MasukHampir dua jam lamanya menaiki bus, kedua orang tua Sri turun di persimpangan di sebuah kabupaten, membuat Sri bingung bagaimana harus mengikuti keduanya.
Jika dia ikut turun saat itu juga dan terlihat oleh kedua orang tuanya, bapaknya pasti akan marah besar. “Pak, turunin saya agak depan, ya,” pinta Sri pada sopir sambil mendekat saat bus kembali melaju. “Agak depan di mana?” tanya sopir itu. “Di sana aja,” tunjuk Sri pada sederet ruko yang bersebelahan dengan bank. “Lho, kenapa nggak turun sekalian sama dua orang tadi?” tanya sopir heran dan hampir marah, karena saat itu jalanan cukup ramai. “Ini dekat, lho, jaraknya.” “Maaf, Pak. Saya baru ke sini lagi, jadi lupa. Hampir aja nyasar,” jawab Sri asal, membuat sopir itu sedikit merasa kasihan. “Neng memangnya mau ke mana?” tanya sopir itu sambil menghentikan bus karena mereka telah sampai di ruko yang ditunjuk Sri. “Saya mau nyari bapak saya, Pak. Yang udah ninggalin saya sejak kecil. Kalau nggak salah, dulu rumahnya masuk gang sana,” tunjuk Sri asal ke sebuah gang kecil samping ruko. “Ya, udah. Semoga bapaknya ketemu," ujar pak Sopir. “Makasih banyak, Pak.” Sri tersenyum senang, memamerkan lesung di kedua pipinya. Gadis itu segera turun dan menunggu bus kembali berjalan, lalu dengan cepat berlari ke arah persimpangan, mencari keberadaan orang tuanya. Untungnya, gadis itu langsung mengenali ibunya dari kejauhan yang menaiki angkot hijau dengan bapaknya. Gadis itu memperhatikan dari jauh sambil mengatur napasnya. Tampaknya angkot harus mengetem beberapa waktu, sehingga memberinya waktu untuk mencari ojek terdekat. “Pak, tungguin angkot itu berangkat, ya. Saya lagi ngikutin bapak saya diam-diam,” tunjuk Sri pada sebuah angkot begitu dia mendapatkan ojek. “Kita berangkat kalau angkotnya berangkat. Tapi jaga jarak, ya, Pak, biar nggak ketahuan. Nanti saya diomelin bapak saya.” “Siap, Neng. Kenapa bapaknya diikutin, Neng?” tanya tukang ojek itu penasaran. Mereka berbincang sebentar, yang tentu saja Sri banyak mengarang alasan dan berbohong sehingga membuat tukang ojek itu sedikit iba karena Sri mengatakan bahwa bapaknya selingkuh dan membawa ibunya untuk dikenalkan dengan selingkuhan si bapak. Hingga angkot mulai berangkat, dia juga berangkat diantar tukang ojek sampai tiba di sebuah simpang tiga yang sedikit sepi. Sri turun begitu ibu dan bapaknya turun, namun tetap memperhatikan jarak. “Makasih, ya, Pak.” Sri memberikan ongkos dan segera berjalan mengikuti diam-diam. Saat ibu dan bapaknya menyebrang jalan, gadis itu juga ikut menyebrang. Berjalan sebentar sekitar sepuluh menit, Sri melihat ibu dan bapaknya memasuki area pemakaman. “Kok mereka ke sini?” gumam Sri perlahan sambil melihat sekelilingnya yang tenang dan di bagian sisinya dirimbuni pepohonan. Di pemakaman itu, angin berhembus perlahan menyejukkan tubuh Sri yang kepanasan akibat terik matahari. Dari kejauhan, seorang pria kurus dan tua tengah menyapu dedaunan yang gugur. Pria tua itu menoleh ke arah ibu dan bapak Sri. Pak Surya yang melihat pria itu, segera melambaikan tangan. “Saya mau berdoa dulu,” ujar pak Surya yang suaranya sedikit tinggi dan sampai pada Sri. Sri yakin pria tua itu mengenal bapaknya. Gadis itu berhenti berjalan dan menatap dari kejauhan saat ayah dan ibunya berhenti di sebuah gundukan tanah. Keduanya berjongkok menghadap sebuah makam. Ibunya segera mengeluarkan selendang dari dalam tas spunbond dan mengenakannya di kepala, lalu mengeluarkan bungkusan plastik dan sebotol air mineral yang bapaknya terima. Di sisi makam, bapaknya duduk sambil meneguk air mineral dari dalam botol plastik. Kemudian keduanya terlihat melantunkan doa dengan khusyuk, dengan wajah yang memancarkan kesedihan. Beberapa menit berdoa, ibu dan bapaknya menaburkan bunga yang diambil dari bungkusan plastik hitam itu, kemudian keduanya terlihat duduk santai sambil berbincang-bincang. Sri hanya mengerutkan alisnya sambil memperhatikan dari jauh. Siapakah gerangan yang sudah meninggal? Apakah itu orang tua ibunya atau bapaknya? Atau saudara dari ibu atau bapaknya? Sri sama sekali tak bisa menebak. Dia menunggu dan terus memperhatikan dari jauh meski sebenarnya ingin mendekat. Inikah yang biasanya mereka lakukan setiap tahun di tanggal yang sama? Sri menunggu dengan sabar di bawah pohon kamboja di samping semak teh-tehan yang berdiri sebatang sambil menikmati camilan dan permennya. Air mineralnya tinggal setengah. Saat pulang nanti, dia harus membeli sebotol air mineral baru. Sambil duduk, gadis itu melihat bapak penyapu makam mendekat ke arah kedua orang tuanya. Mereka terlihat bersalaman, seolah saling menyapa dan berbincang-bincang, kemudian bapak tua itu pamit pergi dan kembali menyapu di tempat lain, namun masih dapat dilihat. Bu Sulastri dan pak Surya masih duduk berbincang menikmati camilan dan kue yang mereka bawa. Sesekali mereka memunguti dedaunan kering yang jatuh ke atas makam itu. Hingga hampir satu jam di sana, keduanya mulai berkemas dan berdiri, membuat Sri ikut berkemas. Sri melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh lebih. Jika dihitung waktu perjalanan, seharusnya setelah dari makam, ibu dan bapaknya langsung pulang naik bus lagi agar sampai rumah sebelum sore. Sri melihat pak Surya dan bu Sulastri berpamitan dengan bapak tua yang tampak seperti penjaga makam, sementara dia segera bersembunyi di balik semak pohon teh-tehan yang rimbun dan membiarkan ibu bapaknya pergi lebih dulu. Setelah kedua orang tuanya meninggalkan area pemakaman, Sri segera menghampiri makam yang mereka kunjungi. Gadis itu dapat dengan mudah menemukan makam itu karena makam itu satu-satunya makam yang bertabur bunga warna-warni yang masih segar, sementara makam lainnya hanya ditumbuhi rumput hijau. Namun tubuhnya seketika membeku. Gadis itu duduk ambruk di samping makam ketika dia melihat nama di batu nisannya. Sri Rejeki binti Surya Lahir: 5 Mei Wafat : 22 April Tubuh Sri gemetar. Nama lengkapnya tertulis di batu nisan. Tanggal lahirnya juga sama. Namun pemilik makam itu sudah meninggal sepuluh tahun lalu saat masih berusia delapan tahun. Kenapa bisa? Mengapa pemilik makam itu memiliki nama yang sama dengannya?“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenuhnya percaya meski rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan lagi.Hari pengumuman kelulusan tiba dengan atmosfer yang penuh suka cita. Di aula besar SMA Tunas Bangsa—sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Mahardika—nama Sri Rejeki menggema di barisan paling depan. Dengan perjuangan keras di antara himpitan ekonomi dan peliknya kehidupan pribadi, Sri resmi dinyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ujian tertinggi.Setelah acara sekolah usai, Sri segera pulang ke rumah kontrakan dengan membawa selembar kertas kelulusan. Namun, begitu dia sampai, keadaan kaca jendela rumah tampak pecah. Beberapa pot terguling dan berantakan, mem
Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Suasana di dalam rumah kontrakan sore itu terasa luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.Sri melangkah masuk dengan sisa rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya. Ia baru saja pulang dari sebuah kafe, setelah memenuhi undangan pertemuan mendadak dari Aurora.Sri menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah angkuh Aurora dari benaknya. Hatinya juga masih sedikit diselimuti rasa bersalah akibat canggungnya hubungan dengan sang ibu pasca-insiden selebaran dan gaun kemarin. Namun, begitu Sri mendorong pintu ruang tengah, langkah kakinya seketika terkunci.Bu Sulastri duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, namun bahunya bergetar hebat. Di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas dokumen berlogo hukum yang sangat formal.Itu adalah dokumen Non-Disclosure Agreement (NDA) alias surat kontrak hubungan palsu antara Sri dan Sagara Mahardika.Jantung Sri rasanya sepe
Ketegangan di rumah kontrakan belum sepenuhnya mereda sejak insiden selebaran dan gaun tempo hari. Hubungan Sri dengan Bu Sulastri masih terasa canggung dan diselimuti keheningan yang menyesakkan.Namun, di tengah situasi rumah yang mendingin, sebuah paket untuk Sri tanpa nama pengirim datang. Ketika Sri membuka paket tersebut di kamarnya, dia terlonjak kaget.Aroma bangkai tikus menyebar ke seluruh kamar sempit, membuat Sri sangat mual dan hampir muntah. Sri tahu ini adalah sebuah teror. Tapi dari siapa?Ketika gadis itu menemukan secarik kertas terlipat di dalamnya, dia mengambilnya.[Temui aku di kafe Le Petit, Jalan Diponegoro. Jam 3 sore. Jangan coba-coba mangkir kalau kamu tidak ingin ibumu tahu hubungan rahasiamu dengan Sagara.]Sri tidak perlu menebak dua kali siapa yang mengirimkan paket itu. Gaya bahasa yang angkuh dan penuh ancaman itu sudah pasti milik Aurora Natawijaya.Meskipun tahu ini bisa jadi adalah sebuah j
Beberapa hari berlalu. Bagi Sri, hari Senin adalah hari yang penuh dengan kesibukan administratif.Setelah menghabiskan beberapa jam di sekolah untuk mengurus berkas-berkas kelulusan pasca-ujian, ia menaiki ojek online untuk pergi bekerja di apartemen Sagara seperti biasa.Sementara itu, di sebuah warung kopi di dekat area sekolah Sri, Pak Surya sedang duduk dengan rokok yang terselip di jemarinya.Matanya yang merah akibat kurang tidur terus memikirkan sosok pria kaya raya yang mengantarkan putrinya tempo hari. Sebagai seorang penjudi yang terlilit utang di mana-mana, insting serakahnya menuntut jawaban dan berharap melihat mobil mewah itu lagi di sana.Saat ia sedang menguping obrolan beberapa anak sekolah yang melintas, pandangannya tidak sengaja tertuju pada tumpukan kertas sampah di sudut dekat tempat pembuangan. Di sana, selembar kertas berukuran A4 yang sudah agak lecek dan kotor menarik perhatiannya.Pak Surya membungkuk, memu
Pagi hari di apartemen The Imperial Residence diselimuti keheningan yang menawan. Sagara berdiri di dekat meja panjang yang terletak di koridor luar ruang kerjanya. Matanya yang tajam menyipit, tertuju lurus pada sebuah buku bersampul kulit hitam tebal yang tergeletak di sana.Buku itu berisi seluruh data internal, laporan keuangan, hingga rekam jejak kecelakaan keluarga Natawijaya sepuluh tahun lalu yang ia kumpulkan secara diam-diam. Sagara sangat detail dan perfeksionis. Dia tahu persis posisi terakhir buku itu saat ia letakkan semalam. Dan pagi ini, buku itu telah bergeser beberapa sentimeter dari posisi semula.Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya. Hanya ada satu orang lain di apartemen ini. Sri.Sagara tahu gadis itu telah menyentuh dan kemungkinan besar membaca isi bukunya. Namun, alih-alih langsung mengonfrontasi atau bertanya, Sagara memilih untuk diam. Ia ingin mengamati dari jauh dan melihat apa sebenarnya yang a







