Mag-log inMalam yang panas antara dia dan seorang pria membuat Rhea mengandung. Semua menjadi runyam ketika Ayah dan Ibu tirinya mengetahui hal itu. Rhea diusir dari rumah tanpa mendengarkan penjelasannya. Dia pergi tanpa tau harus kemana. Disisi lain pria yang menghabiskan malam dengannya terus mencari keberadaannya. Hingga Pada akhirnya dia memilih ikut bersama dengan pria itu hanya untuk malam itu. Namun, pria itu tak berniat melepaskannya.
view moreChapter one -The Watcher
The rain had just started to fall, a thin mist that turned the morning streets of Lagos into a blur of umbrellas and impatient horns. Elena tucked her handbag closer to her chest as she hurried toward the bus terminal, her heels clicking against wet pavement. She hated Mondays. The city always felt more restless at the start of the week, like everyone was scrambling to erase the mistakes of the weekend before. It was then she noticed him. A man stood perfectly still near the terminal gates, as if untouched by the chaos around him. He wore a long gray coat that seemed out of place in the sticky Lagos humidity. While others shifted, gestured, and grumbled at bus conductors, he didn’t move. His head tilted slightly, eyes hidden beneath the brim of a dark hat. At first, Elena thought nothing of it. Lagos was full of strangers, after all—faces that blurred, lives that brushed briefly against hers before vanishing forever. But something about his stillness made her pause. She felt his gaze, though she couldn’t see his eyes. The bus conductor’s shout jolted her back. “Ojuelegba! Ojuelegba straight!” Elena climbed aboard, squeezing between two women with baskets of plantains. She told herself she was imagining things. The city was large, messy, and unpredictable. A man in a gray coat meant nothing. Or so she thought. Two days later, she saw him again. This time, he was standing across the street from her office building in Victoria Island. The lunchtime crowd bustled between fast-food stalls and banking halls, but there he was—still as stone, coat brushing against his legs as if the wind bent itself around him. Her heart gave a nervous flutter. Coincidence, she told herself. Lagos swallowed thousands of faces a day. Surely one of them could repeat. But she couldn’t stop the uneasy chill spreading down her arms. By Friday, she had seen him three times. And by then, Elena knew it wasn’t coincidence. She didn’t consider herself paranoid—she was a financial analyst, trained to see patterns in numbers, not ghosts in shadows. Yet this pattern unsettled her more than any faulty spreadsheet ever had. Whenever she spotted him, he wasn’t near her—he was watching her. Always at a distance, never close enough to confront, but never far enough to forget. The thought gnawed at her during meetings, when her boss droned about projections; it whispered to her at night when she locked her apartment door and double-checked the windows. Who was he? And what did he want from her? On Saturday, she decided to test it. She left her flat earlier than usual, dressing in casual clothes instead of her weekday suits. She walked quickly, weaving through the noise of Balogun Market, past stalls spilling with peppers, cloth, and cheap electronics. She deliberately took side streets she rarely used. Twenty minutes later, as she pretended to browse a vendor’s jewelry stand, she saw him again. Gray coat. Hat brim. That same unnerving stillness. Her pulse kicked hard. She ducked into a narrow bookstore tucked between a tailor’s shop and a phone accessories stall. The dusty scent of old pages wrapped around her as she slipped behind a tall stack of novels. Her hands trembled as she pulled out her phone and dialed her best friend. “Mariam, he’s here again,” Elena whispered, her voice low. “Who?” Mariam’s voice buzzed over the line. “The man. The one I told you about—the gray coat. He’s following me, I swear it.” “Elena, relax. You’ve been overworking yourself. Lagos is full of strange men. Maybe he just happens to walk the same routes.” Elena peeked through the bookstore’s glass front. The man hadn’t followed her inside, but she could still see his reflection in the glass: steady, unshaken, waiting. Her stomach sank. She wasn’t imagining it. She was being watchedBenjamin tak bisa sepenuhnya menikmati rasa bahagianya. Banyak hal menantinya. Esok hari, dia sudah ada dimakam itu—berdiri seorang diri. Tanahnya masih basah, nisan itu baru dipasang. Semua dia urus sendiri.Tak ada pelayat. Tak ada doa. Hanya diam menekan dada. "Setidaknya, aku harap kau tenang di sana!" ucapnya. Tak ada air mata yang menetes, wajahnya hanya datar. "Aku ingat tak mengundangmu!" kata Benjamin kemudian. Tepat disampingnya Sicilia berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Benjamin tampak menurunkan kewaspadaanya."Dia Tuanku." jawabnya singkat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" tanya Benjamin tanpa menoleh. "... aku datang hanya untuk melihat liang terakhir pria yang penuh derita," Sicilia menepuk pelan pundak Benjamin. "Hanya itu?" kini Benjamin menoleh, memberikan tatapan tak percaya. Sicilia tersenyum kecil, lantas menaburkan bunga di atas makam basah itu. "Aku adalah saksi hidup kisah orang tuamu..."Dia melanjutkan, "Aku teman dekat Ibumu, juga orang kep
