author-banner
Taufik Tangguh
Taufik Tangguh
Author

Novels by Taufik Tangguh

Gadis Bau Jelantah itu Kini Bosmu

Gadis Bau Jelantah itu Kini Bosmu

​Kematian mendadak sang ayah seharusnya menjadi duka terdalam bagi Rani yang baru berusia sepuluh tahun. Namun, air matanya tak sempat mengering ketika kebenaran yang jauh lebih kejam terungkap. Tante Riska, bibinya sendiri, merekayasa utang fiktif dan merampas paksa seluruh harta keluarganya, melempar Rani dan ibunya, Sinta, ke dasar jurang kemiskinan yang paling hina. ​Demi bertahan hidup, Sinta terpaksa berjualan gorengan menggunakan minyak jelantah sisa. Asap tengik itu menempel abadi di seragam sekolah Rani, menjadikannya sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Dijuluki "Rani Jelantah", ia dihina, sepatunya dibuang ke selokan, uang sekolahnya dicuri, dan masa depannya nyaris dihancurkan oleh sepupunya yang licik dan arogan, Hilda. ​Namun, para penindas itu melupakan satu hal penting: kemiskinan mungkin bisa merampas rumah Rani, tapi tak akan pernah bisa menumpulkan kecerdasannya yang mengerikan. Di balik aroma tengik minyak jelantah dan telapak kakinya yang melepuh di atas aspal panas, sebuah sumpah dendam yang absolut telah lahir. Rani menolak untuk hancur. Ia akan menggunakan otak jeniusnya sebagai senjata mematikan untuk menguliti kesombongan keluarga Kusuma dari akar-akarnya. ​Gadis Bau Jelantah Itu Kini Bosmu Jilid adalah epik tentang pengorbanan darah seorang ibu, konspirasi keluarga yang keji, dan bangkitnya seorang anak dari dasar selokan. Karena balas dendam terbaik tidak butuh kepalan tangan; ia hanya butuh kecerdasan yang menolak untuk dikalahkan.
Read
Chapter: Ketukan di Pintu Om Arman
Tujuannya hanya satu: rumah mewah berpagar besi tinggi milik Om Arman dan Tante Riska yang terletak di kawasan perumahan elite, beberapa kilometer dari gang kumal tempatnya tinggal. Tempat yang selama ini paling dihindarinya karena merupakan pusat dari segala sumber penderitaan psikologisnya.Rani berdiri di depan gerbang besi hitam menjulang yang dilapisi pelat fiber penutup. Tangan kanannya yang kurus mencengkeram besi dingin itu, lalu menekan tombol bel kuningan di sisi kanan pilar beton. Bunyi nyaring menggema dari dalam halaman rumah berarsitektur mediteranian tersebut. Kedua kaki Rani bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena ia berlari tanpa henti di bawah terik matahari pagi yang mulai memanggang aspal demi menghemat uang dua belas ribu di sakunya.Cklek. Pintu utama rumah ber-AC itu terbuka. Sosok pria paruh baya dengan kaos oblong putih tipis dan sarung kotak-kotak melangkah keluar. Om Arman."Rani?" Om Arman melebarkan matanya, terkejut melihat keponakannya be
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Ambruknya Punggung Baja
​"Bertahanlah, Bu," bisik Rani, suaranya kini bergetar, pertahanan emosionalnya sedikit retak melihat satu-satunya pilar kehidupannya tumbang. "Aku janji bakal cari obatnya besok pagi. Aku bakal jualan tempenya. Aku bakal ngelakuin apa aja. Ibu cuma perlu napas sampai besok pagi. Tolong, Bu... jangan tinggalin Rani sendirian di dunia yang isinya cuma lintah dan parasit ini."​Ketika fajar menyelinap di antara celah dinding papan gubuk mereka, hawa dingin yang menusuk tulang berganti dengan pengap yang mencekik. Rani terbangun dengan sentakan instan. Kesadarannya langsung pulih seratus persen dalam hitungan detik. Ia menoleh ke samping, tempat ibunya terbujur kaku.​"Ibu? Sudah pagi. Biar aku yang ke pasar," kata Rani sambil mengguncang bahu Sinta.​Tidak ada jawaban. Kulit Sinta yang biasanya sawo matang kini berubah pucat pasi, nyaris keabu-abuan seperti kertas usang. Saat Rani menyentuh lengan ibunya, rasa panas yang menyengat langsung merambat ke telapak tangannya. Suhu tubuh Sinta
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Belajar di Bawah Cahaya Lilin
Di bawah cahaya rapuh sebatang lilin itu, Rani menatap wajah ibunya. Hatinya seperti diremas tangan raksasa tak kasat mata. Cahaya lilin menyorot tegas seberapa kurus dan kelelahannya Sinta saat ini. Punggung baja yang selama ini menopang hidup Rani itu tampak begitu rapuh, siap hancur kapan saja.Sinta terbatuk lagi, kali ini lebih keras. Ia memegangi dadanya, berusaha meredam suara batuk agar tak terdengar sampai ke telinga Bu Tejo di sebelah."Ibu duduk sekarang. Tinggalkan wajan itu," perintah Rani absolut, suaranya tak menyisakan ruang untuk bantahan. Ia menarik kursi kayu reyot dan menuntun ibunya duduk."Ibu masih bisa ngaduk bumbunya, Rani..." tolak Sinta parau, napasnya berembus panas. "Kalau nggak dipanasin bener-bener, besok—""Besok adalah urusan besok!" potong Rani cepat, matanya menatap tajam ibunya di keremangan. "Aku ini bukan ahli nujum, Bu. Tapi melihat pupil mata Ibu yang melebar, keringat dingin, dan napas pendek ini, anak SD pun tahu Ibu sedang demam tinggi. K
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Bab 34. Gelap di Rumah
Dunia yang baru saja terasa cerah kembali runtuh menimpa kepala Sinta. Lutut wanita itu lemas seketika. Telur dadar spesial, tawa kemenangan, dan segala euforia di ruang BP tadi menguap dihantam palu godam realita kemiskinan yang brutal."Ya Allah... listrik kita diputus..." bisik Sinta dengan bibir gemetar pucat, matanya menatap kosong pada segel kuning itu. "Bulan lalu uangnya Ibu pakai buat beli seragam putihmu, Nduk... Bulan ini dagangan sepi kena hujan terus... Ibu... Ibu belum pegang uang sama sekali..."Rani mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia memang bisa mengalahkan kesombongan guru eksakta dengan rumus kalkulus, ia bisa menghancurkan alibi palsu Tante Riska dengan logika forensik, tapi otaknya yang jenius tak bisa menciptakan lembaran uang kertas untuk membayar tagihan yang mencekik leher mereka hari ini.Udara siang itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Gelap yang sesungguhnya kini sedang menanti mereka di balik pintu kayu yang lapuk itu.Kresek sayuran dan bumbu
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Bab 33: Permintaan Maaf Sekolah
Isak tangis memalukan Hilda yang bersujud di ubin dingin itu masih menggema, menjadi satu-satunya suara di ruang BP yang mendadak terasa hampa bagi para antagonis.Melihat sepupunya mencium debu di depan kaki ibunya, Rani tidak merasakan euforia murahan. Matanya tetap sedingin es. Kemenangan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah pernyataan perang yang baru saja ia menangkan di ronde pertama.Pak Haris, yang sejak tadi berdiri kaku dengan keringat membasahi kerah safarinya, tahu betul bahwa ia harus segera menyelamatkan karir dan wajah institusinya. Dengan langkah tergesa-gesa, sang Kepala Sekolah berjalan menghampiri meja Bu Endang.Sret! Sret!Di depan mata semua orang, Pak Haris merobek surat peringatan dan draf Drop Out atas nama Rani menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah."Bu Sinta," suara Pak Haris terdengar bergetar, menurunkan egonya hingga ke titik terendah. Ia menundukkan badannya sedikit, sebuah gestur yang tak pernah ia lakukan pada wali mur
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Pembuktian Sang Jenius
Udara di ruang BP mendadak membeku, tersedot habis oleh aura kejeniusan mutlak dari Rani."Jawab saya, Pak Anwar! Bu Mita!" Suara Pak Haris menggelegar, memecah keheningan yang mencekik leher. Keringat dingin menetes dari pelipis kepala sekolah itu. "Benar atau tidak jawaban anak itu?!"Pak Anwar masih mematung, menatap papan tulis seolah sedang melihat hantu di siang bolong. Tangan kanannya yang memegang ponsel dengan aplikasi kalkulator ilmiah bergetar hebat."Benar... seratus persen akurat, Pak," suara guru matematika berwajah algojo itu kini mencicit, tak ada lagi sisa arogansi di nadanya. "Bahkan... dia tidak menggunakan rumus dasar. Dia memotong jalur perhitungan dengan teorema binomial Euler. Cara ini baru diajarkan di semester empat jurusan Matematika Murni. Ini... ini tidak masuk akal.""Bu Mita?!" kejar Pak Haris dengan napas memburu, menoleh pada guru biologi yang masih bersandar lemas di dinding."Sempurna, Pak Haris," Bu Mita menelan ludah, suaranya parau. Matanya ta
