MasukWarning, content dewasa dan kekerasan (Tidak disarankan bagi yang memiliki masalah mental) Hidup Iris tidak pernah benar-benar beruntung. Lahir di panti tanpa mengetahui siapa orang tuanya, bekerja di kafe kecil dengan gaji pas-pasan, dan bahkan... tidak punya pacar. Namun semua itu bukan puncak kesialannya. Kesialan yang sebenarnya dimulai saat Iris tanpa sengaja masuk ke dalam dunia Silas Montclair. Dunia yang tidak seharusnya dia sentuh, karena tidak ada yang namanya jalan keluar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah lagi berada di tangannya sendiri. Nyawanya menjadi taruhan. "Kau akan hidup, sebagai wanitaku."
Lihat lebih banyak"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."
Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di pintu kaca menghentikan niatnya. Karena pelanggan lain rupanya telah tiba. Iris menoleh cepat dan tersenyum. Membuka mulut untuk menyapa dengan ceria seperti biasa, tapi kata-katanya tertahan di lidah saat matanya melihat kehadiran seorang pria berkemeja abu dengan tiga kancing terbuka, dan di belakangnya ada pria lain menyusul dengan kemeja lebih rapi berwarna hitam. Kehadiran keduanya membuat tubuhnya membeku beberapa detik. Dia nyaris tak berkedip saat matanya terus memerhatikan pria berkemeja abu yang menyugar rambutnya santai. Hingga membuatnya agak berantakan. Suara detak jantungnya meningkat tanpa bisa dikontrol. Sensasi aneh di perut yang terus naik mencapai dada, membuat rasa panas perlahan menjalar di kedua pipinya, ketika mata mereka bertemu. Tampan. Mata tajam itu menatapnya, hanya sepersekian detik sebelum pria itu berpaling dan berjalan menuju meja kosong di pojok ruangan. Gerakannya yang halus dan elegan, tidak bisa tidak menarik perhatian Iris. Dia memerhatikan caranya yang duduk dengan salah satu kaki menyilang, maupun gayanya yang terlihat bossy. Selalu begitu, atau itulah yang terjadi setidaknya dalam beberapa hari ini. Pelanggan baru yang biasa datang di waktu jam makan siang, duduk di sudut ruangan yang jauh dari perhatian orang, tapi jelas daya tariknya terlalu sulit diabaikan. Wajahnya mencolok. Bahkan hanya dengan kemeja abu dan celana hitam ala pegawai korporat, kehadirannya sudah cukup mampu untuk membuat mata para wanita melirik dua kali. Seperti yang juga terjadi padanya sekarang. Beberapa pelanggan, bukan hanya Iris, memerhatikannya diam-diam, bahkan terang-terangan. "Nona?" Iris terbengong. Matanya tidak berpaling sedikit pun dari meja pojok. Dia tidak menyadari pria lainnya, yang tadi datang bersama pria itu sedang memanggilnya. "Permisi?" Panggilan itu tidak digubris karena Iris masih dalam posisinya, membuat si pria berkemeja hitam mengernyit dan spontan mengikuti arah pandangnya. Sadar panggilannya tak juga diindahkan, pria itu mencondongkan tubuhnya dan membuat bibirnya lebih dekat ke telinga Iris. "PERMISI, NONA. SAYA MAU PESAN." "AKHH!" Iris spontan menjerit dan mundur ketika mendengar suara yang terlalu dekat di telinganya. Matanya melotot pada pria yang menatap datar seakan tindakannya tidak bersalah. Napasnya terengah-engah seperti baru saja lari maraton. Bibirnya nyaris saja mengumpat, jika tidak ingat yang di depannya adalah pelanggan. "Elliot, ada apa?" Suara lain terdengar, menarik perhatian dan ketika dia menoleh, dia melihat pria yang berkemeja abu yang tadi dilihatnya, rupanya tengah memerhatikan mereka. Sepertinya teriakannya cukup untuk menarik fokus para pelanggan. "Tidak ada apa-apa, Tuan. Jangan khawatir," jawab pria di depannya tanpa mengalihkan pandangan. "Apa Anda sudah sadar? Saya ingin memesan." "Huh?" Matanya berkedip beberapa kali. Tampak