Masuk
Hari mulai malam saat sebuah mobil melaju di jalanan yang sepi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut duduk di kursi mobil di belakang seorang sopir sambil menatap sebuah gambar di bukunya.
Gambar seorang ayah memakai setelan jas, seorang ibu memakai dress putih dengan sebuket bunga di tangan, dan seorang gadis kecil memakai dress pink dengan latar belakang rumput hijau dan langit biru. Alunan musik La Vie en Rose mengalun lembut dari kotak musiknya. Boneka balerina di atasnya berputar seolah tengah menari. Keheningan itu ternoda oleh benturan keras dari samping, yang membuat laju mobil itu goyah lalu kehilangan kendali dan hanya sekian detik .... "Hah!" Seorang gadis remaja usia delapan belas tahun terbangun dari mimpi buruknya. Dahinya penuh keringat, tubuhnya gemetar, dan napasnya naik turun. “Mimpi itu lagi ….” gumamnya perlahan sambil menyeka keringatnya dan menenangkan diri. Sudah hampir empat bulan, dia mendapatkan potongan ingatan yang entah dari mana, hingga membuatnya terkadang bermimpi buruk. Mungkinkah amnesianya akan segera sembuh? Entahlah. Ibunya bilang, dia amnesia karena jatuh dari tangga sewaktu dia berusia delapan tahun. Tapi ingatannya yang datang bukan tentang kehidupan dulu yang pernah ibunya ceritakan, melainkan tentang hal lain yang mungkin saja bagian dari mimpi atau imajinasinya saat kecil. Gadis itu melirik jam di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun sayup-sayup terdengar suara ibunya di ruang tengah. “Pak, jangan judi terus. Jangan mabuk terus. Besok kita harus pergi ke sana buat jenguk. Apa bapak lupa?” Gadis itu tahu betul suara ibunya, Sulastri. Pasti bapaknya baru saja pulang. Dia teringat, ini bulan April. Setiap tanggal 22, ibu dan bapaknya akan pergi ke luar kota seharian tanpa mengajaknya. Katanya, mereka ada urusan penting yang tak bisa ditunda. Pasti besok mereka akan pergi lagi. Tapi, mereka akan menjenguk siapa? Diam-diam, gadis itu membuka pintu kamarnya sedikit dan menguping. “Bapak nggak lupa, Bu. Bapak cuma minum sedikit,” jawab seorang pria paruh baya bernama Surya sambil duduk di kursi yang sudah mulai melesak di beberapa bagian. Penampilannya berantakan, rambutnya gondrong tak terurus dan wajahnya kusam. “Ibu tidur aja sana, biar besok nggak kesiangan.” “Bapak juga tidur. Jangan—” “Sri? Ngapain kamu jam segini belum tidur?” Gadis yang bernama Sri itu membuka pintu kamarnya lebih lebar. Ayahnya memergokinya menguping, membuat ibunya berhenti bicara. “Aku kebangun, Pak,” jawab gadis itu sambil mendekat dan berdiri tak jauh dari mereka. Aroma anggur bercampur aroma tape tercium sedikit kuat. Jelas sekali bapaknya selesai minum. “Aku dengar, bapak sama ibu mau pergi ya?” “Iya, Sri. Bapak sama ibu mau ada urusan besok pagi. Pulangnya sebelum sore, kok,” jawab wanita paruh baya itu sambil duduk di samping suaminya. “Urusan apa, Bu? Perasaan, setiap tahun di tanggal 22 April Bapak sama Ibu pergi terus. Kalian mau pergi ke mana? Apa aku boleh ikut? Kebetulan besok hari Sabtu, sekolah libur,” pinta gadis itu. “Nggak, nggak bisa,” tolak bu Sulastri cepat. “Kamu di rumah aja, istirahat. Atau belajar. Sebentar lagi ujian, kan?” “Tapi, Bu, aku cuma—” “Kamu nggak usah ikut campur. Juga nggak perlu tahu dan jangan tanya-tanya urusan orang tua. Sana, tidur lagi!” usir pak Surya sambil mengibaskan tangan. “Tidur, ya, Sri. Bapak sama ibu perginya nggak lama, kok,” kata ibunya lembut. Sri mengangguk sambil