Last Updated: 2026-06-25
Tahta Kehormatan untuk Istri Setia

Tahta Kehormatan untuk Istri Setia

​"Kalian bisa merampas semua hartaku, tapi kalian tidak akan pernah bisa memaksa aku meninggalkan suamiku!" ​Bagi keluarga besarnya, Senja Ayunda adalah putri bodoh yang membuang masa depan demi menikahi Bumi, seorang kurir berjaket lusuh. Meski setiap hari dihina, diusir tanpa uang sepeser pun, hingga dipaksa menerima pinangan CEO arogan demi melunasi hutang keluarga, Senja tetap memilih bertahan hidup kelaparan bersama suaminya. Namun, di tengah semua air mata dan pengorbanannya, Senja tidak pernah menyadari satu hal: pria pendiam yang rela makan sisa kuah sayur bersamanya itu, menyembunyikan identitas kelam yang sanggup melenyapkan semua orang yang telah menghina mereka dalam satu malam. Siapa Bumi sebenarnya?
Read
Chapter: Bab 18. Preman Bayaran
Angin laut yang kotor dan berdebu menampar wajah pucat Senja. Langkah kakinya tertatih, seluruh berat tubuhnya nyaris bersandar penuh pada lengan Bumi. Demam yang memanggang tubuhnya membuat pandangannya sesekali mengabur. Mereka baru saja berbelok dari gerbang pelabuhan, memasuki sebuah gang tikus yang diapit dinding gudang kontainer berkarat."Mas, gang ini sepi sekali," bisik Senja dengan napas putus-putus. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya."Ini jalan pintas tercepat ke klinik depan, Nja," jawab Bumi lembut. Tangan pria itu merengkuh pinggang Senja semakin erat. "Bertahanlah sebentar lagi."Langkah Bumi mendadak terhenti.Senja mendongak dengan susah payah. Di ujung gang yang sempit itu, tiga pria bertubuh kekar menghalangi jalan. Mereka mengenakan jaket kulit kusam, lengan baju yang digulung memamerkan tato kasar, dan salah satunya memegang sebatang balok kayu. Asap rokok mengepul dari mulut pria yang wajahnya dihiasi codet melintang."Mau ke mana, Kuli
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 17. Pekerja Kasar
Sinar matahari pagi menembus celah atap seng kontrakan, menusuk tepat di kelopak mata Senja. Wanita itu melenguh pelan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada godam yang menghantam tengkoraknya berulang kali. Demamnya sama sekali belum turun. Seluruh persendiannya terasa ngilu, namun hawa dingin di sekitarnya memaksa Senja untuk meraba sisi kasur di sebelahnya.Kosong.Tidak ada kehangatan suaminya di sana. Hanya ada selimut tipis yang dilipat rapi.Kepanikan seketika menyengat dada Senja, mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan pusing yang membuat seisi ruangan berputar. Tepat saat itu, pintu kontrakan diketuk pelan. Bu Darmi, tetangga sebelah kamarnya, melongok ke dalam membawa segelas teh hangat."Nja? Sudah bangun? Minum dulu ini," ucap Bu Darmi dengan wajah prihatin."Bu Darmi... Mas Bumi ke mana?" suara Senja parau, tangannya bergetar menerima gelas itu."Tadi subuh suamimu titip pesan. Dia pergi ke Pelabuhan Tanjung Priok," jawab Bu Darm
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Bab 16. Lembaran yang Diinjak