seperti mencoba menarik kesadarannya kembali. Sampai akhirnya, perhatiannya kembali beralih pada pria di depannya—Elliot—dengan kikuk dan canggung. "O-oke, maaf, Tuan, Anda mau pesan apa?" "Grilled salmon. Club sandwich. Satu espresso, dan satu americano." Iris mengangguk. Mencatat segera pesanan lewat mesin kasir meski terlihat tangannya sedikit tremor. Dia mengulang perkataannya, memastikan tidak ada kesalahan. "Anda mau bayar cash atau kartu?" Elliot tidak banyak bicara dan segera mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam. Iris mengambilnya dan sekilas melihat nama yang tercantum di sana. Silas Montclair. Alisnya mengernyit sesaat. Dia kira, tadi dia mendengar nama pria di depannya ini adalah Elliot. Siapa Silas? Tatapannya pun berpaling sesaat pada pria yang duduk di sudut ruangan sambil bermain gadget. Pria yang sejak awal menarik perhatiannya, tapi dia tidak pernah benar-benar tahu siapa namanya. Mungkinkah dia yang bernama Silas? "Nona? Ada masalah?" tegur Elliot. Iris tersentak dan menoleh saat dirinya kembali melamun. "Ah, tidak. Maaf, Tuan." Tak mau membuat pelanggan menunggu, dia segera menggesek kartu hitam itu dan menyelesaikan pembayaran. Lalu memberikannya kembali pada Elliot dengan senyum ramah, yang tampak seperti dipaksakan. "Terima kasih. Kami akan segera memproses pesanan Anda. Mohon ditunggu, Tuan." Elliot tidak menjawab. Hanya mengangguk dan pergi. Mata Iris mengikuti langkahnya yang menghampiri meja pojok. Bergabung dengan pria sebelumnya. Saat Iris fokus memerhatikan dan menebak hubungan keduanya, sebuah tepukan di pundak menyentaknya. "Hei! Kau melamun? Apa yang kau lihat?" Tepukan itu cukup membuat Iris berjingkat kaget dan mengelus dada. Hingga dia memelototi seorang wanita berambut pendek yang tersenyum penuh rasa penasaran. Iris berdecak kesal. "Lona! Kau membuat jantungku hampir copot!" Bukannya merasa bersalah, wanita itu malah tertawa kecil. "Kau terlihat melamun. Lihat siapa memangnya? Ah, dua pria tampan itu datang lagi?" "Aku tidak melamun. Lona, jangan bicara terlalu keras." Iris mengalihkan perhatiannya pada rekan kerjanya dan menariknya agak menjauh dari kasir. "Kamu sudah selesai istirahat?" "Sudah, sekarang giliranmu. Pergilah, biar aku yang jaga di sini." Iris melirik temannya dan dua pria yang sama, yang kini masih menunggu pesanan—secara bergantian. "Sebentar lagi. Aku harus mengantar pesanan untuk mereka." "Tidak masalah, aku saja yang urus mereka." "Tidak, aku yang akan mengantarkannya," tolak Iris bersikeras, membuat rekan kerjanya spontan mengangkat alis dan tampak menunjukkan kecurigaan. "Wow, itu aneh. Biasanya kau paling semangat untuk istirahat makan siang. Ada apa ini? Jangan bilang, kau tertarik dengan salah satu dari mereka? Mereka memang tampan sih." Iris langsung membuang muka dan mendengkus. Menghindari tatapan Lona yang kini menatapnya dengan seringai menggoda. "Apa sih? Tidak, aku hanya ingin melakukannya saja. Memang salah kalau aku bekerja dengan baik?" "Kau tidak bisa menyembunyikan ekspresimu, Iris. Lihatlah pipimu! Ada tomat di sini. Siapa yang kau suka? Silas atau Elliot?" Iris berdecak dan menyingkirkan tangan Lona yang menusuk-nusuk pipinya. Tampak gangguan itu tidak akan benar-benar berakhir, tapi saat mendengar pertanyaan terakhir rekannya, dia spontan mengangkat alis. "Kau tahu nama mereka? Bagaimana mungkin?" "Serius kau bertanya begitu? Mereka sudah berkunjung ke sini hampir seminggu. Apa kau hanya fokus pada wajahnya tanpa mengetahui namanya? Luar biasa, kau sepertinya benar-benar terhipnotis." Iris bisa merasakan, panas di pipinya naik hingga telinga. Kata-kata Lona membuatnya gerah dan panas sendiri, tapi sumpah, dia memang tidak pernah benar-benar memerhatikan secara detail. Pekerjaan dan pelanggan lain selalu mengalihkan fokusnya. "Diam, Lona, satu-satunya yang aku tahu hanyalah bekerja. Sudahlah, aku harus mengantar pesanan." Tak ingin berlama-lama di sana, Iris memilih pergi meninggalkan Lona di kasir. Dia mengabaikan suara rekannya yang memanggil dan memilih berjalan ke dapur. Iris mengambil pesanan untuk dua pria itu. Rasa gugup tiba-tiba menyerang saat perlahan langkahnya mendekati meja Elliot dan Silas. Tidak terdengar ada percakapan antara keduanya. Silas tampak sibuk dengan gadget dan Elliot duduk diam seperti patung. Suasana yang terasa aneh bagi Iris, sepertinya tidak berlaku bagi keduanya. Iris menenangkan diri dan memasang senyum. Bersiap mengantarkan makanan, tapi saat hanya beberapa langkah lagi, dia merasakan sepatu heelsnya patah. Langkahnya mendadak oleng. "Eh!" Keseimbangannya goyah dan dia tanpa sengaja melempar nampan berisi makanan dan minuman ke udara, saat tubuhnya sendiri hendak jatuh. Kejadian begitu cepat. Iris yang menyadari kekacauan akan terjadi, spontan menutup matanya pasrah. Namun, beberapa detik berlalu, tidak terdengar suara piring pecah atau rasa sakit bokongnya mencium lantai. Satu-satunya yang terdengar adalah suara orang-orang yang terkesiap. "Nyaris saja." Dengkusan kasar seorang pria terdengar, memaksa Iris kembali membuka mata dan dia dibuat melongo ketika melihat Silas berdiri sambil menahan pinggangnya dan memegang nampan dengan keseimbangan sempurna. Tanpa ada makanan atau air yang tumpah. "Anda tidak apa-apa, Tuan?" Elliot bertanya. "Tidak. Semuanya aman." Silas meletakkan nampan dengan elegan serta melepaskan pegangan di pinggang Iris, membuatnya bisa berdiri kembali tanpa harus merasa sakitnya mencium lantai. Iris yang tersadar, menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga sembari meringis malu dan sedikit menunduk. Sadar kalau dia nyaris membuat kesalahan fatal. "Terima kasih sudah menolong saya, Tuan, dan maaf atas yang terjadi barusan." "Anda hampir mencelakai Tuan Silas. Kecerobohan seperti ini harusnya bisa diantisipasi!" tegur Elliot. Nada suaranya datar, tapi tajam, cukup untuk membuat Iris menyadari kesalahannya dan menunduk dalam. Atmosfer ruangan benar-benar berubah tidak enak. Iris bisa merasakan dirinya diperhatikan orang-orang, tapi dia tidak bisa membela diri. "Saya salah, Tuan. Tolong maafkan saya." "Tidak perlu seperti itu, Elliot. Ini hanya kesalahan kecil." "Tuan—" "Sstt." Silas mengangkat tangan. Iris mendongak kaget. Alisnya berkerut ketika dia bertatapan dengan Silas yang tersenyum tipis padanya. Pria itu tidak menghakimi tindakannya. Tidak menegur dan justru terkesan membelanya. Sampai Iris yang awalnya bingung dan takut, merasa sedikit lega. Berpikir jika Silas mungkin memahami maksudnya dan mau memaafkan kecerobohan yang tidak sengaja. "Tuan, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, Anda sangat ba—" "Tapi..." Silas menyela. Melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Iris dari atas sampai bawah. Tubuhnya sedikit condong ke depan. "Kalau mau pakai trik lama, setidaknya jangan terlalu jelas." "Apa?"Langkah Iris tertahan. Tubuhnya berubah kaku. Dia mendengar suara langkah di belakangnya yang mendekat dan berhenti tepat di sebelahnya. Dia langsung menoleh. Tubuhnya berbalik menghadap Silas. Iris menggigit bibirnya dalam-dalam. Tanpa dijelaskan, dia tahu apa maksudnya. Pria ini membahas masalah di kereta. Hal yang dia kira telah dilupakannya. "Maksudmu apa, ya? Kesalahanku?" tanya Iris dengan senyum yang