LOGINBayu memutuskan untuk meninggalkan kedua orang yang, menurutnya, perlu dibiarkan berdua saja. Naya tetap memejamkan mata untuk menenangkan rasa takutnya, sementara Lucas menahan emosinya saat Naya menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku takut... Aku takut... Aku takut," gumam Naya seolah-olah sedang mengucapkan mantra.
"Wanita bodoh! Apa yang dia takuti?" Lucas mengumpat dengan kesal.
Pria itu segera menarik tangannya dari genggaman Naya, dan pada saat itu, mata Naya terbuka dengan cepat.
"Aku muak dengan perilakumu!"
Lucas berdiri dari kursinya dan dengan cepat mengangkat tubuh Naya.
"Tuan, ke mana Anda membawa saya?" Ketakutan Naya semakin membesar, tapi dia tidak berani melawan karena Lucas terlihat marah.
Pria bertubuh kekar dengan tato di lengan kirinya itu membawa Naya ke kamar tidur di dalam jet pribadinya. Dia dengan kasar melemparkan tubuh Naya ke atas tempat tidur di sana.
"Tuan!" seru Naya terkejut.
Tubuh Lucas langsung menindih istrinya, wajah Naya masih menunjukkan rasa takut.
"Dengar, wanita bodoh! Kau berani melukai tanganku dengan tangan kotormu. Tahu apa? Aku ingin mencekikmu sekarang juga, kalau nenekku tidak ada di belakangmu." Kedua pasang mata itu saling menatap, tapi dengan tatapan yang berbeda. Lucas penuh dengan kebencian, sedangkan Kanaya mengisaratkan ketakutan.
Mata indah itu menatap kosong dengan air mata yang menggenang. "Mengapa Anda begitu membenci saya, Tuan? Apa salahnya saya menjadi istri Anda?" Entah bagaimana, Naya berhasil mengumpulkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan itu kepada pria di atasnya.
"Tentu saja kamu salah, wanita murahan! Hanya dengan membayangkan menikahi wanita yang dipilih nenekku dari rumah bordil saja sudah membuatku muak padamu! "Dan kau!" Tangan Lucas kembali mencengkeram dagu Naya dengan erat, hingga ia tak bisa lagi menahan air matanya.
"Aku sudah bilang padamu saat itu, jika kau harus menolak pernikahan ini dan aku bahkan memberimu banyak uang untuk kau gunakan seumur hidupmu, tapi kau mengkhianatiku dan menerima pernikahan ini."
"Aku ingin menjadi bagian dari keluargamu karena ...."
"Karena kau menginginkan kekayaan lebih, kan? Kau benar-benar wanita licik! Kau mungkin bisa menipu nenekku, tapi tidak denganku!" Lucas segera menarik diri dari Naya. Pria itu berdiri tegak, aura dingin masih melekat di wajahnya.
"Jangan keluar sampai kita tiba di Miami, aku muak melihat ketakutanmu!" Lucas meninggalkan Naya sendirian di kamarnya.
Naya menangis sambil memeluk selimutnya. Dia tak pernah membayangkan hidupnya akan begitu menyakitkan setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa tahun lalu.
***
Malam itu, di sebuah ruangan yang tampak begitu mewah dan luas untuk sebuah ruang makan, terdapat meja panjang dengan beberapa kursi di sisi kiri dan kanan. Ada juga beberapa hidangan yang terlihat sangat lezat.
Ada beberapa orang di sana. Mereka sedang berbincang-bincang, hanya Nenek Louisa yang duduk di kursi utama yang tampak benar-benar menikmati hidangannya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan, yang membuat beberapa orang di sana pun mengalihkan perhatian mereka kepada Nenek Louisa.
"Nenek, kamu terlihat sangat bahagia. Apa kamu baru saja memenangkan tender besar?" tanya wanita berambut digulung tinggi itu, yang tampak sangat glamor untuk sebuah makan malam bersama keluarganya.