Ubin garasi yang sedingin es membakar separuh wajah Senja. Rasa beku itu menyengat kulitnya, memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk kembali terbuka. Ia tidak sepenuhnya pingsan. Demam tinggi mengunci saraf motoriknya, menjebaknya dalam kelumpuhan sementara, namun telinga dan matanya masih menangkap kengerian di depan sana dengan sangat jelas. Dari balik bayangan pilar, napas Senja tersengal. Pandangannya kabur oleh keringat dan sisa air mata, namun siluet suaminya terlihat memilukan. Bumi masih berlutut di atas marmer teras yang basah. Hujan gerimis terus menghujam punggung kokoh pria itu, sementara Sisca berdiri angkuh, melambai-lambaikan lembaran uang seratus ribu di udara. "Kamu benar-benar menginginkan uang ini untuk istrimu yang penyakitan itu?" Sisca merendahkan suaranya, memancarkan kepuasan iblis yang baru saja memenangkan pertaruhan. Senja menggigit bibir bawahnya hingga mengecap rasa amis darah. Mas, bangun. Aku mohon, bangun! batinnya menjerit meronta, namun
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Bab 15. Suhu Tubuh dan Uang Kertas
Udara malam berembus lewat celah dinding anyaman bambu yang lapuk, menusuk kulit Senja seperti ribuan jarum es. Di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di lantai semen, wanita itu menggigil hebat.Senja membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya berbayang, kepalanya berdenyut seolah dihantam godam berkali-kali. Napasnya pendek dan terasa membakar tenggorokannya sendiri. Demamnya tidak juga turun, justru semakin menggila seiring malam yang merangkak menuju dini hari."Mas... Mas Bumi?" panggil Senja dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.Ia meraba sisi kasur di sebelahnya. Kosong. Hanya ada selimut tipis dan jaket seragam biru pudar milik suaminya yang sengaja ditumpuk menutupi tubuh Senja agar tetap hangat.Kepanikan perlahan merayap di dada Senja. Ke mana suaminya pergi di tengah malam buta dalam keadaan hujan gerimis seperti ini? Ingatan terakhirnya sebelum jatuh tertidur adalah wajah pucat Bumi yang menggenggam uang dua puluh ribu rupiah—sisa terakhir har
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Bab 14: Lolos dari Lubang Jarum
Keheningan di ruang penyimpanan butik terasa begitu mencekik setelah pertanyaan itu meluncur. Senja menatap lurus ke dalam manik mata Bumi, menuntut jawaban atas semua kebetulan yang terlalu rapi ini. Namun, sebelum Bumi sempat membuka suara, Madam Rosa yang masih terduduk di lantai tiba-tiba merangkak maju, menyela pembicaraan mereka dengan kepanikan yang luar biasa."Senja! Tolong saya, Senja!" ratap Madam Rosa, air matanya menghapus sisa riasan tebal di wajahnya. "Saya tahu saya salah! Saya mencabut semua tuduhan itu. Nama kamu bersih! Tapi tolong... katakan pada peretas itu untuk menghapus berkas penggelapan pajak saya! Butik ini adalah seluruh hidup saya!"Senja mengalihkan pandangannya dari Bumi, menatap iba sekaligus miris pada atasannya yang kini kehilangan seluruh keangkuhannya. "Saya tidak tahu siapa yang mengirim email itu, Madam. Tapi kebenaran selalu punya cara sendiri untuk menunjukkan jalannya.""Benar, Madam," sela Bumi, memecah ketegangan. Ia kembali menarik Senja
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Bab 13. Berkas Tak Bernama
Suara melengking dari laptop Madam Rosa membelah ketegangan di ruang penyimpanan itu. Kedipan layar merah darah yang memantul di bola mata Senja seolah menghentikan waktu.Petugas kepolisian yang baru saja hendak mengunci sebelah pergelangan tangan Senja dengan borgol besi, refleks menarik tangannya kembali. Pandangan semua orang, tanpa terkecuali, kini tertuju pada meja kasir."Ada apa dengan sistemnya?! Tolong matikan suara sialan ini!" jerit Madam Rosa panik. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian menekan tombol keyboard berulang kali dengan kasar. "Layar saya terkunci total! Pak Narendra, pengacara Anda bisa menghentikan ini?!"Narendra mendengus kesal. Wajah arogannya menyiratkan ketidaksabaran. "Itu cuma virus murahan, Madam. Cabut saja kabel dayanya! Polisi, jangan buang waktu. Borgol perempuan ini sekarang juga!""Tunggu," potong Bumi. Suaranya pelan, namun wibawanya mengalir mematikan, menghentikan langkah sang polisi untuk kedua kalinya. Bumi menatap lurus ke arah Madam
Last Updated: 2026-06-25
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status