dibuat-buat. "Tidak perlu berpura-pura. Kau mengerti dengan jelas."Senyum Iris patah. Dia membuang napas kasar dan berdecak. "Apa kau pendendam? Kau harusnya juga sudah tahu, aku hanya mencoba bertahan hidup dan kau juga tidak mungkin mati dengan mudah."Iris berharap dalihnya masuk akal untuk Silas. Dia memang tahu pria itu sulit untuk dibunuh, bahkan oleh puluhan orang terlatih yang mengejar mereka. Namun saat di kereta, dia benar-benar berharap Silas mati. Sialnya, dia tidak menyangka, penyusup itu sama sekali bukan orang terlatih seperti dua insiden sebelumnya. Mereka tida
"O-om minta maaf," ucap Octavian dengan nada lemah dan sedikit terbata-bata. Dia menelan ludah susah payah. Matanya terpejam beberapa detik, sebelum kembali terbuka. "Maafkan Om soal James." "Kau tahu dengan jelas, bukan itu yang ingin aku dengar.""Biarkan Om bicara dengannya. Om janji, ini tidak akan terjadi." Iris bisa melihat tekanan, kegelisahan dan ketidakmampuan untuk menolak yang terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu. Itu bukan takut, tapi seperti sebuah keterpaksaan. Seolah tidak ada keberanian bagi Octavian untuk melawan Silas. Meski sebelumnya, pria itu tampak percaya diri sebagai teman orang tua Silas. Namun satu hal yang dia tahu saat ini, Octavian tampaknya juga tidak tahu menahu soal apa yang dilakukan pria bernama James itu. "Ini bukan yang pertama." "Om yang akan mengurusnya." Octavian tak membantah atau mempertanyakan perkataan Silas lagi. Dia hanya tampak pasrah. Reaksinya itu, membuat dada Iris sedikit sesak. Meski Octavian pernah memperlakukannya den
"Silas?""Kak Silas di sini?"Saat nama itu disebut, ada dua reaksi yang terlihat. Octavian tampak tegang dan serius. Sementara Lyra tampak berseri. Kemarahan dan rasa kesal yang sempat dirasakannya, mendadak lenyap tanpa jejak. Senyumnya melebar. "Biarkan dia masuk! Ah, tidak, aku yang akan ke sana menyambutnya."Sebelum Octavian menahan putrinya, Lyra segera berlari keluar ruangan. Menabrak pria yang menghalangi pintu masuk. Octavian menghela napas. "Apa yang ingin dia bicarakan?""Saya tidak tahu, Tuan, tapi sepertinya ada sesuatu yang serius."Ketegangan Octavian tidak mereda, justru meningkat. Karena tidak biasanya Silas datang langsung ke kediamannya. Hubungan mereka juga tidak sedekat seperti dia dengan Sebastian. Namun Octavian tidak punya pilihan selain menyambut pria itu. "Suruh pelayan menyiapkan minuman.""Baik, Tuan."Octavian bergerak melangkah keluar dari ruang kerja. Dia berjalan mengikuti Lyra yang sudah lebih dulu pergi. Rumah itu tampak sepi. Istri dan putri per
Keesokan harinya. Iris akhirnya meninggalkan area kompleks terpencil itu bersama Silas. Setelah insiden di kereta dan momen dia tidur seranjang dengan Silas, tidak ada apa pun lagi yang terjadi. Semuanya aman, meski dia tidak bisa benar-benar tidur. Lingkaran hitam di bawah mata adalah bukti Iris tidak bisa berhenti waspada. Sejak bersama Silas, kewaspadaannya naik berkali-kali lipat dan saat ini, dia sangat lelah bahkan meski hanya duduk di mobil. Melalui kaca spion, dia bisa melihat sebuah mobil di belakang mereka. Itu adalah mobil anak buah Silas yang mengawal perjalanan sejak dari kompleks. Iris tidak menampik, kalau keberadaan anak buah Silas sangat berguna sekarang. Meski perjalanan berjam-jam terasa membosankan. Dia hanya bisa menatap jalanan ketika mobil itu memasuki jalan utama. Kota Aurelian yang sibuk di siang hari. Gedung-gedung pencakar langit dan puluhan mobil melaju. Suara klakson yang mengganggu terdengar sepanjang perjalanan. Dulu, waktu seperti ini adalah saat-






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan