LOGIN"Kalian bisa merampas semua hartaku, tapi kalian tidak akan pernah bisa memaksa aku meninggalkan suamiku!" Bagi keluarga besarnya, Senja Ayunda adalah putri bodoh yang membuang masa depan demi menikahi Bumi, seorang kurir berjaket lusuh. Meski setiap hari dihina, diusir tanpa uang sepeser pun, hingga dipaksa menerima pinangan CEO arogan demi melunasi hutang keluarga, Senja tetap memilih bertahan hidup kelaparan bersama suaminya. Namun, di tengah semua air mata dan pengorbanannya, Senja tidak pernah menyadari satu hal: pria pendiam yang rela makan sisa kuah sayur bersamanya itu, menyembunyikan identitas kelam yang sanggup melenyapkan semua orang yang telah menghina mereka dalam satu malam. Siapa Bumi sebenarnya?
View MoreDinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan peluh dingin di tengkuk Senja Ayunda. Ia meremas ujung kain gamis peach yang dikenakannya, menunduk dalam di kursi meja makan berlapis marmer itu.
Ruang makan keluarganya malam ini terasa bagai ruang persidangan. Di ujung meja, Narendra Adhitama duduk bersandar nyaman. Pria pewaris kerajaan properti itu mengenakan kemeja sutra hitam yang lengannya dilipat rapi, memamerkan jam tangan Rolex ratusan juta. Tawanya yang berat dan arogan menggema, berbaur dengan tawa Darmawan—ayah Senja. "Jadi, proyek reklamasi teluk itu sudah pasti jatuh ke tangan perusahaanmu, Naren?" tanya Darmawan, matanya berbinar penuh kekaguman. "Tinggal tanda tangan kontrak, Om. Nilainya tidak seberapa, hanya lima ratus miliar. Proyek kecil untuk pemanasan tahun ini," jawab Narendra merendah, meski senyum sombong di bibirnya jelas terpampang nyata. Ranti, kakak kandung Senja, memekik kegirangan. "Astaga, Naren! Kamu benar-benar luar biasa. Coba saja Senja dulu mendengarkan kata Mama, pasti sekarang dia sudah jadi Nyonya Besar, bukan istri dari kurir rongsokan yang kerjanya cuma..." "Ranti, cukup," potong Senja pelan, namun tegas. Telinganya memerah menahan panas. "Apa yang cukup?!" sentak Sisca, ibu mereka, menatap tajam ke arah Senja. "Kakakmu benar! Kalau kamu tidak keras kepala menikahi gembel itu, keluarga kita sudah beraliansi dengan Adhitama Group! Kamu ini beban keluarga!" Senja mengatupkan rahangnya. Hatinya serasa ditusuk ribuan jarum. Setiap hari, di meja ini, namanya dan nama suaminya selalu menjadi bahan hinaan. Tidak adakah sedikit pun rasa iba di hati keluarganya? Tiba-tiba, suara deru mesin motor bebek tua yang terbatuk-batuk terdengar dari arah halaman. Jantung Senja langsung berdetak lebih cepat. Itu motor suaminya. Mas Bumi pulang. Sedikit kelegaan menyusup ke dadanya. Namun, senyum tipis di bibir Senja langsung layu saat suara keras Pak Tarjo, satpam rumah, terdengar membentak dari luar pintu utama. "Maaf, Mas Bumi! Nyonya Besar pesan, kalau Mas pulang, masuknya lewat pintu samping saja! Di ruang tengah sedang ada tamu penting. Nyonya takut karpetnya kotor kena lumpur!" Senja memejamkan mata rapat-rapat. Ya Tuhan, suaminya disamakan dengan binatang peliharaan yang tidak boleh mengotori rumah depan? Ia bersiap berdiri untuk menyusul suaminya, namun cengkeraman kasar tangan Sisca menahan lengannya. "Duduk! Jangan berani-berani kamu merusak acara makan malam ini!" desis Sisca tajam. Langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah dapur. Sosok Bumi Dewangga akhirnya muncul di ambang pintu ruang makan. Napas Senja tertahan melihat keadaan suaminya. Jaket biru seragam ekspedisinya basah kuyup oleh keringat. Wajahnya kuyu setelah seharian terpanggang terik matahari Jakarta. Ada noda oli di pipinya dan debu jalanan yang menempel tebal di celana jin pudar miliknya. Tapi di balik semua kekumalan itu, saat mata Bumi bertemu dengan mata Senja, pria itu tersenyum. Senyum yang begitu teduh, menenangkan, seolah mengatakan, ‘Aku baik-baik saja, Nja.’ Senyum itu membuat air mata Senja nyaris tumpah. Bagaimana pria ini bisa tetap tersenyum setelah diusir lewat pintu belakang? "Astaga!" Sisca langsung menutupi hidungnya dengan saputangan sutra. Wajahnya berkerut jijik. "Bau apa ini?! Kumal sekali! Kamu tidak lihat kami sedang menjamu tamu istimewa, Bumi?! Bau keringatmu menguap ke seluruh ruangan!" Bumi menghentikan langkahnya. Ia menunduk sopan. "Maaf, Ma. Saya baru saja selesai mengantar sisa paket di pelabuhan. Saya permisi masuk ke kamar dulu." "Jangan melangkah lebih jauh!" bentak Darmawan, menuding wajah Bumi dengan cerutunya. "Berdiri saja di situ! Karpet Persia ini harganya lebih mahal dari gajimu setahun! Penampilanmu membuat malu keluarga ini!" Bumi diam. Ia menundukkan wajahnya. Dari tempat duduknya, Senja melihat urat-urat di leher suaminya menegang tipis. Tangan besar Bumi yang tertutup lengan jaket tampak mengepal sesaat. Senja sering melihat reaksi ini. Reaksi yang membingungkan dari seorang pria biasa. Terkadang, jika dihina terlalu jauh, ada sorot mata yang sangat gelap dan mengintimidasi dari diri Bumi. Sebuah aura dingin yang sama sekali tidak cocok dengan profesinya sebagai pekerja kasar. Siapa kamu sebenarnya, Mas? batin Senja. Kadang ia merasa sedang memeluk sebuah gunung es misterius. Namun, sorot tajam itu selalu menghilang secepat ia muncul, berganti dengan kesabaran yang luar biasa. "Senja, jangan bodoh." Suara Narendra memecah keheningan. CEO muda itu perlahan bangkit dari kursinya, memasukkan satu tangan ke saku celana, dan melangkah arogan mendekati Bumi. Ia menatap pria berjaket lusuh itu dari atas ke bawah layaknya menatap tumpukan rongsokan. "Lihat pria yang kau bela mati-matian ini, Senja," ucap Narendra merendahkan. "Apa yang bisa dia berikan padamu? Bau keringat? Debu? Kapan terakhir kali dia membelikanmu pakaian yang layak untuk dikenakan wanita sekelasmu?" "Itu bukan urusanmu, Narendra!" jawab Senja bergetar. Tangannya meremas pinggiran meja. "Ini urusanku karena aku peduli padamu, Senja!" balas Narendra. Ia lalu berhenti tepat di hadapan Bumi. Jarak mereka hanya dua jengkal. "Malam, Bumi. Masih sibuk jadi babu mengantar barang orang lain? Kapan kamu bisa mengantar kebahagiaan untuk istrimu sendiri?" Senja menahan napas. Ia menatap suaminya cemas. Namun Bumi tidak menciut sedikit pun. Pria itu mengangkat wajahnya, membalas tatapan Narendra lurus-lurus tanpa berkedip. Mata Bumi menyorotkan ketenangan yang luar biasa. "Kebahagiaan istriku tidak diukur dari seberapa mahal jam tangan yang kau pamerkan, Narendra." Suara Bumi pelan, tidak berteriak, tapi entah mengapa membuat bulu kuduk Senja merinding. Ada wibawa absolut dalam nada suaranya yang berhasil memotong ego Narendra. Narendra tersenyum miring, merasa tertantang. Ia merogoh dompet kulit di saku jasnya, mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan yang masih kaku, lalu dengan gerakan meremehkan, melempar