Chapter: [S-2] Bab 136. Pemuas Hasrat Liar SuamikuNina menerima uluran tangan itu dengan senyuman manis. “Aku ingin kita menikmati malam ini dengan berdansa dan diakhiri dengan bergoyang pinggul sampainya ranjang patah-patah dan dengkul bergetar,” bisik Bryan secara brutal anti sensor club. Sebelum berdansa, Bryan menyetel musik terlebih dahulu. Musik yang begitu romantis dengan alunan nada merdu. Cinta satu malam, oh indahnya Cinta satu malam, buatku melayang Walaupun satu malam, akan selalu ku kenang dalam hidupku “Hm, Mas? Apa kamu gak salah lagu? Masa iya cinta satu malam? Kan cinta kita sampai akhir hayat, bukan satu malam doang,” tegur Nina membuat Bryan tersadar. “Eh iya. Salah setel.” Akhirnya Bryan menyetel lagu yang cocok untuk dipakai berdansa malam ini. Pasangan suami istri itu pun berdansa mengikuti ritme. Bryan membuat Nina berputar sesuai alunan nada hingga vertigonya kambuh. Wkwkw. “Ah, aku jadi pusing, Mas,” keluh Nina. Bryan pun menuntun kepala Nina untuk bersandar di dada bidangnya dan dipelu
Last Updated: 2025-06-30
Chapter: [S-2] Bab 135. Riko Sedikit Iri“Ashiaapp!!” sahut Rozak ala-ala Atta Halilintar.“Iya, Pak. Mampir kapan saja, pintu rumah selalu tertutup bahkan tergembok untuk Bapak Rozak,” ujar Fredrinn berniat ngejokes ala Bapack-bapack. Sayangnya jokesnya itu tidak lucu sama sekali. Namun Rozak justru tertawa.Akhirnya pamit juga Rozak dan Aliyah.Fredrinn dan Adelina juga berpamitan dari hadapan yang lainnya. Mereka ingin beristirahat di kamar. Begitu pula dengan para ART yang izin mundur diri.Kini hanya tersisa Nina, Bryan, Riko beserta empat bocil di ruang makan itu.“Ayo anak-anak. Kalian juga masuk ke kamar! Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka dan jangan lupa gosok gigi!” seru Nina yang diangguki oleh keempat anaknya itu.Riko tersenyum lebar melihat keempat ponakannya yang mudah sekali diatur oleh Nina.“Mereka ini penurut sekali,” puji Riko. “Pasti kakak mendidik mereka dengan sangat baik. Makanya mereka semua bisa j
Last Updated: 2025-06-30
Chapter: [S-2] Bab 134. Keluarga CemaraKeesokan paginya, Nina melihat Bryan sedang menyetrika pakaian kerjanya. Hari masih pagi buta, tapi Bryan sudah sibuk bersiap-siap menuju kantor.“Kamu mau ke mana, Mas?” tanya Nina yang baru saja terbangun dari tidurnya. Bahkan matanya belum terbuka dengan sempurna.“Mulai hari ini aku akan ke kantor, sayang. Aku akan bekerja seperti biasa sebagai direktur,” jawab Bryan dengan pandangan mata yang masih terfokus pada setrikaannya.Nina bangkit dari tidurnya, mengubah posisi menjadi duduk. Dia masih menguap sesekali. Jujur saja rasanya ingin sekali dia melanjutkan tidur, tapi tidak enak karena suaminya sendiri lagi sibuk-sibuknya.“Kamu yakin mau bekerja seperti biasa, Mas? Aku kira status kamu masih jadi tahanan rumah. Kalau kamu ditangkap lagi oleh polisi karena ketahuan melanggar peraturan, bagaimana dong?”“Dari kemarin-kemarin aku kan sudah melanggar peratur
Last Updated: 2025-06-30
Chapter: [S-2] Bab 133. Pengen Bercinta (21+)Dua minggu kemudian.Setelah dua mingguan lebih dirawat di rumah sakit, Nina sudah diperbolehkan pulang ke rumah dengan catatan tidak boleh banyak bergerak agar luka tembaknya di perut itu segera pulih dengan baik.Malam itu, Bryan sedang membantu Nina memakai pakaiannya. Namun tiba-tiba Nina menyambar bibir Bryan dengan mendaratkan sebuah ciuman ringan di bibir suaminya itu..“Eh, sayang. Jangan memancing dong.”“Mas, aku pengen,” bisik Nina. “Sudah lama kita gak begituan.”Bryan paham dengan kode istrinya itu. “Tapi luka kamu kan belum kering seratus persen, sayang.”Nina melirik luka di perutnya yang masih diperban. Ya, dia akui walaupun sudah tak terasa nyeri, tapi dia belum bisa bergerak dengan leluasa. Dan hal itu akan mempengaruhi mereka nantinya jika melakukan hubungan suami istri.“T-tapi aku udah gak bisa nahan gimana dong, Mas?”Nina memasang wajah manjanya,
Last Updated: 2025-06-30
Chapter: [S-2] Bab 132. Nasib Jomblo“Kita ke rumah sakit dulu ya. Soalnya Bryan ada di sana,” ujar Fredrinn kepada Riko yang tengah mengemudi mobil.“Loh, siapa yang sakit? Bryan?” tanya Adelina yang mendadak khawatir.“Bukan. Tapi menantuku,” jawab Fredrinn.“Oh. Bryan ternyata sudah menikah, ya?” tanya Adelina lagi.“Iya. Bahkan sudah punya anak empat.”Adelina kemudian melirik ke Riko. “Kalau kamu kapan rencana nikah, Nak?”Bless! Hati Riko terasa tertancap duri saat mendapatkan pertanyaan menohok seperti itu.“Mama nih apaan sih? Kok langsung nanya begitu?” balas Riko tidak terima ditanya demikian.“Mama kan cuman nanya. Gak salah toh?”“Salah dong! Salah banget malah!”“Salahnya di mana?”“Jelas salah. Tidak seharusnya Mama bertanya seperti itu.
Last Updated: 2025-06-29
Chapter: [S-2] Bab 131. Ibu untuk BryanKeesokan harinya, Fredrinn mengajak Riko mengunjungi kantor cabang Lawrence Company. Di sana, Fredrinn memperkenalkan Riko sebagai anaknya sekaligus penerusnya dalam mengelola perusahaan itu.“Saya kira anak Pak Fredrinn cuman Pak Bryan,” celetuk salah satu karyawan yang terdengar jelas di telinga Fredrinn.“Tidak. Riko juga anak saya. Cuman baru terungkap sekarang,” jawab Fredrinn santai.“Semacam program investigasi ya, Pak. Baru terungkap sekarang.”“Iya, begitulah.”Setelah selesai memperkenalkan Riko kepada semua karyawan di kantor itu, Fredrinn lalu mengajak Riko untuk menemui Adelina, ibu kandungnya.“Kenapa Papa mengajak aku ke tempat ini?” tanya Riko setelah mereka tiba di rumah Adelina.“Ini adalah rumah mama kandung kamu. Walaupun kamu tidak tertarik untuk mengetahui siapa mama kamu, tapi tetap saja kamu h
Last Updated: 2025-06-29
Chapter: Bab 196Suasana kamar mendadak sepi, hanya menyisakan suara deru ombak di luar dinding kabin dan deru napas kami yang perlahan mulai teratur. Bau keringat bercampur sisa air laut terasa begitu pekat di udara.Aku telentang di kasur, menatap langit-langit kabin sambil menaruh satu lengan di atas dahi. Jantungku masih berdebar kencang.‘Gila, ini benar-benar di luar dugaanku,’ batinku sambil mengembuskan napas panjang. 'Siapa sangka aku bakal tidur dengan bos sindikat narkoba.'Di sampingku, Miss Hana bergerak perlahan. Dia menarik selimut tebal, menutupi tubuh polosnya. Dia lalu berbalik miring menghadapku dengan wajah yang jauh lebih rileks. Sisa kemerahan masih terlihat jelas di pipinya.“Yang tadi indah banget, Argus. Aku suka,” ucapnya dengan senyum mengembang.Aku menoleh, meliriknya sekilas tanpa ekspresi berlebihan. "Aku sudah menepati janjiku. Sekarang giliran kamu, Miss Hana. Cepat lacak lokasi tanteku sekarang.”Miss Hana tidak langsung menjawab. Dia malah terkekeh pelan, lalu menyan