Kini di ruangan itu Benjamin seorang diri. Pikirannya melayang, segala hal buruk terjadi bersamaan. Kekhawatirannya tentang Rhea kian menjadi, bersamaan dengan perasaanya yang terasa hampa. Tak lama pintu berderit, nenek Rhea masuk dengan bingung. "Mengapa kau ada disini?" tanyanya. "Bising apa yang terjadi? aku tidak menemukan putraku juga Vareli?!" Benjamin menoleh, wajah yang penuh derita itu berubah menghangat. Dia berpura-pura tak terjadi apapun. Dia menghampiri sang nenek, menyentuh tangan wanita tua itu dengan lembut. "Nenek, aku datang untuk memberi kabar Rhea telah melahirkan seorang putra." Nenek tampak terkejut, kemudian lega. Agak lama nenek tak mengatakan apapun, dia hanya menyentuh wajah Benjamin dengan lembut. "Kau tidak baik-baik saja? pakaianmu begitu lusuh, kotor, dan terdapat noda darah! Jangan menipuku...?!" Saat itu lah Benjamin tak mampu menahan air matanya lagi. Beban yang terlalu lama menumpuk meluap begitu saja. Tak sekalipun kehangata
Dengan perasaan puas Vareli membuka ruangan suaminya, dimana segala cap dan hak kekuasaan ada disana. Senyum yang sempat merekah indah mendadak lenyap, tat kala melihat Benjamin duduk santai di kursi dengan kaki menyilang di atas meja. "Aap-" belum sempat Vareli berteriak, seseorang telah membekap mulutnya dari samping. Pintu tertutup rapat. Dengan kasar, tubuhnya dipaksa merosot hingga berlutut di lantai. Benjamin menopang wajahnya sembari menatap ke arah Vareli tajam. "Aku sudah memperingati, jangan menganggu!" ucapnya dingin.Dengan wajah kebingungan, dan takut Vareli mencoba memberontak dari dekapan bawahan Benjamin, yang jelas mustahil."Orang bodoh!" kata Benjamin, "Sejak tau Lili bergabung dengan Charles kediaman Dominic ada dalam pengawasan ku." dia menyeringai. "Benar kan Ayah mertua," Pintu berderit, Vareli segera menoleh kebelakang, dan Hendra berjalan masuk dengan tegap, dan hidup. Lalu Charles dan Lili sudah tertangkap oleh bawahan Benjamin lainnya. Kini Benjami
Di dalam sebuah gudang tua yang lembab. Charles dan Lili bersembunyi didalamya. Jauh dari lokasi perseteruan dengan rombongan Benjamin sebelumnya. Lili menatap Charles penuh keputusasaan—pria yang terengah-engah akibat luka tembakan serta pukulan yang sempat menghantamnya. "Kenapa begini!" Lili mengacak kasar rambutnya. Dia dengan kasar menarik kerah jaket Charles, "Aku tidak ingin MATI. Kau berjanji padaku bahwa posisi Benjamin akan kau gantikan!""Aku bergabung dengan mu sebab, ingin melihat kehancuran Rhea, bukan sebaliknya?!" teriaknya lantang.Tapi Charles bahkan tak bergeming hanya napas berat yang susah payah ia tenangkan. Dengan kesal Lili memukul dada Charles. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menggenggam jaketnya sendiri. Ia berkali-kali menoleh ke pintu, ke jendela, ke sudut-sudut gelap ruangan. Menduga-duga bawahan Benjamin pasti akan segera menemukan mereka."Kita harus pergi lagi," ucap Lili terbata. "Benjamin tidak akan berhenti. Sekarang dia memimpin dua
Setengah hari berlalu dan Rhea lebih banyak berdiam dikamarnya. Setelah mengetahui bahwa yang kakek itu katakana bohong. Rhea merasa bodoh, percaya dengan ucapan dari orang asing. Rhea lebih banyak merebahkan diri diatas kasur dengan mata terpejam, namun tak mampu tertidur. Itu adalah bentuk kekhawa
Rhea mendorong dada Benjamin. “Tidak. Aku tak ingin kau menyentuhku malam ini.” “Apa yang kau pikirkan itu hanya kecupan selamat malam.” Jelas Benjamin sembari tertawa. “Aku tak akan tertipu.” Rhea tak percaya, sering kali Benjamin berkata demikian, namun berbeda dengan tindakannya. “Sungguh?!” god
Benjamin menatap Rhea intens. Wajahnya tampak bergairah penuh ide-ide nakal. Benjamin lantas mencumbu bagian perut Rhea dan sesekali menjilatinya dengan lembut.Rhea mengernyit. “Tenanglah Rhea, hari ini aku akan memuaskanmu.” ucap Benjamin.Rhea merasa aneh, hal ini sangat memalukan. Namun, dia tak m
Rhea menyentuh pelan tangan Benjamin. Dia masih bergidik. “Aku mau pulang.” pintanya. Jemari Benjamin yang tadinya mengepal kuat dengan urat-urat tangannya yang nampak, lantas dia merilekskan diri. Kini perhatiannya tertuju pada Rhea. Kemudian Benjamin menyentuh pipi kiri Rhea lembut. “Ya. Kita pula






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu