Masuk"Masuklah!"
Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Bukan lagi ruangan tanpa jendela yang kotor, tapi itu adalah ruangan klasik dengan ranjang berukuran queen dan furniture antik. Tentu dengan sirkulasi udara yang lebih baik. Tempat yang sangat bersih dan luas, yang mungkin semua orang inginkan, tapi tidak untuknya. Tak sedikit pun Iris memahami kenapa dia dibawa ke sana, setelah menyerang bahkan melukai wajah Silas. Di saat dia sendiri mengira dirinya akan dibawa ke tiang jagal. Iris spontan mendongak. Menatap kembali Elliot dengan pupil mata membesar dan memasang sikap waspada. Pria itu, pernah melakukan hal kasar saat dia mencoba kabur dan sepertinya, sikapnya tidak berubah. "Kau harus berterima kasih pada Tuan Silas. Kau harusnya digantung, bukan dibawa ke sini." Iris tersentak mendengar nada tajam Elliot. Dia masih merasakan kemarahan dalam kata-katanya. Pria itu jelas masih marah karena insiden dia melukai Silas, tapi Iris juga tidak mau disalahkan. "Kenapa aku harus melakukannya? Kalian yang membuat hidupku seperti ini." Senyum tipis terbit di kedua ujung bibir Iris. Sorot matanya yang kosong menatap karpet berbulu di bawahnya. Sementara tatapan Elliot tampak berubah menusuk. Menyipit. Ketidaksenangan terlihat jelas di matanya yang biasa tanpa emosi. Namun dia tidak mendekat. Tetap diam di posisinya. "Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Silas, tapi... seseorang yang masuk ke dunia kami, hanya memiliki dua pilihan. Menjadi mayat, atau menjadi bagian dari kami." "Apa?" Iris terdiam sesaat. Kedua alisnya mengernyit. Kata-kata Elliot membuatnya sulit memahami. Meski dia pernah melihat mereka secara langsung, dia belum tahu siapa mereka sebenarnya. Bahkan setelah dua bulan disekap, Iris hanya berpikiran mereka adalah dua orang gila yang hobi membunuh dan menyiksa orang. Mulut Iris terbuka untuk bertanya lagi, tapi Elliot menghentikan ucapannya dengan tepukan tangan. Gerakan yang terlihat aneh, namun rupanya adalah sebuah isyarat sederhana karena tak lama setelahnya beberapa pelayan muncul dari belakang Elliot. Mereka membawa alat rias, kebersihan, makanan sampai dengan pakaian wanita. Masing-masing dari mereka membawa sesuatu yang berbeda. Iris melihat sekitar tujuh orang. Dia tidak bisa menahan rasa kaget dan bingung selain mematung, ketika ketujuh orang itu tersenyum ke arahnya yang terduduk di atas karpet berbulu. "K-kalian mau apa?" Mereka mengelilingi dan memerhatikan penampilannya dengan raut wajah yang prihatin. Saling pandang dan tampak seolah bicara lewat tatapan. Bahasa yang tidak Iris pahami, tapi berhasil meningkatkan kewaspadaannya. Kedua tangannya secara protektif memeluk dirinya sendiri. Lalu mundur secara teratur tanpa melepaskan sorot matanya. "Urus dia. Tuan Silas ingin dia bersih dan sempurna sebelum makan malam ini. Jangan biarkan ada noda sedikit pun. Aku sudah memanggil dokter dan dia akan segera datang." Suara Elliot yang memerintah, kembali menarik perhatian Iris yang kebingungan. Perintah itu ditujukan untuk para pelayan dan dia melihat tujuh pelayan itu mengangguk patuh. "Kami mengerti." Perasaan tidak nyaman mendadak Iris rasakan ketika Elliot malah berbalik meninggalkan kamar dan menutupnya. Dia spontan berdiri. Berlari untuk menggapai pintu, tapi.... "Nona, bagaimana kalau kami memandikan Anda dulu?" Iris merasakan tubuhnya ditahan oleh tujuh orang pelayan itu. Dia ditarik kembali tanpa bisa melakukan apa-apa. Lalu dibawa menuju kamar mandi. Tak peduli seberapa keras Iris memberontak, dia kalah tenaga. *** Matahari telah terbenam dan Iris saat ini telah menjalani banyak sekali perawatan tubuh dari sejak siang tadi. Entah pembersihan atau pengecekan soal kesehatan. Tidak ada waktu baginya sendirian. Para pelayan selalu bersamanya. Datang untuk sekadar membawakan banyak baju baru, merapikan ruangan sampai memastikan setiap kondisinya. Termasuk