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 195Ciuman kami makin dalam dan menuntut. Suara kecapan basah terdengar bersahutan dengan deru ombak di luar kabin. Miss Hana makin melenguh saat lidahku mulai mendominasi, membalikkan keadaan agar aku yang memegang kendali."Ternyata kamu lebih agresif dari yang kukira," bisik Miss Hana di sela ciuman kami, napasnya memburu panas."Sudah kubilang, jangan salahkan aku kalau mainnya kasar," sahutku serak.Tidak mau membuang waktu, tanganku bergerak ke punggungnya, melepas kaitan bra-nya dengan sekali sentak. Bra maroon itu terlepas, memamerkan sepasang dadanya yang padat dan membusung indah tanpa penghalang lagi."Ahhh... Argus..." desahnya pasrah saat aku menurunkan ciumanku ke leher jenjangnya, meninggalkan tanda merah di sana, sebelum akhirnya berlabuh di dadanya."Kamu menyukainya, Miss?" tanyaku sambil mempermainkan ujungnya yang mengeras dengan lidahku."Jangan banyak bicara... lakukan lebih lagi," tuntutnya dengan suara serak yang seksi. T
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 194Aku langsung mematung di tempat. Otakku mendadak blank selama beberapa detik. Tatapanku terpaku pada kancing dress-nya yang sudah terbuka setengah, memperlihatkan bagian atas dadanya yang putih bersih dan masih basah.Rezeki eh, maksudnya cobaan macam apa lagi ini? Baru saja aku bertaruh nyawa di laut dingin, sekarang malah dihadapkan dengan situasi yang bikin gerah."T-tunggu, Miss Hana," kataku terbata-bata sambil refleks memundurkan tubuhku sampai mentok ke sandaran sofa.Miss Hana terkekeh pelan. Bukannya berhenti, dia malah makin mengikis jarak di antara kami. Tangannya yang dingin menyentuh dadaku yang bidang, mengusapnya lembut."Kenapa? Kamu takut?" pancingnya dengan suara serak yang menggoda. Tatapan matanya yang tadi kejam sekarang benar-benar penuh gairah. "Bukannya kamu tadi berani sekali meremas dada saya di laut? Sekarang saya kasih dengan sukarela, kamu malah mundur."Jakunku naik turun. Sialan, bos sindikat ini pintar banget membali
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 193Aku menarik napas panjang, lalu menyeka sisa air laut di wajahku. Aku menatap mata wanita itu datar, berusaha menutupi rasa canggungku sendiri.“Saya nggak setega itu,” jawabku jujur sambil duduk bersandar di dinding sekoci. "Walaupun kamu memang sudah jahat ke saya dan logika saya bilang harusnya saya biarkan saja kamu, tapi hati nurani saya nggak sejalan."Wanita itu terdiam. Rona merah di pipinya makin menjadi."Bos! Anda nggak apa-apa?!"Suara teriakan dari atas kapal memecah keheningan di antara kami. Sebuah tangga tali dilemparkan dari tepi dek. Mereka langsung bersiap membimbing bos mereka untuk naik kembali.Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa kekuatannya. Dia berdiri perlahan dengan dibantu anak buahnya, lalu menatapku sebelum memanjat tangga."Ikut saya ke atas. Kita bicara di ruangan saya. Secara baik-baik.”Aku sempat ragu sejenak. Tapi melihat posisiku yang terdampar d
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 192Begitu tangan pria pertama hampir mencengkeram bahuku, aku langsung merunduk cepat. Aku memutar tubuh, lalu menyapu kakinya dengan kuat.BRUK!Pria itu jatuh ke lantai dek. Belum sempat aku berdiri tegak, pria kedua di sebelah kanan sudah mengayunkan popor senapannya ke arah kepalaku. Aku refleks melempar tubuh ke samping dan berguling di lantai besi.DOR!Tembakan pertama meletus begitu saja. Pelurunya mengenai sudut besi kontainer di dekatku dan memercikkan bunga api.‘Sial!’ makiku dalam hati. Aku pun buru-buru bangkit dan berlari masuk ke celah sempit di antara deretan kontainer.Labirin besi ini jadi satu-satunya tempat sembunyiku. Aku berlari cepat. Di belakang, suara sepatu bot ketiga anak buah itu terdengar mengejarku."Cari bajingan itu! Jangan sampai lolos!" teriak salah satu dari mereka."SIAP!"Dari celah kontainer, aku sempat melihat wanita bergaun hitam itu. Dia tidak kabur atau takut. Dia malah berdiri santai sambil bersedekap dada dan tersenyum tipis. Dia kelihatan san
