author-banner
Lincooln
Lincooln
Author

Novel-novel oleh Lincooln

Kacamata Penakluk

Kacamata Penakluk

Bejo hanyalah seorang OB rendah yang diremehkan dan direndahkan di tempat kerjanya, terutama para wanita. Semua itu menyulut dendam dalam diri Bejo, tetapi dia tidak bisa apa-apa. Sampai dia menemukan sebuah “Kacamata Penakluk Wanita” di gudang berdebu. Kacamata itu memiliki sistem yang membedah statistik rahasia, skandal busuk, hingga hasrat terdalam setiap wanita yang ia tatap. Dengan alat itu di tangannya, Bejo bisa membalikkan keadaan. Namun, tidak sampai di situ saja. Kacamata ini memberikan berbagai tugas yang membuat Bejo berubah dari pria yang polos menjadi dominan dan penuh muslihat. Tatapan kosongnya berubah tajam, dan tubuh kurusnya perlahan terbentuk sehingga dia tidak mudah diremehkan lagi. Bejo mulai menggunakan kacamata penakluk itu untuk menaklukkan para wanita yang dulu menghinanya. Satu per satu, manajer dingin hingga istri konglomerat jatuh ke dalam kendali mentalnya.
Baca
Chapter: 73. Permainan selesai (?)
Aku melepaskan kacamata emas dari wajahku lalu meletakkannya di atas meja kaca yang berada di samping sofa. Cahaya biru pada bingkainya meredup perlahan hingga akhirnya menghilang, menyisakan pantulan lampu kota yang masuk melalui dinding kaca penthouse. Dari sini, jalanan di bawah sana tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti bergerak. Jika dilihat dari kejauhan, semuanya terlihat damai, seolah dunia berjalan sebagaimana mestinya.Aku terkekeh pelan.Damai hanyalah ilusi yang dinikmati oleh orang-orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Semakin tinggi seseorang naik, semakin jelas terlihat bahwa dunia tidak pernah dibangun oleh kejujuran seperti yang diajarkan dalam buku-buku. Dunia bergerak karena kepentingan. Karena ambisi. Karena ketakutan manusia kehilangan apa yang sudah mereka miliki. Dan malam ini, aku sedang memandangi hasil dari semua ketakutan itu.Aku menyandarkan tubuh ke sofa dan menutup mata beberapa saat. Rasanya aneh ketika menyadari
Terakhir Diperbarui: 2026-06-02
Chapter: 72. Jalanan raya
Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka
Terakhir Diperbarui: 2026-05-11
Chapter: 71. Di kamar mandi
Sari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman
Terakhir Diperbarui: 2026-05-11
Chapter: 70. Hadiah untuk preman
Sari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman
Terakhir Diperbarui: 2026-05-11
Chapter: 69. Ancaman Herman
Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da
Terakhir Diperbarui: 2026-05-07
Chapter: 68. Sari ingin dilihat
Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,
Terakhir Diperbarui: 2026-05-06
Kacamata Penakluk Wanita

Kacamata Penakluk Wanita

Sebuah kacamata teknologi tinggi mengubah hidup Bima, mahasiswa tingkat akhir yang hampir putus asa menjadi seorang penakluk wanita. Awalnya dia ingin memanfaatkan teknologi itu membuat Monica, dosen pembimbingnya yang cantik dan galak, tunduk kepadanya. Dia juga menjerat beberapa wanita dan mempermainkan mereka. Ternyata, kemampuannya itu malah membuka skandal busuk yang melibatkan para wanita yang telah dia taklukkan.
Baca
Chapter: 163. Pertunjukan di kolam
Aku menarik tangan Iis dari pangkuanku, lalu berdiri. Mata Iis mengikuti setiap gerakanku dengan sorot penasaran yang berubah menjadi gairah saat aku menggandengnya menuju pintu kaca geser yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman belakang."Ke kolam renang, Tuan?""Bukan sekadar ke kolam renang."Aku menggeser pintu kaca itu, dan udara malam yang lembab langsung menyergap wajah kami. Lampu kolam renang menyala dari dasar air, memancarkan cahaya kebiruan yang menari-nari di permukaan. Tapi bukan itu yang kuingin Iis lihat."Lihat ke atas."Iis mengangkat wajahnya, dan aku melihat tepat saat kesadarannya menangkap apa yang kumaksud. Di sekeliling halaman belakang rumahku, menjulang bangunan kos-kosan—dua lantai di kiri, tiga lantai di kanan, dan sebuah gedung apartemen mahasiswa tepat di belakang pagar pembatas. Puluhan jendela dan pintu balkon menghadap langsung ke area kolam renang, menciptakan semacam amfiteater alami."Tuan..." napas Iis tercekat. "Itu... banyak banget orangny
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: 162. Perubahan tubuh Iis
Ruang tengah rumahku remang-remang saat matahari mulai tenggelam di balik bukit. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan berita sore yang sama sekali tidak kuperhatikan. Aku terkapar di sofa kulit, kaki selonjor di meja kopi, pikiran masih mengembara ke kampung halaman Tejo—tempat Ajeng sekarang berada.Suara pintu samping terbuka dan tertutup memecah keheningan."Tuan..."Iis muncul di ambang ruang tengah, masih mengenakan kaos putih dan jeans ketat yang tadi siang kupakai sebagai tontonan di kantin. Wajahnya yang khas mojang Priangan itu berkeringat tipis dengan rambut lurus sebahu sedikit berantakan."Ke mana Ajeng sama Pak Tejo, Tuan? Biasanya Ajeng udah siapin makan malam sekarang."Mataku tetap tertuju ke televisi. "Ajeng menemani Tejo yang pulang kampung. Ada urusan di sana.""Oh..."Aku bisa mendengar nada kecewa dalam suaranya. Mungkin dia berharap bisa bergosip dengan Ajeng seperti biasa."Aku ganti baju dulu ya, Tuan. Badan lengket abis jualan.""Silakan."Dia be
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: 161. Ajeng dan Tejo mudik
Langit sore mulai menguning saat aku dengan motor bututku memasuki garasi rumah. Aku memarkir di ruangan yang luas dan rapi itu, lalu berjalan menuju pintu samping di garasi. Biasanya, Ajeng akan muncul dalam hitungan detik, dengan daster sederhana dan senyum malu-malu khasnya.Tapi kali ini berbeda.Pintu kayu jati itu terbuka, dan Ajeng muncul dengan penampilan yang membuat alisku otomatis terangkat. Tank top putih super tipis—saking tipisnya, bayangan kuncup payudaranya yang coklat gelap tercetak jelas di balik kain. Kerahnya rendah, memperlihatkan belahan dadanya yang dalam dan montok. Di bawahnya, hanya celana super pendek berbahan katun yang menempel ketat di pahanya yang putih mulus."Tuan Bima..."Dia langsung memelukku begitu aku di ambang pintu. Tubuhnya yang hangat dan kenyal menekan dadaku, aroma manis dari tengkuknya langsung menguar. Aku melingkarkan lengan di pinggangnya, lalu mencubit pinggangnya yang empuk—cukup keras untuk membuatnya mendesah."Nnggh... Tuan...""Kau
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: 160. Posesif
Jemariku mencengkeram kerah sweater rajut Rahmi, lalu menariknya ke atas dengan satu sentakan brutal. Benang-benang rajut itu melolos dari tubuh mungilnya, memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai benang pun.Payudaranya yang besar dan montok berguncang bebas, kuncup merah mudanya mengeras oleh udara dingin dan gairah yang membuncah. Celana jeansnya sudah melorot ke lantai, menyisakan celana dalam tipis yang sudah basah kuyup."Lepaskan semuanya."Rahmi menurunkan tangannya dari belakang kepala, lalu dengan jemari gemetar ia melorotkan celana dalamnya sendiri. Kain tipis itu jatuh ke pergelangan kakinya, memperlihatkan liangnya yang mulus—tanpa sehelai bulu pun, merekah basah, berkilat oleh cairannya sendiri yang sudah merembes hingga ke paha dalam.Aku mendorongnya ke dinding gudang. Punggungnya yang mungil menekan kayu lapuk, dadanya yang telanjang naik-turun memburu saat aku membuka resleting celanaku sendiri. Batangku melompat bebas, keras, berurat, dan siap menghanc
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: 159. Perintah untuk Rahmi
Aku melangkah menyusuri koridor belakang gedung B yang lengang. Sepatu kulitku mengetuk lantai marmer tua dengan ritme teratur, sementara pikiranku masih berkutat pada percakapan Monica dan Rahmat tadi. "Sepertinya kita bisa tanyakan ini juga kepada Rahmi nanti saat ketemu." Suara Eva berdengung di benakku, lembut namun penuh perhitungan. "Benar, Tuan. Kemungkinan besar dia tahu masalah ini." Aku mengangguk pelan, lalu berbelok menuju tangga yang jarang dilewati. Di sudut paling ujung, tersembunyi di balik bayangan, ada sebuah pintu kayu lapuk yang nyaris tidak terlihat. Gudang bangku kuliah—tempatku biasa bersembunyi saat harus mengaktifkan mode monitor tanpa gangguan. Dan di depan pintu itu, Rahmi sudah menunggu. Tubuh mungilnya nyaris tenggelam dalam sweater rajut oversized berwarna krem. Kerahnya begitu lebar hingga sebagian bahunya yang putih mulus terbuka, tulang selangkanya menonjol menggoda. Pakaian itu longgar, jatuh begitu saja menutupi tubuhnya, tapi begitu dia bergera
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: 158. Mencoba membantu
Aku melangkah mundur, mencari sudut yang benar-benar tersembunyi dari lalu-lalang orang. Di belakang gedung B ini, ada ceruk sempit di antara dua dinding yang biasanya cuma jadi tempat bersandar para perokok gelap. Sekarang kosong. Sempurna.Tanganku merogoh ke dalam tas, jemariku menyentuh bingkai emas yang dingin. Kacamata ajaib itu—teknologi dari dimensi yang bahkan tidak bisa kubayangkan—kini bertengger di tanganku. Sekali lagi aku melirik sekitar. Tidak ada yang lewat. Tidak ada yang memperhatikan.Begitu lensa hitamnya menempel di mataku, dunia berubah. Kegelapan sesaat, lalu visual di depanku melesat maju seperti kamera yang melakukan zoom ekstrem. Pohon beringin, parkiran, lalu dua sosok yang berdiri di bawahnya—Monica dan Rahmat—kini tampak begitu dekat, seolah aku berdiri tepat di samping mereka.Suara mereka pun terdengar. Jernih. Setiap nada, setiap desah napas."—nggak masuk akal, Mon. Tiba-tiba posisiku di lembaga konsultan hukum hilang begitu saja. Apa kau tidak percay
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Terjebak Gairah Siluman

Terjebak Gairah Siluman

Wulan bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia hidup dalam bayangan misteri. Tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dia hanya dibesarkan oleh kehangatan Ningsih, ibu angkatnya. Namun, kehangatan itu berubah menjadi bara api pembalasan dendam ketika Wulan tepat berusia 20 tahun. Di suatu malam yang mengerikan, Ningsih terbunuh di antara kegelapan pekat di hutan larangan. Wulan merasa bersalah karena merasa Ningsih mati karena dirinya, dan meminta bantuan Mbah Broto, dukun sakti yang ada di kaki Gunung Halimun, tidak jauh dari desanya. Mbah Broto menjanjikan Wulan kekuatan untuk memburu sang dedemit, namun dengan satu syarat yang sangat mahal. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada dukun bejat itu. Bukan sebagai pemuas nafsu, tetapi sebagai alat untuk menjalankan tugas-tugas kotornya yang berkaitan dengan alam gaib dan dunia manusia. Wulan terpaksa menggunakan setiap inci pesonanya, setiap lekuk tubuhnya, untuk mengumpulkan tumbal dan harta yang diperlukan Mbah Broto dalam ritual-ritualnya yang sesat. Ia tidur dengan para penguasa, menjerat pejabat korup, dan menghisap energi pria-pria lemah demi memperkuat Mbah Broto. Setiap sentuhan, setiap desahan yang ia berikan adalah harga yang ia bayar untuk selangkah lebih dekat menuju taring sang dedemit. Ia menjadi boneka yang sempurna, pelayan nafsu dan ambisi sang dukun, namun bara dendamnya tetap menyala terang. Kecantikan dan kemolekan Wulan menjadi umpan yang lezat, dan lama-kelamaan, Wulan mulai menikmati perannya. Apakah dia akan kelak larut di dalamnya, dan lupa niat balas dendamnya?
Baca
Chapter: 185. Terjebak.. Selamanya?
Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: 184. Mengepung
Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: 183. Berpura-pura
Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der
Terakhir Diperbarui: 2026-03-23
Chapter: 182. Bus malam
Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 181. Perjalanan baru
Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: 180. Jangan lengah (long chapter)
Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16
Anda juga akan menyukai
Menikahi Roh
Menikahi Roh
Thriller · Mayaagne1016
2.5K Dibaca
Sentuhan Dahsyat Dokter Midas
Sentuhan Dahsyat Dokter Midas
Thriller · VityGether
2.4K Dibaca
PART-TIME
PART-TIME
Thriller · Marianné
2.4K Dibaca
Kode Prosa Aisha
Kode Prosa Aisha
Thriller · D. Ardhio Prantoko
2.4K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status