LOGINMalam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan dan gedung memantulkan cahaya di kaca jendela unit apartemen sederhana milik Sri.Sri tengah berada di kamarnya, mengemas beberapa pakaian ganti dan barang-barang pribadi yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di kota J.Di ruang tamu, aroma teh hijau memenuhi udara. Sagara berdiri di sana. Atas desakannya yang tak ingin membuang-buang waktu, dia mengantar Sri ke apartemennya untuk berkemas-kemas.Pandangan Sagara berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, melihat-lihat isi apartemen itu yang sederhana.Rak setinggi 1,2 meter menempel di dinding, berisi deretan buku manajemen dan administrasi, korespondensi bisnis, manajemen waktu dan proyek, etiket dan protokoler, hukum dasar kantor, bisnis dan ekonomi, bahasa Inggris dan Mandarin, hingga beberapa buku pengembangan diri dan fiksi ringan. Di atas rak itu terdapat dua pot sukulen dan beberapa hiasan dan sebuah potret keluarga yang terdiri dari Sri, bu Sulastri, dan pak Surya.Sagara m
Aurora berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas sembari menatap foto-foto di ponselnya. Di salah satu foto, terlihat jelas Ananta sedang terdiam seolah terlihat tertekan sembari menatap Sri yang tersenyum. Otak licik Aurora segera berputar cepat. Jika ia langsung datang melabrak Sri di restoran atau di depan Sagara, Sagara pasti akan pasang badan untuk melindungi sekretarisnya itu jika sampai pria itu tahu. Sagara pasti akan bersikap protektif pada wanita itu. "Tidak ... aku nggak boleh bodoh," gumam Aurora, dengan sebuah senyuman jahat yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. "Kalau Sagara menyembunyikan data busuknya, maka aku akan menghancurkanmu lewat jalur lain." Aurora tahu betul siapa pemegang kekuasaan tertinggi yang paling dihormati Sagara, yaitu Kakek Buana Mahardika. Sang patriark keluarga Mahardika itu sangat mementingkan status sosial dan kehormatan keluarga. Ditambah lagi, ada Dikara Natawijaya yang sangat protektif terhadap kondisi mental Anant
Restoran bernuansa klasik Eropa di sudut kota itu terasa begitu tenang siang ini. Alunan musik instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di meja nomor dua belas. Ananta Natawijaya duduk dengan punggung tegak. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerutan halus tidak sedetik pun beralih dari pintu masuk restoran. Genggaman tangannya pada tas jinjingnya mengerat setiap kali lonceng pintu berdenting. Ketika sesosok gadis dengan blus kerja sederhana dan rambut cokelat gelap bergelombang melangkah masuk, wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar terang. "Sri! Di sini," panggil Ananta setengah berbisik, melambaikan tangannya dengan tidak sabar. Sri Rejeki mempercepat langkahnya. Jantungnya bertalu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyesakkan. Setiap langkah mendekati Ananta terasa seperti berjalan di atas paku. Di satu sisi, jiwanya meronta ingin berlari dan mendekap wanita itu sembari berteriak bahwa dia ada
Sentuhan tangan Ananta yang begitu hangat dan lembut mengirimkan gelombang emosi yang dahsyat ke dalam hati Sri. Dia ingin sekali berteriak dan memeluk wanita di depannya, mengakui bahwa dirinya adalah Aletha, putri kecil Ananta dan Dikara yang dikira telah meninggal tujuh belas tahun lalu, namun lidahnya kelu. Ananta Natawijaya masih menggenggam erat jemari gadis itu. Air mata wanita paruh baya itu mengambang di pelupuk mata, memantulkan binar kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun meredup sejak kehilangan putri kecilnya. “Tante benar-benar nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, Sri,” bisik Ananta, suaranya parau menahan haru. “Tujuh tahun lalu ... saat kamu pergi begitu saja, Tante merasa sedikit kehilangan. Tante bahkan beberapa kali meminta suami Tante untuk melacak keberadaanmu, tapi hasilnya nihil.” Sri merasakan tenggorokannya menyempit. Hangatnya genggaman tangan ibu kandungnya menyalurkan rasa rindu yang luar biasa besar. Namun, akal sehatnya langsung berteriak, mengi
Sore mulai tenggelam, meninggalkan keheningan yang mencekam di lantai eksekutif Astera Development Holdings. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membeku di sekitar meja kerja Sri. Jantung gadis itu berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya dengan ritme yang tak menyenangkan. Cengkeraman hangat namun kokoh dari jemari Sagara Mahardika di pergelangan tangan kirinya tidak kunjung mengendur. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri begitu dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sri bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi segar. Tatapan mata pria itu yang hitam legam dan dingin, seolah mampu menembus lapisan kebohongan yang selama ini dibangun Sri dengan susah payah. “Betul. Gelang ini pemberian tante Ananta waktu itu.” Sagara menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian dekat. “Kalau soal gelang itu, aku juga sudah tahu,” bisik Sagara, suaranya merendah. “Tapi yang paling ingin kudengar malam ini adalah alasan di balik benda yang satu i
Amarah yang membakar seketika memenuhi dadanya. Bagi Aurora, Sri Rejeki bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan ancaman fatal yang siap meruntuhkan posisi tunangan taktis yang selama bertahun-tahun ini ia banggakan di lingkaran sosial mereka. Bisa saja Sagara menanfaatkan wanita udik itu untuk menyingkirkan posisinya. “Jelas-jelas dia meninggalkanmu. Dia pergi dengan sengaja tujuh tahun lalu. Mengapa sekarang kamu membiarkannya ada di sisimu?” Sagara tersenyum mendengar pertanyaan yang di telinganya terasa bernada munafik itu. Aurora yang melihat senyuman itu, sekilas terkesima dan terkesan, namun detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat jantungnya terasa mencelus jatuh. “Bukankah kamu sendiri tahu jelas jawabannya?” Sagara menatap Aurora dengan pandangan tajam sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Apa?” Mata Aurora membulat karena terkejut. “Jangan memasang wajah naif, Aurora. Aku tahu apa yang terjadi saat itu meski sedikit terlambat. Dan terhadap apa
Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya. Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai
Sri berjalan dengan langkah berat meninggalkan gedung apartemen. Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu pukul 19.18. “Ibu pasti nungguin aku,” gumamnya perlahan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depannya dan segera naik. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia tiba di rumah dan l
“Sa … sakit ….” Sri meringis saat merasakan lengannya dikunci dari belakang. “Saya tanya kamu siapa?” ulang pria itu. Sri berusaha menoleh, namun wajah pria itu sulit dilihat karena pergerakannya terbatas. “Saya yang kerja di sini. Beres-beres rumah,” jawab Sri sambil meringis. “Kamu yang siapa?”
“Gimana, Sri? Berapa tagihan rumah sakit ibu?” tanya pak Surya saat Sri kembali ke ruang rawat. Sri berwajah masam. “Kurang uangnya. Kurang banyak. Aku cuma punya 176 ribu, Pak.” Sri duduk di samping ranjang pasien dengan wajah bingung. “Cari aja pinjaman ke bosmu itu,” ujar pak Surya pada Sri. “