uang itu ke lantai—tepat di ujung sepatu bot Bumi yang kotor. "Ambil uang itu, Bumi," titah Narendra, menyeringai. "Sebagai sesama laki-laki, aku kasihan padamu. Belilah jaket baru dan makan malamlah di warung pinggir jalan sana. Biarkan istrimu makan malam dengan layak bersama keluarga yang sesungguhnya di sini. Menjaulah dari meja ini, kau merusak pemandangan." Udara di ruangan itu terasa berhenti mengalir. Hinaan itu begitu telanjang dan brutal. Darmawan dan Sisca tersenyum puas, sementara Ranti terang-terangan tertawa sinis menutupi mulutnya. Dada Senja bergemuruh hebat. Hatinya hancur berkeping-keping melihat suaminya direndahkan seperti itu. Air matanya akhirnya lolos. Ia tidak bisa diam lagi. Senja menyentak tangan ibunya, bangkit dari kursi, dan setengah berlari menghampiri Bumi. Tanpa ragu, tangan putihnya yang terawat meraih jemari Bumi yang kasar, kapalan, dan bernoda debu jalanan. "Senja! Apa yang kamu lakukan?!" jerit Sisca histeris. "Lepaskan tangannya! Kotor!" "Ini tangan suamiku, Ma!" jerit Senja balik, suaranya pecah oleh tangis. Ia menatap wajah ibunya dengan penuh kekecewaan. "Rumah ini mungkin milik Mama dan Papa, tapi kehormatan suamiku adalah harga diriku! Jika kalian mengusirnya dari meja ini, aku juga akan pergi!" Senja memutar tubuhnya, menatap Narendra dengan sorot kebencian yang menyala. "Dan kau, Narendra... Simpan uangmu! Kesetiaan tidak bisa dibeli dengan lembaran uang harammu itu. Suamiku mungkin pulang dengan keringat dan debu, tapi setiap tetesnya adalah kehormatan bagiku karena dicari dengan cara halal! Tidak seperti kau yang merasa besar hanya karena merendahkan orang lain!" Wajah Narendra memerah padam. Rahangnya mengeras kaku. Kata-kata Senja menampar telak egonya. Penolakan ini begitu memalukan di depan keluarga gadis itu sendiri. "Anak tidak tahu diuntung!" Darmawan menggebrak meja hingga mangkuk-mangkuk bergetar hebat. "Kamu membela gembel ini dan mempermalukan Narendra?!" "Sudah, Om," Narendra mengangkat tangannya, mencoba keras menelan amarahnya agar citranya tidak hancur. Ia memaksakan senyum yang terlihat lebih mirip seringai. "Senja hanya sedang emosi karena lelah mengurus pria melarat ini. Baiklah... kalau Bumi memang suamimu yang 'terhormat', suruh dia duduk dan ikut makan malam bersama kita. Kita lihat apakah dia sanggup menelan makanan orang-orang beradab." Darmawan mendengus kasar. "Duduk, Senja! Bawa gembel itu. Tapi awas, jangan biarkan bajunya menyentuh sandaran kursiku!" Senja menggenggam tangan Bumi semakin erat. "Ayo duduk, Mas. Kamu pasti lapar belum makan dari siang." Bumi mengangguk pelan. Tidak ada amarah yang meledak, hanya kelembutan tulus saat ia menatap istrinya. Pria itu menarik kursi untuk Senja, menunggu istrinya duduk lebih dulu—sebuah gestur perlindungan yang selalu ia lakukan—sebelum ia sendiri duduk di ujung meja yang paling jauh. Melihat suaminya duduk, Sisca mendesis kesal. "Bi Sumi! Keluarkan makanannya sekarang!" Dua asisten rumah tangga bergegas keluar dari dapur mendorong troli makanan. Aroma sedap seketika memenuhi ruangan. Potongan besar daging Wagyu premium dengan saus lada hitam mengepulkan asap tipis di atas piring saji raksasa. "Letakkan daging Wagyu itu tepat di depan Nak Narendra," perintah Sisca dengan suara lantang, matanya melirik sinis ke arah Bumi. "Itu daging impor kualitas terbaik. Hanya lidah