mengingatkan Iris untuk meminum vitamin yang diberikan dokter. Kebaikan ini, tentu bukan sesuatu yang Iris harapkan. Meski saat ini, dia duduk dan melihat wajahnya yang berubah 180 derajat. Hanya dalam hitungan jam. Tidak ada lagi kulit dekil yang kering, lingkaran hitam di bawah mata, bibir pecah-pecah atau luka. Semua itu disamarkan. Tepatnya ditutup oleh riasan yang membuat Iris sendiri tidak percaya itu dia. Penampilannya sekarang, nyaris membuat dia tidak mengenal dirinya sendiri. Tidak dengan gaun mahal yang memeluk erat tubuhnya. Satu-satunya yang tidak bisa disembunyikan hanyalah kulitnya yang memang masih begitu pucat. Dokter mengatakan, dia kekurangan cahaya matahari dan oksigen. Butuh waktu agar semuanya kembali seperti semula. Mereka semua sibuk memperbaiki penampilannya, tapi tidak ada satu pun yang bertanya bagaimana keadaan dirinya saat ini. "Nona? Tuan Silas pasti sudah menunggu." Ketenangannya terganggu. Iris menoleh. Menatap pelayan dari pantulan cermin. Mereka menatapnya hati-hati, tapi mendengar nama Silas disebut, dia melengos. Ini sudah memasuki jam makan malam yang Elliot sebutkan. Di mana dia harus bertemu Silas. Namun, alih-alih mengikuti apa yang diperintahkan, dia berjalan menjauh. Mendekat ke arah jendela dan membukanya. Berharap angin malam akan membuatnya merasa lebih baik, tapi yang dirasakannya hanya dingin menusuk kulit. Rasa marah yang tertahan dalam dadanya selama dua bulan ini, tidak bisa lenyap hanya dengan angin yang berhembus. Dia ingin menghilangkan semuanya. Rasa takut dan kegelisahan, tapi itu tidak mudah. Dia hanya menatap lurus ke depan. Menyaksikan malam gelap dan pagar tinggi yang mengelilingi tempat itu. Termasuk pohon-pohon besar yang ada di baliknya. Iris tidak bisa melihat di mana dirinya berada, termasuk apakah ada rumah lain atau tidak. Semuanya terlalu gelap, terlalu sunyi. Dia tidak yakin, apakah akan ada yang mendengar jika dia meminta tolong? Mungkin tidak. Dia bahkan tidak tahu, siapa yang bisa dia jadikan teman di tempat seperti ini. Dia sendirian dan takdir seakan sedang mengejeknya. Kalau dia mungkin tidak akan punya jalan keluar dari tempat ini. "Aku tidak akan turun atau menemuinya." Terdengar suara para pelayan yang terkesiap saat dia merespons agak keras dan menolak untuk patuh. Bisik-bisik bernada khawatir di belakangnya bisa dia dengar, tapi dia mengabaikan semuanya. Menolak menjadi mainan oleh orang yang dengan mudah mempermainkan hidup dan mati seseorang. "Tapi, Nona—" "Berani sekali." Suara berat terdengar tak jauh di belakangnya. Menghentak Iris hingga tubuhnya menegang kaku. Suara itu. Iris merasakan pundaknya meremang. Suara detak jantungnya yang memompa darah lebih cepat, membuat napasnya sedikit tersengal. Kedua tangannya refleks mencengkeram kuat kusen jendela, menggaruknya tanpa peduli apakah kukunya terluka atau tidak. "Belum pernah ada orang yang memerintahku seperti itu.""A-apa?"Mata Iris bergerak antara peti kecil di tangannya dan Silas bergantian. Bertahan. Bertahan sampai Silas datang. Kalimat itu tidak terdengar seperti pria itu akan datang dan menyelamatkannya tanpa dia terluka. Lebih seperti sebuah peringatan jika sesuatu yang buruk, mungkin bisa terjadi. Sesaat, Iris merasa telinganya seolah berdengung, tapi dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Rona merah di wajahnya surut, membuatnya tampak lebih pucat. Pikiran menakutkan menyerangnya, membuat kepalanya sedikit pusing. Bahkan sebelum kejadian itu benar-benar terjadi. "Kau... kau mengatakan itu seolah tahu ada hal buruk yang akan terjadi padaku," gumam Iris dengan suara napas yang sedikit terengah-engah. Tangannya memegangi kepalanya yang pusing saat dia menatap Marcus dan Silas yang bergeming. Ekspresi keduanya tampak tenang. Hanya perlahan, Marcus melepaskan tangannya. "Tidak ada yang tahu apa yang akan kau hadapi nanti."Iris menahan napas dalam-dalam.
Mata Iris berkedip. Dia mematung di tempat saat mendengar perkataan Silas. Lalu melirik peti kecil itu dan Silas secara bergantian. Berharap jika Silas sedang bercanda, tapi pria itu tidak pernah bercanda. Matanya kemudian kembali tertuju pada perhiasan di peti tersebut. Ada kalung, gelang, jepit rambut, sampai anting. Semua itu adalah benda yang tidak terpasang di tubuhnya sekarang. Tepatnya nyaris tidak pernah dia gunakan, meski sebenarnya perhiasan semacam itu telah disediakan Silas. Berta juga beberapa kali mencoba menawarkan diri untuk memasangkannya, tapi dia selalu menolak. Iris hanya benar-benar memakainya saat Silas memaksanya mengajak keluar seperti ke pesta gala. "Untukku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan. Ada rasa kaget dan sorot tak percaya terpancar di matanya. Selain karena perhiasan itu tampak berbeda dari yang diberikan Silas sebelumnya, perhiasan tersebut juga diberikan langsung oleh Silas sendiri. Iris tidak
Tubuh Iris membeku mendengar jawaban Silas. Matanya berkedip beberapa kali. "P-pulau pribadi?"Pandangannya dengan cepat kembali menatap sekeliling. Mencoba melihat ujungnya, tapi pulau itu terlalu luas. Bukan pulau kecil yang hanya seluas apartemen. Karena di sana, Iris melihat ada beberapa bangunan permanen yang berdiri. Nilainya jelas tidak akan murah. Apalagi jika berada di dekat area pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan di kawasan. Iris menelan ludah kasar. Berta tidak bilang soal pulau pribadi. Dia kira, wilayah kekuasaan Silas hanya sebatas pelabuhan saja. Namun tampaknya, tidak ada yang benar-benar bisa menebaknya secara pasti. Tangannya mengepal erat di kedua sisi. Ada rasa waspada yang sedikit berbeda di sana. Bukan gugup, tapi lebih ke rasa takut. Iris tidak melihat Silas mengajaknya ke sana untuk liburan. Tempat itu juga bukan tempat untuk bersenang-senang secara pribadi, tapi tampak seperti gudang di bawah kendali Silas. "Berhenti melamun."Iris tersentak saat me
Dua hari kemudian. Iris tidak bisa membuat Silas mengurungkan niat untuk pergi. Silas terlihat baik-baik saja. Wajahnya segar, nyaris tidak memperlihatkan bekas luka yang beberapa hari lalu membuat Iris kehilangan kesabaran. Sangat. Hingga dia merasa kesal sendiri. Walau di sisi lain, Iris juga tidak bisa menampik, dia penasaran ke mana Silas akan membawanya kali ini. "Aku tidak melihat Elliot dua hari ini," ucap Iris yang berjalan santai menyusuri jalanan di pelabuhan. Matanya melirik Silas yang berjalan lebih dulu. Santai, tanpa ada yang mengganggu. Pelabuhan itu adalah tempat publik, di mana semua orang dari berbagai negara berkumpul, tapi Silas tampak sangat tenang, seolah itu tempat paling aman. Meski beberapa waktu lalu, pria itu diserang. Sialnya, Iris juga harus mengakui, tempat itu terasa dijaga lebih ketat. Jauh sebelum dia datang. "Dia sibuk.""Sibuk? Memang dia sibuk apa selain mengikutimu sepanjang waktu?" tanyanya setengah menyindir, tapi Silas tidak merespons, pri
"Lusa? Ke mana?"Iris spontan menatap serius Silas saat pria itu tiba-tiba mengajaknya pergi. Alisnya berkerut dalam. Tidak bisa tidak langsung curiga kalau pria itu memiliki rencana. Dia melepaskan paksa tangan pria itu yang menggenggamnya. "Kau akan tahu nanti."Mata Iris menyipit. Dia ingin memprotes, tapi merasa itu semua percuma. Penolakannya tidak akan pernah didengar. "Kau bahkan masih dalam keadaan terluka dan kau berpikir untuk mengajakku pergi? Kau mau musuhmu datang dan membunuhmu?"Silas yang sedang merapikan ikatan perban di lengannya, tampak berhenti sejenak. Mata birunya menatap Iris sebelum kembali tertuju pada perban di lengan. "Ini hanya luka kecil." Mulut Iris terkatup. Dia tidak bisa menyangkal kalau perkataan Silas benar. Itu hanya luka kecil, karena jauh sebelum itu, Silas pernah terluka akibat serpihan blm dan pria itu masih hidup! Meski sekarang lengannya tampak robek dan jejak darah bisa terlihat di lantai, tetap belum seberapa dari yang dialaminya waktu it
Iris memutar tubuhnya. Menghadap tepat ke arah Silas dengan wajah ditekuk. Dia tidak yakin Silas benar-benar berpikir dia adalah penyusup. Apalagi dengan baju tidur dan tanpa alas kaki. Hanya dengan melihat punggungnya saja, harusnya pria itu sudah tahu. "Mana ada penyusup masuk ke lorong utama. Kau pikir bisa membodohiku?" Tangan Iris mengepal di kedua sisi. Dia berdecak, tapi tidak terlihat rasa bersalah di wajah Silas. Pria itu juga tidak menjelaskan apa pun. Hanya keheningan malam yang mengisi suasana di antara mereka. Sampai detik selanjutnya, Iris membuang napas kasar dan berbalik untuk pergi. Tetapi, belum selangkah dia berjalan, lengannya digenggam. Ditarik mundur hingga punggungnya menabrak tubuh di belakangnya. "Siapa yang menyuruhmu pergi?"Iris tersentak dan bergidik saat merasakan embusan napas Silas di telinganya. Tubuhnya seketika menjadi kaku. Sejenak dia mengalami disorientasi. Sampai beberapa detik kemudian, Iris kembali tersadar. Dia bisa merasakan detak jantu
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di







