Mag-log inKanaya Diandra tidak pernah menyangka takdir akan membawanya masuk ke dalam dunia pria bernama Lucas Arkano Dinov, mafia dingin, berkuasa, dan tidak pernah percaya pada cinta. Balas budi pada Nenek Lucas yang membuat Kanaya bertahan pada pernikahan bak neraka yang Lucas ciptakan setiap hari. Lucas sangat membenci Kanaya karena mau menerima pernikahan itu. Namun, kesabaran dan kesetiaan Kanaya akhirnya merubah Lucas menjadi sosok yang mencintainya, hanya saja kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Sebuah fitnahan kejam dari keluarga Lucas, membuat Kanaya terusir dari rumahnya. Lucas tidak sadar, jika Kanaya pergi membawa calon penerusnya. Bagaimana kisah mereka setelah takdir akhirnya mempertemukan mereka berdua kembali? Akankan cinta bisa membuat hati keduanya bersatu?
view moreBrak!
"Tuan Lucas," teriak seorang wanita kaget saat pintu kamar tempat dia sedang membersihkan tempat tidur king-size tiba-tiba dibuka dengan kasar oleh seseorang.
Pria berpenampilan acak-acakan itu terhuyung-huyung mendekati wanita itu, yang matanya melebar karena ketakutan.
"Wanita tak tahu malu! Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau berhubungan seks dengan sepupuku sendiri?" Nada suara pria yang dipanggil Tuan Lucas itu meninggi.
"Tuan, ini sakit," erang wanita itu, rahangnya kini dicengkeram erat oleh tangan besar pria di depannya.
"Sakit? Apakah lebih sakit daripada saat aku melihatmu dengan senang hati bermain-main di tubuh Dion? Wanita tak tahu malu."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita itu, dan dia tak bisa menahan air matanya.
"Tuan Lucas," kata wanita itu pelan, berusaha menahan rasa sakit di dagu dan pipinya.
Pria bernama Lucas mendorong tubuh wanita itu dengan kasar yang saat ini berada di kamarnya hingga ia terjatuh ke atas tempat tidur, lalu dengan cepat menindihnya. Ia merobek pakaian wanita itu dengan kasar dan kemudian melepas pakaiannya sendiri.
"Tuan Lucas, apa yang Anda lakukan?" tanya wanita itu, bibirnya bergetar.
"Aku akan tunjukkan padamu bahwa aku masih lebih baik daripada sepupuku."
"Tapi—."
Sesaat kemudian, bibir pria itu mencium bibir wanita itu dengan liar, dan tangannya pun meraba-raba tubuh wanita yang hanya bisa menangis.
Bukan karena wanita itu tidak ingin melawan, tapi dia tahu siapa dirinya dan siapa pria yang berada di atasnya. Pria yang seolah-olah mempermalukannya itu adalah suaminya sendiri, dan dia harus menuruti apa pun yang dilakukannya. Itu adalah kewajibannya sebagai istri untuk melayani suaminya.
"Kenapa kamu begitu sempit?" kata Lucas saat dia mencoba menembus pertahanan wanita di bawahnya. Namun, seketika itu juga, Lucas mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dia tampak puas karena telah memberinya pelajaran serta menunjukkan bahwa dia adalah pria yang sangat berkuasa.
Lucas menghujamnya berulang kali, dan anehnya, dia merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dengan wanita yang dia ketahui berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
Wanita yang menemani Lucas pada malam panas itu berusaha menahan air matanya. Perasaan lega dan sakit bercampur aduk di hatinya. Dia lega karena telah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, tetapi dia juga merasa terluka karena suaminya memperlakukannya seperti wanita murahan pada malam pertama mereka bersama.
"Dia sedang tidur, lebih baik aku kembali ke kamarku." Wanita berambut sebahu itu berjalan pergi, sambil sedikit menahan rasa sakit di selangkangannya karena semalam, suaminya telah membuatnya merasakan kepuasan berkali-kali.
Di kamar mandinya, ia langsung menyalakan pancuran, yang mengeluarkan air hangat. Di bawah pancuran, tangisan wanita itu terdengar sekali lagi.
"Bahkan jika dia memintanya dengan sopan, aku pasti akan memberikan padanya karena aku sadar bahwa aku adalah istrinya. Ibu, Ayah, mengapa hidupku seperti ini setelah kalian meninggalkanku?"
***
Matahari menyinari ruangan besar itu. Lucas silau oleh cahaya yang kini menerpa wajahnya.
"Sial! Siapa yang membuka tirai kamarku sepagi ini? Apakah wanita kotor itu yang berani membuka tirai kamarku? Dia benar-benar bodoh!" Lucas mengumpat sambil menarik tubuhnya dan kini duduk bersandar di tepi tempat tidurnya.
Tangan Lucas perlahan memilin kepalanya yang sakit. Ia perlahan mengingat apa yang terjadi semalam. "Semalam, kenapa Miranda terasa begitu berbeda? Eh, di mana dia?" Seketika, mata Lucas mencari wanita yang telah bercinta dengannya semalam.
"Apa ini? Darah? Miranda bukan lagi perawan, kenapa dia berdarah? Oh sial! Apa aku bercinta dengan wanita lain? Tapi ...!"
Lucas langsung turun dari tempat tidur, mengenakan celananya, dan berjalan keluar. Lucas sedang mencari orang yang ingin dia ketahui, wanita yang membuat malam panasnya terasa begitu berbeda.
"Selamat pagi, Tuan Lucas," sapa seorang pria yang lebih muda dari Lucas.
"Kenapa kamu sudah di sini pagi-pagi sekali?" Lucas menatapnya dengan heran.
"Bukankah Tuan Lucas sendiri yang kemarin mengirim pesan, bilang kalau mau ke Miami dengan Nona Miranda dan menyuruh saya datang lebih awal?
"Miranda?" Lucas berusaha mengingat-ingat, karena efek minuman yang dia minum semalam masih membuatnya agak pusing.
Tak lama kemudian, orang yang dicari Lucas muncul dari dapur. Wanita dengan rambut yang diikat rapi itu berjalan sambil membawa piring berisi omelet yang baru saja ia buat.
Deg!
Jantung wanita itu tiba-tiba berdebar kencang saat mata Lucas menatapnya dengan tajam. Dia tahu bahwa ini bukanlah tatapan seorang pria yang puas dengan layanannya semalam.
"Ini omelet Anda, Pak Bayu." Wanita itu meletakkan piring berisi omelet tepat di depan pria berkacamata putih.
"Terima kasih, Kanaya. Hmm... baunya benar-benar enak. Tuan Lucas, apakah Anda tidak mau sarapan dulu? Kanaya membuat omelet spesial untuk Anda, dan saya minta dia membuat satu untuk saya juga karena kelihatannya lezat." Pria itu langsung memotong sepotong dan memasukkannya ke mulutnya. "Enak, ini benar-benar enak," pujinya.
"Terima kasih, Pak Bayu."
"Naya, jangan panggil aku Pak Bayu, kamu cukup memanggilku Bayu saja," ujar Bayu sembari mengunyah omelettenya.
"Tapi tidak sopan jika saya memanggil dengan sebutan Bayu saja," jawab Naya takut. Naya takut karena dari tadi Lucas melihat ke arahnya.
"Panggil Mas saja kalau begitu, itu akan lebih enak didengar." Pria berkacamata itu pun tersenyum manis. Kanaya mengangguk pelan.
"Hei, kamu, pergi ke kamarku sekarang!" Perintah Lucas terdengar tegas.
"Ya, Tuan," jawab Naya dengan takut.
Pria berkacamata itu terlihat terkejut. Apa yang dilakukan Naya hingga membuat Tuan Lucas terlihat marah pada istrinya sendiri?
Naya berjalan menuju ruangan tempat Lucas menunggunya. Saat memasuki ruangan yang luas itu, Naya terkejut ketika pintu di belakangnya tiba-tiba tertutup dengan bunyi yang keras.
"Tuan Lucas!" Naya berbalik dan melihat pria yang ditakutinya itu berjalan ke arahnya.
Tangan Lucas perlahan menyusuri wajah Naya. Naya hanya bisa diam dan membiarkan pria itu membelai wajahnya, meskipun ia merasa sentuhan itu bukan sentuhan lembut, melainkan sentuhan seorang pembunuh yang ingin perlahan-lahan mempermainkan korbannya, mengingat Lucas adalah bos mafia yang terkenal kejam.
"Ah... Sakit!" Naya mengerang seketika saat dagunya dicengkeram kasar oleh tangan besar Lucas.
"Apakah darah itu milikmu?" Lucas menatap tajam dan dingin.
"D-darah?" Naya tiba-tiba teringat sesuatu. "Y-ya, aku akan membersihkannya secepat mungkin."
Lucas mencengkeram dagu Naya lebih erat sambil mendorong tubuhnya hingga dia terjatuh ke tempat tidurnya.
Lucas dengan cepat menindih Naya di bawah tubuhnya. "Siapa yang mengizinkanmu tidur di kamarku tadi malam? Apakah kau sengaja memanfaatkan aku saat aku tak sadarkan diri? Dengarkan, wanita kotor dan bodoh! Jangan pernah bermimpi aku akan menerimamu sebagai istriku karena aku sama sekali tidak tertarik padamu. Jika membunuhmu adalah sesuatu yang bisa kulakukan, itu akan sangat menyenangkan," tegas Lucas.
Setelah sampai di kamar hotel. Lucas segera masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu ingin membersihkan diri dari sisa darah pria yang baru saja dia habisi. Sedangkan Naya yang masih berdiri di depan pintu kamar, tampak ragu untuk melangkah masuk. Haruskah dia masuk ke dalam kamar itu atau tidur di luar? Tapi, hal itu pasti akan membuat suaminya marah. "Naya, kamu kenapa? Kenapa tidak masuk ke dalam kamar?" tanya Bayu yang seketika membuyarkan lamunana Naya. "Mas Bayu, aku memikirkan bagaimana nasib keluarga pria yang tadi ditembak oleh Tuan Lucas. Apa anak dan istrinya akan disakiti oleh Tuan Lucas?" tanya Naya dengan ekspresi takut. "Naya, sebaiknya kamu jangan memikirkan hal itu lagi. Anggap saja kamu hari ini tidak melihat apapun karena ini semua demi kebaikanmu.""Tapi Mas Bayu—.""Naya, cukup!" Bayu seketika memotong ucapan Naya. "Sebaiknya kamu masuk dan beristirahat saja, dan ingat juga, Nay! Jangan membahas masalah ini di depan suamimu, atau aku tidak akan bisa menolongmu."B
"Nay, bagaimana makanannya tadi? Apa cocok di lidah kamu?" tanya Bayu saat menoleh ke arah belakang. Naya yang kaget mendengar pertanyaan Bayu hanya bisa mengangguk cepat, sedangkan Lucas yang duduk di samping Naya, hanya diam melihat ke arah luar jendela mobil mereka yang sedang berjalan. "Syukurlah kalau kamu suka. Aku kira kamu tidak cocok dengan makanan barat seperti itu.""Itu karena aku lapar saja, Mas Bayu. Menurutku masih enak masakan buatanku."Bayu seketika terkekeh. "Benar, kamu tidak salah, Naya. Masakanmu memang lebih enak dan aku sudah membuktikannya beberapa kali," puji Bayu yang membuat Naya tersenyum. "Kalian kalau masih berisik, aku lempar kalian berdua keluar mobil," ujar Lucas tegas yang membuat dua orang itu seketika terdiam. Perjalanan dilanjutkan, Lucas akan mengantar Naya kembali ke hotel mereka. "Nay, kamu nanti tinggal di dalam kamar saja dan jangan keluar dari kamar," jelas Bayu. "Kalian mau pergi lagi? A-apa aku boleh ikut, Mas Bayu? Di dalam hotel ak
Di perjalanan, Kanaya masih terisak dengan perlakuan suaminya yang mengganggap dirinya tadi menggoda pria di butik, padahal Naya sendiri tidak kenal pria itu. "Kalau kamu memang ingin merayu pria itu, jangan lakukan saat bersamaku, aku tidak mau seolah diriku dipermainkan oleh wanita sampah sepertimu." Lucas kembali berkata kasar pada Naya. "Saya tidak menggodanya, Tuan. Pria itu tiba-tiba menyentuh punggung saya dan dia bilang jika ada sesuatu di punggung saya. Saya sendiri terkejut dengan apa yang pria itu lakukan.""Apa, Naya? Pria itu melakukan hal itu sama kamu?" Bayu yang duduk di depan dan bisa mendengar cerita Naya pun tampak terkejut. "Iya, Mas Bayu, aku takut mau bilang." Kanaya kembali menatap mata suaminya yang masih menyalang marah. "Kembali ke tempat tadi!" ujar Lucas dengan marah dan seketika mobil mereka pun kembali ke butik. Bayu melihat pada Naya dengan tatapan, di mana Bayu sudah mengerti akan apa yang akan dilakukan oleh Lucas. Naya masih bingung kenapa suami
Bayu menjelaskan jika dirinya dan Naya tidak terlibat dalam pembicaraan yang berisi rayuan, bahkan Naya orang yang sama sekali tidak pandai merayu. Lucas hanya melirik dingin pada Naya yang masih menunduk. "Tuan, Nenek Louisa baru saja menghubungiku, katanya Tuan Lucas susah sekali dihubungi.""Ponselku rusak dan ponsel satunya, aku malas menjawabnya. Wanita tua itu membuatku sakit kepala saja dengan semua perintahnya." "Tapi Nenek Louisa adalah orang satu-satunya yang sangat menyayangi Tuan.""Bayu, kalau dia sangat menyayangiku, dia tidak mungkin akan memintaku menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai.""Nenek itu menyelamatkan Tuan Lucas dari hal yang sangat menyakitkan," jawab Bayu yang seolah menyindir Lucas. "Apa maksudmu?" Tatap Lucas heran. "Em ... Tuan." Bayu seketika berdiri dari tempatnya. Dia ingin mengalihkan pembicaraan."Kita hari ini ada pertemuan dengan Tuan Keanu di kantornya. Lalu, kita makan siang dengan Nyonya Andrean dan malamnya .... " Bayu m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.