berkelas yang pantas menikmatinya." Bi Sumi dengan hormat meletakkan hidangan mewah itu di depan sang CEO. Narendra tersenyum jumawa. "Lalu... untuk Tuan Kurir kita ini," lanjut Sisca, suaranya kini berubah menjadi sengakan yang merendahkan. "Bi Sumi, bukankah di dapur masih ada sisa kuah sayur kemarin yang belum sempat dihangatkan?" Bi Sumi menelan ludah, gemetar. "M-masih, Nyonya Besar." "Bagus. Berikan itu padanya." Napas Senja tercekat. Matanya membulat tak percaya. Ibu kandungnya sendiri... sengaja memberikan kuah sayur sisa kemarin yang sudah dingin untuk menantunya? Di depan mata Senja, Bi Sumi dengan tangan gemetar meletakkan semangkuk kecil kuah bening yang pucat ke hadapan Bumi. Tidak ada lauk lain. Tidak ada kehangatan. Hanya kuah basi di tengah kemewahan pesta pora malam itu. Narendra tertawa pelan. Ia mengangkat garpu mahalnya, menusuk seiris daging Wagyu, dan mengarahkan ujung pisaunya ke arah Bumi. "Bagaimana, Bumi? Mau sisa dagingku?" ejek Narendra. "Atau kau sudah terbiasa memakan makanan sisa?" Di kursinya, Senja menatap kuah dingin itu, lalu beralih menatap wajah suaminya yang hanya terdiam menunduk. Saat itu juga, sebuah keputusan paling berani meledak di dalam dada Senja. Jika malam ini ia harus membuang seluruh harta dan nama keluarganya demi membela pria ini, maka ia akan melakukannya tanpa penyesalan. Senja perlahan mengulurkan kedua tangannya menuju mangkuk Bumi. (Bersambung ke Bab 2)Angin laut yang kotor dan berdebu menampar wajah pucat Senja. Langkah kakinya tertatih, seluruh berat tubuhnya nyaris bersandar penuh pada lengan Bumi. Demam yang memanggang tubuhnya membuat pandangannya sesekali mengabur. Mereka baru saja berbelok dari gerbang pelabuhan, memasuki sebuah gang tikus yang diapit dinding gudang kontainer berkarat."Mas, gang ini sepi sekali," bisik Senja dengan napas putus-putus. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya."Ini jalan pintas tercepat ke klinik depan, Nja," jawab Bumi lembut. Tangan pria itu merengkuh pinggang Senja semakin erat. "Bertahanlah sebentar lagi."Langkah Bumi mendadak terhenti.Senja mendongak dengan susah payah. Di ujung gang yang sempit itu, tiga pria bertubuh kekar menghalangi jalan. Mereka mengenakan jaket kulit kusam, lengan baju yang digulung memamerkan tato kasar, dan salah satunya memegang sebatang balok kayu. Asap rokok mengepul dari mulut pria yang wajahnya dihiasi codet melintang."Mau ke mana, Kuli
Sinar matahari pagi menembus celah atap seng kontrakan, menusuk tepat di kelopak mata Senja. Wanita itu melenguh pelan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada godam yang menghantam tengkoraknya berulang kali. Demamnya sama sekali belum turun. Seluruh persendiannya terasa ngilu, namun hawa dingin di sekitarnya memaksa Senja untuk meraba sisi kasur di sebelahnya.Kosong.Tidak ada kehangatan suaminya di sana. Hanya ada selimut tipis yang dilipat rapi.Kepanikan seketika menyengat dada Senja, mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan pusing yang membuat seisi ruangan berputar. Tepat saat itu, pintu kontrakan diketuk pelan. Bu Darmi, tetangga sebelah kamarnya, melongok ke dalam membawa segelas teh hangat."Nja? Sudah bangun? Minum dulu ini," ucap Bu Darmi dengan wajah prihatin."Bu Darmi... Mas Bumi ke mana?" suara Senja parau, tangannya bergetar menerima gelas itu."Tadi subuh suamimu titip pesan. Dia pergi ke Pelabuhan Tanjung Priok," jawab Bu Darm