beranjak ke kamarnya. Percuma dia memaksa, hanya akan membuat bapaknya marah nanti. “Apa besok aku ikutin aja mereka diam-diam, ya?” gumam Sri perlahan sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup. *** Esok datang dengan cepat. Pukul lima pagi, Sri sudah berada di ruang tengah menghampiri ibunya yang tengah membangunkan bapaknya yang tidur di sofa. “Bu, hari ini aku mau kerja kelompok. Ternyata ada tugas mendadak semalam. Harus bikin mini project buat market day nanti di sekolah. Jadi, aku izin pergi ke rumah Tari, ya,” pinta Sri sambil berdiri tak jauh dari wanita paruh baya itu. “Kapan berangkatnya?” tanya bu Sulastri. “Mungkin jam setengah tujuh. Jam tujuhan harus udah kumpul di rumahnya,” jawab Sri. “Terus, pulangnya kapan?” “Sore atau malam, Bu.” “Oh, iya, nggak apa-apa.” Bu Sulastri terlihat lega. “Kamu ada uangnya buat ongkos ke rumah Tari?” “Ada, Bu, jangan khawatir. Aku mau mandi dan siap-siap dari sekarang biar nggak telat.” Bu Sulastri mengangguk, lalu kembali membangungkan suaminya. Tepat pukul enam, bu Sulastri dan pak Surya meninggalkan rumah kontrakan mereka, diantar Sri sampai teras rumah. Begitu ibu dan bapaknya tak terlihat lagi, Sri segera masuk rumah dan mengambil ranselnya serta mengenakan jaket lusuh dan topi hitam. Dia tahu pasti bapak dan ibunya akan pergi ke terminal bus menggunakan angkot. Begitu selesai berpakaian dan mengenakan topi hitam, dia segera keluar menyusul menaiki ojek hanya membawa ransel berisikan dompet, sebungkus camilan, beberapa permen, dan sebotol air mineral. *** Suasana terminal bus sedikit ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Namun dengan mudah Sri bisa menemukan kedua orang tuanya yang sudah menaiki sebuah bus dan menunggu jadwal keberangkatan di pukul setengah tujuh. Dia mengecek jam di ponsel. Waktu menunjukkan pukul 06.21. Masih ada sembilan menit lagi sebelum bus berangkat. Dengan cepat, Sri membeli tiket dan berjalan ke arah bus dengan waspada sambil mencari tahu di mana posisi duduk kedua orang tuanya. “Mereka ada di bangku sebelah kanan, baris kedua dari depan,” gumam Sri perlahan sambil naik bus dari pintu belakang dan segera duduk di tempat yang kemungkinan tak akan terlihat oleh orang tuanya. Bus melaju tak lama kemudian, membuat jantung Sri berdebar-debar menantikan sebuah jawaban.“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenuhnya percaya meski rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan lagi.Hari pengumuman kelulusan tiba dengan atmosfer yang penuh suka cita. Di aula besar SMA Tunas Bangsa—sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Mahardika—nama Sri Rejeki menggema di barisan paling depan. Dengan perjuangan keras di antara himpitan ekonomi dan peliknya kehidupan pribadi, Sri resmi dinyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ujian tertinggi.Setelah acara sekolah usai, Sri segera pulang ke rumah kontrakan dengan membawa selembar kertas kelulusan. Namun, begitu dia sampai, keadaan kaca jendela rumah tampak pecah. Beberapa pot terguling dan berantakan, mem
Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Suasana di dalam rumah kontrakan sore itu terasa luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.Sri melangkah masuk dengan sisa rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya. Ia baru saja pulang dari sebuah kafe, setelah memenuhi undangan pertemuan mendadak dari Aurora.Sri menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah angkuh Aurora dari benaknya. Hatinya juga masih sedikit diselimuti rasa bersalah akibat canggungnya hubungan dengan sang ibu pasca-insiden selebaran dan gaun kemarin. Namun, begitu Sri mendorong pintu ruang tengah, langkah kakinya seketika terkunci.Bu Sulastri duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, namun bahunya bergetar hebat. Di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas dokumen berlogo hukum yang sangat formal.Itu adalah dokumen Non-Disclosure Agreement (NDA) alias surat kontrak hubungan palsu antara Sri dan Sagara Mahardika.Jantung Sri rasanya sepe
Ketegangan di rumah kontrakan belum sepenuhnya mereda sejak insiden selebaran dan gaun tempo hari. Hubungan Sri dengan Bu Sulastri masih terasa canggung dan diselimuti keheningan yang menyesakkan.Namun, di tengah situasi rumah yang mendingin, sebuah paket untuk Sri tanpa nama pengirim datang. Ketika Sri membuka paket tersebut di kamarnya, dia terlonjak kaget.Aroma bangkai tikus menyebar ke seluruh kamar sempit, membuat Sri sangat mual dan hampir muntah. Sri tahu ini adalah sebuah teror. Tapi dari siapa?Ketika gadis itu menemukan secarik kertas terlipat di dalamnya, dia mengambilnya.[Temui aku di kafe Le Petit, Jalan Diponegoro. Jam 3 sore. Jangan coba-coba mangkir kalau kamu tidak ingin ibumu tahu hubungan rahasiamu dengan Sagara.]Sri tidak perlu menebak dua kali siapa yang mengirimkan paket itu. Gaya bahasa yang angkuh dan penuh ancaman itu sudah pasti milik Aurora Natawijaya.Meskipun tahu ini bisa jadi adalah sebuah j
Beberapa hari berlalu. Bagi Sri, hari Senin adalah hari yang penuh dengan kesibukan administratif.Setelah menghabiskan beberapa jam di sekolah untuk mengurus berkas-berkas kelulusan pasca-ujian, ia menaiki ojek online untuk pergi bekerja di apartemen Sagara seperti biasa.Sementara itu, di sebuah warung kopi di dekat area sekolah Sri, Pak Surya sedang duduk dengan rokok yang terselip di jemarinya.Matanya yang merah akibat kurang tidur terus memikirkan sosok pria kaya raya yang mengantarkan putrinya tempo hari. Sebagai seorang penjudi yang terlilit utang di mana-mana, insting serakahnya menuntut jawaban dan berharap melihat mobil mewah itu lagi di sana.Saat ia sedang menguping obrolan beberapa anak sekolah yang melintas, pandangannya tidak sengaja tertuju pada tumpukan kertas sampah di sudut dekat tempat pembuangan. Di sana, selembar kertas berukuran A4 yang sudah agak lecek dan kotor menarik perhatiannya.Pak Surya membungkuk, memu
Pagi hari di apartemen The Imperial Residence diselimuti keheningan yang menawan. Sagara berdiri di dekat meja panjang yang terletak di koridor luar ruang kerjanya. Matanya yang tajam menyipit, tertuju lurus pada sebuah buku bersampul kulit hitam tebal yang tergeletak di sana.Buku itu berisi seluruh data internal, laporan keuangan, hingga rekam jejak kecelakaan keluarga Natawijaya sepuluh tahun lalu yang ia kumpulkan secara diam-diam. Sagara sangat detail dan perfeksionis. Dia tahu persis posisi terakhir buku itu saat ia letakkan semalam. Dan pagi ini, buku itu telah bergeser beberapa sentimeter dari posisi semula.Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya. Hanya ada satu orang lain di apartemen ini. Sri.Sagara tahu gadis itu telah menyentuh dan kemungkinan besar membaca isi bukunya. Namun, alih-alih langsung mengonfrontasi atau bertanya, Sagara memilih untuk diam. Ia ingin mengamati dari jauh dan melihat apa sebenarnya yang a