"Segera aku akan menjadi nenek buyut dan kamu akan menjadi tante yang cantik, Laura," kata wanita tua itu dengan senyum.
"Maksud Nenek apa?" Laura terlihat bingung.
"Laura, kamu tidak mengerti apa yang dikatakan nenekmu? Cucu kesayangannya sudah menikah, dan istrinya mungkin sedang hamil," jelas pria yang duduk di samping Laura. Suami Laura tertawa seolah mengejek istrinya, yang wajahnya sudah berubah masam.
"Kamu benar, Juan. Cucuku sedang berbulan madu dengan istrinya, dan semoga saat mereka kembali, kita akan menerima kabar gembira." Senyum Nenek Louisa semakin lebar.
"Apakah kamu yakin Lucas mau benihnya tumbuh di rahim wanita murahan itu?" Kata-kata Laura terdengar sarkastis.
"Laura, jaga mulutmu! Kanaya adalah wanita terhormat dibandingkan dengan wanita yang kau jodohkan dengan Lucas, dan aku akan sangat bahagia memiliki cicit dari wanita sebaik Kanaya," kata Nenek Louisa dengan tegas.
Wanita tua itu selesai makan dan langsung bangkit dari kursinya. Hatinya terasa sakit mendengar kata-kata cucunya, yang tak lain adalah kakak perempuan Lucas. Memang, keputusannya untuk menikahkan Lucas dengan Kanaya telah ditolak oleh Laura dan keluarga besarnya, mengingat Kanaya adalah gadis yang dulu ia selamatkan dari rumah bordil.
"Tak ada gunanya kau bilang tak suka dengan ipar perempuanmu. Mereka sudah menikah. Lebih baik kamu menerima keputusan nenekmu saja," kata wanita cantik yang duduk tepat di depan Laura.
"Tante, diamlah! Kamu bahkan anaknya, tapi kamu tidak sepenting Lucas," kata Laura kepada wanita paruh baya yang adalah adik dari mendiang ibu Lucas.
"Aku tidak peduli soal itu, keponakanku karena yang terpenting adalah hidupku nyaman dan bahagia. Setiap bulan, aku bisa berkeliling dunia bersama suamiku tercinta. Sayang, ayo kita pergi karena aku ingin membeli salad di restoran yang baru saja buka di dekat kantor." Tangan wanita itu menjulur ke arah pria di sampingnya.
"Ya, sayang." Pria itu berdiri dari kursinya dan menggenggam tangan istrinya. Keduanya meninggalkan ruang makan.
Wajah Laura semakin memerah karena marah saat itu. Dia benar-benar geram pada nenek dan tantenya.
"Sayang, posisi kita di keluarga ini akan semakin lemah jika Lucas benar-benar punya anak. Nenekmu benar-benar menjijikkan!" kata pria bernama Juan dengan marah.
"Nenek selalu sangat menyayangi Lucas karena aku hanyalah cucu tirinya. Kenapa wanita tua itu tidak mati saja sejak lama!" Tangan Laura menggenggam sendoknya dengan erat.
"Tapi meskipun nenekmu meninggal, posisi Lucas di sini tetap akan sangat kuat. Lihat saja, dia pemilik perusahaan terbesar keluarga Dinov. Dia juga orang yang meneruskan bisnis kotor kakekmu. Akan sangat sulit bagi kita untuk melawan Lucas karena dia sangat kejam terhadap musuhnya," kata Juan, yang masih terlihat marah.
"Kita tidak bisa melukai Lucas dengan senjata atau pukulan, tapi kita akan melukai hatinya sekali lagi, setelah dia tahu bahwa kekasihnya telah mengkhianatinya dengan si bodoh Leo." Senyum licik muncul di bibir wanita cantik itu.
"Apa rencanamu, Laura?" Tangan Juan mengusap lembut bibir Laura.
"Aku akan membuat seorang wanita bernama Kanaya seolah-olah telah mengkhianatinya. Lucas tidak mencintainya, tapi aku akan membuat wanita itu terlihat buruk di mata Lucas dan nenekku sampai akhirnya dia diusir dari sini. Wanita itu harus mempermalukan keluarga Dinov dengan perilakunya. Ya... semoga wanita itu juga bisa membuat nenekku terkena serangan jantung." Sekali lagi, Laura tersenyum licik pada suaminya.
"Ide bagus. Dengan satu pukulan, kita akan membunuh dua burung dengan satu batu. Kau jenius, sayang." Juan mencium bibir Laura dengan mesra.
Kanaya terkejut saat bangun dan tidak mendapati di mana suaminya berada, padahal mereka baru saja menghabiskan moment yang begitu indah bagi Kanaya karena Lucas sekarang begitu lembut saat mereka bercinta. "Apa Tuan Lucas ada keperluan mendadak sampai tidak sempat membangunkan aku?" Kanaya beringsut dari tempat tidur, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat membuka lemari pakaian, dia tampak terkejut melihat ada beberapa baju baru di sana. "Apa Tuan Lucas yang menyiapkan ini semua? Apa dia benar-benar sudah berubah sikapnya sama aku? Semoga saja. Aku berharap dia bisa lebih lembut dan baik memperlakukanku."Kanaya segera berganti baju dan kembali ke dapur karena dia merasa lapar dan haus. Tak lama pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dengan sedikit kasar. "Siapa yang datang? Apa Tuan Lucas? Tapi untuk apa mengetuk pintu?"Kanaya berjalan ke arah pintu rumah dan saat dia membukanya, tiba-tiba tubuhnya di dorong dengan kasar oleh seseorang. "Mana Lucas? Aku
Kanaya sudah diperbolehkan pulang. Hari ini Lucas datang ke kamar Kanaya, dia membantu Kanaya untuk berkemas dan mendorong Kanaya yang duduk di kursi roda. "Tuan, biar saya jalan saja, kaki saya sudah lebih baik," kata Kanaya lirih dengan rasa takut. "Kita hampir sampai di mobil, lagi pula keadaanmu baru pulih." Lucas dengan posisi tegapnya masih mendorong kursi roda. Hari ini Bayu tidak ikut dengan Lucas, dia diminta Lucas mendatangi tempat di mana Bruno ditemukan. Lucas sengaja menyuruh Bayu yang mengatasinya karena dia ingin menjemput Kanaya di rumah sakit. "Tuan, apa aku boleh bertanya sesuatu?""Tanya apa?""Apa Tuan akan menyakiti Tuan Bruno?" Kanaya menatap Lucas yang berdiri di depannya. "Tidak akan kusakiti, hanya aku lempar ke buaya yang sedang lapar.""Apa?" Kedua mata Kanaya melebar, tapi sedetik kemudian Kanaya kaget, saat tubuhnya digendong oleh Lucas dan dibawa masuk ke tempat duduk tepat di sebelah supir. "Jangan ikut campur dengan urusanku Kanaya, pikirkan saja
"Tuan Lucas, aku minta maaf karena belum bisa menemukan pria yang sudah melukai Naya, tapi aku sudah meminta bantuan beberapa orang berpengaruh di sini. Secepatnya pria itu akan kita temukan."Bayu sekarang berdiri tepat di samping Lucas yang sedang memandang Naya dari balik jendela kaca besar. "Dia harus ditemukan, dan dengan tanganku sendiri akan menghabisinya." Lucas berkata tanpa melihat lawan bicaranya. Bayu terdiam, dia melihat ada kemarahan yang begitu besar dari kata-kata Lucas. "Tuan, bagaimana keadaan Naya?""Kau bisa lihat sendiri. Dia bahkan dari kemarin belum membuka kedua matanya. Dokter bilang, Naya masih dalam masa kritis." Lucas masih tidak berpaling dari jendela kaca besar di depannya. Bayu menghela napasnya berat. Entah kenapa, saat melihat keadaan Naya dari balik kaca besar itu, ada sesuatu yang menusuk hati Bayu. "Untuk kedua kalinya Naya harus merasakan luka yang sama pada tempat yang sama juga. Hidup Naya benar-benar mengenaskan," ujar Bayu yang membuat Luc