Ubin garasi yang sedingin es membakar separuh wajah Senja. Rasa beku itu menyengat kulitnya, memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk kembali terbuka. Ia tidak sepenuhnya pingsan. Demam tinggi mengunci saraf motoriknya, menjebaknya dalam kelumpuhan sementara, namun telinga dan matanya masih menangkap kengerian di depan sana dengan sangat jelas. Dari balik bayangan pilar, napas Senja tersengal. Pandangannya kabur oleh keringat dan sisa air mata, namun siluet suaminya terlihat memilukan. Bumi masih berlutut di atas marmer teras yang basah. Hujan gerimis terus menghujam punggung kokoh pria itu, sementara Sisca berdiri angkuh, melambai-lambaikan lembaran uang seratus ribu di udara. "Kamu benar-benar menginginkan uang ini untuk istrimu yang penyakitan itu?" Sisca merendahkan suaranya, memancarkan kepuasan iblis yang baru saja memenangkan pertaruhan. Senja menggigit bibir bawahnya hingga mengecap rasa amis darah. Mas, bangun. Aku mohon, bangun! batinnya menjerit meronta, namun
Udara malam berembus lewat celah dinding anyaman bambu yang lapuk, menusuk kulit Senja seperti ribuan jarum es. Di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di lantai semen, wanita itu menggigil hebat.Senja membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya berbayang, kepalanya berdenyut seolah dihantam godam berkali-kali. Napasnya pendek dan terasa membakar tenggorokannya sendiri. Demamnya tidak juga turun, justru semakin menggila seiring malam yang merangkak menuju dini hari."Mas... Mas Bumi?" panggil Senja dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.Ia meraba sisi kasur di sebelahnya. Kosong. Hanya ada selimut tipis dan jaket seragam biru pudar milik suaminya yang sengaja ditumpuk menutupi tubuh Senja agar tetap hangat.Kepanikan perlahan merayap di dada Senja. Ke mana suaminya pergi di tengah malam buta dalam keadaan hujan gerimis seperti ini? Ingatan terakhirnya sebelum jatuh tertidur adalah wajah pucat Bumi yang menggenggam uang dua puluh ribu rupiah—sisa terakhir har
Serpihan kayu jati itu masih berserakan di atas karpet tebal lorong VIP. Udara dingin dari pendingin ruangan tiba-tiba terasa mencekik. Senja menahan napas. Punggungnya masih menempel pada dinding, namun rasa sakit akibat dorongan kasar Narendra tadi seketika menguap. Matanya terpaku pada sosok
Taksi perlahan berhenti di depan pilar-pilar marmer raksasa Restoran Grand Pelita. Hawa dingin dari lobi restoran mewah itu berhembus keluar saat pintu kaca otomatis bergeser. Namun, hawa dingin itu tak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di dada Senja Ayunda.Senja turun dengan langkah ragu.
Matahari Jakarta bersinar terik, memanggang aspal jalanan hingga hawa panasnya terasa menusuk kulit. Namun, peluh yang menetes di dahi Senja siang itu tidak sebanding dengan rasa gundah yang meremas dadanya sejak semalam.Senja mempercepat langkahnya menyusuri jalanan kawasan pergudangan. Di tanga
Denting garpu perak yang beradu dengan porselen mahal menggema di ruang makan bergaya Mediterania itu. Namun, bagi Senja Ayunda, suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi akal sehatnya.Napas Senja tertahan di tenggorokan. Matanya yang bulat dan bening menatap nanar semangkuk kecil kuah sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.