya selama sepuluh tahun itu mungkin bukanlah orang tua kandungnya. Apalagi sejak dia menemukan ada 'Sri Rejeki lain' yang sudah meninggal 10 tahun lalu, yang kemungkinan anak kandung orang tuanya.
Kecelakaan yang ibunya alami, membuat ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, tak bisa bekerja. Demi menopang perekonomian keluarga karena ayahnya seorang penjudi dan tukang mabuk, Sri menggantikan ibunya bekerja di sebuah apartemen milik Sagara, anak majikan ibunya yang seorang pewaris kaya.
Dari apartemen itulah, dia mulai mendapatkan sebuah titik terang yang memandunya mengungkap kecelakaan 10 tahun lalu.
Dalam pencarian jati diri, kebohongan demi kebohongan harus dia rajut, sebagai pelindung hatinya agar tetap utuh, membawanya pada takdir yang tak mudah dijalani.
Read
Chapter: Bab 47“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenuhnya percaya meski rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan lagi.Hari pengumuman kelulusan tiba dengan atmosfer yang penuh suka cita. Di aula besar SMA Tunas Bangsa—sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Mahardika—nama Sri Rejeki menggema di barisan paling depan. Dengan perjuangan keras di antara himpitan ekonomi dan peliknya kehidupan pribadi, Sri resmi dinyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ujian tertinggi.Setelah acara sekolah usai, Sri segera pulang ke rumah kontrakan dengan membawa selembar kertas kelulusan. Namun, begitu dia sampai, keadaan kaca jendela rumah tampak pecah. Beberapa pot terguling dan berantakan, mem
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 46Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 45Suasana di dalam rumah kontrakan sore itu terasa luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.Sri melangkah masuk dengan sisa rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya. Ia baru saja pulang dari sebuah kafe, setelah memenuhi undangan pertemuan mendadak dari Aurora.Sri menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah angkuh Aurora dari benaknya. Hatinya juga masih sedikit diselimuti rasa bersalah akibat canggungnya hubungan dengan sang ibu pasca-insiden selebaran dan gaun kemarin. Namun, begitu Sri mendorong pintu ruang tengah, langkah kakinya seketika terkunci.Bu Sulastri duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, namun bahunya bergetar hebat. Di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas dokumen berlogo hukum yang sangat formal.Itu adalah dokumen Non-Disclosure Agreement (NDA) alias surat kontrak hubungan palsu antara Sri dan Sagara Mahardika.Jantung Sri rasanya sepe
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: Bab 44Ketegangan di rumah kontrakan belum sepenuhnya mereda sejak insiden selebaran dan gaun tempo hari. Hubungan Sri dengan Bu Sulastri masih terasa canggung dan diselimuti keheningan yang menyesakkan.Namun, di tengah situasi rumah yang mendingin, sebuah paket untuk Sri tanpa nama pengirim datang. Ketika Sri membuka paket tersebut di kamarnya, dia terlonjak kaget.Aroma bangkai tikus menyebar ke seluruh kamar sempit, membuat Sri sangat mual dan hampir muntah. Sri tahu ini adalah sebuah teror. Tapi dari siapa?Ketika gadis itu menemukan secarik kertas terlipat di dalamnya, dia mengambilnya.[Temui aku di kafe Le Petit, Jalan Diponegoro. Jam 3 sore. Jangan coba-coba mangkir kalau kamu tidak ingin ibumu tahu hubungan rahasiamu dengan Sagara.]Sri tidak perlu menebak dua kali siapa yang mengirimkan paket itu. Gaya bahasa yang angkuh dan penuh ancaman itu sudah pasti milik Aurora Natawijaya.Meskipun tahu ini bisa jadi adalah sebuah j
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: Bab 43Beberapa hari berlalu. Bagi Sri, hari Senin adalah hari yang penuh dengan kesibukan administratif.Setelah menghabiskan beberapa jam di sekolah untuk mengurus berkas-berkas kelulusan pasca-ujian, ia menaiki ojek online untuk pergi bekerja di apartemen Sagara seperti biasa.Sementara itu, di sebuah warung kopi di dekat area sekolah Sri, Pak Surya sedang duduk dengan rokok yang terselip di jemarinya.Matanya yang merah akibat kurang tidur terus memikirkan sosok pria kaya raya yang mengantarkan putrinya tempo hari. Sebagai seorang penjudi yang terlilit utang di mana-mana, insting serakahnya menuntut jawaban dan berharap melihat mobil mewah itu lagi di sana.Saat ia sedang menguping obrolan beberapa anak sekolah yang melintas, pandangannya tidak sengaja tertuju pada tumpukan kertas sampah di sudut dekat tempat pembuangan. Di sana, selembar kertas berukuran A4 yang sudah agak lecek dan kotor menarik perhatiannya.Pak Surya membungkuk, memu
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: Bab 42Pagi hari di apartemen The Imperial Residence diselimuti keheningan yang menawan. Sagara berdiri di dekat meja panjang yang terletak di koridor luar ruang kerjanya. Matanya yang tajam menyipit, tertuju lurus pada sebuah buku bersampul kulit hitam tebal yang tergeletak di sana.Buku itu berisi seluruh data internal, laporan keuangan, hingga rekam jejak kecelakaan keluarga Natawijaya sepuluh tahun lalu yang ia kumpulkan secara diam-diam. Sagara sangat detail dan perfeksionis. Dia tahu persis posisi terakhir buku itu saat ia letakkan semalam. Dan pagi ini, buku itu telah bergeser beberapa sentimeter dari posisi semula.Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya. Hanya ada satu orang lain di apartemen ini. Sri.Sagara tahu gadis itu telah menyentuh dan kemungkinan besar membaca isi bukunya. Namun, alih-alih langsung mengonfrontasi atau bertanya, Sagara memilih untuk diam. Ia ingin mengamati dari jauh dan melihat apa sebenarnya yang a
Last Updated: 2026-06-13