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 191Aku menurunkan tangan perlahan, tapi tetap waspada. Mataku menatap lurus ke arah wanita bergaun hitam itu.Dia cantik, tapi kelihatan mematikan. Jenis wanita yang bisa memerintahkan pembunuhan sambil meminum secangkir kopi hangat.“Woy pekok, siapa suruh lu nurunin tangan? Angkat lagi!” gertak salah satu anak buahnya.Pria di sebelahnya ikut menyela dengan kasar. "Cepat jawab pertanyaan bos kami, njing! Mau ngapain lu di sini, hah? Mau nyolong lu yak?!”Aku sangat geram. Tapi berusaha sabar. Aku pun kembali mengangkat kedua tanganku.‘Mikir, Argus. Mikir. Gimana cara jawabnya biar nggak kena tembak.’Aku pun mencoba menjawab dengan sopan. “Maaf, saya tidak bermaksud mencuri. Kalian menahan seseorang di dalam kontainer nomor lima belas. Saya ke sini hanya ingin menjemputnya dan membawanya pulang."Wanita itu menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang terasa dingin."Menahan seseorang?" Wanita itu mengulang kata-kataku dengan nada mengejek. Senyum tip
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: (S-2) Bab 77. Akhir dari SegalanyaBi Sumi menghela napas panjang, suaranya terdengar lemah dan bergetar.“Pak Sean... terima kasih banyak atas keadilan yang Bapak tawarkan. Tapi jujur, Pak, ini bukan murni kesalahan Tuan Muda Kenza saja."Bi Sumi menjeda kalimatnya, beralih menatap Siren yang kembali menunduk. "Siren sudah jujur sama saya. Mereka melakukannya karena sama-sama suka, bukan karena dipaksa atau diancam Tuan Muda. Jadi, cucu saya juga punya andil dalam kesalahan ini. Lagian dia sudah besar, dia seharusnya bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi, saya rasa tidak adil kalau semua beban ini ditimpakan hanya kepada Tuan Muda.""Jadi… saya tidak akan menuntut apa-apa. Saya sudah memaafkan Tuan Muda Kenza. Saya justru merasa malu... benar-benar malu karena kami sudah merusak kepercayaan keluarga ini, apalagi kepercayaan Ibu Elyssa.”Elyssa yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan suara parau. "Bi... jangan bicara begitu. Kami juga salah. Kami tidak bisa mengawasi Kenza dengan baik.”Bi Sumi lalu terisak pe
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: (S-2) Bab 76. BerundingKenzi yang sejak tadi menguping di balik dinding akhirnya tidak tahan. Ia pun muncul di ruang makan dan langsung menyambar ucapan kakaknya."Papa sama Mama memang salah, tapi Kakak jangan merasa lebih suci dari mereka! Namanya salah ya tetap salah, Kak. Gak ada yang lebih baik di sini!" seru Kenzi, suaranya bergetar menahan tangis.Kenza menatap adiknya dengan sinis. "Terus apa bedanya sama kamu, Kenzi? Kamu juga pacaran, ciuman, bahkan berani VCS sama pacarmu itu, iya kan?"Kenzi terdiam, wajahnya sontak memerah karena malu rahasianya yang lain terbongkar. "Kak... jaga mulutmu! Aku benar-benar gak nyangka Kakak tega membongkarnya di depan Mama Papa. Jahat!"Kenza mendengus kasar. "Aku benar-benar muak. Semua orang di rumah ini belagak sok suci, padahal aslinya kotor."Sean dan Elyssa kembali merasa sesak saat mendengar fakta bahwa putri mereka juga sudah berbuat sejauh itu, meski setidaknya Kenzi belum sampai kehilangan kehormatannya.Sambil terisak, Kenzi mendekati kakaknya. "Keluar
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: (S-2) Bab 75. TerbongkarSaat semua orang sudah terlelap, Kenza kembali terbangun dari tidurnya yang sebentar.Entah kenapa, ia merasa sesuatu di bagian bawah sana menegang. Ingin rasanya kembali menikmati tubuh Siren.Kenza pun turun ke lantai bawah, berharap gadis itu keluar dari kamarnya seperti biasa.Namun hingga pukul tiga subuh, Siren tak kunjung muncul."Padahal biasanya jam dua dia pasti keluar ngintipin aku berenang,” gumam Kenza tak sabar.Kenza akhirnya memutuskan untuk menunggu di dapur. Ia duduk di sana sambil meneguk air dingin, berusaha meredam pikirannya yang liar.Tak lama kemudian, pintu kamar Siren terbuka. Dan benar saja, Siren keluar dari sana.Kenza benar-benar menantikannya. Namun Siren justru berlari terburu-buru ke toilet dapur tanpa menyadari keberadaan Kenza.Di dalam toilet, Siren kembali didera rasa mual yang hebat, meski tidak ada apa pun yang keluar dari mulutnya.Setelah merasa agak mendingan, ia pun keluar dari toilet. Ia lalu berjalan ke kulkas, hendak mengambil air es. Namu
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: (S-2) Bab 74. Niat Licik DewantoElyssa mencoba menghubungi teman-teman Kenzi satu per satu, namun tidak ada yang tahu keberadaannya.Hanya Bella yang mengaku sempat dihubungi, itu pun mereka batal bertemu karena Kenzi menolak ajakannya.Sementara itu, Sean menghubungi asisten rumah tangga di kediaman orang tuanya, berpikir Kenzi mungkin mampir ke sana. Namun, putrinya juga tidak ada di sana.“Aku sudah telpon semua teman-teman Kenzi yang aku kenal, Mas. Tapi mereka gak tau. Aku juga sudah telpon orang tuaku, hasilnya sama aja. Mereka semua gak tau Kenzi ke mana.”Sean terdiam, pikirannya kini mengarah pada Dewanto, partner bisnisnya yang belakangan ini sering terlihat bersama Kenzi.Sean pun buru-buru mencari nomor Dewanto dan menghubunginya."Bagaimana, Mas? Aku takut Kenzi kenapa-napa!""Sialan! Nomornya gak aktif!”Tangis Elyssa pun pecah. “Kita cari Kenzi di mana lagi, Mas? Kita harus bagaimana??”“Sebentar, Sayang. Aku pikirkan dulu.”Tanpa membuang waktu, Sean pun menghubungi kenalannya yang bekerja di pusat p
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: (S-2) Bab 73. Dalam BahayaKenza menarik kursi dan duduk dengan tenang. Melihat raut wajah ibunya yang tampak tegang, ia berusaha meredam suasana."Ma, tenang dulu. Tadi aku memang mau mampir ke toko Mama, tapi tiba-tiba ada chat masuk soal rapat mendadak di sekolah. Karena buru-buru, aku langsung naik ojek balik ke sana," bohong Kenza dengan nada yang sangat meyakinkan.Elyssa menghela napas panjang. Beban di pundaknya seolah sedikit terangkat. Ia merasa bersalah karena sempat menuduh putranya itu berbuat macam-macam.Jujur, pikirannya sebenarnya hanya sedang kacau karena ulah Kenzi yang berani berbohong terang-terangan tadi.Kenza masih tetap berakting tenang, memerankan sosok putra teladan yang sempurna. Ia mengubur dalam-dalam soal dirinya yang bertemu Howard Han tadi.“Maaf, Mama sudah nuduh kamu gak enggak-enggak, Kenza. Mama tadi kebawa emosi karena adik kamu,” jelas Elyssa.“Memangnya apa yang terjadi, Ma? Tadi di depan pintu utama, kami berpapasan. Aku lihat dia menangis sesegukan.”Mata Elyssa langsun
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: (S-2) Bab 72. MenyesalMalam itu, Siren dan Bi Sumi sibuk menyiapkan makan malam di dapur.Bi Sumi sama sekali tidak tahu apa yang menimpa Siren sore tadi karena Siren menutupinya dengan sangat rapi. Ia tidak ingin neneknya yang sudah renta itu ikut kepikiran.Saat sedang menata makanan ke piring, Siren tiba-tiba merasa mual.Hoekk… hoek…Bi Sumi langsung menoleh khawatir. "Nduk? Kamu kenapa?""Gak apa-apa, Nek.”"Kalau sakit, istirahat saja di kamar. Biar Nenek yang lanjutin.""Jangan, Nek. Siren mau bantu Nenek. Sumpah, Siren gak apa-apa."Entah kenapa, tubuh Siren terasa sangat tidak enak. Rasa merinding menjalar di tengkuknya, dibarengi rasa mual yang mendesak di kerongkongan.Saat keluarga majikannya mulai berkumpul di meja makan, Siren datang membawa nampan berisi jus jeruk.Kenzi, yang duduk dengan tenang, memperhatikan gerak-gerik Siren dengan mata tajam yang menyelidik."Ini jusnya, Non Kenzi," bisik Siren sopan tanpa berani menatap mata Kenzi.Namun, baru saja ia meletakkan gelas itu, aroma masaka
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 131. Tamat. Happy End.Wilona masih terpaku melihat tubuh yang terkapar itu adalah suaminya sendiri. Ia menjatuhkan lututnya, menarik tubuh Daffa yang bersimbah darah ke dalam pangkuannya.Napas Daffa terdengar pendek dan berat."Daffa… k-kenapa… kenapa kau lakukan ini?!" tangis Wilona pecah seketika. Ia menekan luka di dada Daffa, mencoba menahan aliran darah yang tak mau berhenti. "Maafkan aku... aku tidak bermaksud... Daffa!"Daffa menatap Wilona dengan mata yang mulai sayu. Tangannya yang lemah berusaha meraih wajah istrinya, meninggalkan jejak merah di pipi Wilona. Tidak ada kemarahan di mata itu, hanya ada rasa sakit dan perlindungan terakhir."Pergi… pergi, Wilona. Bawa Arkana… kabur sejauh mungkin,” bisik Daffa dengan sisa kekuatannya, sebelum matanya perlahan menutup dan tangannya terkulai jatuh ke lantai.Wilona makin panik tatkala mata Daffa tertutup. “Daffa, bangun! Bercandamu gak lucu, Daf! Bangun!!” jeritnya histeris.Tak lama kemudian, rombongan polisi datang menembus kerumunan pesta yang heb
Last Updated: 2026-02-07
Chapter: Bab 130. Membalas DendamHari bahagia itu telah tiba. Di kontrakan kecil yang biasanya dipenuhi tawa Arkana, kini terasa aura ketegangan yang pekat.Daffa mengenakan setelan jas lamanya yang sudah pudar dan sedikit kekecilan, dipadukan dengan kemeja putih baru yang ia beli dari pasar sentral. Ia berdiri di depan cermin kecil, berusaha merapikan dasi yang sudah lama tidak ia pakai. Ia ingin tampil meyakinkan, demi harga diri Wilona."Kau sudah siap, Wil?" tanya Daffa, berbalik menghadap Wilona.Wilona berdiri di samping ranjang. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Ia tampak anggun, tetapi wajahnya dingin, tatapannya kosong."Sudah," jawab Wilona, suaranya nyaris berbisik.Ia mengambil tas tangan kecilnya yang terbuat dari kulit imitasi. Di dalamnya, di balik lapisan kain yang ia jahit sendiri, tersembunyi pistol tua Baskara. Dinginnya logam itu menembus kain, mengirimkan getaran janji ke tangannya. Janji untuk membalas penghinaan Nindi. Janji untuk mengakhiri dendam mereka.Wilona memasukkan undang
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Bab 129. Belilah Baju BaruDaffa langsung menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa.” Atensinya pun langsung beralih pada Arkana."Aduh, jagoan Papa makannya lahap sekali ya," goda Daffa, mencondongkan badan untuk mencium kening Arkana. "Lihat, Ma, dia senang sekali dibelikan biskuit baru."Wilona tersenyum, senyum yang terasa sedikit kaku. "Tentu saja. Dia senang karena biskuit itu kita belikan dari hasil keringatmu, Daffa. Bukan dari uang hasil merampas."Mendengar kata-kata itu, Daffa terdiam. Ia tahu Wilona masih memendam amarah atas kunjungan Nindi kemarin. Ia meletakkan sendoknya, meraih tangan Wilona yang bebas."Aku tau kamu masih marah, Wil, karena Nindi kemarin," kata Daffa pelan. "Tapi kita sudah sepakat, kan? Kita gak akan membiarkan mereka merusak kedamaian kita. Biarlah mereka hidup bahagia, dan kita pun harus fokus pada kebahagiaan kita juga.”Wilona menarik tangannya perlahan, kembali fokus pada Arkana. "Aku gak marah, Daffa. Aku hanya... memikirkan biaya hidup kita. Kau harus kembali ke pasar sebentar