Kanaya yang baru saja terbangun, tampak terkejut melihat sekelilingnya yang sepi. "Oh Tuhan! Aku kenapa malah tidur di sini? Dan mana Tuan Lucas?" Naya dengan cepat turun dari tempat tidur dan mencari bajunya yang masih di kamar mandi. Setelah memakai bajunya, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya. "Tuan Lucas mana? Apa dia tidak ada di kamar." Naya tampak berjalan perlahan mencari suaminya. Langkah Naya seketika terhenti saat dia teringat akan suatu hal. "Ya Tuhan! Apa dia meninggalkan aku sendiri di sini dan kembali pulang?"Naya seketika berlari menuju kamar dan membuka lemari baju suaminya. Napasnya terasa lega saat dia melihat masih tertata rapi baju suaminya. Itu artinya dia tidak ditinggal sendirian di sana. "Kenapa Tuan Lucas tidak membangunkanku? Apa dia memang tidak mau mengajakku?" Naya duduk di bawah tempat tidur. Dia sekali lagi melihat sekitaran kamar yang besar itu. Bayangan akan malam panasnya dengan Lucas kembali tergambar. Naya tersenyum send
Setelah sampai di kamar hotel. Lucas segera masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu ingin membersihkan diri dari sisa darah pria yang baru saja dia habisi. Sedangkan Naya yang masih berdiri di depan pintu kamar, tampak ragu untuk melangkah masuk. Haruskah dia masuk ke dalam kamar itu atau tidur di luar? Tapi, hal itu pasti akan membuat suaminya marah. "Naya, kamu kenapa? Kenapa tidak masuk ke dalam kamar?" tanya Bayu yang seketika membuyarkan lamunana Naya. "Mas Bayu, aku memikirkan bagaimana nasib keluarga pria yang tadi ditembak oleh Tuan Lucas. Apa anak dan istrinya akan disakiti oleh Tuan Lucas?" tanya Naya dengan ekspresi takut. "Naya, sebaiknya kamu jangan memikirkan hal itu lagi. Anggap saja kamu hari ini tidak melihat apapun karena ini semua demi kebaikanmu.""Tapi Mas Bayu—.""Naya, cukup!" Bayu seketika memotong ucapan Naya. "Sebaiknya kamu masuk dan beristirahat saja, dan ingat juga, Nay! Jangan membahas masalah ini di depan suamimu, atau aku tidak akan bisa menolongmu."B
"Nay, bagaimana makanannya tadi? Apa cocok di lidah kamu?" tanya Bayu saat menoleh ke arah belakang. Naya yang kaget mendengar pertanyaan Bayu hanya bisa mengangguk cepat, sedangkan Lucas yang duduk di samping Naya, hanya diam melihat ke arah luar jendela mobil mereka yang sedang berjalan. "Syukurlah kalau kamu suka. Aku kira kamu tidak cocok dengan makanan barat seperti itu.""Itu karena aku lapar saja, Mas Bayu. Menurutku masih enak masakan buatanku."Bayu seketika terkekeh. "Benar, kamu tidak salah, Naya. Masakanmu memang lebih enak dan aku sudah membuktikannya beberapa kali," puji Bayu yang membuat Naya tersenyum. "Kalian kalau masih berisik, aku lempar kalian berdua keluar mobil," ujar Lucas tegas yang membuat dua orang itu seketika terdiam. Perjalanan dilanjutkan, Lucas akan mengantar Naya kembali ke hotel mereka. "Nay, kamu nanti tinggal di dalam kamar saja dan jangan keluar dari kamar," jelas Bayu. "Kalian mau pergi lagi? A-apa aku boleh ikut, Mas Bayu? Di dalam hotel ak