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: Bab 128. Rencana Gila WilonaMalam harinya, Daffa dan Wilona berbaring di kasur tipis mereka. Arkana sudah tertidur pulas di antara keduanya.Tak lama, Daffa pun ikut ke alam mimpi, ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di pasar.Namun, Wilona tidak bisa memejamkan mata. Otaknya terus memutar kembali setiap ucapan Nindi: “Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang.” dan “Kami ingin kalian melihat bagaimana rasanya menjadi pemenang.”Darah Wilona kembali mendidih. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang mereka alami.Ia teringat bagaimana Nindi dan Rexa bekerja sama menjebak Baskara, ayahnya, dan bagaimana mereka mencuri semua aset perusahaan milik Daffa, Zenith Corp.Dendam yang selama ini ia tahan, yang ia pendam demi kebahagiaan sederhana, kini meledak kembali. Mereka berhak menderita, pikir Wilona.Wilona pun perlahan bangkit dari kasur, bergerak hati-hati agar tidak membangunkan Daffa. Ia lalu menyelinap keluar dari kamar, menuju kamar kecil Nanik yang ber
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: Bab 127. Undangan dari Mantan“Wah, jadi ini ya rumah baru kalian? Selamat ya,” sapa Nindi dengan nada merendahkan, menyapu pandangan ke kontrakan kecil itu. Ia menatap Daffa, yang mengenakan kaus oblong lusuh, lalu ke Wilona yang sedang menggendong bayi mereka. "Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang. Sangat... membumi."Darah Wilona terasa mendidih. Ia ingin sekali menjambak rambut Nindi, melampiaskan semua rasa sakit, pengkhianatan, dan penghinaan yang telah ia dan ayahnya alami. Namun, tatapan mata Daffa, yang berdiri di sampingnya, menyampaikan sebuah peringatan dingin.Daffa menggelengkan kepalanya sedikit, isyarat tanpa suara, mengingatkannya bahwa mereka tidak punya kuasa apa-apa lagi untuk melawan.Wilona menarik napas tajam, menahan semua amarah itu di balik ekspresi datarnya. "Mau apa kau kemari, Nindi?""Aku ingin mengantarkan undangan pernikahan." Nindi menyerahkan amplop itu ke tangan Daffa. "Kami tau kalian ingin melihatnya. Rexa dan aku mengundang kalian untuk menjadi saks
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: Bab 126. Bertemu LagiSementara itu, di belahan lain, Nindi dan Rexa tenggelam dalam kesibukan persiapan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.Di salah satu suite mewah hotel bintang lima di Jakarta, Nindi duduk di sofa beludru, jarinya mengetuk-ngetuk layar tablet, menyempurnakan daftar tamu.Di sudut ruangan, Rexa, calon suami Nindi, tengah bertelepon dengan pihak catering dan WO, ingin memastikan dekorasi aula besar sudah sesuai dengan tema mewah yang Nindi inginkan.Rexa terlihat tegang, tetapi bahagia. Ia akhirnya akan mengikat janji dengan Nindi, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari perusahaan Zenith Corp yang sudah Nindi pegang."Rexa! Sini sebentar," panggil Nindi tanpa mengalihkan pandangan dari tablet.Rexa segera menghampiri, duduk di sebelah Nindi. "Ada apa, Sayang? Sudah final untuk bunga mawar putihnya?""Bunga sudah beres, sudah pasti yang paling mahal dan paling segar. Ini tentang daftar tamu," kata Nindi, menyunggingkan senyum tipis. "Ada satu nama lagi yang
Last Updated: 2025-12-08